Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Diterima


__ADS_3

Setelah hari aku bertemu dengan mas Dylan, aku lagi-lagi haru memikirkan semua kejadian yang menimpaku ini.


Keputusan apa yang harus aku ambil? Terlihat mas Dylan sangat tidak peduli pada keadaan mbak Indah?


Tidak! Hari ini aku harus menemui mbak Indah. Sudah beberapa hari ini mbak Indah selalu mengirimi aku pesan mengenai keputusan ku.


Dan disinilah sekarang aku, di rumah mas Dylan dan mbak Indah. Sebenarnya aku enggan untuk datang kesini, hanya saja mbak Indah yang memaksa agar kami bertemuan dengannya.


Awalnya aku menolak karena enggan bertemu dengan suami mbak Indah, apalagi kalau para pelayan sampai curi dengar dengan masalah kami, tapi mbak Indah memberikan jaminan. Kalau mas Dylan sedang tidak ada sedangkan para pelayan tidak mungkin akan melakukan hal yang sangat kurang ajar.


Di taman samping rumah, aku dan Mbak Indah duduk berseberangan. Di depan kami sudah ada minuman di atas meja.


“Jadi, gimana Ifa? Kamu setuju ‘kan?” Mbak Indah langsung ke intinya


Aku menghela nafas panjang “Pertama berikan aku satu alasan jelas, kenapa mbak Indah tega pada diri mbak sendiri.”


“Apa maksud mu?”


Ku genggam erat tangan mbak Indah yang ada diatas meja “Mbak jangan bohongi diri mbak sendiri. Aku yang paling tau bagaimana mbak sangat mencintai mas Dylan, dari dulu mbak sangat mengagumi mas Dylan sebelum menikah dengannya. Bahkan setelah mbak menikah dengan nya dan mas Dylan selalu bersikap dingin, mbak Indah tetap cerita hal baik tentang nya.”


Ku lihat mbak Indah terdiam. Sepertinya ia mulai memikirkan matang-matang apa yang sudah ku katakan padanya. Ku mohon mbak, sadarlah. Batinku.


“Haaaahhhh.” Terdengar helaan nafas panjang dari bibir mbak Indah “Kamu tau dek, perasaan itu bisa berubah. Kamu tau sendiri sudah berapa lama mbak menyukainya, dan walaupun sekarang mbak masih mencintainya bukan berarti mbak akan gak rela dengan keputusan mbak.” Ia menjeda ucapannya


“Malahan mbak sangat senang kalau kamu terima tawaran mbak. Mbak mohon dek, terima yah.”


“Mbak yakin?”


Mbak Indah mengangguk mantap. Aku menggeleng tak percaya


Brakkk...


Ke gerbak meja di hadapan ku “Mbak gila yah!!! Mbak mikir mbak!!! Apa dengan aku menikah dengan mas Dylan akan membawa kebahagiaan bagi pernikahan kalian??!! Dan bagaimana dengan ku!!? Jangan egois mbak!!” Bentak ku dengan nada tinggi.


Aku memang bukanlah mbak Indah yang lemah lembut, aku akui aku cukup bar-bar bahkan mata duitan. Karena itu aku bisa dengan mudah melepaskan kekasihku hanya dengan uang tiga puluh juta.


Mbak Indah nampak menghela nafas, ia tersenyum lembut kepadaku menampilkan senyuman ikhlas yang mampu membuat ku luluh.


Aku duduk kembali di tempat dudukku. Mbak Indah tersenyum lembut “Terima yah dek.” Memegang tanganku lembut


Aku terdiam “Mbak..”


“Akifa...” Menekankan perkataannya “Begini saja, setelah kamu melahirkan anak mas Dylan, terserah kamu mau bagaimana. Mau memilih pergi atau bertahan.”


Ku pandangi wajah mbak Indah dengan tatapan datar “Kalau aku tidak hamil-hamil? Apa mbak Indah akan mencari yang lain?” Sarkasku. Dan itu berhasil, mbak Indah nampak terdiam memikirkan sesuatu.


“Hanya satu tahun, jika satu tahun kamu tidak hamil-hamil maka, mbak tidak akan melarang mu untuk pergi.”


Sungguh aku dibuat emosi. Aku kembali berdiri “Terserah mu deh mbak!” Ucapku pasrah. Terlihat wajah mbak Indah langsung tersenyum lega.


Apa-apaan!!


“Tapi ingat mbak hanya satu tahun!!”


Mbak indah yang ikut berdiri tersenyum sembari mengangguk “Iya, dan setelah itu terserah mu dek mau gimana.”


“Tapi hal ini jangan sampai tersebar luas.” Lu kembali memberikan pilihan

__ADS_1


“apa maksud mu dek?”


“Tidak ada pesta atau perayaan berlebih. Hanya ada ijab qobul dan hanya itu.” Aku tentu tidak ingin jika satu tahun kemudian aku bercerai dengan mas Dylan dan dianggap janda. Big Noo, sorry aku juga ingin bahagia.


Mbak Indah nampak tidak terima “Tapi Ifa, kamu tau sendiri keluarga mas Dylan adalah keluarga terpandang tidak mungkin hanya dengan ijab qobul.” Ucapnya dengan wajah memelas


Ku tatap dengan tatapan datar “Iya atau tidak sama sekali.” Balasku dingin, acuh tak acuh. Eaaa aku sudah seperti tokoh antagonis dalam sinetron ikan terbang.


Mbak Indah menghela nafas panjang “Baiklah terserah kamu dek.”


Senyum miring tersinggung di bibirku “Yaudah aku pulang dulu mbak.”


“Eh? Udah mau pulang. Kenapa gak tinggal lebih lama lagi, tunggu mas Dylan pulang. Kita makan bareng-bareng.”


Aku menggeleng pelan, segitunya mbak Indah ingin aku dekat dengan suaminya sendiri


“Maaf mbak, aku udah ada urusan. Aku pulang yah Assalamu'alaikum..” Aku pergi begitu saja tanpa menunggu balasan mbak Indah.


Sungguh aku sangat kesal akan mbak Indah, mas Dylan dan juga diriku sendiri.


Aku tersentak saat berbalik, rupanya ada mas Dylan disana melihat ku dengan tatapan datar. Ku lewati begitu saja “Kamu udah dengar sendiri ‘kan.” Ucapku saat aku melewati nya.


Lalu setelah nya aku pergi begitu saja.


.


.


Ku hempaskan tubuhku di atas kasur. Haaahhhh helaan nafas tak bisa tak keluar dari mulutku. Ku tutup mataku menggunakan lenganku.


Aku benci keadaan ini. Aku memang menyayangi mbak Indah, tapi bukan berarti aku mau jadi madunya apalagi harus memberikan rahimku sendiri.


Aku mengalah karena aku sadar diri, aku tidak harus jadi beban. Tapi kenapa sampai harus mengorbankan kebahagiaan ku sendiri?


“Arrrgghhhh sialll!!!!” ku hentak-hentakkan kaki dan tangan ku diatas kasur.


Aku terduduk, ku rapikan rambutku yang berantakan “Tenang Ifa. Ambil sisi positifnya.” Ujarku menenangkan diri


“Yah benar. Tidak buruk Menikah dengan mas Dylan. Setidaknya aku dapat nafkah materi darinya. Ya tidak buruk.” Ku angkat tanganku tinggi-tinggi sembari mengepalkan nya


“Aku pasti bisa huhuuuu...” Ku hempaskan kembali tubuhku diatas kasur. “Kenapa.. kenapa harus aku huuu.” Aku memukul-mukul kasur


“Sial.. sial.. sial.. mati ajah kalian semuaaaaa... Arghhhhh.” Teriakku


Bugghh..


“Woii berisik!!!”


Ku bekap Mulut ku “Astaga.. sorry.. sorry..” Teriakku


Setelah nya tak ada Balasan suara lagi. Huh! Kalau dinding kamarku di pukul sekali lagi, sudah pasti hancur tak berbentuk.


“Jangan mukul sembarangan napa! Kalau rusak juga aku yang repot.” Gerutu ku


Ting..


Sebuah pesan masuk kedalam ponselku “Hah? Mas Dylan? Mau apa lagi orang ini!!” Dengan keterpaksaan tingkat dewa aku melihat pesannya

__ADS_1


pakaian apa yang ingin kau pakai saat ijab nanti~ Send


“Whatt!! Gila yah nih orang!! Baru tadi aku setuju Sekarang udah minta mau pakai apa saat ijab.!” Penuh gerutuan aku mengirim pesan


Gak usah pakai baju mewah, pakai kemeja ajah~ Balasku


Baiklah, persiapkan dirimu. Tiga hari lagi kita ijab~


Bruukk...


Ponsel yang ku pegang jatuh dengan slow motion ke atas kasur “Haahhhh!!!! Orang gila yahhhh!!!!” Teriak ku


Bughh...


Braakk


“Berisik bego..”


“Woi.. dinding gue bisa roboh.” Aku ikut meneriaki tetangga kost ku. Sudah tau aku sedang kesal ditambah nih orang tambah bikin kesal.


“Makanya jangan berisik. Ini bukan rumah lu..” Ia ikut berisik


Aku berdecak “Jangan mukul-mukul juga!!”


Dan sore itu, acara teriak-teriakkan terjadi. Dan berakhir dengan datang nya ibu kost yang marah-marah pada kami berdua.


Sial banget!!


...***...


Author POV


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sesuai permintaan Akifa, pernikahan yang akan dilakukan nya sangat-sangat sederhana dan juga tertutup.


Sangking buru-buru nya, keluarga Dylan bahkan belum bisa meluangkan waktu karena terlalu tiba-tiba.


Alhasil pernikahan hanya dilakukan di sebuah gedung KUA. Yang hadir hanya ada dua saksi, penghulu, Indah serta dua calon pengantin.


Seperti perkataan Akifa, gadis itu hanya menggunakan kemeja putih biasa sedangkan Dylan memakai jas biasa juga.


Ijab qobul di lakukan, Dylan mengucapkan ijab dengan lantang, percaya diri dan penuh semangat. Ia sudah menunggu-nunggu hari ini tiba.


Berbeda dengan Akifa, gadis itu hanya diam. Tak ada raut kebahagiaan, yang ada hanya kekecewaan yang mendalam terlihat dari mata saat melihat kakaknya dan juga kakak ipar nya yang sekarang sudah berubah menjadi suaminya.


Akifa mencium tangan kanan Dylan, sedangkan Dylan hanya menaruh tangan di kepala Akifa sembari Mengusap nya.


Hati Indah teriris melihatnya, namun ada rasa senang dalam hati saat melihat keduanya. ‘Akhirnya, memang seharusnya seperti ini’ Ucapnya dalam hati


Ia bisa melihat bagaimana semangat nya Dylan saat mengucap ijab.


.


.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like, komen and vote ya 🙃

__ADS_1


subscribe woi🙂


__ADS_2