Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Poni penyelamat nya


__ADS_3

Beberapa tahun lalu...


Saat itu, Dylan masih duduk di bangku kuliah. Sudah semester akhir dan tinggal menyerahkan skripsi nya.


Karena begadang semalaman, ia jadi telat bangun. Alhasil ia pun berangkat ke kampus Dengan buru-buru.


Karena tidak ingin terkena macet, Dylan mencari jalan tikus yang sekiranya dapat membantunya cepat sampai ke tujuan.


Namun naas, di sebuah jalanan yang sepi. Dylan kehilangan konsentrasi dan..


Brukk...


“Ahk.. sialan!!” Umpatnya mencoba untuk bangkit. Bak terkena karma instan karena telah mengumpat, kakinya keseleo. Tiba-tiba darah keluar dari keningnya.


Kepalanya sakit, darah semakin banyak keluar dari dahi. Saat hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya di papah susah payah oleh sebuah tubuh kecil.


Pelan-pelan Dylan membuka mata, dan benar saja. Seorang gadis kecil memakai seragam SMA, dengan lambang X MIPA, terlihat memapah tubuhnya yang besar dengan susah payah.


“Ughh.. bertahan kak..” Ucap Akifa. Yap gadis yang menolong Dylan adalah Akifa yang saat itu juga buru-buru ke sekolah gara-gara kesiangan. Namun saat di tengah jalan, ia malah tak sengaja melihat kecelakaan tunggal. Tak mau orang itu mati, dia segera membantu dan membawanya ke rumah sakit terdekat yang jaraknya 600 meter.


Samar-samar Dylan masih dapat merasakan wangi tubuh gadis yang menolongnya. Wangi khas anak gadis SMA yang masih remaja.


Dylan tak berdaya. Ia hanya bisa pasrah, darah di keningnya tak kunjung berhenti.


Brukk..


Karena terlalu berat, Akifa tak sengaja jatuh. Untung saja pas jatuh ia yang berada di bawah sedangkan pria asing yang ia tolong menghimpit punggungnya


“Maaf ka.. dikit lagi sampai kok.” Ujar Akifa kembali berdiri seakan-akan adegan jatuh tadi tidak pernah ada.


Sangking semangatnya, Akifa bahkan tak sadar lututnya sudah lecet dengan darah yang juga tak berhenti akibat jatuh tepat di aspal panas.


“Su.. sudah.. sampai disini saja.” Lirih Dylan tak tega melihat gadis kecil itu kesusahan membawanya


Tanpa menoleh “Apa maksud kakak! Kakak harus di obati.” Ia tetap fokus menatap kedepan


“Tidak perlu.. jangan memaksakan diri..”


Akifa menoleh kearah Dylan lalu tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelinci nya “Ifa Kuat kok kak!” setelah mengatakan itu, lantas salah satu tangannya menunjuk kearah sebuah gedung berwarna putih


“Lihat! Kita sudah sampai! Ifa kuat ‘kan!!”


Dylan tersenyum tipis melihat hal itu. Mungkin karena merasa lega, ketegangan yang tadi sempat melandanya hilang membuat kesadaran Dylan lambat laun menghilang.


“Eh? Kak? Kak??!! Jangan mati dulu kak!! Tolong.. suster..” Teriak Akifa. Ia jadi panik saat melihat pria asing yang ia tolong tiba-tiba tak sadarkan diri membuat beban di pundaknya semakin berat.


Setelah beberapa kali meminta tolong, akhirnya satpam dan beberapa suster datang sembari membawa brankar.

__ADS_1


Dylan langsung di bawa ke UGD. Akifa yang tadi ingin langsung pulang karena tidak mungkin ia ke sekolah dengan keadaan pakaian yang penuh darah dan pasti sekarang dia sudah sangat terlambat.


Mau tidak mau menunggu di depan ruang tunggu. Seorang suster menghampiri Akifa


“Dek? Sebaiknya luka adek di beri penanganan juga.” Ucap suster Tersebut ramah


“Luka? Saya tidak terlu.. auchhh..” Ia melihat lututnya yang terluka, darah yang sempat mengalir tadi sudah kering


“Ha? Sejak kapan?”


Suster itu hanya tersenyum “Mari dek, biar di obati.” Akifa menurut. Setelah di obati dua orang polisi datang menghampiri Akifa untuk menanyakan hal yang terjadi pada Dylan.


Akifa pun menceritakan semua yang ia tau, tanpa di kurangi atau di lebih-lebihkan.


Setelah beberapa pertanyaan dijawab, Akhirnya Akifa bisa bebas. Ia ingin segera pulang namun masih tertahan sebab tidak ada keluarga pasien. Setelah keluarga pasien dihubungi, rupanya mereka berada di seberang pulau dan masih menuju kemari.


Mau tidak mau Akifa akhirnya menunggu sampai keluarga pasien datang atau pria asing tadi terbangun.


‘Sabar Fa! Orang sabar banyak duitnya!’


Di sisi lain..


Luka yang dialami Dylan tidak terlalu parah. Hanya keningnya yang robek dan mendapatkan beberapa jahitan serta kaki nya yang patah. Al hasil kaki kebanggaan nya harus di gips.


Saat ia sadar, hal pertama yang ia cari adalah bidadari penyelamat nya.


”Gadis itu masih menunggu di depan tuan. Saya akan memanggilnya.”


Tak berselang lama, pintu kembali terbuka. Seorang gadis mungil dengan pakaian yang penuh darah serta rambut yang terurai berantakan dengan poninya masuk.


“Kak? Alhamdulillah, Ifa kira tadi kakak mati loh.” Hal pertama yang keluar dari bibir gadis itu saat melihat Dylan masih membuka mata


Dylan tersenyum tipis. Dimatanya, gadis berpakaian SMA dengan lambang X MIPA tersebut terlihat menggemaskan.


“Terima kasih sudah menolong ku. Siapa namamu?”


Akifa tersenyum “Sama-sama kak. Ifa orangnya baik jadi susah lihat orang kesusahan.” Ini kah yang namanya merendah untuk meninggi?


Dylan hanya bisa tersenyum geli melihat nya. Lantas Akifa mengibaskan rambutnya kebelakang lalu memperlihatkan papan nama di dada sebelah kanan baju “Akifa Rasyid Rajasa. Kakak bisa panggil Ifa ajah.”


Baru Dylan akan membalas, tiba-tiba ia dikejutkan saat Akifa menepuk keningnya cukup keras “Maaf kak! Ifa buru-buru mau pulang. Haisss pasti kena omel mbak Indah nih.” Gerutunya di akhir kalimat


“Hei.. tunggu dulu..”


“Udah yah kak! Kakak juga baik-baik ajah! Gak usah balas budi, bay.. bay..” Lalu pergi begitu saja


Tangan Dylan melayang di udara. Ia ingin menarik Akifa namum tak sempat.

__ADS_1


Menghela nafas panjang, lalu menyugar rambutnya.


Tiba-tiba..


Brakk


Sontak Dylan menoleh kearah pintu “Maaf kak lupa bilang sesuatu! Kakak cowok yang paling tampan yang pernah Ifa lihat! Gitu ajah! Assalamu'alaikum..” Lalu berlalu pergi


Dylan sampai kehabisan kata-kata melihat tingkah gadis mungil itu. Sikapnya sangat bar-bar dan energik


“Lucu.” Gumam Dylan


Setelah dinyatakan sembuh, Dylan kembali ke rutinitas biasanya. Yang berbeda hanya satu, yaitu ia akan selalu menguntit gadis-nya.


Yah, Dylan sudah menandai Akifa semenjak hari itu. Si poni penyelamat nya. Dylan bahkan mencari tau semua asal-usul Akifa. Setiap hari, saat senggang Dylan pasti menyempatkan diri untuk memantau gadis kecilnya.


Ia akan menjadi orang yang ada di garda terdepan saat melihat gadis yang sudah ia tandai menjadi istri masa depannya di dekati pria lain. Hanya dengan beberapa ancaman, para remaja ingusan yang hendak mendekati si poni-nya langsung kabur.


Flash back off


.........


Kembali ke masa sekarang, Akifa merawat suaminya dengan sangat telaten.


“Mas, kamu di rawat di rumah ajah yah? Aku risih di rumah sakit mulu.” Ucapnya menyuapi Dylan makanan yang ia masak.


Dylan hanya bisa menelan makanan yang di masak langsung oleh Istri tercintanya.


“Sebenarnya mas juga sudah memikirkan nya! Baru mas ingin berbicara tentang itu, eh! Poni-nya mas sudah angkat topik lebih dulu.” memegang poni istrinya Yang sudah terlihat lebih baik dibandingkan saat pertama kali bertemu


Akifa tertawa renyah “Mas ingat bangat yah sama poniku dulu. Padahal waktu itu aku cuman asal potong.” ia menggelengkan kepala mengingat tingkah nakal nya yang memotong poni nya asal karena ingin dilihat keren


Dylan tergelak “Hahah pantas saja bentuk poni nya waktu itu beda dari yang lain. Yang di sebelah kanan panjang sedangkan di sebelah kiri sangat pendek.”


“Ye.. itu namanya style mas. Fashion.. kamu ajah yang gak tau..”


Dylan kembali dibuat terkekeh “Iya, style asal mars yah.”


Blushhh..


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2