
Didalam mobil hening, Akifa hanya diam menatap lurus ke depan. Entah mengapa ia kesal kepada suaminya sendiri.
Dylan yang mampu menangkap sinyal bahaya dari istrinya pun buka suara “Sayang, jangan marah oke? Wiwin cuman teman mas doang kok.”
Akifa mendengus “Teman apa temannn.” Menekankan perkataan pada kata-kata terakhir tanpa melihat suaminya
“Astagfirullah.. sumpah demi apapun, cuman teman.” Melambatkan laju mobil agar mereka tidak buru-buru sampai di mansion
Akifa hanya diam, ia membuang wajah ke jendela “Mana ada pertemanan murni, laki-laki dan perempuan.” Ketusnya
Dylan hendak memegang tangan istrinya namun dengan cepat Akifa menepisnya “Sayang, mas..”
“Jangan berisik mas!”
Akhirnya Dylan diam, ia tak ingin menganggu istrinya lagi. Nantilah ia mencari cara agar mereka kembali baikan, atau lebih tepatnya agar Akifa tidak marah lagi padnayay.
Mobil sampai kedalam halaman mansion, Akifa buru-buru keluar dari dalam mobil meninggalkan suaminya.
Dylan yang tau sang istri kesal hanya bisa menghela nafas panjang, pasrah akan mendapatkan hukuman dari wanita kesayangannya.
“Mang, masukkan mobil ke dalam garasi.” Melemparkan kunci mobilnya kepada satpam yang berjaga. Setelah itu Dylan buru-buru mengejar istrinya sambil membawa gado-gado yang ia pesan tadi.
Terlihat istrinya sedang duduk bersama sang ibu membuat Dylan menghela nafas panjang. Ia tak mungkin membahas masalah saat ada orang tuanya, masalah rumah tangganya harus di tutup rapat dan diusahakan agar hanya mereka berdua yang tau.
“Assalamu'alaikum bu,” Salam Dylan mencium punggung tangan ibunya, lalu ia duduk disebelah sang istri
”Wa'alaikum salam, Untung Ifanya ketemu kamu, Lan. Ibu udah khawatir bangat pas satpam bilang Ifa pergi sendiri belum gado-gado. Tadi hampir ajah ibu nyusul Ifa.”
“Alhamdulillah ketemu bu, jadi pas pulang tidak usah jalan kaki lagi.”
Akifa jadi tidak enak sudah membuat ibu mertuanya khawatir “Maaf bu, tadi Ifa beneran kebelet pengen gado-gado, terus pengen beli sendiri lagi. Jadinya, Ifa pergi sendiri deh beli gado-gado.”
Dian tersenyum simpul, ia memegang tangan menantunya “Gak apa-apa, mungkin cucu ibu pengen gado-gado yang langsung dibeli oleh mamanya kali.” Mengelus punggung tangan sang menantu “Ibu gak keberatan kamu pergi sayang, lain kali jangan pergi sendiri ya, ibu khawatir. Apalagi kamu sedang hamil besar.”
Hati Akifa sekali lagi terenyuh dengan kasih sayang serta perhatian penuh cinta dari ibu mertuanya “Iya bu, sekali lagi Akifa minta maaf udah buat ibu khawatir.” Balik memegang tangan Dian
“Eh? Ada apa nih? Lagi drama mengharukan ibu mertua dan menantu?” Ilmy yang baru datang dari gelery langsung berceletuk
Dylan dan Dian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Ilmy “Assalamu'alaikum semuanya.. Ilmy yang cantiknya membahana pulang.” Pekik Ilmy mencium pipi kanan kiri ibunya
“Wa'alaikum salam putrinya ibu yang cantik dan lemah lembut kalau mulut nya bisa di kontrol.” Dian sungguh gemas melihat tingkah Putri sulungnya yang satu ini.
Ilmy cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal, tatapannya kemudian beralih pada kantong plastik yang masih dipegang Dylan “Wah.. ada gado-gado. Bagi dong.” Ia sudah sangat hafal dengan kantong plastik dari pedagang gado-gado langganan nya
Plak..
Dylan memukul tangan Ilmy yang akan mengambil kantong plastik berisi gado-gado itu “Enak saja, ini punya istri ku.” Memeluk gado-gado tersebut
“Isshhh pelit bangat!” Mengusap punggung tangannya “Fa, kamu lagi ngidam gado-gado ya?”
Akifa mengangguk “Iya kak. Tiba-tiba ajah pengen gado-gado.”
“Assalamu'alaikum..” Sahut Delon bersama seorang pria dibelakangnya
__ADS_1
“Wa'alaikum salam.” Jawab mereka semua
Mata Ilmy seketika berbinar tatkala melihat Marcell, asisten pribadi Delon datang. Marcell adalah anak dari salah satu asisten Ilyas dulu, Mike.
“Bang Ar..” Sapa Ilmy bersemangat
Marcell tersenyum “Selamat sore nona.” membalas sapaan Ilmy dengan formal membuat Dylan menahan tawa melihat cinta sang adik yang bertepuk sebelah tangan?
Tapi, apakah memang bertepuk sebelah tangan?
Ilmy mendengus, walau begitu ia tetap Senang karena Marcell tetap membalas sapaannya.
“Ada kerjaan yah Ar?” Dian bertanya
Marcell, atau yang biasa disapa Ar itu mengangguk “Iya nyonya,” balasnya singkat sambil tersenyum hangat, senyum yang selalu mampu membuat degup jantung Ilmy berdetak tak karuan
“Bagus deh, sekalian tinggal makan malam kan Ar?”
Marcell terdiam, ia memang sudah biasa makan malam bersama keluarga majikannya. Apalagi mereka lebih seperti keluarga dibanding atasan dan bawahan, namun tetap saja ada rasa sungkan setiap ditawari makan bersama
“Sudahlah, bang Ar tinggal ajah makan malam ya. Biar lebih rame.” Ilmy segera angkat bicara
“Iya Ar, kamu tinggal sekalian saja disini untuk satu malam. Oh iya, kamu belum berkenalan dengan istriku ‘kan.” Beralih melihat istrinya yang memang sudah dari tadi bingung dan bertanya-tanya, siapakah gerangan pria tampan yang baru ia lihat itu?
“Sayang, dia Marcell asisten Delon.”
“Ar, sudah kenal istriku kan?” Yang ditanya tersenyum sembari mengangguk
“Salam kenal, nyonya Dylan.”
“Bang Ar haus gak? Mau Ilmy buatin minuman?” Untuk yang sekian kali dalam hidupnya, Ilmy memberikan perhatiannya kepada Marcell. Calon imam yang sudah ia klaim sendiri
“Terima kasih nona, tapi tidak perlu. Saya bisa melakukannya sendiri nanti.”
Ilmy sedikit kecewa dengan penolakan yang lagi-lagi ia dapat. Sudah jadi rahasia umum dalam keluarganya, kalau Ilmy mencintai Marcell. Namun Marcell selalu menghindari pembicaraan yang menjuru ke hal-hal ‘itu’
Tapi, bukan Ilmy namanya kalau gampang menyerah. Ia sudah menyukai Marcell sejak dibangku sekolah dasar sampai sekarang dan perasaannya tidak pernah berubah malah tambah besar. Ia pastikan akan meluluhkan hati pria dengan senyuman hangat itu
“Gak papa bang, biar Ilmy buatkan ya.”
“Tidak per..__”
“Kalau begitu sekalian buatkan aku kopi cappucino.” Sahut Delon. Ia terlalu malas melihat tingkah mereka yang selalu malu-malu dan berakhir mereka tak akan mendapatkan jawaban dari masalahnya
Dylan tertawa kecil “Aku juga, kopi Americcano satu.” Jika ada kesempatan untuk menyuruh-nyuruh adiknys, maka ia tak akan melewatkan nya
Ilmy mencebik, “Isshhh dasar kalian merepotkan! Beban keluarga Huh!” Celetuk Ilmy
“Ckckck omongan putri ibu sebenarnya belajar dari mana sih.” Lagi-lagi Dian dibuat gemas dengan Ilmy yang ceplas-ceplos.
“Itulah jadinya kalai terlalu dekat dengan paman Said dan tante Sindy.” Seru Delon membuat Dian menghela nafas panjang. Entah apa yang diajarkan kakak iparnya dulu pada Ilmy menjadikan putrinya yang satu itu berbeda.
Ilmy mendengus, walau begitu ia tetap berdiri untuk membuatkan minuman untuk mereka.
__ADS_1
.
.
Makan malam pun tiba, sesuai perkataan Dian tadi. Marcell pun mau tidak mau harus mau ikut makan malam. Walaupun ia juga merasa senang dan tak keberatan.
Mereka semua sudah ada di meja makan yang cukup panjang. Mereka yang ada di meja makan sedari tadi memperhatikan Akifa dan juga Dylan yang sepertinya sedang mempunyai masalah. Mereka semua pura-pura tidak sadar dan mencoba untuk tak ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
Tadi sore, Akifa tidak jadi memakan gado-gado nya. Alhasil malam ini barulah ia memakannya. Walaupun masih kesal pada sang suami, Akifa tetap melayani Dylan sebagaimana mestinya.
Dengan cekatan, Akifa mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk sang suami. Kemudian, Akifa mengambil dua bungkus gado-gado tadi lalu menaruhnya di piring, ia kemudian memberikan satu piring kepada kakak iparnya
“Loh untuk aku, Fa?” Tanya Ilmy heran, ia tadi kekeuh menginginkannya Namun Dylan melarang. Tapi kenapa malah sekarang Akifa yang dengan sukarela memberikan nya
“Iya kak, buat kak Ilmy ajah satunya.” Menaruh sepiring gado-gado dihadapan Ilmy
“Wisshh beneran nih? Hehe makasih yah Fa.” Akhirnya yang ia memang inginkan didapatkan
Akifa hanya tersenyum lalu duduk disamping Dylan yang sekarang memberikan tatapan protes
“Sayang, kok dikasi Ilmy. Gado-gado itu punya mas loh.” protes nya, walaupun didepan sudah ada sepiring nasi beserta lauk pauk yang diambilkan sang istri tadi, ia tetap tidak ingin kalah dari adik kembarnya
Akifa menghela nafas panjang “Mas ‘kan alergi kacang, hmmm.” Menampilkan senyuman yang mampu membuat Dylan menelan ludahnya lekat
Orang-orang di sana heran mendengar penuturan Akifa, bahkan sampai pelayan pun tak habis pikir dengan ucapan Akifa. Bukankah Dylan adalah orang yang sangat menyukai kacang dibandingkan dengan makanan lain!?
Glek..
Baru orang-orang disana akan angkat bicara mengoreksi Perkataan Akifa, tiba-tiba Dylan menyahut cepat
“I.. iya, mas memang alergi. Hahha untuk sementara ini mas alergi kacang.” Jawabnya dengan tawa hambar yang sangat dipaksakan ‘Sampai istriku memaafkan ku’
“Iya kan, yaudah ayo mas makanannya dimakan. Ayo semua,” Akifa mulai memakan makanannya saat mendapat anggukan dari mereka semua.
Semuanya menahan tawa saat melihat Dylan mati kutu dibuat Istrinya. Kapan lagi melihat seorang Dylan yang memang biasanya nakal seperti Ilmy tak dapat berkutik dihadapan wanita lain kecuali ibunya.
Dylan memakan makanannya dengan terpaksa, ia melirik Ilmy didepan yang sekarang memakan makanan yang harusnya jadi miliknya.
Merasa diperhatikan, Ilmy mengangkat wajah dan mendapati tatapan abangnya. Ilmy tersenyum menang, lalu ia mengatakan sesuatu dengan menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.
“Rasakan!”
Seketika membuat Dylan ingin melempar adiknys dengan sendok!
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...