
Suara langkah kaki yang berlari terdengar di sepanjang lorong ke uks. Dylan melampirkan dasi di pundak, keringat membanjiri dahi serta dada.
Ia mendapat telepon dari Winda kalau istrinya pingsan, tanpa pikir panjang Dylan langsung menuju ke kampus.
Tanpa mengetuk pintu, Dylan membuka pintu uks membuat orang-orang yang ada didalam menengok ke arah pintu
“Mas Dylan, akhirnya mas datang.” Winda nampak lega melihat Dylan datang. Didalam ruangan hanya ada tiga orang. Winda, seorang petugas uks dan juga Akifa yang ada di pembaringan masih menutup mata
Dengan langkah yang besar, Dylan mendekati istrinya “Apa yang terjadi?” Tanya Dylan menatap Winda
“Tadi pagi, muka Ifa memang udah pucat mas. Pas kelas udah selesai muka Ifa tanpa pucat terus tiba-tiba pingsa gitu ajah.”
Dylan memegang nadi Akifa di sekitar pergelangan tangan. Kening nya menyerngit heran, tiba-tiba.. apa mungkin?
“Apa istri saya sudah diperiksa?” Melihat kearah petugas uks
“Ya? Ah, su.. sudah tuan.” Ucap petugas tersebut terbata-bata. Awal Dylan masuk kedalam ruang uks saja sudah membuat nya terkejut, ditambah. Apa tadi? Istri? Bola mata petugas wanita tersebut melebar!
Dia mengenal Dylan sebagai seorang dokter dan juga direktur rumah sakit terbesar di kotanya. Tidak akan ada yang tidak mengenal Dylan di dunia per-dokteran. Yang ia tau Dylan masih lajang dan belum menikah.
“Tunggu tuan, anda bilang tadi Akifa adalah istri anda. Jangan bilang yang ada di dalam perutnya...”
Dylan tersentak, ia lantas tersenyum tipis ‘Benar rupanya’ Mencium punggung tangan Akifa lembut membuat kedua orang disana menjadi salah tingkah
“Iya itu benar, saya ayahnya.” Mengusap perut sang istri yang datar
Winda yang tadi masih belum mengerti membelalakkan mata saat mendengar penuturan Dylan. Apa? Ayah?
“Maksudnya Ifa.. ha.. hamil anaknya mas Dylan?” Pekik Winda tak percaya
Dylan menatap Winda datar “Ada yang salah?”
“eh? Haha eng.. enggak mas..” Mengusap tengkuknya.
“Bisa kalian tinggalkan saya dan istri saya disini. Biarkan istri saya istirahat.”
Winda dan petugas uks mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan kedua pasutri.
Dylan mengecup kening istrinya “Terima kasih sayang, i love you..” Lalu mengecup seluruh wajah Akifa
Dylan tak menyangka, usahanya setiap malam membuahkan hasil. Dari segi usaha dan doa, akhirnya berhasil!
Niatnya Dylan ingin langsung membawa Akifa pulang, namum melihat wajah lelah sang istri mengurungkan niatnya “Kamu pasti lelah yah, maafkan mas mu ini.” Mengusap lembut pipi Akifa
.
.
Akifa membuka mata dengan perlahan. Ia melenguh merasakan pening di kepala. Hal pertama yang ia lihat adalah Suaminya yang tengah terkantuk-kantuk di sampingnya.
__ADS_1
Dylan mencoba untuk tidak tidur walaupun matanya sungguh berat ingin terpejam. Ia masih setia menunggu sang Istri.
Merasakan pergerakan, Dylan yang tadinya masih terkantuk-kantuk langsung sadar “Kamu udah bangun Ifa. Bagaimana? Masih ada yang sakit?”
Akifa menatap sekeliling, rupanya ia masih ada di uks kampus. Wanita cantik tersebut mencoba untuk bangun perlahan
“Pelan-pelan.” Membantu Akifa untuk duduk
“Aku mau pulang.” Lirih Akifa
“Baiklah kita pulang. Mau mas gendong?”
Akifa hanya terdiam lalu menurunkan kakinya dari pembaringan. Mengetahui niatnya tak akan disambut baik, Dylan berinisiatif membantu istrinya turun dari ranjang.
Dylan dan juga Akifa berjalan beriringan melewati lorong-lorong. Dylan menggenggam tangan serta membawakan tas Istri nya. Akifa hanya diam menunduk mengikuti langkah Suaminya.
Ia celingak-celinguk mencari Winda, Dylan yang melihatnya langsung tau apa yang di cari sang istri “Teman kamu sudah pulang lebih dulu.”
Akifa Mendongak menatap suaminya sekilas lalu kembali menunduk. Setelah tersadar kenapa Dylan disini, ia kembali mengangkat kepalanya melihat sang suami.
Dylan tersenyum tipis melihat hal itu, menurutnya tingkah Akifa sangat menggemaskan “Teman kamu menghubungi mas tadi siang, katanya istri mas pingsan. Yaudah deh mas langsung ke kampus, tau-tau nya memang pingsan.”
‘Dasar Windaaaa’ Gerutu Akifa dalam hati
Mereka kembali diam, di sepanjang lorong banyak para mahasiswa yang mengenal Akifa bertanya-tanya. Siapa gerangan pria tampan yang tengah menggenggam tangannya.
“Ifa.. Alhamdulillah kamu udah sadar. Tadi gue panik bangat tau waktu lu tiba-tiba pingsan, untung ajah gue sama Winda langsung sigap.” Sapa Dimas, teman sekelas yang menggendong Akifa ke uks tadi
“Eh Dimas? Iya Alhamdulillah gue udah baik-baik ajah. Tapi makasih loh udah bantuin gue.” Dari perkataan Dimas, Akifa sudah mengetahui kalau Dimas ikut andil dalam menolongnya
“Iya gak papa. Sebagai teman kita harus saling tolong menolong, iyakan.” ‘Beuhh bijak bangat gue’ Ia beralih melihat Dylan “Mas nya suami Ifa ‘kan? Jaga istrinya mas. Apalagi mas udah mau jadi ayah ‘kan.” Berita ini ia dapatkan dari Winda
Mendengar perkataan Dimas sontak membuat Akifa menoleh kearah Dylan. Apa maksudnya? Apa jangan-jangan dia.... Ia menggelengkan kepala.
Dylan yang tadi sedikit was-was kepada Dimas langsung menghilangkan sikap waspadanya saat mendengar penuturan Dimas “Terima kasih untuk bantuannya tadi.” Menepuk pundak Dimas
Dimas tersenyum “Kalau gitu gue duluan yah Ifa, mas..” Dimas yang tak tau perkataannya akan membawa sebuah bencana atau anugerah tadi dengan tanpa dosa pergi begitu saja.
Akifa memberikan tatapan menuntut kepada suaminya, sedangkan yang ditatap pura-pura tidak melihat dan tetap melanjutkan langkah sambil menggenggam tangan istrinya.
Mau tidak mau Akifa pun akhirnya mengikuti langkah Dylan. Baru ia akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman Akifa menghampiri nya
“Akifa.. beneran dokter Dylan suamimu?” tanya seorang wanita yang berasal dari fakultas kedokteran bersama dengan beberapa temannya yang lain
Akifa tergagap, ia tidak tau harus menjawab apa. Apakah ia harus jujur? Atau berkilah? Tapi semua percakapan dengan Dimas tadi sudah membongkar semuanya!
‘Dimas!!..’ Gerutunya sedangkan yang di umpat merasa hidungnya tiba-tiba gatal dan bersin berkali-kali.
“Kayanya ada yang katain gue.” Mengelus hidungnya
__ADS_1
“Iya benar Akifa?” tanya yang lain
“Ah.. i.. itu..” Karena tidak tau harus menjawab apa, akhirnya Akifa mendongak menatap suaminya.
Tatapan Akifa yang beralih membuat orang-orang yang mengerumuni mereka juga ikut melihat Dylan.
Dylan mengangguk datar “Maaf semuanya, istri saya kurang enak badan. Bisakah kalian memberikan jalan.” tanpa berpamitan Dylan menarik tangan istri nya dari kerumunan tersebut.
Akifa melongo mendengar perkataan Dylan, bukan hanya Akifa tapi orang-orang yang bertanya tak kalah terkejut mendengar penuturan Dylan. Jawaban yang sudah sangat pasti!
“Masss...” Gerutu Akifa, ahk ingin sekali rasanya ia mencubit pipi suaminya.
Setelah sampai di parkiran, Dylan membukakan pintu untuk istrinya. Ia memutari mobil untuk masuk kedalam bangku kemudi dengan cepat.
“Pakai seatbelt nya.” Titah Dylan
Akifa pun memakai sabuk pengaman, setelah melihat istrinya sudah aman barulah Dylan melajukan mobil untuk pulang.
“Mas.. apa maksud dari perkataan Dimas tadi.” Setelah sekian lama suana hening, Akifa pun memecah keheningan tersebut.
Dylan tersenyum, ia lantas mengelus perut rata Istri nya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan masih setia di setir kemudi. “Disini ada calon buah hati kita.” Ucapnya dengan wajah berbinar
Bola mata Akifa melebar. Karena syok ia bahkan tidak bisa menepis tangan suaminya yang masih asik mengusap perut
“Ma.. maksud mas..” Memegang tangan Dylan yang ada di perutnya
Dylan mengangguk “Hmm iya sayang, kamu hamil.”
“Apa!!!” Pekik Akifa. Ia memang sudah menduganya namum mendengar Dylan berbicara terang-terangan sungguh tak dapat membuat Akifa menahan keterkejutan nya.
“Astagfirullah sayang.. suaranya bisa santai tidak?” Mengelus dada, ia benar-benar terkejut mendengar pekikan Akifa.
Sedangkan Akifa hanya diam. Ia mengelus perutnya yang rata ‘Benarkah kamu ada didalam sana nak?’ tanpa sadar ia tersenyum saat mengingat ada kehidupan di dalam perutnya.
Akifa mengelus sayang pada perutnya seolah-olah mengelus anaknya yang telah lahir dan semua itu tak luput dari jangkauan tatapan Dylan. Pria itu tersenyum tipis melihat istrinya yang sepertinya akan menyayangi buah hati mereka.
‘Alhamdulillah..’ Dylan pikir Akifa tidak akan menerimanya dan ingin menggugurkan kandungan nya.
Tapi Akifa bukanlah orang sejahat itu yang akan melakukan tindakan keji terhadap darah dagingnya sendiri.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...
__ADS_1