
Setelah makan malam, mereka semua kemudian berkumpul di ruang keluarga. Menonton sembari berbincang-bincang sebentar. Setelah satu jam berlalu, mereka semua membubarkan diri melanjutkan aktivitas yang harusnya mereka lakukan.
Akifa dan Dylan langsung naik keatas kamar mereka menggunakan lift. Walaupun istrinya masih marah padanya, Dylan tetap melakukan tugasnya seperti biasa. Ia menuntun sang istri naik keatas kamar.
“Pelan-pelan sayang.” ucap Dylan sembari menuntun sang istri naik keatas kasur
Setelah istrinya naik, Dylan dengan cepat mengambil bantal untuk mengganjal punggung sang istri untuk disandarkan di pan ranjang.
Dylan ikut naik lalu memijat-mijat kecil betis istrinya yang pasti sekarang tengah kelelahan.
“Jangan suka senyum sama perempuan lain,” Ucap Akifa tiba-tiba. Ia memang marah pada sang suami, namun ia juga merana saat marah pada suaminya
Sontak Dylan mendongak, ia tersenyum lebar “Iya sayang.” Jawabnya singkat
“Jangan terlalu ramah sama perempuan lain.”
“Hmm, iya sayang.” Mengangguk patuh
“Nanti mereka jadi kegeeran kalau mas senyumin, apalagi kalau mas ramah sama mereka.”
Dylan kembali mengangguk, senyumnya kembali melebar “Iya pasti sayang.” mengatakannya dengan percaya diri.
Lantas, Dylan mendekat lalu memeluk istrinya dari samping “Sudah tidak marah ‘kan?”
Memalingkan wajah “Huh! Memangnya siapa yang marah!” mendengus. Namun tangannya naik mengusap pipi sang suami yang sekarang tengah berada di pundak
Dylan terkekeh “Iya.. iya.. istri mas tidak marah, jadi mas sudah tidak alergi dengan kacang ‘kan?”
Blushh..
Wajah Akifa memerah mendengar nya, ia jadi malu sendiri dengan perkataan nya sendiri hanya karena dilanda kecemburuan.
“Apa si! Nanti aku marah lagi nih.” Ia berdehem berkali-kali, sama sekali tidak ingin melihat wajah suaminya yang sekarang sudah ada disamping wajahnya
“Loh? Bukannya tadi kamu bilang tidak marah, sayang?” Dylan jadi ingin menggoda istrinya
Akifa mencebik “Ishh mas.. udah deh, jangan cari masalah lagi. Gak mau tidur diluar ‘kan.” Sekarang ia berani menatap suaminya dengan tatapan jahil
Dylan terkesiap mendengar penuturan istrinya. Ia lantas kembali memeluk sang istri dari samping lalu menaruh kepala di pundak Akifa “Iya.. iya.. maafkan mas,”
Akifa tersenyum, lantas ia membalas pelukan suaminya “Aku juga pengen minta maaf, padahal gak seharusnya aku kesal sama mas.”
“Tidak apa-apa, namanya juga bawaan ibu hamil. Mas mengerti kok.” Ucapan bijak Dylan semakin membuat senyum Akifa melebar.
Dylan dengan berani mengecup pipi istrinya berkali-kali membuat Akifa tertawa receh seperti yang biasa ia lakukan saat kegelian.
“Hahah mas..” ia menoleh melihat suaminya dan
Cup..
Satu kecupan berhasil mengenai bibir wanita hamil itu. Akifa tak membuang-buang kesempatan, lantas ia menarik tengkuk suaminya lalu melumaat bibir nakal sang suami yang sedari tadi mengecup pipinya
Dylan tersentak, ia terkejut mendapati serangan tiba-tiba dari istrinya. Namun detik kemudian Dylan membalas ciuman istrinya.
__ADS_1
Tangan Dylan mengangkat tubuh sang istri lalu mendudukkan nya di pangkuan masih dengan berciuman. Ciuman Dylan turun ke leher istrinya membuat Akifa mendesaah seksi ditelinga Dylan
“Hentikan mas, sayang..” Berbisik sambil menghisap leher sang istri. Ia takut melakukannya saat istrinya sedang hamil, walaupun ia tau itu aman namun melihat perut istrinya yang besar membuat Dylan takut terjadi sesuatu kepada calon anak mereka.
Akifa meremaas rambut sang suami “Haaahh.. kata dokter Tina, trimester kedua ini disarankan melakukan nya mas..” karena hormon ibu hamil, membuat Akifa jadi sedikit lebih bernafsu dari sebelumnya
Dylan tak membuang kesempatan yang diberikan istrinya. Ia langsung menerkam Akifa dengan perlahan agar tak mengganggu kandungan Istrinya.
Perut Akifa yang besar terlihat sangat seksi dimata Dylan. Ia benar-benar gemas kepada istrinya dan ingin selalu sang istri dibawah kukungannya.
...***...
Hari-hari yang ditunggu Fatih pun tiba.
Yah, hari ini adalah hari pernikahan Fatih dan Ilya yang sudah ditunggu-tunggu. Mereka menikah di balroom sebuah hotel milik keluarga Warrent Sebagai pihak pengantin pria.
Para tamu sudah datang menduduki bangku di balroom hotel. Fatih masih ada diruang ganti. Ia berkaca, memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.
Haaahhhh..
Sekali lagi ia menghembuskan nafas panjang untuk mengurangi kegugupannya. Bagaimana kalau nanti ia salah ucap saat ijab? Atau bagaimana kalau dia lupa apa yang harus dikatakan saat ijab sangking gugup?
Fatih kembali dilanda kegugupan, membuat Kira yang sedari tadi disana menemani abangnya melihat bosan karena sudah dari tadi Fatih mondar-mandir tak jelas di depan cermin
“Bang, tenang saja. Aku yakin semuanya akan lancar.” Akhirnya ia membuka suara
Fatih berhenti, lalu ia memandangi adiknya “Tetap saja Abang gugup,”
Fatih hanya diam, ia membenarkan perkataan Kira. Menghela nafas panjang, ia akan mencoba positif thinking.
Kira terkekeh geli melihat tingkah abangnya yang sangat gugup. Padahal saat ada pertemuan penting pada pejabat-pejabat negara penting, Fatih sama sekali tidak gugup. Ia dengan percaya diri bisa menghadapi nya, Tapi sekarang ia benar-benar gugup setengah mati.
Lantas, Kira memeluk tubuh jangkung abangnya. Abang yang sangat ia sayangi, abang yang tak pernah sekalipun meninggikan suara kepadanya. Abang kesayangannya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain
“Aku sayang abang.” ucapnya, ia sangat ingin menangis namum menahan agar tak malu sendiri saat kembali mengingatnya dikemudian hari
Fatih tersenyum haru, kegugupannya seketika hilang saat mendengar perkataan sang adik. Adiknya yang paling cerewet. Lantas, Fatih pun membalas pelukan adiknya
“Nanti abang sudah tidak tinggal bersama kalian, jadi jangan repotkan uma yah.” Mengelus punggung adiknya
Kira hanya mengangguk, mencona untuk tak berbicara agar air matanya tak keluar. Fatih tau akan hal itu, entah mengapa air matanya juga ingin keluar saat membayangkan tidak akan tinggal lagi bersama keluarga nya. Namun disisi lain ia juga bahagia karena akan tinggal bersama istri tercinta.
Tifa dan Lyza yang saat itu ingin memanggil pengantin pria, terurung saat melihat adegan mengharukan didepa mereka.
Lantas, Tifa dan Lyza menghampiri Fatih dan Kira yang masih berpelukan. Mereka juga ikut memeluk laki-laki kebanggaan keluarga Warrent itu.
Fatih melebarkan tangannya untuk bisa memeluk ketiga perempuan kesayangan nya. Mereka tak berkata apa-apa, hanya berpelukan untuk menyalurkan kasih sayang disana.
Di sisi lain..
Ares bersama besannya sedang menyambut tamu, sekali lagi Ares melihat jam tangannya “Kenapa mereka lama sekali.” Gumamnya heran karena sudah dari tadi tapi pengantin pria belum muncul
Tiba-tiba Dian datang, ia terlihat menghapus air mata karena dari kamar ganti pengantin wanita yang tentunya lebih mengharukan lagi. Ilyas tersenyum hangat melihat hal itu, ia juga dari sana tadi.
__ADS_1
“Mending tuan Ares susul mbak Lyza, sekalian panggil nak Fatih juga.” Ucap Dian yang mengerti bagaimana suasana kamar pengantin pria sekarang.
Walaupun heran, Ares tetap pergi menyusul istri nya yang tak kunjung kembali.
.
.
.
Setelah mengharubiru didalam kamar ganti pengantin pria, akhirnya disinilah Fatih. Duduk didepan calon ayah mertuanya yang siap menikahkan dirinya dan juga kekasih hati.
Ilya masih disembunyikan oleh orang-orang sampai nanti tiba saatnya barulah ia akan dapat jemput.
“Saya terima nikahnya Putri Alilya Sam binti Mahendra Ilyas Sam dengan mad Kawin tersebut dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Ujar Fatih lantang, walaupun tangannya berkeringat dingin tak membuat suara Fatih bergetar.
“Sah..” ucap para saksi setelah ditanya disana
Orang-orang yang mendengar perkataan Sah lantas berseru
“SAH!!” Seru mereka sambil berteriak. Kebanyakan dari tamu adalah teman bisnis dari kedua belah pihak keluarga serta teman-teman Fatih saat kuliah ataupun sampai sekarang. Mereka semua menghadiri acara pernikahan tuan muda dari keluarga Warrent itu.
Setelah membaca doa, penghulu pun menyuruh pengantin wanita untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Gorden terbuka, Ilya dengan didampingi Ilmy dan Dian keluar. Ilya nampak menggunakan kebaya putih yang menutupi seluruh tubuhnya dan dibalutkan dengan hijab yang semakin membuat Ilya bersinar disana.
Deg..
Lagi, Fatih sepertinya kembali dibuat jatuh cinta berkali-kali dengan gadis pujaan hatinya itu. Ia ingin berlari memeluk Ilya yang sekarang sudah menjadi istrinya, menggendongnya dan membawanya kedalam kamar pengantin lalu mengurung sang istri berhari-hari.
Bolehkah dia melakukannya?
Fatih menggeleng cepat. Ada-ada saja pemikiran kotornya, padahal belum ada sepuluh menit ijab selesai tapi pikiran nya sudah melalanglang buana tak tentu arah.
Sama, Ilya pun tak beda jauh. Hanya saja yang ia pikirkan adalah sekarang dirinya sudah benar-benar menjadi seorang istri. Ia baru menyadari perbedaan status nya sekarang setelah tadi mendapatkan pelukan hangat dari keluarga yang membuat make up nya harus kembali dipasang karena rusak akibat air matanya dan juga air mata keluarga nya yang tak bisa berhenti menciumi wajahnya.
Ilya duduk di samping suaminya. Mereka kemudian saling memasangkan cincin satu sama lain, setelah itu tangan kanan Fatih naik keatas kepala Ilya dan membaca doa.
Ilya kemudian mengambil tangan kanan sang suami dan menciumnya takzim, ia merasakan perasaan menggelitik saat mencium tangan besar itu.
Fatih mengecup kening Ilya-nya, istrinya, pujaan hatinya dengan lamat-lamat. Meresapi moment yang akan terjadi sekali seumur hidup.
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...
__ADS_1