
Hari ini semua orang sibuk, baik Ilmy, ibu Dian, Dylan, dan Akifa. Dylan memutuskan untuk mengadakan acara resepsi pernikahan nya dengan sang istri. Walaupun hanya sederhana hal ini sudah membuat Akifa senang.
Dylan sengaja membuat resepsi karena ia ingin memberikan pesta pernikahan yang tak akan pernah dilupakan Akifa, ia juga ingin mempublikasikan istrinya serta anaknya pada orang-orang. Bahwa tuan muda kedua Sam sudah mempunyai istri yang cantik dan putra yang tampan.
“Fa, kamu suka gaun yang mana?” Tanya Ilmy menyodorkan sebuah buku berisi gambar gaun-gaun pengantin
“Coba aku lihat kak.” Mendekati Ilmy sembari memangku baby Alan “Hmm kayanya yang ini bagus kak. Gak terbuka tapi gak terlalu besar juga. Jadi pas dipadukan dengan hijab.” Akifa memang mulai berhijab saat ia hamil besar sampai sekarang. Dan ia merasa lebih nyaman menggunakan hijab
“Nice, aku juga tadi mau milih itu. Okey, fix yah yang ini.” Kembali menunjuk gambar gaun yang dipilih Akifa
Akifa mengangguk “Iya kak. Nanti gaunku mirip dengan tuxedo Al ‘kan?” Memainkan tangan mungil anaknya
“Iya, itu udah dirancang. Tuxedo Papanya juga bakalan mirip.” Jawab Ilmy
Saat Ilmy dan Akifa sedang sibuk memikirkan gaun, berbeda dengan ibu Dian yang mempunyai kesibukan sendiri. Ia beserta Dylan yang kini pengangguran karena masih masa cuti tengah berdiskusi bersama pihak WO Membahas mengenai dekorasi.
“Karena Alan juga ikut jadi lebih baik warna dekorasi nya yang soft.” Tutur Dylan
“Iya ibu setuju.”
Pihak WO yang bertanggung jawab memberikan sebuah sampel dalam bentuk buku “Bagaiman kalau seperti ini? Warna putih dicampur dengan biru langit yang soft.”
Dylan dan ibu Dian tersenyum “Bagus, yang seperti ini saja.” Dylan langsung setuju
Sedangkan ayah Ilyas yang juga sudah lama pensiun ikut meramaikan. Ia tengah berdiskusi dengan pihak katering. Dan jujur saja ini pertama kalinya mereka seheboh ini.
“Nanti makanannya langsung kami antar dari restoran atau dibuat ditempat acara tuan?” Tanya pria yang bertanggung jawab dengan makanan
“Dibuat ditempat acara.” Ayah Ilyas ingin memberikan makanan yang masih segar dan hangat untuk para tamunya.
“Baiklah, jadi subuh-subuh kami akan langsung datang sambil membawa bahan mentahnya. Apakah kami bisa memakai dapur mansion anda, tuan?” karena acara akan diadakan di mansion bukan digedung atau di hotel, jadi mereka harus minta izin sebelum melakukan sesuatu.
“Hmm.” Jawab Ayah Ilyas seperti biasa
Mansion benar-benar ramai hari ini. Dulu saat Ilya menikah, keluarga Sam tak terlalu sibuk karena pihak pengantin pria lah yang mengatur tempat dan segala sesuatunya.
Akifa tersenyum haru melihat bagaimana keluarga sang suami dengan sangat tulus dan bersemangat akan mengadakan acara resepsi pernikahan untuk nya. Akifa yang sudah tak memiliki siapapun di dunia ini kecuali suami dan putranya merasa sangat berharga dan beruntung.
Ia juga tersenyum senang melihat kakak iparnya sibuk dan bersemangat. Semoga dengan kesibukan ini Ilmy bisa mengalihkan rasa sedihnya yang akhir-akhir ini melanda.
“Assalamu'alaikum..” Suara seorang bujang dari arah pintu terdengar
Mereka semua sontak melihat sumber suara “Wa'alaikum salam.” Jawab mereka semua
“Loh, kok udah pulang ajah Lon?” Tanya Ibu Dian melihat putra sulungnya sudah pulang padahal hari masih pagi.
Setelah menyalami kedua orang tuanya, Delon duduk disamping adik kembarnya “Aku juga mau membantu.” Ucapnya tanpa disangka.
Semua orang melongo “Kamu sakit Lon?” Tanya Ilmy
Delon berdecak “Apa salahnya aku membantu adikku menyiapkan resepsi nya. Tenang saja, di perusahaan sudah ada Ar yang bisa menghandle kerjaan.”
Mendengar nama Marcell kembali membuat hati Ilmy berdenyut nyeri. Tiba-tiba suasan hatinya mendadak murung. Akifa yang menyadari hal itu segera angkat bicara “Bang Delon yakin? Gak ngerepotin?”
__ADS_1
“Tidak, katakan apa yang bisa aku bantu.”
Dylan tersenyum miring “Ah! Bisa kau jaga Alan setelah resepsi nanti? Aku tidak mau ada yang mengganggu malam pengantin ku.” Ucapnya dengan santai
“Kau menyuruh ku?” dengan wajah yang ditekuk
“Tentu saja, memangnya siapa lagi? Bukannya bagus untuk melatih mu. Suatu hari nanti kau juga akan punya anak bukan?” Ucap Dylan tanpa dosa
“Yee.. padahal udah bukan malam pertama.” Cetus Ilmy yang sudah kembali seperti dirinya yang biasa
“Itu urusan ku dengan istriku. Sorry yang jomblo minggir.” Sindir Dylan
Bukan hanya wajah Delon yang ditekuk, tapi wajah Ilmy pun murung tak terhingga “Ishhh kamu.. ahkkk.” Ia jadi gemas sendiri karena tak tau harus ia apakan abangnya
Gerutuan Ilmy mengundang tawa mereka semua “Sudah.. sudah.. kalian ini, gimana kalau kamu bantu biaya ajah, Lon.” Ucap ibu Dian “Karena disini cuman kamu doang yang memupuni.”
“Sayang, suami mu juga punya banyak uang.” Seru ayah Ilyas tak terima
“Iya, Dylan juga punya banyak uang bu. Apalagi kalau cuman mengadakan resepsi. Dylan masih sanggup.” Protes Dylan
“Betul! Ilmy juga punya banyak uang bu, bukan cuman Delon.” Ilmy menimpali
Ibu Dian menghela nafas panjang “Hubby, kamu udah jadi pengangguran. Dylan, kamu juga masih masa cuti, sedangkan gelery Ilmy tengah libur. Ilya masih magang. Hanya Delon yang kerja sekarang. Karena Delon juga menawarkan bantuan yah mending Delon dibagian dana nya. Iya ‘kan?”
Delon mengangguk setuju “Aku setuju dengan kata-kata ibu.” Ucapnya tegas. Ia tak keberatan, kalau masalah uang Delon tak akan pelit. Apalagi jika untuk orang-orang terdekatnya.
Dylan manggut-manggut “Benar juga yah. Okey, Lon thanks buat traktiran nya.” Kata Dylan santai
Akifa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah para orang kaya. Bukan hanya Akifa namun para pekerja dari WO pun tak kalah melongo. Segitu gampang nya mereka mengeluarkan uang.
.
.
Akifa masuk kedalam kamar untuk menidurkan baby Alan di siang hari. Sembari menyusui baby Alan, Akifa iseng membuka sosmed nya yang sudah jarang ia buka.
“Hmm Winda baru-baru posting apaan?” Ia membuka sosmed Winda, sahabatnya sohibnya yang akhir-akhir ini jarang ia tahu kabarnya karena terlalu fokus dan sibuk dengan baby Alan.
“What!! Winda ini.. beneran??!!!” Hampir saja ia terpekik melihat postingan Winda jika saja tidak mengingat baby Alan tengah tertidur dan masih menyusu.
Akifa mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan apa yang ia lihat benar adanya ‘Melepas masa lajang, BESTie 💍’ beginilah caption yang tertulis dengan foto sebuah cincin berlian yang terpaut di jari manisnya.
Lanjut, Akifa kembali bergulir kebawah. Sebuah foto yang menampilkan Winda dengan seorang pria tengah menikmati sunset dengan memunggungi kamera, mereka nampak saling merangkul. Dengan caption ‘Otw pelaminan 💏’
Akifa makin termangu melihat postingan itu, dengan secepat kilat ia menghubungi Winda. Dibunyi pertama belum diangkat, yang kedua pun sama bahkan sampai yang ketiga pun juga tak ada jawaban. Lama-lama suara operator lah yang terdengar.
“Ck! Ini Winda kemana sih!!” Tak patah arang, Akifa kembali menghubungi sahabat nya sembari menepuk-nepuk bokong baby Alan yang sudah melepas sumber makanannya.
Tut.. tut.. Tut..
“Halo..”
“Astaga lu dari mana ajah sih Winda....” Akifa menekankan perkataannya namun dengan berbisik, ia tak ingin menganggu tidur sang putra
__ADS_1
Winda berdecak disana “Ishhh lo tuh yang akhir-akhir ini susah dihubungi. Udah kaya presiden ajah!”
“Ck! Ada yang lebih penting dari itu! Postingan alay lu itu gak benar ‘kan?” langsung to the point
Winda seperti nya sudah tau maksud dari postingan alay yang dikatakan Akifa, ia mendengus “Itu pamer namanya Fa! Bukan alay. Emangnya kenapa? Gue juga pasti bakalan nikah ‘kan?”
“Ya iyalah, maksudnya kok lu gak ngasih tau gue sih?”
“Hello.. dari kemarin-kemarin gue udah coba hubungi lu, tapi lu nya ajah yang gak angkat-angkat.” Seru Winda kesal.
Akifa kembali mengingat saat tadi dia membuka aplikasi telepon, disana memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari Winda yang belum sempat ia lihat. Akifa nyengir tak bersalah “Hehheh sorry, gue sibuk bangat.”
“Huh! Nah kan! Makanya lihat-lihat sikon dulu mbak e..”
“Hahah iya.. iya.., eh tapi calon laki lu siapa? Kok gak ada fotonya sih?” Ia sudah mencari-cari di akun Winda namun tak mendapat foto jelas dari pria misterius itu.
“Yee mana mau gue lihatin wajah tampan calon gue! Tenang ajah, entar nikahan bakalan gue kasi lihat kok! Lu datang ‘kan?”
“Emangnya acara nya kapan?”
“Masih sekitar tiga Minggu lagi.”
Akifa nampak memikirkan sesuatu “Okelah, entar gue cek ke dokter dulu. Al udah bisa dibawa terbang lama atau enggak.”
“Iya, pastiin ponakan serta calon mantu gue yang tampan baik-baik ajah.”
Akifa tertawa geli mendengar penuturan Winda “Iya.. iya.. calon besan. Oh yah, Minggu ini gue bakalan adain acara resepsi gue. Lu mau datang? Sekalian bawa calon lu, biar gue gak mati penasaran.”
“Wah.. lu mau adain resepsi tapi gak bilang-bilang. Ckckck.. memang yah lu itu huh! teman laknat!”
“Ck! Ini gue bilangin sangklek! Mau di undang gak? Entar gue bayar tiket pesawat nya deh, sekalian ajakin emak sama babe.”
“Pasti dong gue datang. Tapi gak usah dibayarin, calon laki gue tajir. Gampang lah itu.”
“Haha dapat jackpot lu. Oke bilang ajah kalau udah stand by, biar gue jemput.”
“Iya.. iya.. udah yah gue sibuk nih, gue tutup dulu.”
“Iya.. iya.. yang paling sibuk. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.”
Akifa menatap postingan Winda dengan geleng-geleng kepala, masih tak percaya kalau sahabatnya yang paling absurd itu akan menikah tiga Minggu lagi.
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...