
Acara demi acara dilakukan sesuai adat Jawa yang dilakukan dalam pernikahan. Dan kini adalah tahap sungkeman kepada orang tua mempelai pria dan wanita.
Acara yang selalu dipenuhi air mata dalam acara bahagia ini. Semua yang menonton pasti akan selalu mengeluarkan air mata haru.
Sebuah acara yang memang harus selalu ada dalam sebuah pernikahan, dimana disinilah para anak meminta maaf dan sekaligus berterima kasih pada kedua orang tua mereka, acara dimana mempelai akan sadar betapa besar jasa kedua orang tua kepada hidup nya yang tak akan bisa dibalas menggunakan apapun itu.
Dan tak terkecuali Ilya yang selalu bersikap datar, akhirnya di sinilah Ilya Menumpahkan air matanya yang memang sudah ia keluarkan tadi didalam kamar ganti.
Ia bersimpuh di paha ibu dan ayahnya yang selama ini sudah sangat berjasa dalam membesarkan nya
Ibu Dian tak kuasa menahan tangis, ia mengangkat tubuh putrinya lalu memeluknya erat. Ayah Ilyas pun tak kalah haru. Walaupun mungkin pria paruh baya itu tidak mengeluarkan air mata, namun jauh didalam lubuk hati ia benar-benar sedih harus melepas tanggung jawabnya
“Ingat nak, sekarang kamu sudah jadi seorang istri. Layani suami dengan tulus, cintai suamimu, jaga nama baik serta kehormatannya.” Menangkup pipi Ilya lalu mengusap air mata putrinya
“Hiks.. hmm..” Gumam Ilya tak dapat mengeluarkan suara
Ayah Ilyas mengambil alih, pria itu mengusap kepala Ilya “Rumah masih terbuka lebar untuk mu, jangan ragu untuk pulang ke rumah. Pintu rumah tidak akan tertutup untuk mu.” Memeluk putri bungsunya. Ia tak menyangka bahwa setidak rela ini rasanya menyerahkan putri yang selama ini ia besarkan dan sayangi. Diam-diam ayah Ilyas menghapus air mata yang ada di ujung mata
Melepas pelukannya “Katakan jika suamimu menyakitimu, ayah adalah orang pertama yang akan menghajar nya.” Kali ini ia benar-benar serius
Ibu Dian terkekeh kecil, lantas ia kembali memeluk tubuh anaknya “Ingat sayang, kami semua menyayangimu.”
Tangis Ilya kembali pecah. Ia memeluk erat kedua orang tua nya.
Di sisi lain, tak beda jauh dengan pengantin pria yang juga penuh haru. Namun disini Fatih tak mengeluarkan air mata, ia bukanlah pria yang mudah mengeluarkan air matanya apalagi dia tak akan benar-benar pergi dari kehidupan orang tuanya.
Uma Lyza pun sama, wanita yang memang sangat jarang mengeluarkan air mata itu hanya tersenyum haru lalu mengusap kepala putra semata wayangnya
“Jaga istrimu, sekarang Fatih sudah punya tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan perusahaan. Sekarang istrimu adalah duniamu, sayangi dia, jangan pernah mengembalikan nya kepada orang tuanya.” Nasehat Uma Lyza dengan penuh kelembutan
Fatih yang selama ini tumbuh dibawah bimbingan seorang mantan ketua mafia mengangguk pasti “Pasti uma! Fatih akan menjaga istri Fatih.” Jawabnya mantap
Tiba-tiba Abi Ares memeluk putra semata wayangnya itu. Putra yang dulu ia gantikan popoknya dengan sangat bersusah payah tanpa bantuan istrinya yang kala itu masih berada didalam sel. Pria paruh baya itu menangis mengeluarkan air matanya
“Abi tidak menyangka putra abi akan menikah juga.”
Fatih terkekeh pelan, memang jika dibandingkan sang uma. Abinya lebih gampang menangis “Abi tidak perlu menangis, lagi pula Fatih juga Tidak akam pergi kemana-mana.” Mengelus punggung abinya
“Mau bagaimana lagi, padahal baru kemarin rasanya abi menggantikan popok mu, tapi sekarang malah Fatih yang harus memberikan abi cucu.”
Fatih dan ums Lyza tergelak mendengarnya. Ada-ada saja mantan CEO W Corp itu.
Abi Ares melepas pelukannya lantas melihat sang putra dengan tatapan serius “Ingat! Tanggung jawab mu! Tidak ada lagi nongkrong bersama temanmu sampai tengah malam, waktumu harus dihabiskan oleh Istri mu.”
“Pasti,” Fatih mengangguk pasti.
Sekarang kedua mempelai bertukar posisi. Fatih sudah menyiapkan mental untuk menghadapi ayah mertuanya yang pasti akan memberikan ceramah tajam.
Namun hal yang tak disangka Fatih saat tiba-tiba ayah Ilyas memeluk nya sembari menepuk-nepuk punggung menantu nya “Jaga Ilya, dia permata di keluarga Sam. Jangan sakiti dia, kalau memang kau sudah tak menginginkan nya kembalikan baik-baik kepada kami. Aku percaya padamu.”
Fatih sempat tertegun, detik kemudian ia tersenyum lalu membalas pelukan mertuanya “Ayah tenang saja, aku akan menjaga Ilya dengan mempertaruhkan nyawa ku.”
Ayah Ilyas melepas pelukannya “Pegang janjimu!” Ucapnya dengan wajah dan nada suara yang amat sangat serius
__ADS_1
Fatih mengangguk pasti. Ayah Ilyas kembali menepuk pundak menantunya. Ibu Dian Tersenyum, lantas ia pun angkat bicara
“Sekarang nak Fatih udah jadi bagian dari keluarga Sam. Kalau ada sesuatu yang menganggumu tentang Ilya katakan saja, dan jangan biarkan masalah berlarut-larut. Selesaikanlah dengan cepat tanpa kekerasan.” Menasehati dengan suara yang lembut
Fatih kembali mengangguk “Baik bu.”
Tak berbeda jauh dengan Ilya. Sekarang tubuh mungil Ilya dipeluk erat oleh uma Lyza “Kalau Fatih menyakiti mu, katakan pada uma. Biar uma yang mengajar nya.”
Ilya tersenyum haru “Terima kasih em.. uma, Ilya janji akan melayani kak Fatih sebaik mungkin.”
Melepa pelukan “Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kalau tidak sanggup, biarkan Fatih yang melayani mu. Walau bagaimanapun Fatih yang datang ke rumah mu meminta mu, sayang.” Mengelus pipi menantu cantiknya
Ilya sempat tertegun mendengarnya, dia tidak percaya ada mertua seperti mertuanya sekarang yang lebih membela menantunya daripada anaknya sendiri
“Itu benar nak, Fatih yang bertanggung jawab atas mu. Bukan kamu yang bertanggung jawab atas dirinya, jadi jangan terlalu memaksakan diri.” ayah Ares menimpali
Ilya mengangguk sembari tersenyum simpul “Akan Ilya ingat, tapi Ilya tetap akan melayani kak Fatih.”
“Itu adalah pilihan mu, sayang.”
.
.
“Omg aku terharu bangat.” celetuk Akifa sembari mengusap ingusnya memakai tisu
“Waktu mas Dylan nikah sama mbak Indah kok gak sedih-sedih kaya gini sih.” Entah mengapa ia malah protes
Dylan yang ada disamping istrinya merangkul bahu Akifa “Yah mana mungkin mau sedih, orang nikahnya saja terpaksa.”
“Sudah.. sudah jangan menangis lagi. Tadi didalam kamar ganti sudah menangis, kenapa sekarang kembali menangis.” Mengelus bahu istrinya
“Ishh kamu gak ngerti perasaan wanita sih mas, kami tuh makhluk yang lemah lembut, gampang nangis.” Protes Akifa sembari mengusap air matanya
Dylan tertawa kecil “Iya.. iya.. yang paling lemah lembut melebihi makhluk halus.”
“Mas..” Mencebik menampilkan wajah cemberut
Dylan kembali tertawa, lantas ia mengecup bibir Istrinya. Akifa kembali mencebik “Ini tempat umum, mas!” Ingin sekali ia memasukkan suaminya kedalam karung. Disembunyikan agar tidak ada yang lihat!
“Asin, rasa air mata.”
“Bukan! Itu asin karena ada ingusnya!” Geram Akifa membuat Dylan kembali terbahak
Delon dan Ilmy yang kebetulan ada bersama satu meja hanya menggeleng kan kepala kesal dicampur lucu melihat tingkah pasutri itu
“Ckckck.. tolong hargai kami disini! Dunia bukan cuman tentang kalian berdua.” Sahut Ilmy
Akifa langsung salah tingkah didapati bermesraan dengan suaminya ditempat umum “Ishh kamu sih mas.”
Sedangkan Dylan menatap adiknya dengan wajah datar “Iri? Makanya nikah sana.” Bukannya kapok didapati, Dylan malah semakin merangkul istrinya lalu mengecup pipi tembem sang istri
Ilmy meringis melihat nya. Bukannya dia tidak mau menikah namun laki-laki yang diajak menikah selalu lari, pikir Ilmy. Ia melihat Marcell yang duduk tak jauh dari mejanya
__ADS_1
Haaahhhh..
Delon pun sama, namun ia hanya melihat datar kearah adik dan juga adik iparnya. Ia juga ingin menikah, apalagi mengingat umurnya. Dan parahnya ia sudah tiga kali dilangkahi. Dua kali pernikahan Dylan dan kini pernikahan adik bungsunya.
Sungguh menyedihkan kisah percintaannya!
“Mas jangan gitu ah.” Menyiku perut sang suami
Dylan tersenyum, tangannya naik mengelus kepala Akifa yang tertutupi hijab “Lapar tidak? Mau makan?” Satu-satunya cara menghindari pertengkaran adalah mengalihkan pembicaraan. Dan hal ini hanya berlaku saat berhadapan dengan istrinya yang sedang hamil
Akifa berpikir sejenak, kepalanya menoleh melihat kearah meja yang penuh dengan makanan “Mau mas, tapi maunya dessert ajah yah.”
“Tidak boleh, makan yang berat-berat dulu.”
“Haiss ini keinginan dedek bayi mas, gimana sih.” Mencebik kesal. Padahal dessert disana sudah melambai-lambai bak pohon kelapa di pantai agar Akifa segera mencicipinya.
Dylan menghela nafas panjang “Yasudah, tapi jangan banyak-banyak. Kamu tunggu disini, biar mas yang kesana.”
Senyum Akifa tersinggung lebar “Siap!” hormat
Dylan kembali dibuat gemas, ia mengecup kedua pipi istri nya lalu beranjak pergi ketempat dessert yang ditunjukkan Akifa
“Yang banyak cokelat nya mas.” Sahut Akifa dan disambut acungan jempol suaminya
“Udah gak sedih lagi, Fa?” Tanya Ilmy heran melihat Akifa yang terlihat sudah sangat bersemangat berbeda dengan tadi.
“Hmm udah enggak kak, lagian ‘kan hari ini harusnya kita bahagia karena pernikahan Ilya.” Jawab Akifa dengan wajah polos
“Hahah iya kamu benar.” Entah bagaimana caranya Ilmy menanggapi. Apakah harus menangis atau tertawa melihat mood ibu hamil yang sangat cepat berubah.
Akifa mengalihkan pandangan melihat punggung kekar suaminya yang sekarang tengah mengambil beberapa dessert. Matanya memicing melihat seorang pria disana.
Tiba-tiba mata Akifa melebar saat tak sengaja tatapan mereka bertemu. Dia... Mantan yang pernah ia tinggalkan demi tiga puluh juta!
Bagaimana dia bisa ada disini? Pikir Akifa. Segera ia memalingkan wajah.
Entah mengapa Akifa jadi awas, takut kalau suaminya mengetahui masa lalu yang menurut nya memalukan dan keterlaluan itu.
Namun hal yang tak disangkanya saat suara orang yang tak ingin ia lihat memanggil
“Akifa?..”
‘Sialll’
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...