
Dengan langkahnya yang kecil dan lambat, Ilya masuk kedalam mansion. Gadis cantik yang memiliki wajah mirip dengan ayahnya itu melihat kedua orangtuanya sedang duduk di ruang tengah.
Ilya tersenyum tipis memandangi pemandangan yang tak akan pernah bosan ia pandangi. Perilaku ayahnya dari dulu tak pernah berubah dimakan waktu, malahan semakin tua ayah dan ibunya malah semakin mesra.
“Assalamu'alaikum ayah.. ibu..” Salam Ilya mencium tangan ayah dan ibunya
“Wa'alaikum salam.” Jawab mereka berdua serentak
“Ayo sayang duduk dulu.” Dian menepuk tempat kosong di sampingnya
Ilya menurut, ia duduk disamping sang ibu “Ada apa bu?” Tanyanya, karena tidak biasanya ibu dan ayahnya menahannya
Dian melihat sang suami ragu. Entah mengapa ia tiba-tiba tidak ingin menyerahkan Putri bungsu nya yang baru lulus kuliah. Putrinya masih terlalu kecil untuk menikah!!
Sedangkan yang dilihat menghela nafas panjang, Ilyas juga berpikiran sama dengan istrinya. Namun hal yang mereka pertimbangkan adalah perasaan pria yang datang melamar, pria yang mereka kenal dengan baik, pria yang mempunyai sopan santun. Kaya, tampan, mapan, dari keluarga baik-baik, agama dan attitude nya bagus.
Siapa yang akan menolak pria yang hampir mendekati sempurna?
Itulah yang membuat Dian dan juga Ilyas merasa sayang dan tidak enak untuk menolak. Namun, semuanya tetap ada pada keputusan Ilya
Memegang tangan sang putri “Begini, tadi... Ada laki-laki yang datang melamar, Ilya.” ucapnya dengan sangat lembut
Ilya terdiam lalu mengangguk “Apa ibu menyuruh Ilya menerimanya?” Tanyanya dengan senyum tipis namun dengan datar.
Dian menggeleng pelan “Enggakz semua keputusan ada di kamu nak. Ibu gak akan melarang ataupun memaksakan nya. Kalau kamu mau nanti ibu sampaikan pada laki-laki itu.”
Ilyas harap-harap cemas. Berharap, agar putrinya menolak! Namun, sepertinya angannya langsung dijatuhkan begitu saja tatkala melihat anggukan Ilya
“Ilya ikut ibu sama ayah ajah. Kalau laki-laki itu baik menurut ibu dan ayah, Ilya mau.” Jawab Ilya datar, tapi ibu dan ayahnya yang sudah mengetahui bagaimana sifat anaknya sudah menganggap hal itu biasa.
Ya, begitulah Ilya. Mempunyai wajah yang sangat mirip dengan sang ayah, hanya mata yang membedakan. Bukan hanya dari segi wajah, namun sifat Ilya dan ayahnya tak beda jauh.
Mungkin banyak yang mengatakan Delon adalah salinan dari Ilyas, mungkin iya tapi juga tidak sepenuhnya benar. Delon lebih dingin dan datar dibanding ayahnya.
Ilya, Ilyas bisa melihat sifat datar nya turun ke putri kecilnya. Membuat Ilya jadi pribadi yang sedikit introvert membuat seluruh keluarga selalu was-was saat Ilya berdekatan dengan orang lain. Apalagi putri bungsu Ilyas itu sangat cantik dengan wajah yang sedikit kebule-bulean, mengikuti wajah ayahnya.
Terlihat Dian dan Ilyas menghela nafas panjang. Tangan Dian terulur mengusap kepala Ilya “Yaudah, nanti ibu hubungi laki-laki itu lagi. Kita bicarakan baik-baik, tunggu sampai abang-abang sama kakakmu datang, ya,”
Ilya mengangguk “Iya, kalau gitu Ilya ke kamar dulu.” Setelah mendapatkan anggukan dari kedua orangtuanya, Ilya pun bergegas menuju ke kamarnya meninggalkan kedua orangtuanya yang sedang menatapnya dengan pandangan rumit
Sampai didalam kamar, Ilya menghempaskan tubuh keatas ranjang. Ilya tidak keberatan dengan lamaran yang tiba-tiba datang padanya, malahan ia sedikit lega. Dengan begitu, dia bisa menjauhi yang namanya zina dan tidak perlu repot mencari kekasih.
Dan lagi, ia juga melakukannya untuk membalas jasa kedua orang tua nya yang sudah melahirkan serta merawat dan memberikan kasih sayang kepadanya. Walaupun ia tau tidak akan ada hal yang bisa membayar jasa-jasa kedua orang tuanya di dunia ini.
Ia lantas mengambil ponsel dan membuka aplikasi baca novel online, hal yang sangat ia sukai. Ia mulai mencari novel yang sekiranya bercerita mengenai perjodohan ataupun nikah mendadak.
“Hmm bagaimana calon suamiku itu yah?” Gumam Ilya, belum apa-apa dia sudah membiasakan diri untuk mencoba menerima orang yang datang melamarnya walaupun ia tak tau bagaimana bentukannya.
Saat sedang asik membaca novel, tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat si pemanggil adalah teman dekat Ilya
__ADS_1
“Halo, Assalamu'alaikum. Lina.”
“Iya, kita langsung ketemu di toko bukunya ajah.”
“Ini aku Langsung otw.”
“Yaudah, Assalamu'alaikum.” Setelah menaruh kembali ponsel, Ilya lantas bergegas ganti baju.
Hari ini ia ada janji untuk menemani temannya ke toku buku sekalian untuk mencari novel yang baru terbit dari penulis favoritnya.
Di ruang tengah, nampak ayah dan ibunya masih ada disana. Dan kali ini terlihat ayahnya memeluk erat tubuh ramping sang ibu kedalam dekapannya.
“Ayah, ibu..” Panggil Ilya, sebenarnya ia tidak terlalu enak mengganggu acara pelukan kedua orang tuanya, cuman ia haru meminta izin dulu sebelum keluar
“Loh, mau kemana nak?” Tanya Dian
”Ke toko buku bu, bareng Lina.”
“Yaudah, pulangnya jangan kesorean.”
Ilya mengangguk, lantas ia mencium punggung tangan ibu dan ayahnya. Saat baru melepas tangan ayahnya “Biarkan supir mengantarmu.”
“Gak perlu ayah, Ilya nyetir sendiri ajah.” Ia merasa lebih bebas menyetir sendiri dari pada di temani sopir yang pasti akan selalu menunggu hingga selesai, dan hal itu membuat Ilya tak enak hati dengan sang sopir.
Ilyas menghembuskan nafas kasar, bahkan putri kecilnya pun tak suka di memakai sopir. Sama dengan anak-anaknya yang lain
“Baiklah, hati-hati dijalan.”
“Wa'alaikum salam,”
“Jangan ngebut.” Ucap Dian sebelum Ilya benar-benar pergi
Ilya mengangguk “Iya bu.”
.
.
Sesampainya di toko buku, Ilya buru-buru keluar dari mobil. Ia cukup terlambat karena terjebak macet. Gadis cantik itu paling tidak suka jika orang lain menunggunya. Ia merasa tak enak hati.
Sangking buru-buru, Ilya tak sengaja menabrak seorang pria tinggi. Karena tubuh Ilya yang kecil, ia yang menabrak namun dia juga yang hampir jatuh. Untung saja pria yang ia tabrak Menahan dengan Memegang kedua pundak Ilya
Ilya segera melepaskan diri ”Maaf tuan.. dan terima kasih..” Menunduk. Ia tak ingin melihat wajah pria karena merasa bukan hal yang penting.
Begitulah seorang Ilya. Jarang menatap lawan bicaranya jika menganggap orang itu tak penting dan tak akan pernah bertemu untuk yang kedua kalinya. Apalagi jika itu seorang pria
Pria tampan yang memakai jas itu tersenyum “Tidak apa-apa, lain kali hati-hati.”
Ilya mengangguk mendengar suara bass yang terdengar berat, bau wangi maskulin menusuk indra penciumannya. Sangat harum “Iya sekali lagi maaf.. kalau begitu saya permisi.” Tanpa mendengar balasan, Ilya segera pergi dari sana. Ia tak ingin otaknya terkontaminasi dengan hal-hal yang tak seharusnya
__ADS_1
Pria yang ditinggalkan, tersenyum misterius. Tatapannya terlihat rumit memandangi punggung Ilya yang masuk kedalam toko buku.
...***...
Kembali lagi ke pasutri gaje..
Hari adalah hari keberangkatan mereka ke kota ibu dan ayah. Dylan keluar dari kamar dan segera masuk kedalam lift. Ia harus cepat-cepat karena Akifa menunggu dibawah,
Menghela nafas panjang. Beginilah jadinya kalau ponselnya malah ketinggalan padahal barang-barang sudah siap semuanya.
Setelah lift terbuka, dengan langkah lebar Dylan kembali berjalan. Ia melewati kolam berenang dan melihat sekilas. Langkahnya terhenti, ia Memicingkan mata
“Loh.. sayang?” Gumam Dylan melihat istrinya di pinggir kolam renang sedang berdiri. Pintu kolam renang terbuka lebar membuat nya dapat melihat dengan jelas sang istri
Memang setelah Akifa tau ada kolam renang di mansion, ia tak segan-segan lagi untuk berenang bahkan hampir setiap hari. Karena tak ingi istrinya dilihat orang lain dengan keadaan memaksa bikini, Dylan terpaksa membangun tembok kaca hitam yang tak bisa terlihat dari luar, namun jika berada didalam.
Dylan melangkah cepat menghampiri istrinya, ia membulatkan mata tatkala melihat Akifa yang seperti sudah akan terjun kebawah, otomatis Dylan berlari menghampiri istrinya
“Akifa..” Teriak Dylan memeluk sang istri dari belakang
Akifa tersentak, lantas ia menoleh kebelakang “Mas? Ada apa mas?“ Tanyanya dengan wajah polos
Dylan membalik tubuh istrinya “Apa yang kamu lakukan sih Fa?? Masa mau berenang! Kita ‘kan mau pergi,”
Akifa cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal “Maaf mas, aku gak tahan tadi nungguin mas. Pas mau nyusul, eh! Malah tiba-tiba kakiku yang nakal berbelok ke kolam renang.”
Dylan menghembuskan nafas panjang, bukan takut mereka terlambat. Namun sekarang istrinya sedang hamil 18 minggu. Ia takut terjadi sesuatu pada sang istri dan jabang bayinya.
“Jangan melakukan itu lagi, kalau memang mau berenang. Turun dengan perlahan, jangan Langsung lompat. Sayang!!” Menekankan perkataan di kata terakhir
Akifa mengangguk lalu menunduk, ia memilin-milin baju terusan khusus ibu hamil yang ia pakai. Merasa bersalah pada diri, suami dan anaknya ‘Maafin mama nak’ Ucapnya dalam hati
Dylan tersenyum lalu mengangkat wajah Akifa, mengecup singkat bibir tipis istrinya “Kita berangkat yuk,” Ajaknya tersenyum lebar
Melihat senyuman lebar suaminya membuat Akifa kembali senang, ia mengira Dylan sudah tak marah lagi.
“Ayo!”
Dylan menggandeng tangan istrinya lalu keluar dari area kolam renang.
.
.
.
TBC
Kira-kira yang lamar Ilya siapa yah🤔
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...