Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Masalah Ilmy?


__ADS_3

Kabar kehamilan Ilya sudah tersebar ke keluarga Sam dan Warrent. Mereka semua menyambut dengan gembira dan sangat menantikan kelahiran dari cucu pertama keluarga Warrent dan cucu kedua keluarga Sam itu.


Namun kabar kehamilan Ilya tak langsung di public kepada khalayak umum. Hanya untuk jaga-jaga, terlebih bayi yang dikandung Ilya berasal dari dua keluarga besar yang pastinya tak sedikit mempunyai musuh.


Apalagi Uma Lyza yang dulunya seorang mantan ketua mafia. Walaupun sudah ada Sean yang menghandle urusan dunia bawah, tetap saja semuanya harus berjaga-jaga agar tidak sampai kecolongan.


Malam ini, untuk menyambut kehamilan Ilya diadakan acara makan malam bersama dimansion Sam. Yang hadir hanya keluarga inti saja, karena memang acara ini hanya acara kecil-kecilan.


Di meja makan yang panjang, meja yang mampu menampung mereka semua bahkan masih ada tempat yang kosong. Disitulah mereka berbincang-bincang dengan hangat dan terlihat sangat harmonis.


Siapa yang menduga dua keluarga konglomerat itu akan menjadi keluarga dan sebentar lagi hubungan itu akan semakin erat dengan adanya bayi yang menjadi penghubung kedua keluarga selain bisnis dan juga pernikahan anak-anak mereka.


“Masih mual-mual tidak?” Tanya Uma Lyza yang saat itu ada disamping kiri Ilya.


Menantu perempuan nya mengangguk pelan “Sedikit uma, tapi udah gak terlalu parah.” Jawabnya pelan


“Untunglah Ilya masih bisa telan makanan.” Sahut ibu Dian yang saat itu berada di samping kanan putri bungsunya


Posisi sekarang, Ilya yang ada ditengah-tengah. Dia apit oleh uma Lyza dan abi Ares disamping kiri sedangkan ibu Dian dan ayah Ilyas ada disamping kanannya.


Bagaimana dengan Fatih?


Pria tampan itu hanya bisa menghela nafas pasrah saat istrinya dimonopoli oleh kedua orangtuanya dan juga mertuanya. Disebelah Fatih ada Dylan yang menepuk-nepuk pundak sahabat sd nya


“Sabar, mereka cuman excited ,” Ia mengingat saat istrinya datang ke kota ini untuk pertama kalinya dan dimonopoli oleh ibu dan ayahnya. Apalagi saat itu Akifa tengah hamil, benar-benar menguji kesabaran tapi Dylan tak bisa melakukan apapun.


Dan sekarang yang mengalami nya adalah Fatih, dan lebih parahnya Ilya dimonopoli oleh empat orang sekaligus.


Fatih menghela nafas panjang “Mau bagaimana lagi, Ilya bukan milikku seorang.”


Dylan tergelak “Tenang saja, jika malam Ilya milikmu.” Menepuk pundak Fatih.


Fatih ikut tertawa, walaupun sudah sangat lama mereka tak bersua tapi keakraban mereka terjalin dengan cepat secara natural. Berbanding terbalik dengan Delon yang memang sering ia jumpai saat berbisnis namun memang susah untuk didekati.


“Tapi bang Fatih hebat. Masa belum genap satu bulan nikah tapi Ilya sudah isi. Hebat..” Salut Kira memberikan dua jempol pada abangnya


“Namanya juga usaha tiap malam. Alhamdulillah ada yang tumbuh.” Balas Fatih sangat senang akan hal ini


“Semoga bayi sama ibunya sehat-sehat selalu.” Timpal Ilmy. Ilmy yang sedari tadi diam akhirnya angka bicara.


“Aamiin..” Mereka semua mengaminkan termasuk Tifa yang duduk disebelah Kira.


Dylan melihat adik kembarnya itu dengan tatapan aneh, ia berbisik “Kamu baik-baik saja, Il?” tanyanya. Karena tidak biasanya Ilmy terlihat lebih kalem dan tenang


“Huh? Iya Lan?, memangnya aku kenapa. Aku baik-baik ajah kok.” Kilah Ilmy dengan senyuman paksa yang sangat Dylan kenali. Dylan meragu namun tak ingin memojokkan Ilmy, biarlah nanti ia cari tau sendiri.

__ADS_1


Saat orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing, Akifa pun sama. Ia berada di kamar untuk memberikan asi kepada baby Alan yang masih berusia kurang dari sebulan itu.


“Ululu.. lahap bangat, lapar yah sayang. Sama mama juga lapar, tapi nanti setelah Al kenyang baru mama makan. Okey, sayang.” Mengecup pipi baby Alan yang sangat menggemaskan


“Masya Allah.. gemes bangat sih nak, anak siapa si ini.. hmm..” Ia benar-benar dibuat gemas oleh anaknya.


Ceklek..


Dylan masuk sembari membawa sebuah nampam berisi makanan serta Minuman “Alan nya sudah tidur sayang?” Menaruh nampan tersebut di atas meja sofa lalu ia duduk disamping sang istri


“Belum mas, kayanya Al lapar banget.” Jawab Akifa. Ia melihat apa yang dibawa oleh suaminya “Kamu udah makan, mas?”


Dylan mengangguk “Sudah, ramai-ramai tadi dibawah. Maaf yah mas tidak menunggu mu.” Menyalipkan anak rambut kebelakang telinga istrinya.


Akifa tersenyum “Gak papa mas, malah aku jadi gak enak sama orang-orang soalnya dikamar ajah. Cuman sapa doang tadi.” Ia belum sepenuhnya menampakkan batang hidungnya disana.


“Tenang saja, mereka belum pulang. Masih ada dibawah. Nanti setelah Alan tidur kita bisa ikut kumpul.” Memberikan jari telunjuk ketangan bayi mungilnya, dan lagi-lagi baby Alan menggenggam erat jari telunjuk papanya dengan erat.


“Uhhh.. gemasnya, mirip kamu sayang.” Celetuk Dylan melihat betapa gemasnya sang putra yang sekarang tengah menatap kearahnya sambil menyusu. Bahkan tangan mungil baby Alan masih menggenggam jari telunjuk Dylan yang sebesar tangan mungilnya.


Akifa menelengkan kepala, bingung. Mirip dia? Masa sih, pikirnya.


“Kok mirip aku mas? Wajah Al itu lebih mirip kamu loh.” Bantah Akifa


Dylan tertawa gemas “Memangnya siapa yang bilang wajah mu mirip Alan? Dilihat dari sudut pandang dimana pun, Alan itu ganteng sedangkan kamu cantik. Sayang.”


“Sifatnya sayangku.. kamu suka ‘kan mainin jari telunjuk mas, sama seperti Alan yang sangat suka dengan jari telunjuk ku.”


“Oaalaah.. aku kira apaan. Tapi iya juga sih, jari telunjuk mas memang enak dipegang.” Akifa membenarkan


“Memang yah tidak ada yang bisa mengalahkan jari telunjuk mas. Apalagi untuk..__” sengaja menggantung ucapan agar membuat Akifa bertanya-tanya dan panasaran.


“Untuk?” Benar saja, Akifa sangat penasaran.


Dylan tersenyum nakak lalu mendekati telinga istrinya. Ia membisikkan sesuatu yang membuat wajah Akifa seketika memerah.


“Mas.. ihh dasar mesum!” Menjauhkan kepala lalu membuang wajahnya yang memerah


Dylan terkekeh pelan “Tapi benarkan.” Menggoda dagu istrinya


Akifa mendengus kesal ‘Iya juga sih, apalagi kalau dua jari... ihh apa sih..’ Ia menggeleng pelan. Bisa-bisanya ia tertular kemesuman sang suami


“Hnm? Jangan jauh-jauh melayang nya sayang, noh Alan sudah tidur.” Lagi-lagi Dylan menjahili sang istri


Akifa tersadar, dan melihat anaknya. Benar saja baby Alan sudah tertidur pulas. Mulut mungil sudah terlepas dari sumber makanannya. Akifa mengancingkan piyamanya, lantas Akifa berdiri “Kamu sih mas kalau ngomong gak bisa dikontrol.” Membaringkan baby Alan di ranjang bayi.

__ADS_1


“Yah ‘kan kalau sama istri sendiri bukan masalah. Orang kita sudah tidak ada yang disembunyikan.” Sahut Dylan santai “Ayo sekarang kamu makan juga.” Melambaikan tangan memanggil istrinya


Setelah memberikan kecupan selamat malam untuk baby Alan, barulah Akifa beranjak duduk di samping sang suami


“Mau mas suapin?”


“Gak perlu, aku bisa sendiri mas.” Mulai memakan makanannya “Kamu gak turun kembali mas? Nanti aku nyusul.”


Dylan menggeleng “Kita turun sama-sama.” Putusnya dan Akifa hanya mengangguk


“Oh yah tadi mas perhatiin, sepertinya Ilmy punya masalah. Dilihat dari gelagatnya yang tidak biasa, mas yakin dia ada masalah.” Dylan mulai menceritakan tentang Ilmy yang tiba-tiba menjadi kalem tadi. Sangat tidak mungkin seorang Ilmy akan kalem, dan tidak mungkin juga Ilmy berubah kalem karena ingin cepat dapat jodoh ‘kan?


“Masalah? Kak Ilmy nya ada cerita?”


“Tidak sih, ini cuman asumsi mas doang. Mas sangat yakin Ilmy ada masalah.” Ia sangat yakin sebagai abang Ilmy yang sudah sangat mengetahui bagaimana tingkah adik kembarnya.


“Kok yakin bangat mas?”


“Coba bayangkan, Bagaimana mungkin Ilmy tadi tiba-tiba berubah kalem..__”


Uhuk.. uhuk..


Akifa tersedak, dengan cepat Dylan memberikan air putih untuk sang istri “Pelan-pelan sayang.” Mengelus punggung sang istri. Ia nampak khawatir.


Setelah kembali normal, Akifa menegakkan duduk lalu menatap Dylan serius “Mas gak bercanda ‘kan? Kak Ilmy mana mungkin berubah kalem.”


“Nah itu yang mengganjal. Mas yakin ia punya masalah.”


“Iya sepertinya memang seperti itu, mas. Tapi kira-kira masalah apa yang membuat Kak Ilmy jadi kalem?”


“Itu dia yang ingin mas minta tolong sama kamu, Fa. Coba cari tau apa masalah Ilmy. Kalau sesama perempuan biasanya saling terbuka ‘kan?” Inilah alasan Dylan membuka obrolan mengenai Ilmy.


Sebenarnya Dylan ingin menanyakan langsung, hanya saja ia tak ingin membuat Ilmy tak nyaman. Jadi Dylan meminta bantuan istrinya, karena sesama perempuan biasanya jauh lebih nyaman untuk curhat.


Akifa mengangguk mengerti “Baik, nanti aku coba yah mas. Semoga kak Ilmy mau cerita.” Ia jadi khawatir dengan kakak iparnya yang biasanya selalu ceria dan bar-bar tiba-tiba berubah kalem.


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2