Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Cemburu


__ADS_3

Akifa membuka matanya pelan-pelan. Setelah sholat subuh tadi, ia kembali tertidur meninggalkan suaminya yang tadi subuh entah kemana.


Akifa mengedarkan pandangan dan tak menemukan sang suami, pelan-pelan ia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan.


Setelah kembali segar, Akifa keluar kamar mencari suaminya.


“Wahk ini mansion kebesaran, gimana cari mas Dylan nya.” Keluar dari dalam lift.


Ia mengedarkan pandangan celingak-celinguk mencari, namun tetap tak menemukan suaminya. Saat melihat seorang pelayan, Akifa hendak menanyakan dimana suaminya.


“Akifa..” Namun, suara orang yang memanggil mengurungkan niat Akifa


“Kak Ilmy? Ada apa kak? Eh! Kakak udah rapi ajah mau kemana?” Melihat penampilan Ilmy yang sudah memakai gamis dan pasmina


“Mau ke Galeri, kamu cari Dylan?” Ilmy memang mempunyai galeri. Bakat seninya turun dari sang ibu


Akifa mengangguk “Iya kak, kakak tau mas Dylan dimana?”


“Palingan di ruang Gym. Biasalah, laki-laki kalau gak olahraga gak jadi harinya.”


“Hahaha iya juga yah. Yaudah makasih yah kak.”


“Iya, aku pergi dulu.”


“Hati-hati kak.” Setelah mengucap salam, Ilmy pun pergi dari sana.


Akifa kembali melanjutkan langkah menuju ke ruang gym “Eh? Ruang gym itu dimana yah?” Baru sadar kalau masih asing dengan mansion ini.


Tanpa tau arah yang akan dituju, Akifa melanjutkan langkah entah kemana. “Aduh, susah juga punya rumah gede begini yah.” Ia memijat betisnya yang sakit karena berjalan.


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat adik iparnya, senyum Akifa merekah melihat penyelamat nya “Ilya..” Panggil Akifa sedikit meninggikan suara


Ilya yang saat itu turun dari tangga hendak ke meja makan menoleh melihat sumber suara “Kak Ifa?” Gumamnya. Ia dapat melihat Kakak iparnya yang memijat-mijat betis. Lantas Ilya mendekati Akifa


“Ada apa kak?”


“Syukurlah ketemu kamu, bisa kasi tau aku gak dimana letak ruang gym?” Pertanyaan Akifa sudah dapat Ilya simpulkan kalau Kakak iparnya sedang mencari kakaknya


“Ada di ujung lorong sana, kak.” Menunjuk sebuah lorong yang tak jauh dari tangga


Akifa ikut melihat lorong yang ditunjuk Ilya “Oh disitu rupanya. Makasih yah.”


“Sama-sama kak.” Jawabnya sembari mengangguk


“Gak usah panggil kakak, panggil nama ajah. Kita ‘kan seumuran.” Ia merasa aneh dipanggil kakak oleh orang seusianya


“Eh? Tapi itu gak sopan kak.”

__ADS_1


“Ishh malah aneh tau kalau kamu panggil orang seumuran mu dengan sebutan kakak. Kaya aku tua bangat gitu.”


Mendengar penuturan Akifa tiba-tiba membuat Ilya jadi tidak enak “Baiklah, tapi kalau bang Dylan marah jangan salahin aku loh.”


“Hehe siap-siap! Aku tanggung semua kok.” Satu hal yang Akifa yakin, suaminya tidak akan tega memarahinya! Ah.. ia merasa diatas angin


“Mau aku antar ke ruang gym?” Menawarkan, ia tak tega melihat Akifa yang sepertinya sudah lelah berjalan. Apalagi melihat perut buncit Akifa membuat Ilya ngilu sendiri


“Gak perlu, aku bisa sendiri kok. Yaudah aku duluan yah.” Ilya hanya mengangguk pasrah karena Akifa sudah lebih dulu melangkah pergi.


Akifa menyusuri lorong yang tak terlalu jauh. Wanita hamil muda tersebut mengerutkan dahi tatkala melihat seorang pelayan wanita seperti sedang mengintip di suatu ruangan yang pintunya terbuat dari kaca bening.


Merasa perasaannya tak enak, Akifa mempercepat langkahnya. Dan benar saja, rupanya pelayan wanita itu mengintip dua orang pria dewasa sedang berlari di treadmill dengan bertelanjang dada menampilkan perur kotak-kotak mereka dan hanya menggunakan celana pendek selutut saja.


Akifa ikut mengintip karena sepertinya pelayan wanita itu tak sadar akan kehadirannya.


Melihat yang didalam tiba-tiba membuat hati Akifa panas. Apalagi melihat bagian atas sang suami yang tidak tertutupi apapun dan dengan sangat leluasa seorang wanita lain melihatnya, membuat hati Akifa terbakar api cemburu. Apalagi terlihat keringat yang terua menetes dari balik punggung kokoh tersebut yang mana semakin membuat suaminya nampak seksi


“Ehem..” Akifa berdehem


Sontak pelayan wanita tersebut melihat sumber suara. Refleks pelayan itu menunduk


“Kerjakan pekerjaan mu dengan benar!” Menatap pelayan itu dengan tatapan tajam


Glek..


Akifa mendengus melihat kepergian pelayan tersebut. Akifa beralih kembali kearah pintu, ia kembali mengintip. Terlihat dua pria dewasa masih berlari di atas treadmill.


Yang satu menggunakan celana pendek berwarna hitam sedangkan yang satu berwarna putih. Dari belakang, keduanya tak ada beda. Baik dari segi bentuk tubuh maupun tinggi. Semuanya sama.


Namun, bukan Akifa namanya kalau tidak bisa membedakan yang mana suami tercintanya disana. Lantas ia membuka pintu lalu mengambil handuk kecil dan juga sebotol air mineral lalu membawanya ke salah seorang pria disana.


Sedangkan Delon dan Dylan yang tak menyadari kedatangan Akifa nampak masih asik berlomba lari diatas treadmill.


Setelah sampai di samping salah seorang pria Dengan celana pendek berwarna putih, lantas tangan lentiknya menjulurkan handuk “Mas, istirahat dulu.”


Dylan tersentak, tidak hanya Dylan. Namun Delon pun sama. Sontak mereka berdua menghentikan aksi lomba lari nya.


Dylan turun dari treadmill “Sayang, ada apa? Kok kesini?” Ia hanya diam saja saat Akifa mengusap kepala dan wajahnya dengan handuk


“Tadi waktu bangun, mas gak ada. Terus kata kak Ilmy mas Dylan ada di ruang gym, jadi aku kesini deh.” Memberikan botol air mineral


Dylan menerima botol tersebut lalu membukanya dan meminum air mineral tersebut. Jakun Dylan yang naik turun serta keringat disekitar leher membuat Akifa tiba-tiba jadi bergairah


Glek..


Tapi, mengingat bagaimana pelayan tadi mengintip suaminya membuat Akifa kembali kesal “Biasakan kalau berolahraga, mas pakai baju ajah.”

__ADS_1


“Hm memang nya kena..__ eh!” Lantas ia berbalik melihat kearah saudara kembarnya yang nampak acuh dengan memainkan ponsel “Lon pakai baju dulu.” Teriak Dylan


Delon tersentak, ia yang memilih duduk di bangku karena tak ingin melihat kemesraan adiknya mendongak dengan wajah heran. Akifa yang juga bingung melihat kebelakang suaminya, menyadari hal itu. Sontak Dylan memeluk tubuh istrinya dan membenamkan wajah sang istri di dada


“Aduh, mas.. ada apa?”


“Ck! Delon pakai baju mu!!” Menendang pakaian Delon yang ada di bawah kakinya.


Delon yang paham dengan tingkah ke-posesifan adiknya mengambil pakaian yang ditendang Dylan dan memakainya. Pakaian tanpa lengan itu tak dapat menutupi keseksian Delon dan juga tidak memuaskan rasa cemburu Dylan


“Keluar sana! Lon! Mata istriku ternodai melihat tubuhmu.”


Delona memutar bola mata malas ”Dasar posesif.” Gerutu nya


“Huh! Aku tidak mau mendengar nya dari orang seperti mu!” Maksudnya orang yang lebih posesif dari dirinya


Delon pun pergi dari sana meninggalkan pasutri yang masih saling berpelukan. Apalagi sekarang Akifa ikut melingkarkan tangan di pinggang sang suami


“Heheh dasar posesif.” Gumam Akifa dengan wajah yang nampak sumringah di depan dada suaminya


“Sayang lain kali kalau mau masuk bilang-bilang dulu. Kalau lihat yang seperti tadi, mas jadi cemburu loh.” Wajah cemberut Dylan sungguh kontras dengan badan dan perawakan nya yang terlihat gagah dan seksi dengan keringat yang mengalir membasahi dada sang suami


Akifa mencebik “Harusnya aku yang bilang jaya gitu. Tadi didepan pintu, aku lihat ada pelayan wanita ngintip mas dan bang Delon lagi olahraga. Mana air liurnya hampir netes lagi!” Memberikan komplain sambil Menunjuk kearah pintu kaca yang sudah tertutup.


Kening Dylan mengerut. Ia tak tau rupanya ada pelayan yang sangat kurang ajar seperti itu. Sepertinya ia harus memeriksa semua pelayan di mansion ini. Jangan sampai ada yang melakukan hal di luar batas karena para majikan terlalu baik kepada para pelayan.


Akifa melingkarkan tangannya di leher sang suami. Sambil berjinjit ia mengecup leher Dylan “Sayang, mas bau. Masih keringatan.” tapi tak ayal, tangannya tetap memeluk pinggang sang istri


“Hmm enggak kok, mas wangi. Apalagi wangi keringat mas aku suka.” Mengendus-endus leher suaminya membuat sesuatu yang dibawah terbangun


Dylan berusaha untuk menekan hasratnya. Tadi malam ia sudah menggempur istrinya, ia tak ingin lepas kendali dan malah menyakiti istrinya sendiri.


Saat Dylan harus menggigit bibir karena menahan Hasrat, berbeda dengan Akifa yang juga semakin gencar mengendus dan mencium tubuh suaminya


“Hmm wangi bangat mas, aku suka bangat.” Mencium leher sang suami


“Ahk.. sayang, kenapa digigit.”


.


.


.


TBC


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️...

__ADS_1


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2