
Dan ini adalah yang kedua kalinya Akifa marah pada sang suami karena perempuan lain. Dan lagi-lagi Dylan harus kembali mengambil hati sang istri.
Setelah membeli batagor yang Dylan kira dapat membuat hati Istrinya luluh padahal itu pun tak berhasil, mereka pun pulang ke mansion.
Sambil membawa batagor serta baby Alan, Akifa turun dari dalam mobil.
“Sayang pakai kursi roda,” Ujar Dylan cepat sambil mengambil kursi roda yang ada di bagasi
Akifa tak menghiraukan dan tetap melanjutkan langkah. Dylan menghela nafas panjang lalu berlari menghampiri sang istri
Mencegat lengan Akifa “Please.. pakai kursi rodanya. Tidak apa-apa kamu marah sama mas, tapi jangan membuat dirimu kesusahan.” Menampilkan wajah memelas
Dengan wajah datar Akifa mengangguk. Dylan tersenyum lega lalu buru-buru menyiapkan kursi roda “Duduk pelan-pelan, Sayang.”
Akifa menurut dan duduk di kursi roda. Setelah melihat istrinya aman, Dylan pun mendorong kursi roda tersebut masuk kedalam mansion
“Sepertinya nona Akifa marah.” Ujar tukang kebun yang sedari tadi memperhatikan keluarga kecil itu
“Iya, hahah padahal mereka sudah punya anak. Aku yakin tuan Dylan sudah membuat masalah yang tidak seharusnya dibuat masalah.” Timpal satpam yang menjaga siang itu
“Yah suami memang harus mengalah pada istrinya. Susah juga jadi suami bucin.” Tukang kebun membenarkan.
Tontonan yang selalu menarik bagi pekerja di mansion adalah para suami yang bucin pada istrinya dan selalu menuruti perkataan sang istri, namun mereka tetap tegas sebagai seorang kepala keluarga.
Sesampainya didalam mansion, rupanya Ibu Dian sudah menyambut
“Maaf yah tadi ibu gak bisa bantu-bantu, ayah sakit jadi harus dijaga.” Seru Ibu Dian mengambil baby Alan
“Iya, gak papa bu. Lagi pula kak Ilmy udah bantu-bantu tadi.” Tersenyum hangat
“Kalian udah makan? Mau disiapkan makanan dulu?” Tanya ibu Dian
“Gak usah bu, tadi udah mampir makan dijalan.” Jawab Akifa “Ini juga sempat beli batagor.” Mengangkat kantong plastik berisi batagor
“Ayah, bagaimana bu?” Tanya Dylan, ia celingak-celinguk mencari ayahnya yang biasa selalu mengekor ibunya
“Masih dikamar, demamnya udah turun tapi katanya kepalanya masih sakit.” Nampak khawatir akan keadaan sang suami yang tiba-tiba sakit demam
Tadi dokter sudah datang dan hanya memberikan obat penurun demam.
“Yaudah nanti Dylan bantu periksa,” Walaupun Dylan adalah dokter anak tapi bukan berarti pengetahuannya hanya sebatas itu. Sebagai seorang pelajar, sudah pasti dulu Dylan mempelajari hal-hal berbau kesehatan.
“Iya, kalian istirahat gih. Ingat yah Fa, jangan banyak gerak dulu. Takutnya jahitannya terbuka.” Memberikan kembali cucunya kepada Akifa setelah mengecup pipi bayi mungil itu
“Iya bu, terima kasih.”
Setelah itu Dylan mendorong kursi roda masuk kedalam kamar. Dengan langkah yang perlahan Akifa menaruh baby Alan keatas ranjang, pas ditengah-tengah.
Dylan melipat kembali kursi roda tersebut lalu mengambil bungkusan batagor yang ada di atas nakas “Mau mas siapin?” Usaha untuk merebut hati Istrinya kembali ia lakukan
Akifa melihat sekilas lalu mengangguk “Maaf merepotkan.” Walaupun ia marah, bukan berarti Akifa akan mendiami suaminya terus. Ia masih ingat dosa
Mendapatkan jawaban dari sang istri membuat senyuman Dylan mengembang lebar “Tunggu disini.” Ia segera keluar kamar untuk memindahkan bungsukan batagor itu keatas piring
Akifa tersenyum simpul melihat kepergian suaminya, ia kemudian beralih melihat sang putra yang masih anteng tertidur. Ia pun ikut membaringkan tubuh menghadap baby Alan “Papa gemesin yah nak.” Tak berani memegang baby Alan, takut membangunkan tidurnya
Ceklek..
__ADS_1
Dylan masuk sambil membawa nampan berisi piring batagor dan air minum segelas.
“Mau langsung dimakan?” Tanya Dylan menaruh nampan tersebut di atas nakas
Akifa bangun dari tidurnya dibantu sang suami “Makan sekarang ajah mas.”
Dylan duduk di depan sang istri sambil memegang piring berisi batagor tersebut “Mas suapin, oke?”
“Gak perlu mas.” Menggeleng. Walaupun ia menjawab perkataan Dylan bukan serta merta membuatnya ramah dan melupakan kekesalan nya tadi
“Sayang..” Kembali menaruh piring itu diatas nakas. Lantas, Dylan mengambil tangan istrinya lalu menggenggam tangan Akifa
“Kamu percaya sama mas ‘kan? Ifa pasti tau mas tidak akan main mata dengan wanita lain.” Menampilkan wajah memelas yang selalu membuat Akifa luluh
“Cuman kamu yang ada di hati mas, wanita yang mas cintai. Mas tidak ada hubungan apapun dengan perempuan-perempuan lain diluar sana. Karena itu, jangan marah lagi yah.” Mencium punggung tangan sang istri
Akifa masih diam dan memandang suaminya dengan tatapan datar. Walaupun diluar nampak biasa saja, namun percayalah didalam Akifa sudah ingin berteriak sambil menggigit bantal seperti yang biasa ia lakukan saat menonton film romantis atau drakor-drakor yang biasa ia tonton.
Akifa menghela nafas panjang “Mas, sebenarnya ada berapa si mantan mu?!”
“Mantan?” Dylan memastikan
“Iya, berapa banyak mantan mu? Udah dua loh perempuan yang aku temuin dan suka sama kamu di kota ini.”
“Loh, mas pacaran saja tidak pernah. Bagaimana bisa punya mantan?” Heran? Tentu saja, Dylan sama sekali tidak pernah pacaran satu kali pun.
“Nah itu dua perempuan yang menggoda mu. Pas aku hamil, ada Wiwin. Terus pas udah punya anak, Mia. Nanti siapa lagi? Wawan, Meria?” Sewot Akifa
Dylan menghembuskan nafas panjang “Bukan mantan, sayang..” Menekankan perkataan nya di akhir kata
“Mereka cuman kenalan doang, bukan apa-apa.” Lanjut Dylan
“Ya Allah sayang, aku dingin sama kamu itu untuk membatasi perasaan ku. ‘kan tidak baik main hati sama perempuan lain padahal aku sudah punya Istri.” Dylan mencoba menjelaskan
Akifa Memicingkan mata “Beneran?”
“Iya sayangku.. cinta ku..” Mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali
Blush..
Wajah Akifa memerah. Lantas ia berdehem untuk menetralkan perasaannya “Tapi lain kali gak usah ramah-ramah bangat sama perempuan lain. Coba deh bayangkan, kalau posisi kita dibalik. Aku yang ketemu mantan ku. Gimana perasaan mu mas?”
Dylan nampak berpikir sejenak “Yah biasa saja." jawabnya dengan wajah Sok polos
“Loh mas? Ihh mas Dylan mah udah gak sayang sama aku.”
“Bukan seperti itu sayang. Mas sangat sayang sama kamu. Tapi mantan kamu ‘kan cuman sampah bermulut parasit. Tidak akan bisa merebutmu dari mas, jadi untuk apa mas permasalahkan?” Dylan menjelaskan agar istrinya paham
“Iya aku juga tau kalau mantan aku gak bisa dibandingkan dengan kamu, mas.” Pasti suaminya lebih baik beribu kali lipat dibandingkan mantannya
“Tapi itu bukan intinya mas..__”
Dylan langsung memeluk istrinya “Iya mas ngerti. Maaf yah sudah buat istri mas ini kesal. Tapi percaya deh, cuman Ifa doang yang mas cinta. Perempuan-perempuan tidak jelas diluar sana tidak bisa dibandingkan dengan istri cantik mas ini.” mengelus surai panjang istri nya.
Dylan mencoba mengeluarkan kata-kata manisnya yang semanis madu. Berharap, semoga istrinya tidak lagi marah
Sekali lagi, wajah Akifa dibuat merona. Untung saja saat ini ia masih berada di pelukan sang Suami jadi wajahnya yang memerah tak akan terlihat
__ADS_1
“Iya aku tau, tapi tetap ajah aku cemburu mas.”
Dylan terkekeh “Oh.. kata orang cemburu itu tanda cinta, begitu yah. Kamu cinta bangat sama mas yah jadi cemburu.” sengaja menggoda istrinya agar suasan kembali cair
“Astagfirullah mas, ihhh orang lagi marah juga.” Memukul pelan dada Dylan “Pantas saja kak Ilmy selalu istighfar kalau ngomong sama kamu, mas. Aku ajah istrinya dibuat elus dada.”
Dylan tertawa “Hahahah loh kan emang benar sayang..” Mengeratkan pelukannya. Ingin sekali Dylan menggoyang-goyangkan pelukannya namun takut mengganggu bayinya tidur
Akifa hanya mengangguk dalam pelukan hangat sang suami. Memang benar, tak ada yang bisa marah kepada suaminya yang terlewat manis.
...***...
Ilya menghempaskan tubuhnya keatad ranjang. Setelah lelah seharian berjalan-jalan mengelilingi kota Hokkaido, rasanya Ilya ingin tidur seharian diatas kasur
Fatih masuk kedalam kamar hotel. Ia melihat istrinya yang sudah membaringkan setengah tubuh diatas kasur sedangkan kakinya masih menjuntai dilantai.
“Tidak mau mandi dulu?” Fatih menghampiri Ilya dan duduk di samping
Ilya melihat Fatih lalu tersenyum “Nanti ajah, kakak duluan saja.”
“Yakin? Tidak mau mandi bareng?” Menaik turunkan alisnya
Wajah Ilya memerah “Ti.. tidak..”
“Hmm yakin?” Suaranya sangat terdengar menggoda. Fatih paling suka menjahili istrinya yang sangat gampang merona
Ilya bangun dan duduk disamping Fatih “I.. iya.., cepat kakak mandi. Kak Fatih bau keringat.” Mendorong tubuh sang suami
Fatih tertawa gemas, lantas ia Menangkup wajah istrinya dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil disana.
“Gemas nya..” kembali mendaratkan kecupan singkat dibibir, Setelah itu ia pun berdiri dan masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Ilya yang lagi-lagi harus menahan Wajahnya yang memerah
“Uh.. kenapa gak bisa biasa sih.” Menutup wajah, ia selalu dijahili dan selalu berakhir dengan wajah yang merona
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka kembali, sontak Ilya menoleh melihat sumber suara. Fatih memunculkan kepalanya “Pintunya tidak terkunci. Awas, jangan mengintip.” tersenyum jahil
“Memangnya siapa yang mau ngintip?” Memalingkan wajah, karena ia sangat tau wajahnya pasti kembali memerah
Fatih tertawa keras melihat tingkah lucu istrinya, ia kembali menutup pintu “Jangan terlalu sering makan cabai, kalau tidak wajah mu akan berubah merah seperti cabai, sayang.” Teriak Fatih
Blushhh..
Ilya menutup wajah nya dengan bantal, malu kepalang. Ia malu karena kedapatan merona dengan wajah yang sangat merah.
“Biasakan Ilya..”
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...