Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Sampai ke jannah-Nya


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Halaman mansion yang besar telah didekorasi dengan sangat indah. Para tamu telah berdatangan mengisi kursi yang telah disediakan.


Para tamu yang diundang hanya keluarga, kerabat serta teman-teman dekat dan juga beberapa rekan bisnis, hanya itu. Walaupun acara ini terbilang cukup mewah, namun mereka hanya ingin mengundang sedikit orang saja.


Sebelum pengantin dipersilahkan untuk keluar, beberapa artis ternama tanah air kini mengisi acara. Dan para tamu menikmati acara tersebut, bagaimana tidak. Artis-artis ternama tanah air benar-benar di undang untuk mengisi acara, bukan hanya penyanyi namun sampai ke pembawa acara pun tak luput dari publik figur terkenal.


Akifa membuang nafas panjang, ia gugup. Walaupun nanti sudah tak ada acara ijab qobul namum tetap saja Akifa gugup. Apalagi tamu undangan bukanlah orang-orang biasa.


“Tarik nafas Fa, tarik ajah terus jangan dibuang-buang.” Sahut Winda yang kini menemani Akifa.


Akifa berdecak “Lu mau gue dead sebelum acara nikahan?” Ia mendengus “Lagian lu ngapain dimari? Calon laki lu gimana? Gak takut dibrondol orang?” Akifa masih tak percaya, Winda berhasil memikat seorang pria yang sama sekali tak terpikirkan oleh Akifa.


“Gue disini buat nyemangatin lu. Tenang ajah, calon laki gue tuh setia.” Ucapnya percaya diri


Tok.. tok.. tok..


Ceklek...


Seorang dari pihak WO mengabarkan bahwa sebentar lagi Akifa harus keluar dari tempat persembunyiannya


“Win.. gue kok gugup yah.”


“Ck! Tenang ajah napa si, kalau gugup tuh jangan tanggung-tanggung langsung kabur ajah!” Canda Winda


“Gila lu! Udah ah gue mau siap-siap.”


“Semangat! Kan ada laki lu!” Memegang pundak Akifa


Akifa mengangguk yakin “Thank's. Entar kalau lu nikah gua yang bakalan jadi bridesmaid nya.”


.


.


Pintu terbuka, sembari membawa buket bunga Akifa keluar dari dalam kamar. Didepan kamar, sudah ada sang suami serta putranya dengan memakai tuxedo yang senada.


Dylan tersenyum menyambut sang istri, ia mengulurkan tangan dan disambut dengan baik oleh Akifa


“Kamu cantik sayang.” Ucap Dylan menatap istrinya dengan tatapan yang dalam


Wajah Akifa bersemua, ia lantas balik tersenyum manis “Kamu juga tampan mas.” ucapnya “Dan Al juga tampan, iya ‘kan sayang?” Mengecup gemas pipi sang putra yang ada di gendongan suaminya


“Iya dong, kami the handsome man's.” Ucapnya percaya diri, sembari berjalan menuju ke tempat acara mereka terua mengobrol ringan untuk menghilangkan kegugupan mereka.


“Al gak rewel ‘kan mas?” Tanya Akifa khawatir. Ia sudah memiliki jiwa keibuan yang akan selalu menomorsatukan sang anak


“Yah enggaklah, Al ‘kan tau hari ini hari bahagia mama sama papanya.”


“Alhamdulillah, syukur deh. Aku khawatir dari tadi kalau Al nangis minta susu.”


“Tenang saja sayang, Alan punya banyak baby sitter yang siap melayani.”


Akifa tertawa pelan mendengar penuturan Dylan. Ia tau baby sitter yang dimaksud adalah saudara-saudara Dylan dan beberapa kerabatnya. Baby Alan memang sudah menjadi artis di keluarga Sam sejak lahir.


Sayup-sayup dari arah tempat acara, kedua pengantin sudah akan dipersilahkan untuk masuk. Tema yang diambil dalna acara ini mengikuti gaya barat yang modern.


Seorang dair pihak WO datang menyampaikan bahwa keduanya sudah dipersilahkan masuk. Pelan-pelan pintu terbuka, lampu penerangan sudah terlihat jelas dibalik pintu.

__ADS_1


Degup jantung Akifa kembali berdegup kencang, tangannya kembali mengeluarkan keringat dingin. Ia memegang erat lengan sang suami.


Dylan tersenyum, lantas ia berbisik “Tenang saja, ada mas disini.”


Akifa tersenyum sembari mengangguk, kemudian ketiga anak manusia itu masuk kedalam tempat acara.


Disamping kanan dan kiri terisi penuh oleh tamu undangan, ada karpet merah yang menghubungkan dengan panggung didepan sana dimana terdapat sofa yang lumayan lebar serta ada kua pernikahan yang lumayan besar.


Saat ketiganya masuk, tepuk tangan yang meriah terdengar. Akifa tersenyum lebar, ia masih tak menyangka akan mengadakan sebuah pesta pernikahan yang mewah seperti ini, seperti yany biasa ia lihat dalam acara para konglomerat.


Acara demi acara mulai dilaksanakan. Selesai potong kue, Dylan dan Akifa dipersilahkan untuk berdansa ditengah-tengah ruangan.


“Mas aku gak bisa dansa.” lirih Akifa berbisik ia tak tau jika akan ada acara dansa. Ia sama sekali tak bisa berdansa, mungkin jika dance K-Pop ia jago.


“Tidak apa-apa, santai.” Balas Dylan Berbisik


“Tapi kalau aku salah, bisa malu-maluin mas.”


Dylan mengambil tangan sang istri dan menaruhnya di lehernya, ia kemudian menaruh kedua tangannya di pinggang ramping istrinya “Tenang saja, mas juga tidak terlalu mahir berdansa. Kalau pun salah, kita bisa malu bersama-sama. Jadia tidak terlalu malu.” Dylan tersenyum tengil


Akifa jadi gemas sendiri melihat suaminya yang masih sempat-sempatnya bercanda “Mas kamu ini..”


“Hussstt ikutin gerakan mas saja.”


Pelan-pelan lagu klasik mulai diputar, keduanya pun mulai berdansa. Walaupun tak Terlalu bisa, namun Akifa mencoba untuk menyesuaikan gerakannya. Setidaknya ia pernah ikut eskul tari saat SMA.


“Mas kamu jago rupanya.” Ia sedikit terkejut saat Dylan dengan sangat mahir dan santai melakukan nya


Dylan menunduk melihat sang istri “tidak terlalu buruk ‘kan? Tidak jadi malu ‘kan?” Menaik turunkan alis


Setelah beberapa saat mereka berdansa, beberapa pasangan pun ikut mulai berdansa. Salah satunya Fatih yang tak ingin ketinggalan, walaupun Ilya sedang hamil namun tak menghambat pergerakan tubuhnya karena kehamilannya yang belum besar.


Ayah Ilyas dan ibu Dian pun ikut meramaikan, tak ingin kalah abi Ares dan uma Lyza juga ikut menari. Akira dan Atifa juga ikut menari, walaupun Tifa terpaksa karena ditarik sang kakak.


Ilmy hanya bisa menghela nafas panjang, ia tak punya pasangan untuk diajak menari. Entah mengapa ia tiba-tiba mencari sosok yang selama ini memegang hatinya.


Deg..


Tatapan keduanya tak sengaja bertemu, cepat-cepat Ilmy memalingkan wajah. Ia tak ingin jatuh lagi kedalam pesona Marcell.


Tiba-tiba sebuah tangan terulur didepannya, Ilmy Mendongak. Senyumnya terbit tatkala melihat si empunya tangan


“Mau dansa tidak? Kalau tidak mau yasudah.”


Ilmy terkekeh pelan “Lon kalau ngajak tuh haruss pake rayuan, gimana sih.” Menyambut uluran tangan kakak kembarnya


Mereka kemudian turun ke tempat dansa “Untuk apa? Hanya seorang princess yang diperlakukan seperti itu.”


Mereka mulai berdansa “Hei memangnya aku bukan princess?” Protes Ilmy


Kening Delon berkerut “Jangan bilang selama ini kau menganggap dirimu seorang princess? Kau bercanda? Jangan terlalu berkhayal!”


Ilmy berdecak “Ck! Dasar bujang lapuk!”


“Dasar ngebut Kawin.” Balas Delon tepat sasaran


Namun bukannya marah Ilmy malah tertawa mendengarnya “Sejak kapan kau bisa bercanda Lon? Hahaha.”

__ADS_1


Delon tersenyum tipis melihat tawa adiknya. Ia sudah tau masalah sang adik dan asistennya. Namun ia juga tak bisa melakukan apa-apa, karena perasaan seseorang tak bisa dipaksakan dan Delon bukanlah seseorang yang suka memaksakan perasaan orang lain. Ia hanya berharap agar adiknya bisa segera move on dan mendapatkan jodoh yang sebenarnya.


Setelah acara dansa, Akifa dan Dylan sudah duduk di panggung. Mereka menyambut orang-orang yang ingin memberikan selamat untuk keduanya. Bukan hanya karena pernikahan namun karena kelahiran baby Al juga.


Terlihat Winda datang keatas panggung dengan menggandeng seorang pria tampan.


“Ya Ampun, ini gue harus kasi selamat lagi nih? Udah keberapa kali nih?” Canda Winda Memeluk sahabat karibnya yang sudah alim, menurut nya.


“Iya dong, ini beda lagi ‘kan.” Jawab Akifa


“Iya ukhti, semoga samawa yah.”


Akifa tertawa geli “Aamiin.. lu juga semoga sampai ke hari-H dengan lancar.”


“Aamiin..”


”Selamat bro, walaupun udah pernah aku ucapin. tapi selamat ajah deh.” Ucap pria yang digandeng Winda


“Iya.. thank's.” Menepuk punggung pria itu “Tapi aku tidak kusangka kau juga akan menikah secepat ini.” Seru Dylan


Ilham, teman Dylan dirumah sakit. Sama-sama seorang dokter. Ingat dokter yang pernah direpotkan Dylan saat pria itu mengidam, yah Ilham. Calon suami Winda!!


“Kau ‘kan sudah punya anak, yah setidaknya aku harus sudah menikah ‘kan?”


“Haha iya sih, tapi aku tidak nyangka gadis yang kau sunting itu sahabat istriku sendiri.”


“Namanya juga jodoh ‘kan? Siapa yang tau.”


“Nah betul tuh!” Celetuk Winda “Sama kaya mas Dyalan, yang awalnya dinikahi kakaknya eh! Malah dapat adiknya.” Ucapan Winda mengundang tawa keempat orang itu.


Setelah keduanya pergi, kini hanya tinggal mereka berdua. Dylan Menggenggam tangan Akifa lalu mengecup punggung tangan sang istri “Mas masih belum percaya kita bisa sampai ditahap ini.”


Akifa tersenyum “Apalagi aku mas, padahal dulu aku pernah berdoa loh supaya jodohku gak seperti mas yang dingin dulu. Eh! Malah dapat mas nya.” ia jadi mengingat masa-masa saat ia risih ditatap Dylan, namun sekarang ia malah ingin agar tatapan suaminya hanya tertuju padanya


Dylan tersenyum “Apa yang tak disukai maka itu yang akan didapatkan, apalagi jika itu yang terbaik.”


Akifa mengangguk “Makasih mas, aku benar-benar bahagia bersama mu, mas. Maaf kalau dulu aku ada Salah sama kamu.”


Dylan kembali mengecup punggung tangan istrinya “Itu adalah cobaan rumah tangga kita, mas juga mau minta maaf karena sikap mas yang semena-mena dulu. i'm sorry.”


“I hope we can live together until death do us part.” (semoga kita bisa hidup bersama sampai maut memisahkan kita) Ucap Akifa menatap dalam mata sang suami


“Sampai ke jannah-Nya.” Lanjut Dylan


“Aamiin.. l love you mas.”


“Love you so much.. much.. much..” Balas Dylan


...~End~...


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu


Akhirnya tamat juga😌 untuk manteman yang sudah setia stay nungguin cerita ku, maaf kalau misalkan othor ada salah kata nih, and thank you untuk kesetiaan kalian 🤗


untuk ceritanya Delon sama Ilmy othor mau buat judul baru untuk mereka berdua. tapi mungkin othor bakalan Hiatus bentar buat persiapan judul baru, biae bisa crazy up. Supaya kalian gak jamuran nungguin update 🤪


okey bay.. see you next story ☺️

__ADS_1


__ADS_2