
Setelah cukup lama berjalan-jalan, akhirnya Akifa merasakan rasa sakit yang amat sangat berbeda dengan di awal-awal tadi.
Dengan sigap para dokter mulai menangani Akifa. Dylan menemani istrinya didalam ruang persalinan. Ia menggenggam tangan istrinya yang berkeringat dingin
Suara teriakan mengejan terdengar memenuhi ruang persalinan “Eugghhh..”
“Kepala bayinya sudah terlihat bu, ayo sekali lagi. Dorong yang kuat.” Dokter Melati nampak memberikan instruksi dan semangat pada Akifa
Dylan tak henti-hentinya mencium punggung tangan sang istri sembari mengeluarkan kata-kata penyemangat nya
“Kamu pasti bisa sayang, sedikit lagi.” Lirihnya, bukan dia yang melahirkan namun Dylan pun ikut lelah dan tegang melihat sang istri yang sudah penuh dengan keringat.
Rupanya seperti ini rasanya berada didalam ruang persalinan menunggu sang buah hati lahir. Rasa tegang, takut dan senang bercampur menjadi satu.
Sedangkan diluar ruangan, nampak ibu Dian, ayah Ilyas, Ilmy serta Delon masih setia disana setelah mereka pulang untuk berganti pakaian tadi.
Mereka pun ikut tegang dan sama-sama merasakan perasaan yang campur aduk. Rasa cemas mereka melanda saat sudah setengah jam lamanya namun suara bayi masih tak terdengar dari dalam.
Tak lama kemudian suara bayi pun mulai terdengar. Sontak mereka langsung saling pandang dan Tersenyum
“Alhamdulillah..” Ujar mereka
Didalam ruangan persalinan
Dylan tersenyum haru, ia lantas mengecup kening istrinya lalu mengusap keringat dikening sang istri “Terima kasih.. terima kasih.. sayang..” Kembali mengecup berkali-kali wajah Akifa
Akifa mengelus pipi suaminya sembari mengangguk “Aku berhasil mas, aku udah jadi seorang ibu..” Ucapnya dengan nada lemah karena masih kelelahan
Putra mereka masih dibersihkan oleh perawat karena masih merah.
“Putra kita mana mas?” Tanya Akifa masih dengan suara lemah
Mengecup bibir Istrinya “Masih dibersihkan sayang,” Akifa tersenyum simpul, ia masih tak percaya kalau sekarang ia benar-benar sudah menjadi seorang ibu. Hatinya menghangat membayangkan ia menggendong sang buah hati.
Tak lama seorang perawat mendekat “Bayinya bisa di adzani dulu pak.” Memberikan bayi tampan itu kepada ayahnya
Dylan mengambil bayi tersebut dengan wajah haru, ia memandangi sang istri dengan mata yang berkaca-kaca membuat Akifa tak tahan untuk tak tertawa kecil
Dylan mulai mengadzani putranya, setelah itu sesuai instruksi dari perawat. Dylan pelan-pelan membaringkan bayinya keatas dada sang istri. Membiarkan sang putra berjuang mencari sumber makanan untuk pertama kali
“Wah.. sangat enak yah nak.” Mengusap kepala putranya yang sangat mirip dengannya
“Mirip bangat sama kamu mas, padahal aku yang mengandung.” Dilihat dari manapun tanpa tes dna sudah pasti itu anak Dylan. Mungkin hanya matanya saja yang menurun dari ibunya
“Kan aku yang tanam benihnya, sayang.” Ucap Dylan tanpa filter membuat beberapa perawat yang masih ada di sana tersenyum menahan tawa
“Mas.. mulut mu itu loh, jangan bicara vulgar didepan adek bayi.” tegur Akifa
“Oh yah, mas keluar dulu yah. Pengen kasi tau yang lain tentang kelahiran putra kita.” Mengecup pipi istrinya yang chubby
Akifa mengangguk, Dylan kembali mencium kening sang istri lalu beralih mencium pucuk kepala putranya yang masih menyusu. Setelah itu barulah ia keluar.
Sedangkan diluar, mereka yang menunggu dengan harap-harap cemas akhirnya tersenyum haru dengan perasaan lega. Ayah Ilyas memeluk istrinya dengan erat, akhirnya anggota keluarga mereka kembali bertambah.
Ilmy ikut memeluk ibunya “Artinya aku udah jadi aunty ‘kan, bu.”
Ibu Dian mengangguk lalu mengusap lengan putrinya. Mereka sungguh senang saat mendengar suara tangis bayi dari dalam ruang persalinan.
__ADS_1
Ceklek...
Pintu terbuka, sontak mereka semua melihat kearah sumber suara. Dokter Melati dan beberapa perawat keluar dari dalam ruangan dengan senyum yang mengembang. Sekali lagi, mereka menyaksikan kehidupan baru lahir ke dunia ini.
Berapa kalipun mereka menyaksikan hal yang sangat luar biasa itu, tetap saja mereka selalu terpesona dan kagum akan kuasa sang pencipta kehidupan.
“Bagaiman dok? Apa cucu saya lahir dengan selamat? Bagaimana dengan menantu saya?” Tanya Ibu Dian
Dokter Melati tersenyum “Selamat nyonya, cucu anda lahir dengan sehat dan selamat. Begitu pun dengan menantu anda yang hebat, keduanya baik-baik saja.”
Jawaban dokter Melati membuat ke empat orang yang memang sudah dari tadi menunggu pun menghela nafas lega. Sangat bersyukur karena Akifa dan bayinya selamat.
Setelah itu dokter Melati dan iring-iringan nya pun undur diri.
Tak lama kemudian pintu ruangan kembali terbuka, kini yang keluar dari dalam ruangan adalah pria yang baru saja menjadi ayah.
“Bu..” Dylan langsung berhambur memeluk sang ibu. Matanya sudah berkaca-kaca, air matanya memang sudah mengalir saat berada didalam ruangan tadi
Ibu Dian memeluk tubuh putranya dengan erat sambil mengusap punggung lebarnya “Iya, sekarang Dylan udah jadi papa yah. Selamat sayang.”
Dylan mengangguk di pelukan ibunya “Maaf bu.. maaf.. And thank you.. i love you.” Setelah menyaksikan kelahiran putra dan perjuangan istrinya ia menjadi mengingat bagaimana saat ibunya melahirkan mereka bertiga ke dunia, pasti lebih sulit lagi.
Satu saja sudah sangat sulit, bagaimana jika tiga. Pikir Dylan
Ibu Dian Tersenyum “Karena itu ibu selalu bilang agar kalian menghargai dan menghormati semua ibu didunia ini dan juga perempuan.” tutur kata ibu Dian yang lembut menenangkan hati Dylan
Dylan mengangguk lalu melepas pelukannya, ia mengecup pipi ibunya yang membuat ayah Ilyas menahan kesal setengah mati. Untuk menghindari kemarahan sang ayah, Dylan lantas memeluk tubuh ayahnya
“Ayah hebat, Dylan tidak menyangka ayah membiarkan ibu hamil lagi setelah melihat bagaimana proses melahirkan.”
Ayah Ilyas balik memeluk anaknya. Ia tau maksud sang putra. Ia jadi mengingat saat istrinya hamil lagi, hal itu jujur saja membuat nya sedikit menyesal karena harus melihat sang istri kembali kesakitan. Namun sekarang ia malah mensyukuri hal itu, setidaknya putrinya bertambah satu.
Dylan tertawa geli lalu melepas pelukannya “Tunggu sampai istriku dipindahkan.”
“Selamat Lan.. akhirnya aku jadi aunty juga.” Ilmy memeluk tubuh abang keduanya yang sekarang sudah sah menjadi seorang ayah
Dylan membalas pelukan adik kembarnya “Akhirnya kamu jadi nenek-nenek juga Il.”
Ilmy mendengus kesal lalu melepas pelukannya “Astagfirullah.. bisa gak sih Lan, gak usah cari masalah di hari kelahiran keponakan ku.” Dylan hanya mengangkat kedua bahu acuh
Delon pun ikut memberikan selamat sambil menepuk punggung adiknya “Selamat atas kelahiran keponakan ku. Aku tidak tau bagaimana rasanya tapi semoga dengan begini kau tidak akan menikahi wanita tanpa memberikan cinta padanya.”
Ucapan Delon membuat Dylan mendengus kesal, ia tau bahwa yang di maksud Delon adalah saat Dylan menikahi Indah dan masih menyimpan perasaan untuk Akifa.
“Iya.. iya.. dan aku juga berharap agar kau tidak jadi perjaka tua!” Kesal Dylan
“Sudah.. sudah.. kalian ini, jangan bertengkar di rumah sakit. Malu kalau dilihat orang, sudah dewasa tapi masih bertengkar.” Ibu Dian hanya menggelengkan kepala pasrah melihat ketiga anak kembarnya.
Mereka bertiga saling pandang lalu menunduk. Lantas ketiganya memeluk sang ibu erat sambil meminta maaf. Perlakuan manis yang selalu mereka lakukan dari dulu sampai sekarang, hanya kurang Ilya yang memang jarang membuat masalah.
Ayah Ilyas menarik tubuh istrinya “Cari pasangan kalian masing-masing, jangan menganggu istriku.” Pria tua posesif itu tentu saja membuat ketiga anaknya geleng-geleng kepala.
Ilya dan Fatih tak bisa datang karena sekarang sedang melakukan bulan madu diluar negeri. Alhasil mereka hanya di hubungi lewat telepon oleh Ilmy tadi.
.
.
__ADS_1
Akifa sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang lebih luas dan lebih nyaman serta lengkap.
Akifa Tersenyum haru saat melihat keluarga sang suami mengerubungi putranya bahkan berebut untuk menggendong bayi mungil itu.
“Ya Allah.. ganteng bangat.” Ucap Ibu Dian mengecup pipi cucu pertama nya
“Wajahnya mirip wajah mu, Lan.” Sahut Ilmy
Dylan yang saat itu duduk di pinggir ranjang pasien mengangkat sebelah alis “Tentu saja mirip dengan ku. Kau berharap wajah Putraku mirip wajahmu karena kita kembar? Sebaiknya kau bercermin dulu.”
“Astagfirullah... Kamu ada masalah denganku Dylan? Dari tadi kalau jawab ketus Mulu. Apa ini karena kemarin aku makan ice cream mu?” Seru Ilmy yang lama-lama kesal dengan Abang nya.
Kemarin Dylan mengidam ice cream, namun saat membuka lemari pendingin yang ia dapatkan malah tempat ice cream dengan isi saus capcay didalam nya. Dan tentu saja siapa lagi yang memakannya kalau bukan Ilmy membuat Dylan kesal setengah mati
“Husst.. kamu ini mas, udah punya anak masih kaya anak kecil. Udah deh, jangan pikirkan itu lagi. Lagi pula kak Ilmy juga gak tau kalau ice cream itu punya kamu, mas.” Tegur Akifa
“Noh dengar tuh.” Ilmy merasa ada diatas angin karena adik ipar membela dirinya
“Kau juga, berhentilah berbicara. Nanti keponakan ku bangun karena suara berisik mu.” Tegur Delon. Ia jadi menyayangi bayi mungil yang wajah nya hampir mirip dengan nya juga, mungkin karena Delon kembaran papa dari bayi mungil itu
Kali ini Ibu Dian hanya diam saja, ia sudah terlalu lelah menegur putra putri nya yang suka bertengkar. Namun pertengkaran kecil itulah yang membuat hubungan mereka semakin dekat.
Ayah Ilyas mengambil cucu pertama keluarga Sam itu lalu menggendongnya “Siapa nama cucuku ini?” Tanya Ayah Ilyas melihat putranya
Mereka yang disana pun ikut melihat kearah kedua pasangan yang baru saja menyandang predikat sebagai orang tua
Dylan dan Akifa saling pandang sambil tersenyum “Alansyah Elias Sam.” Jawab Akifa
“Wah.. namanya mirip nama ayah.” Ucap Ilmy
“Iya, itu memang sengaja. Ayah sendiri yang mau ‘kan?” Dylan menggoda ayahnya yang memang terlihat sangat antusias saat satu bulan istrinya akan melahirkan
Ilyas tersenyum tipis “Tidak buruk.” Ucapnya, sangat khas dirinya
“Nama panggilan nya?” Tanya Ibu Dian
“Alan..” Jawab Dylan “Yah terserah saja, kalian ingin memanggil nya apa. Asalkan sesuai dengan namanya.”
“Loh issh mas.. jangan gutulah, nama panggilan itu penting tau.” Ujar Akifa gemas dengan suami nya.
“Iya benar tuh kata Ifa, nama panggilan itu penting. Karena nama itu yang akan diingat orang perta kali.” Ilmy setuju dengan ucapan Akifa
Ibu Dian mengangguk “Iya itu benar, jangan sepelekan nama panggilan kalau tidak ingin disepelekan oleh orang lain.”
Ketiga pria disana hanya mengangguk pasrah, memang nya mereka bisa melawan? Tentu saja jawabannya tidak!
Perempuan adalah makhluk paling benar di tanah bumi ini!
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...