Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Ngidam Bakso


__ADS_3

Sesuai perkataan Akifa, akhirnya Dylan dirawat di rumah mulai kemarin lusa. Dan hal yang mengejutkan adalah, selama dirawat dirumah mual-mual Dylan sudah tidak terlalu parah. Bahkan bisa dikatakan dia menjadi sehat walafiat.


Sore itu, Akifa sedang menikmati udara segar di taman. Walaupun mungkin tidak terlalu segar karena campuran dari beberapa asap kendaraan dan asap-asap lainnya yang membahayakan. Tapi Sebisa mungkin Akifa mencoba menikmatinya.


Tiba-tiba terdengar suara dari gerbang. Sontak Akifa berdiri dan langsung berlari keluar


“Mas..” Panggil Akifa pada seorang paruh baya yang tengah mendorong gerobak yang bertuliskan ‘Bakso Mantan~ selalu ngangenin’


Yang dipanggil berhenti, lalu mendorong gerobaknya mendekati Akifa “Mau bakso mbak?”


“Iya pak. Dua porsi.” Jawab Akifa bersemangat. Ia mengganti panggilannya saat melihat orang yang menjual rupanya seorang paruh baya.


Dylan yang kala itu sedang ada di balkon kamar tak sengaja melihat istrinya berlari keluar membuat pria itu langsung panik bukan main. Alhasil ia berlari keluar rumah


“Ifa.. astagfirullah, kamu tidak apa-apa ‘kan?” Tanya Dylan panik


Akifa menatap suaminya dengan tatapan heran “Kenapa mas? Lari-lari sampai keringatan gini.” Mengusap lembut dahi suaminya yang berkeringat


Dylan menangkap tangan istrinya lalu mencium punggung tangannya “Mas.. malu..” Lirih Akifa. Penjual baksonya sampai tersenyum salah tingkah melihat pasangan muda didepannya


“Lain kali jangan lari-lari.” Ujar Dylan tanpa mengindahkan perkataan istri nya


Akifa hanya mengangguk “Iya,” Jawabnya sembari merangkul lengan sang Suami. Karena sudah terlanjur basah, mending sekalian menceburkan diri.


“Pesanannya mbak.”


“Iya makasih pak.” Ujar Akifa sembari mengambil kantong keresek berisikan dua porsi bakso, setelah nya ia menoleh melihat suaminya “Mas, bayar..” Dengan wajah yang polos dan sok suci, Akifa meminta Dylan membayar nya. Ia lupa kalau tidak mempunyai uang di saku


Dylan terkekeh kecil “Makanya, lain kali sebelum melakukan sesuatu, periksa dulu. Mampu atau tidak.” Mengeluarkan dompetnya


Akifa mencebik “Kan lupa mas, lagian kamu juga udah ada disini.”


Dylan geleng-geleng kepala “Berapa pak?”


“Tiga puluh ribu, mas.”


Dylan mengambil uang lima puluh ribu rupiah “Sisanya buat bapaknya saja.”


“Eh? Yakin mas? Wah.. terima kasih mas, semoga rezekinya selalu lancar dan hubungan mas sama mbak nya bisa langgeng sampai maut memisahkan.”


“Aamiin..” Pekik Akifa


“Aamiin, terimakasih atas doanya pak.”


Setelah itu mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah sembari bergandengan tangan. Terlihat Akifa sangat senang dengan bakso yang sekarang ada ditangannya.


Ia bahkan beberapa kali mencium wangi dari kantong kresek tersebut “Hmm pasti enak..”


“Senangnya.. ngidam?”

__ADS_1


Akifa mengedikkan bahu “Mungkin. Cuman jadi ngiler pas dengar bapak tukang baksonya teriak tadi.”


“Jangan bilang kamu ngidamnya sama suara bapaknya.”


“Yee enak ajah... Tapi.. bisa jadi sih.” Ia jadi sedikit ragu. Namun merasa antusias Dengan bakso yang ada ditangan, Akifa menggeleng keras. Pasti ngidam makan bakso!!!


.


.


Setelah selesai makan bakso, dengan Dylan yang jadi korban eksperimen istrinya. Keduanya kini duduk di ruang tengah sembari menonton tv


Dylan memeluk pinggang sang istri dari samping sembari menonton sinetron kesukaan Akifa. Apalagi semenjak hamil, rasanya sangat tidak afdol bisa tidak menonton sinetron


“Hiks..”


Dylan tersentak tatkala mendengar suara istrinya menangis. Baru saja ia ingin bertanya dengan nada khawatir, terhenti saat Akifa tiba-tiba berbicara


“Hiks.. bego bangat jadi cewek! Harusnya tinggalin ajah! Ngapain bertahan kalau cuman berjuang sendiri hiks.. hiks..”


Dylan Menghela nafas lega, rupanya hanya karena sinetron. Dylan melirik kearah tv yang sedang menampilkan seorang wanita tengah menangis di tengah jalan dengan curah hujan yang tinggi. Terlihat pedih namun karena adegan klise, seakan-akan tak ada lagi kesedihan di sana.


“Iya, istrinya terlalu baik. Harusnya pergi saja kalau hubungan sudah toxic.” Bukannya menenangkan sang istri yang tengah menangis, Dylan malah semakin memanasi


“Huh! Mau sedih tapi adegan menangis nya klise bangat! Ihhh istrinya juga bikin gemes!! Pergi ajah kali, gak usah nangis ditengah jalan! Ketabrak baru tau rasa!” rasa sedihnya tadi berganti dengan rasa kesal saat melihat pemeran wanita didalam sinetron terlihat terlalu lemah.


Dylan manggut-manggut membenarkan perkataan istrinya. “Ya.. ya.. pergi saja.” Layaknya demo, Dylan menyuarakan pendapatnya


Dylan yang tadi selalu manggut-manggut setiap kalimat yang keluar dari bibir istrinya dibuat tersentak saat mendengar penuturan nya yang lain. Sontak Dylan memeluk erat pinggang sang istri


“Jangan pernah berpikiran meninggalkan mas, sayang.”


Akifa menatap suaminya dengan tatapan heran “Apa sih mas? Siapa yang mau ninggalin kamu?“


“Benar??” Mata Dylan sudah berkaca-kaca. Mungkin karena efek syndrome couvade yang membuat moodnya juga terombang-ambing.


Akifa memberikan senyuman simpul, lantas wanita cantik itu menangkup pipi suaminya yang terlihat sangat menggemaskan “Iyalah mas, aku gak mungkin ninggalin kamu.”


“Janji?” Memberikan jari kelingkingnya. Ia tak akan rela jika ditinggalkan istrinya begitu saja, perjuangan bertahun-tahun tidak akan ia sia-siakan.


Akifa terkekeh mendapati sikap Dylan yang sangat mirip dengan anak-anak “Iya janji.” Menautkan kelingking nya di kelingking sang suami “Lagian, mas udah buat aku bunting. Masa harus aku tinggalin, yah kali! Mending aku tuntut pertanggung jawaban mas.”


“Pasti! Mas pasti bertanggung jawab.” Dylan menjawab dengan sangat serius


Akifa kembali dibuat tertawa geli “Iya.. iya.. mas ku sayang yang paling tampan dan si paling bertanggung jawab.” Setelah nya ia Mencium seluruh wajah sang suami karena terlalu gemas


“Lagi sayang..” Rengek Dylan


Menuruti permintaan suaminya, Akifa kembali menciumi wajah Dylan

__ADS_1


“Lagi...” dan sekali lagi, tanpa bantahan Akifa tetap melakukan nya


Karena merasa sang istri tak membantah, Dylan semakin menjadi. Ia mengerucutkan bibirnya “Disini sayang, lamaaaaaa...” Menunjuk bibirnya yang sekarang monyong


Akifa tertawa geli lantas menempelkan bibirnya dengan bibir sang suami, lama seperti yang diinginkan bayi besarnya. Namun itu tak berselang lama saat Dylan melumaat habis bibir Akifa.


Sangat lama, sampai Akifa memukul pelan dada sang suami untuk berhenti. Barulah Dylan melepas bibirnya lalu mengusapnya “Rasa bakso..” Tersenyum manis


“Ya iyalah, orang kita habis makan bakso.” Jawab Akifa kembali menonton tv


Dylan tersenyum lalu memeluk istrinya dari samping. Dia tak menyangka, gadis yang selama ini ia kuntiti adalah istrinya sekarang. Betapa beruntungnya pria itu.


Drrtt.. drrtt.. drrtt..


Perhatian keduanya beralih Melihat ponsel Dylan yang bergetar di atas meja, tertampil nomor Delon disana.


Mengambil ponsel “Haiss ganggu saja nih orang!” Gerutuan Dylan mendapat sikutan perut dari istrinya


“Angkat dulu, mas! Siapa tau penting.”


“Iya.. iya.. sayang.” Menggeser tombol hijau


Terdengar salam dari seberang dan dijawab Dylan dengan rasa malas. Dylan sengaja meloudspeaker panggilan agar istrinya bisa langsung mendengar tanpa harus ia jelaskan ulang nanti.


“Ada apa sih London?” Tanya Dylan menggunakan nama ejekan yang selalu ia gunakan pada kakaknya.


Akifa menahan senyum mendengar panggilan itu. Ia memang pernah sesekali mendengar panggilan itu di ucapkan Dylan saat Delon datang kerumahnya.


“Minggu depan datanglah kesini!”


Kening Dylan menyerngit heran “Loh bukannya waktu itu kamu larang, kenapa sekarang harus datang?” Otomatis Dylan heran. Ia masih mengingat bagaimana tiga bulan yang lalu kakaknya melarang ia datang dalam batas waktu empat bulan kedepan, dan sekarang masih ada satu bulan tersisa. Kenapa tiba-tiba dimajukan?


“Ada hal penting.”


“Hal penting? Hal penting apa? Tidak biasanya kau menghubungi ku. Atau apa jangan-jangan kau sudah menemukan gadis mu itu?”


Terdengar decakan kesal dari seberang yang membuat Dylan menarik kesimpulan kalau sekarang bukan tentang Delon.


“Apa ini tentang adik-adik? Katakan, ada apa dengan salah satu dari mereka?” Walaupun biasanya sering saling mengejek, tapi percayalah mereka berdua sangat menyayangi adik-adiknya.


“Ilya... Dilamar seseorang.”


“Apa!!!??” Pekik Dylan dan Akifa bersamaan


.


.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2