
Fatih tak bisa berhenti senyum melihat tambatan hatinya ada didepannya sekarang duduk disebelah calon ibu mertuanya.
Ilya cukup terkejut saat melihat Fatih, ia tak menyangka pri yang tak sengaja mengantarnya pulang saat itu adalah calon suaminya.
Kira yang sedari tadi melihat abangnya tersenyum-senyum melihat kearah Ilya sudah tak tahan untuk tak mengejek, namun cengkraman tangan adiknya digenggaman membuat nyali Kira langsung ciut. Adik nya yang datar terlalu menyeramkan saat marah.
“Karena yang ditunggu sudah ada, jadi bagaimana kalau kami langsung ke inti kedatangan kami kesini?” Ares, sebagai wakil Fatih membuka suara. Walaupun mereka semua sudah tau ada acara apa hari ini, tetap saja Ares harus memulainya dengan bentuk sopan santun.
Ares melihat kearah putranya yang rupanya dari tadi hanya menatap Ilya, sedangkan yang ditatap nampak menunduk. Menghembuskan nafas panjang, kebucinan sang putra rupanya tak bisa di helakkan lagi
Ares berdehem “Jadi, Kami dari keluarga besar Warrent ingin melamar Putri Alilya Sam untuk putra saya Muhammad Fatih Warrent.”
Merasa namanya disebut, Fatih tersadar. Ia melihat keluarga calon istrinya saat mendengar penuturan sang Abi.
“Saya Muhammad Fatih Warrent ingin melamar Putri Alilya Sam disini, untuk menjadi pasangan hidup saya didunia dan In Syaa Allah sampai ke jannah-Nya.” Ucap Fatih dengan sangat serius membuat Ares menghela nafas lega karena putra nya sudah kembali ke dunia nyata
Ilyas yang jarang bicara, akhirnya angkat bicara “Kami dari keluarga Sam dengan senang hati menerima lamarannya, tapi.. sebelum semua keputusan diambil, ada baiknya. Jika putri kami, Putri Alilya Sam yang menjawabnya Langsung.”
Semua orang akhirnya menoleh kearah Ilya yang sedari tadi hanya menunduk. Pelan-pelan, Ilya mengangkat kepala, dan hal yang paling pertama ia lihat adalah wajah calon suami yang memang lurus didepannya.
Entah mengapa Ilya tiba-tiba merasa malu, cepat-cepat ia kembali menunduk lalu mengangguk pelan.
Dian yang ada disampingnya membisik “Jawab pakai suara, sayang.”
“I.. iya, saya mau..“ Lirihnya, Dan ini untuk pertama kalinya Ilya merasa sangat malu. Ia tak tau, namun demi apapun ia sungguh sangat-sangat tak kuasa mengangkat kepalanya.
Senyum semua orang disana tersungging tatkala mendengar penuturan Ilya. Bahkan Ilyas dan Delon pun sama-sama tersenyum tipis karena merasa sudah memberikan Ilya kepada pria yang tepat.
Dan mungkin orang yang paling tersenyum lebar adalah calon pengantin prianya, siapa lagi kalau bukan Fatih. Ia tak henti-hentinya Tersenyum dari mansion Sam hingga mereka sampai ke mansion Warrent.
Fatih keluar dari dalam mobil masih dengan senyumnya yang tak luntur-luntur. Semua keluarganya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Fatih yang benar-benar bak anak SMA baru mengenal cinta.
“Bang lama-lama senyuman abang jadi mirip seperti Joker tau tidak,” Kira tergelak dengan perkataan nya sendiri
Fatih menggeleng pelan “Abang tidak bisa berhenti senyum. Haisss susah memang.” ia seperti mengeluh namun tak ayal senyumannya tetap mengembang. Kini giliran Tifa yang geleng-geleng kepala tak habis percaya dengan tingkah abangnya
Setelah mengucapkan terima kasih pada kedua orang tuanya, Fatih pun kembali ke kamar dengan perasaan yang berbunga-bunga.
“Mirip dengan abi.” Seru Ares
“Ya? Apa? Jangan bilang Abi juga tak beda jauh dengan Abang Fatih?” Tanya Kira dengan tatapan tak percaya
Lyza pun ikut melihat suaminya, ia tak tau apakah yang dikatakan Ares benar atau tidak. Karena dulu saat ia dilamar, Lyza hanya merasa tertantang dan ada rasa tak ingin kalah dari pak ustadz yang tiba-tiba datang melamarnya. Mengingat hal itu, Lyza tiba-tiba terkekeh pelan
“Ada apa uma?” Tifa yang ada disamping Lyza bertanya
__ADS_1
“Tidak, uma hanya mengingat sesuatu yang lucu.” Jawaban Lyza membuat Tifa mengangguk
“Iya, waktu lamaran abi diterima. Abi tidak bisa menahan senyum, bahkan abi ingin cepat-cepat agar pernikahan dilaksanakan.” Ia tergelak dengan perkataan nya sendiri
Lyza pun tak dapat menahan senyum, rupanya Ares memang sangat bersemangat akan pernikahan nya dulu berbeda dengan Lyza yang sungguh ingin menembak kepala Ares saat itu.
“Cckkckc pantas saja bang Fatih seperti joker, tidak bisa berhenti senyum. Rupanya abi juga sama saja.“
Semua orang di sana tertawa mendengar penuturan Kira yang ceplas-ceplos.
...***...
Malam hari tiba...
Dikamar pasutri gaje, nampak Akifa tengah duduk cermin rias sembari berlatih menggunakan hijab. Ia sudah bertekad akan menggunakan hijab permanen saat bayinya lahir.
“Aku cantik juga pakai hijab,” Memperbaiki rambutnya yang keluar dari hijab
Ceklek..
“Masya Allah, istri siapa ini yang sangat cantik.” Dylan melangkah mendekati istrinya yang tengah berlatih menggunakan hijab. Akifa yang bar-bar benar-benar hilang ditelan hijab
Entah mengapa, namun tiba-tiba wajah Akifa memerah hanya karena pujian yang sudah biasa ia dapatkan dari suaminya. Ia jadi salting sendiri
“Ihh apa sih mas.. aku kan jadi malu.” Menutup wajah dengan ujung hijabnya
“Sayang kamu tidak habis makan sesuatu yang salah ‘kan?”
Akifa yang tadi malu-malu kucing menghempaskan ujung hijab lalu mencebik, sadar akan kelakuannya yang tak biasa
“Ketawa ajah terus! Istrinya ingin jadi lebih baik malah diketawain!” Ketusnya. Mood Akifa jadi sangat.. sangatttttt buruk!
Ia melepas hijabnya dengan kasar, melihat wajah sang istri yang sudah gelap bak terkena asap lampu minyak tanah, buru-buru Dylan menggendong istrinya ala bridal dan membawa istri cantiknya di ranjang. Dylan mendudukkan Akifa dipinggir ranjang, lalu Dylan duduk bersimpuh di hadapan istrinya
“Maaf sayang, kamu marah. Hmm?” Membelai pipi chubby Akifa
Akifa memalingkan wajah kesamping “Sudah tau masih nanya!” Ingin sekali Akifa memakai perkataan Dilan cepmek! Kepada Dylan kwnya.
Dylan menahan senyum Melihat wajah menggemaskan sang istri dimana pipi Akifa yang menggembung semakin membuat Dylan tak bisa menahan diri untuk mencium pipi yang menggembung itu. Tapi ia harus menahannya kalau tak ingin sang istri semakin kesal
“Iya, mas yang salah. Maafin mas yah?” Memperlihatkan wajah memelas, wajah yang tak bisa Akifa abaikan
Dan benar saja, mati-matian Akifa menahan diri untuk tidak mencium wajah suaminya yang sangat menggemaskan sekarang ”Huh! Memangnya apa kesalahan mu, mas? Sampai harus minta maaf segala!”
Sifat merepotkan perempuan akhirnya dikeluarkan Akifa. Padahal sudah minta maaf kenapa harus cari-cari masalah lagi sih.
__ADS_1
Dylan menghembuskan nafas panjang, lantas ia bangkit dan duduk disebelah istrinya membuat wajah mereka saling menatap. Cepat-cepat Akifa memalingkan wajah menghadap kedepan
“Mas tidak akan menjawab.”
Perkataan suaminya membuat Akifa menoleh dengan tatapan tak percaya “Apa? Kenapa? Kalau mas minta maaf harusnya mas tau dong apa kesalahan mas!”
“Kalau mas jawab sesuatu permintaan kamu, mas yakin ini tidak akan selesai sampai kita punya cucu,”
“Ishh cucu-cucu.. padahal anak kita belum lahir tapi udah mikirin cucu! Nama anak kita ajah Belum ada!”
Merasa topik pembicaraan sudah hampir teralihkan, Dylan buru-buru menjawab “Wah benar juga yah, kita belum memutuskan memberi nama anak kita.” Mengelus perut buncit istrinya
Akifa menoleh kearah suaminya “Mas udah ada nama untuk anak kita?” Dan benar saja Akifa benar-benar teralihkan sekarang membuat Dylan diam-diam menghela nafas lega.
“Hhmm ada sih, cuman kita belum tau jenis kelamin nya ‘kan.“
“Ah! Benar juga yah. Nanti kalau kita periksa sekalian tanya jenis kelamin nya yah mas. Biar nanti gampang dekorasi kamar nya.”
“Loh bukannya nanti anak kita tidur satu kamar dengan kita?” Tanya Dylan dengan kening berkerut. Bukannya Akifa yang pernah mengatakan mereka harus tidur bertiga bersama anak mereka saat lahir
“Memang.“ Jawab Akifa dengan polos
“Loh? Sayang.. mas belum mengerti.“
“Ishh percuma gelar dokter mu mas! Kalau yang kayak gini juga harus dijelasin!“
Dylan hanya bisa mengangguk pasrah. Ditentang, tentu saja ia tidak berani. Sebaiknya menghindari peperangan yang belum terjadi.
“Kita memang akan tidur satu kamar dengan bayi kita sampai usia nya tiga tahun. Setelah itu baru deh bayi kita tidur sendiri. Kan mas sendiri yang bilanh pengen mesra-mesraan sama aku, gimana sih.”
Senyum Dylan mengembang mendengar penuturan Akifa yang terakhir. Lantas ia memeluk erat sang istri dari samping “Istriku memang yang terbaik!!“ Mencium pipi Akifa berkali-kali
“Aku tau.” Seru Akifa sombong. Ia memang akan menomorsatukan suaminya dibanding apapun itu. Karena bakti nya sekarang adalah sang suami, surganya sekarang adalah suaminya!
Apapun akan ia lakukan asalkan suaminya bahagia bersama dengan nya!
.
.
TBC
Note: yang penasaran dengan cerita Lyza dan Ares, bisa langsung cari judul novel nya {The Wife the Mafia} penjet profile othor ajah✌️
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️...
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...