Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Permintaan maaf


__ADS_3

Pelan-pelan Ilya membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan yang tengah menatapnya dengan senyuman hangat yang menenangkan.


“Selamat pagi, eh!.. atau selamat pagi menjelang siang?” Tersenyum manis


Ilya berdehem “Se.. selamat pagi kak, udah jam berapa emang?” Untuk menetralisir kegugupan, Ilya mencoba untuk bersikap biasa saja


Memeluk erat istrinya “Hmm Mungkin sudah jam 10 lewat.” Jawab Fatih santai


“Apa? Jam sepuluh?”


“Iya, memangnya kenapa? Kamu tidak ada jadwal hari ini ‘kan?” Fatih sudah memberikan izin cuti kepada istrinya, jadi sudah dipastikan jadwal Ilya hari ini kosong


“Hmm gak ada sih, tapi.. ‘kan gak sopan kak kalau baru bangun dijam 10.” Mengalihkan pandangan dari mata pria yang sedang mendekapnya. Lengan di perut saja sudah membuat Ilya gugup setengah mati, ditambah dengan tatapan mata tajam suaminya semakin membuat jantung Ilya berpesta.


Fatih terkekeh mendengar penuturan polos istrinya “Sopan atau tidak sopan, bagi pengantin baru itu hal yang wajar dek..” Mengecup ujung hidung istrinya


Ilya gelagapan ”Ah.. i.. iya juga yah.”


Fatih kembali tertawa kecil “Mandi bersama yuk!”


“Eh?!..” Belum sempat Ilya merespon, Fatih sudah lebih dulu menggendong tubuh kecilnya setelah melilit Ilya dengan selimut ”kakk??” Pekik Ilya


Fatih hanya tertawa sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


...***...


Ilya dan Fatih kembali ke rutinitas mereka setelah hampir seminggu libur. Hubungan mereka berdua sudah semakin dekat walaupun kadang Ilya masih canggung dan malu pada suaminya.


Fatih langsung memboyong istrinya ke mansion nya sendiri yang masih satu kompleks dengan mansion keluarganya.


“Kak, sarapan dulu.” Seru Ilya sembari memanggang roti untuk suaminya yang memang lebih menyukai roti panggang untuk sarapan.


Fatih yang sudah memakai kemeja duduk di meja makan “Hari ini masuk kerja, dek?”


“Iya kak.”


“Kalau gitu kita berangkat bersama ya,”


Ilya ikut duduk disamping Fatih setelah menaruh roti panggang didepan sang suami “Hmm apa gak lebih baik kalau kita pergi sendiri-sendiri?”


“Tidak, kamu ikut aku.”


“Tapi kak, kalau para karyawan mikir macam-macam, gimana?”


“Yah tidak apa-apa, Memangnya kita bikin dosa? Kita ‘kan sudah menikah sayang..” Mengelus pipi istrinya yang setiap hari membuat Fatih gemas ingin menggigit.


“Tapi...”


“Pokoknya kamu ikut aku!” Ia tak mau dibantah, walau Fatih mencintai istrinya ia tetaplah seorang kepala keluarga yang harus tegas dalam mengambil keputusan.


“Ayo makan, kita sama-sama berangkat nanti.”


Ilya mengangguk dan mereka pun mulai sarapan pagi. Selesai sarapan, para pelayan mulai membersihkan meja makan sedangkan majikannya kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.


“Dasinya mana kak?” Tanya Ilya saat melihat suaminya hanya memakai kemeja saja


Fatih tersenyum lebar, pertanyaan yang memang sudah ia nanti-nanti. Lantas, dengan cepat ia memberikan dasi yang sudah dari tadi dia taruh diatas sofa


Ilya mengambil dasi itu lalu mendekati suaminya “Maaf yah kak, menunduk dulu sedikit.”

__ADS_1


Dengan Senang hati Fatih menundukkan lehernya agar semakin dekat dengan wajah sang istri. Ilya mulai memasangkan dasi itu dengan serius, setelah terpasang. Ia mengusap-usap dasi itu dan juga kemeja sang suami untuk memastikan tak ada yang lecet.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Fatih mengecup bibir ranum Ilya “Sangat manis, berangkat barang ‘kan? Ayo.”


Ilya tersenyum tipis mendapatkan ciuman lagi dari suaminya, ia mengangguk lalu mengikuti langkah sang suami keluar mansion.


.


.


Mobil sampai di basement perusahaan, Fatih keluar sembari menggandeng tangan istrinya dengan percaya diri dan rasa bangga didada.


Lihatlah! Dia sudah berhasil memperistri cinta pertama dan terakhirnya!


“Kak, apa harus gandengan yah?” Bukannya Ilya risih digandeng, hanya saja ia masih memikirkan perkataan orang-orang


“Kamu tidak suka aku gandeng?” Memperlihatkan wajah memelas, wajah Yang akhir-akhir ini selalu Ilya lihat saat ia menolak permintaan suaminya. Dan jujur, Ilya tak bisa menolak wajah itu.


“Enggak kak, bukan gitu. Cuman..”


“Yasudah, kalau kamu tidak risih berarti sah-sah saja aku gandeng. Iya ‘kan?”


Ilya mengangguk pasrah. Ia pasrahkan semuanya kepada sang suami.


Memasuki lobby perusahaan, ada banyak mata yang melihat mereka. Namun mereka langsung menunduk saat melihat tatapan intimidasi dari CEO perusahaan. Ilya tak ingin menunduk, ia tegakkan kepala dan Membusungkan dada.


Ilya harus percaya diri dan tidak lemah agar suaminya juga tidak dianggap remeh karena memperistri kannya.


Fatih kembali tersenyum senang melihat kepercayaan diri sang istri “Naik ke ruangan aku dulu yah.”


“Eh? Ngapain kak?”


Ilya menimbang-nimbang dan akhirnya mengangguk. Tidak buruk juga melihat-lihat ruangan suaminya “Iya deh.”


Mereka masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Lift yang baru pertama kali, Ilya naiki selama bekerja disini. Walaupun ia juga sering naik ke lift khusus di perusahaan abang atau kakeknya, namun ia merasa hal ini lebih berbeda dari pengalamannya di perusahaan abang atau kakeknya.


Didalam lift rupanya ada dua orang petinggi perusahaan yang akan ikut rapat nanti


“Tuan Fatih, nona Ilya. Selamat atas pernikahan kalian.” Sapa salah seorang pria paruh baya


Ilya mengangguk dengan senyuman tipis l, sedangkan Fatih tersenyum seperti biasa “Terima kasih pak Kasli. Dan selamat atas kelahiran anak bungsu anda.”


“Hahaha rupanya anda sudah tau yah. Terimakasih tuan.” Fatih hanya tersenyum menanggapi.


Pria paruh baya yang lainnya menyahut “Tidak saya sangka, dua keluarga besar dan berkuasa akan menyatu dengan pernikahan kalian.”


“Yah sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan hal itu, asalkan saya bisa menikahi pujaan hati saya itu sudah cukup.” Gurau Fatih membuat kedua pria paruh baya disana tertawa


“Wah.. ada bau-bau suami bucin nih.” Pak Kasli menimpali dengan gurauannya. Seperti itulahh hubungan Fatih dan para petinggi perusahaan.


Karena Fatih yang ramah dan juga sopan membuat nya disukai dimana pun ia berada. Karena itu saat pernikahan CEO W Corp itu, semua wanita lajang maupun janda yang pernah ditemui Fatih mengalami patah hati luar biasa.


Ting..


Pintu lift terbuka, setelah berpamitan Fatih kembali menggandeng sang istri keluar lift. Ilya memperhatikan wajah suami bulenya, walaupun ia juga bule tapi entah mengapa akhir-akhir ini ia lebih suka dengan wajah suaminya.


Jantung Ilya berdetak tak karuan saat mengingat kata-kata Fatih didalam lift tadi. ‘pujaan hati’ itulah yang mengganggu pikiran Ilya.


Ia berpikir, Fatih menikahinya karena untuk menyatukan keluarga besar mereka agar hubungan bisnis di kedua keluarga semakin lancar dan jaya. Namun jawaban Fatih tadi menghancurkan semua pemikiran Ilya.

__ADS_1


Apa memang benar, dia adalah wanita pujaan hati seorang Fatih?


Ilya memang sering mendengar Fatih mengatakan bahwa menyayangi nya, namun ia belum pernah mendengar kata-kata cinta dari suami nya.


Tiba-tiba jantung nyonya Fatih itu berdetak cepat, ia memegang dadanya. Membayangkan sang suami mengatakan cinta padanya membuat wajah Ilya memerah. Karena kebanyakan melamun, Ilya sampai tak sadar mereka sudah masuk kedalam ruangan CEO.


Bahkan wajah tampan Fatih sudah ada tepat di depan wajahnya “Hei.. kamu baik-baik saja dek? Dari tadi aku panggil tapi tidak dengar.” Dengan wajah khawatir, tangan Fatih terangkat memegang dahi Ilya “Tidak panas kok, tapi kenapa wajah kamu merah, dek?”


Blushhh..


Wajah Ilya malah semakin memerah, memalingkan wajah “Ti.. tidak apa-apa kak,”


“Yakin? Atau kita pulang saja yah. Aku khawatir.” Memegang pipi istrinya


Ilya tersenyum lalu melepas tangan Sang suami “Aku baik-baik ajah, kak..” Memberikan pengertian setelah berhasil menguasai perasaannya


“Hmm kak, ada yang ingin aku tanyakan.” Ragu-ragu Ilya berkata


“Tanyakan saja, dek. Jangan ragu.” Heran melihat istrinya yang tiba-tiba jadi aneh. Biasanya Ilya-nya tak akan ragu-ragu jika ingin bertanya


Mengambil nafas dalam-dalam “Ini tentang perkataan kakak di lift tadi..” Entah mengapa wajah nya kembali memerah mengingat perkataan Fatih tadi


“Yang mana dek?”


“Aku kira selama ini kakak menikahi aku karena untuk urusan bisnis kakak, jadi.._” Perkataan Ilya terhenti saat Fatih Langsung menarik tangannya untuk duduk di sofa


“Apa-apaan itu, tidak mungkin aku sejahat itu. Kamu percaya sama aku ‘kan?” Memegang tangan istrinya, Fatih tak menyangka kalau selama ini sang istri berpikir yang tidak-tidak dengan pernikahan mereka


Ilya mengangguk “Maaf kak, cuman Ilya kaget ajah dengarnya. Jadi kakak..?”


Fatih tersenyum lalu mengecup bibir sang istri, ia menempelkan kening nya dan kening Ilya “Maafkan aku, aku kira dengan menyayangi dan memperhatikan mu. Kamu sudah bisa melihat cinta ku, maaf yah.” Sembari mengelus pipi Ilya


Deg..


“Ja.. jadi..” Suaranya tercekat. Senang, haru. Ilya tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya


“Iya sayang, suami mu ini tidak suka mengatakan kata-kata cinta. Karena itu aku selalu Memperlihatkan lewat perilaku. Maaf yah.”


Ilya menggeleng pelan “Kakak gak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf karena udah berburuk sangka sama kakak.”


Fatih kembali mencium bibir istrinya, kali ini ia melumaat nya lembut dan pelan “Jangan panggil kakak lagi, okey? Kita bukan adek kakak.”


Ilya tertawa pelan “Bukannya kakak duluan yang manggil Ilya, adek yah.”


Fatih kembali tertawa “Sekarang harus pakai kata-kata sayang. Oke kita sepakat.”


“Loh?” Padahal Ilya belum sepakat, tapi yah karena suaminya sudah mengatakan jadi ia hanya bisa menurut


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...

__ADS_1


__ADS_2