
Akifa dan Dylan baru landas malam ini tepatnya jam 8.30 Wita. Mereka berdua celingak-celinguk mencari orang-orang yang katanya akan menjemput keduanya.
“Ah.. itu ayah sama ibu sayang.” Seru Dylan menggandeng tangan istrinya
Akifa mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya ia cukup gugup akan bertemu keluarga sang suami, ia masih mengingat bagaimana sikapnya dulu saat keluarga suaminya datang berkunjung. Waktu itu Akifa masih marah pada suaminya, dan dia juga masih memperlakukan Dylan sangat dingin.
Walaupun Akifa tak sampai memperlakukan keluarga suaminya dengan dingin, namun ia tetap segan dan sedikit canggung.
Terlihat disana ayah, ibu serta Ilmy sedang menjemput keduanya. Dylan dan Akifa menghampiri mereka bertiga
“Assalamu'alaikum..” Salam kedua pasutri tersebut lantas mencium punggung tangan kedua orang tua mereka
“Wa'alaikum salam.” Balas mereka bertiga
Dian sontak memeluk erat anaknya lalu beralih ke sang menantu “Bagaimana kabar kalian?” Mengusap perut Akifa yang sudah nampak menonjol
Akifa tersenyum “Alhamdulillah kami baik bu..”
“Alhamdulillah...“
“Halo kakak ipar..” Ilmy memeluk Akifa erat
“Halo juga kak..” Balas Akifa mencoba untuk menahan pelukan Ilmy yang terlalu erat, takut mengenai perutnya
“Ilmy.. jangan terlalu keras memeluk istri ku.” Menarik Akifa ke pelukannya
“Eh?! Astagfirullah.. sorry.. sorry.. aku terlalu bersemangat..”
Dylan berdecak “Sikap cerobohnya tidak pernah hilang.” Gerutu Dylan sedikit kesal dengan adik kembarnya
Ilmy mendengus “Akifa gak keberatan, kenapa kamu yang julid sih!”
“Hello.. dia istriku! Jauh-jauh sana!” Melambaikan tangan mengusir Ilmy
“Ibu..” Rengek Ilmy bergelayut manja di lengan ibunya
Dylan berdecak “Pengadu! Huh!”
“Biarin blwee.”
“Sudah.. sudah.. kalian ini!” Tegur Dian geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anak nya yang tak pernah berubah
Akifa mengulum senyum melihat mereka. Ia memang sempat melihat interaksi mereka dulu, namun karena masih marah Akifa tak pernah terlalu memperhatikan Dylan saat itu.
Dylan merengkuh bahu istrinya “Kalau gitu ayo kita pulang. Istri Dylan sedang hamil, tidak baik terlalu lama berdiri.”
Akifa Tersenyum melihat tingkah sang suami, bukan hanya Akifa namun ibu serta Ilmy pun ikut mengulum senyum. Mereka masih tak percaya kalau Dylan benar-benar berhasil menaklukkan Akifa. Berbeda dengan Ilyas yang nampak biasa saja, pria yang semakin tua semakin bucin kepada istrinya itu sudah menduga hal ini akan terjadi. Jadi dia hanya menganggap biasa saja.
Apalagi ia percaya, keturunannya tak akan ada yang gagal. Baik dalam percintaan maupun segala sesuatu, benihnya adalah yang terbaik!
“Iya ayo,” Dian memegang tangan sang menantu lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Ilyas dan Dylan dibelakang, sedangkan Ilmy sudah lebih dulu mengapit lengan kaka iparnya
Ilyas berdecak, harusnya dia yang dipegang tangan oleh sang istri. Pria paruh baya tersebut mendengus lalu menoleh melihat putranya. Sedangkan yang dilihat hanya mengedikkan bahu, ia pun tak bisa melakukan apa-apa.
“Harusnya kamu lebih posesif pada istrimu! Huh!” Ujarnya ketus lalu Berlari kecil mengejar sang istri
__ADS_1
Dylan menggelengkan kepala “Pria tua bucin.” Berjalan mengikuti ayahnya. Bukannya ia tak posesif, hanya saja mana mungkin dirinya bisa menang melawan sang ibu, belum lagi ada adiknya yang paling cerewet. Dan pasti sang istri juga akan memarahinya jika cemburu pada ibu nya sendiri
Berbeda dengan Akifa yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena dikelilingi oleh orang-orang baik seperti keluarga suaminya. Sebenarnya ia cukup spechles dengan keadaan sekarang, dimana dia diapit oleh dua wanita dengan pakaian syariah yang menutupi aurat, berbeda dengan dirinya yang hanya menggunakan pakaian terusan khusus ibu hamil.
Bukannya Akifa tak ingin memakai hijab dan memakai pakaian syar'i, hanya saja ia tak ingin merubah diri hanya karena rasa malu ataupun segan. Ia ingin berubah karena ingin! Tulus dari hati! Itu saja. Karena itu ia akan berusaha melakukannya.
.........
“Ilya, coba lihat! Gila ganteng bangat kan.” Seru Lina yang sekarang ada didepannya menunjukkan foto salah satu idola K-Pop nya. Gadis Cina-Indo tersebut memang tak bisa diam walaupun sedang makan.
Ilya hanya melihat sekilas tanpa merespon, ia memang tak terlalu tertarik dengan hal-hal berbau K-Pop ataupun drakor.
Lina yang sudah tau sifat temannya dari tk tersebut hanya bisa menghela nafas kasar “Huh!” Mendengus lantas kembali memakan bakmie
“Harusnya kamu lebih agresif dikit, Ilya. Aku dengar dari kak Ilmy katanya ada yang datang melamar mu ‘kan? Huh! Kenapa gak kasi tau aku sih.” kesal karena selalu mendapatkan informasi penting tentang sahabatnya dari orang lain bukan dari sahabatnya sendiri
Ilya meminum air putih yang ada diatas meja “Maaf, aku lupa. Iya, katanya ada laki-laki yang datang melamar.” Jawabnya datar
“Haisss kasian bangat tuh cowok dapatnya yang datar!”
“Itu bukan salah ku, dia sendiri yang datang melamar. Aku bahkan gak tau gimana bentukannya.”
“Iya sih,” Menghela nafas panjang lalu melihat kearah temannya “Tapi, menurut ku apa yang dilakukan cowok itu udah tepat! Kamu itu sempurna loh Ilya, ah! Mines datarmu.”
“Berarti aku gak sempurna karena ada minesnya ‘kan. Dan lagi gak ada manusia sempurna di dunia ini.”
Lina manggut-manggut mengerti, gadis mualaf tersebut memang tidak akan bisa berhenti kagum pada sahabatnya sendiri.
Dimana saat keputusan nya menjadi mualaf ditolak mati-matian oleh keluarga sendiri, bahkan sampai dicoret dari kartu keluarga karena dianggap sudah mengambil keputusan yang salah, hanya Ilya yang berdiri dan memberikan uluran tangan Padanya. Ia bisa ada disini karena semangat yang diberikan Ilya padanya.
“Jadi, siapa cowok itu? Kata kak Ilmy, dia pengusaha muda dan tampan kan. Udah pernah ketemu gak?” Mencondongkan badan
“What??! Jangan bilang kamu langsung iya-in tanpa tau siapa dan bagaimana orangnya?” Tanyanya dengan wajah yang tak percaya
Ilya mengangguk santai “Aku bahkan baru tau kalau dia pengusaha, ku kira seorang ustadz.” Ucapnya “Bukan rupanya..” lanjut, Lirih Ilya
Perkataan Ilya membuat mulut Lina menganga tak percaya “Gila! Aku tau kamu orang yang berbakti dan bodo amat, tapi gak sampai ke masa depan mu juga ‘kan!”
Mengangkat kedua bahu “Aku gak terlalu memikirkan nya sih. Yang penting kedua orang tuaku senang, itu udah cukup.” Ucapnya acuh
‘Enggak! Orang tuamu pasti lebih senang kalau kamu nolak!’ Pekik Lina dalam hati namun hanya bisa tertahan sampai tenggorokan akibat terlalu tercengang dengan respon sahabatnya yang amat sangat santai.
Menghela nafas panjang ”Pengen bangat aku marah-marah, tapi kata kak Ilmy cowok itu cowok baik-baik dan memang suami ideal untuk mu. Jadi yah, harus terima ajah.”
Ilya hanya mengangguk santai “Terima kasih untuk traktiran nya. Kalau gitu aku duluan.” Lina tersenyum lalu mengangguk
“Hati-hati..” pesannya
“Hmm, Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.”
.
.
__ADS_1
Ilya mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tak ada yang salah, namun tiba-tiba ban mobilnya meletus. Mobil hampir oleng, untung saja Ilya dapat mengendalikan mobil dengan baik hingga tak terjadi yang tidak di inginkan.
Ilya keluar dari dalam mobil sembari mengelus dada, lega. Dia lega karena selamat. Dilihatnya ban mobil, dan benar saja dua ban mobil belakang meletus.
Lantas ia kembali berdiri, celingak-celinguk melihat sekitar. Sialnya sekarang dia ada di jalan yang sepi.
Menghembuskan nafas panjang, saat ia ingin menelpon sopir di mansion, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat didepan mobilnya. Ilya tak memikirkan lalu kembali membuka ponsel.
Dari balik mobil hitam tersebut, seorang pria muda tampan turun sembari melipat lengan kemeja hingga ke siku
“Ban mobilnya meletus?” Tanya pemuda tersebut
Ilya menyimpan kembali ponselnya setelah menghubungi sopir “Iya,” Jawabnya singkat tanpa melihat laki-laki itu.
Fatih, pria tersebut tersenyum tipis. Ia tidak tersinggung akan sikap Ilya, ia malah senang dengan sikap acuh yang dimiliki Ilya-nya. Bukankah itu menandakan calon istrinya tidak suka tebar pesona pada lawan jenis.
“Mau ku bantu?”
“Gak perlu.” Lagipula sopirnya akan segera datang
“Jangan sungkan Ilya, sini aku akan mengantarmu pulang.”
Mendengar namanya disebut, sontak Ilya Mendongak melihat pria muda tersebut. Keningnya berkerut “Anda?.. tuan muda Warrent?” Tebaknya, seingat gadis itu. Ia pernah melihat Fatih disebuah pesta.
Fatih tersenyum simpul, akhirnya Ilya-nya melihatnya “Iya, Aku Fatih. Rupanya kamu mengenalku yah.” Bertambahlah kebahagiaan Fatih saat tau Ilya mengenalnya
Ilya hanya mengangguk, ia mengingat Fatih karena ibunya dulu selalu memuji Fatih. Karena itu, tanpa sadar Ilya akan selalu penasaran dengan sosok Fatih yang selalu di agung-agungkan sang ibu.
“Mau ku antar?” Sekali lagi menawarkan, berharap kali ini Ilya akan menerimanya
“Gak perlu, sebentar lagi sopirku akan datang.” baru juga ia selesai berbicara, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengangkat ponsel saat melihat rupanya sang sopir yang menelpon.
Ilya menghembuskan nafas setelah menerima telepon. Sopirnya baru saja mengatakan kalau tidak bisa menjemput Ilya karena keadaan jalanan yang tiba-tiba macet dikarenakan ada kecelakaan.
Melihat ada kesempatan, Fatih kembali menawarkan “Aku baru saja melihat ada berita kecelakaan, sepertinya sopirmu tidak bisa datang. Bagaimana? Mau aku antar? Disini jarang taksi lewat.”
Ilya masih nampak berpikir keras. Ia tak terlalu mengenal Fatih, dan juga ada rasa sungkan untuk menerima bantuannya
“Jangan khawatir, tujuan ku melewati jalan rumahmu. Aku juga tidak buru-buru. Tenang saja aku pria baik-baik, kalau kamu tidak mau duduk di samping ku, kamu bisa duduk di kursi belakang.” Kali ini, apapun yang terjadi Fatih harus mengantar Ilya pulang.
Ilya sedikit tercengang mendengar penuturan Fatih yang panjang lebar dan menjawab semua kekhawatiran nya.
Ilya pun mengangguk “Maaf merepotkan.”
Fatih tersenyum lebar “Tidak merepotkan kok. Ayo masuk, kamu mau duduk dimana?”
“Didepan saja.” Ia tidak enak jika harus duduk dikursi belakang seakan-akan Fatih adalah sopirnya.
Full senyum, yah Fatih tak dapat menahan senyumnya. Setelah masuk Fatih pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia tak henti-hentinya tersenyum membuat Ilya heran sendiri namun juga sedikit lucu, tak sadar ia terkekeh kecil.
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...