
Keesokan harinya, Dylan sudah kembali ke rutinitas nya di rumah sakit. Dan mau tidak mau Akifa harus dirumah sendiri ditemani beberapa pelayan.
Saat sedang asik bersantai di taman belakang, tiba-tiba ia mendengar suara deru mobil di depan.
Akifa yang ingin keluar rumah untuk menyambut suaminya terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdiri menampilkan nomor sang Suami. Dengan Kening yang berkerut dalam, Akifa mengangkat sambungan telepon tersebut
“Halo, Assalamu'alaikum mas. Ada apa? Kok nelpon? Padahal tadi aku dengar suara mobil mas udah datang.” Tanya Akifa beruntun
“Kamu tunggu saja disana, jangan kemana-mana. Biar mas yang kesana.”
Walaupun bingung, Akifa hanya mengangguk tanpa ada yang lihat “Iya mas.” Jawabnya
Tak lama Dylan datang dan langsung memeluk istrinya dari belakang yang sekarang tengah duduk di kursi taman. Mengecup puncak kepala Akifa
“Assalamu'alaikum istriku.”
Mendongak “Wa'alaikum salam suamiku.” tersenyum manis
Dylan tersenyum lalu ikut duduk di sebelah istrinya “Bagaimana keadaan anak papa hari ini?” Mengelus perut istrinya
“Baik papa, tapi kok papa gak nanyain kabar mama, hmm?”
Dylan tertawa kecil ”Hmm kalau istriku yang paling cantik ini bagaimana kabarnya hari ini?” Menyingkap anak rambut istrinya ke belakang telinga
Akifa tersenyum lebar “Kalau anaknya baik, pasti mamanya juga baik.” Jawabnya memegang perut
“Oh yah mas, tumben pulang cepat? Ini masih siang loh. Ada apa?”
“Bersiaplah, mas akan mengajakmu ke suatu tempat. Dan mas yakin pasti kamu suka.”
“Dimana? Ke Restoran? Tapi ini masih siang loh mas untuk makan malam.” Kata Akifa dengan wajah polos
Dylan tertawa “Dasar pede! Memangnya siapa yang mau mengajak mu makan malam? Ayo cepat bersiap.”
Akifa mencebik, padahal dia sudah berharap akan diajak makan malam romantis di restoran bintang lima. Namun suaminya dengan mudah mematahkan angan-angan nya
“Memangnya kita mau kemana sih mas?” Dia jadi kesal sendiri karena angannya di hempaskan begitu saja
“Ada, ayo kamu ikut mas saja. Walaupun mas menggigit, tapi mas cuman gigit kamu kok.” Ucapan tanpa filter dari suaminya membuat wajah Akifa memerah menahan malu dan kesal secara bersamaan.
“Mas! Sensor dikit napa sih! Huh! Yaudah ayo kita ke kamar.” Berdiri dari duduknya
Dylan ikut berdiri “Loh sayang, mas memang tau kamu ‘ingin’ tapi kan mas tadi suruh siap-siap.” Dengan wajah tengil yang sangat membuat Akifa kesal, Dylan berkata.
__ADS_1
“Mas! Ishh.. mas sendiri yang nyuruh aku siap-siap. Kalau mas gak mau yaiudah.” Pergi dari sana meninggalkan Dylan
Dylan berlari menghampiri istrinya sembari merangkul pundak sang istri “Mas yakin nanti kamu pasti sangat senang.”
“Iya deh, terserah mu ajah mas. Tapi awas loh aku gak senang.” Ancam Akifa mengepalkan tangannya di depan wajaha sang suami
Dylan tertawa lantas Menangkup tangan istri dan mencium tangan Akifa yang terkepal. Tangan yang tadi terkepal langsung terbuka saat benda kenyal itu menyentuh nya.
.
.
Sudah dari tadi Dylan melajukan mobil entah tujuannya kemana, Akifa hanya diam dan menurut. Tapi lama-lama kesabarannya yang memang setipis kuku akhir patah saat sudah hampir satu stengah jam menempuh perjalanan namum belum ada tanda-tanda akan sampai.
“Mas, sebenarnya kita mau kemana sih?” Tanya Akifa melihat suaminya dengan wajah yang cemberut
Melihat istrinya sekilas lalu kembali fokus pada jalan “Tunggu saja, sebentar lagi kita sampai kok.”
Akifa mendengus kesal. “Sabar sayang, sebentar lagi sampai. Bukannya orang sabar banyak duitnya ya? Kamu yang bilang loh.” Canda Dylan mengelus kepala istrinya
Akifa terkekeh mendengarnya “Iya.. iya.. aku sabar deh.”
Tak lama mobil masuk di sebuah perkarangan rumah elit. Akifa menurunkan kaca jendela lalu menatap kagum dengan bangun-bangun yang dilewati mobil
Dylan tersenyum gemas melihat istrinya yang terkagum dengan beberapa mansion yang dilewati.
“Mas sebenarnya kita mau kemana sih? Mau ngunjungin teman mu, mas?” Tanya Akifa yang sudah sangat dilanda rasa penasaran sembari menoleh sekilas kearah suaminya namun detik kemudian ia kembali melihat kearah luar jendela, mengagumi setiap mansion yang dilewati.
Akifa tak munafik, jujur saja dia juga punya keinginan tinggal dimansion seperti yang sekarang ia lihat. Siapa sih yang enggan tinggal di rumah yang sangat besar?
Dylan membelokkan mobil dan masuk kedalam sebuah pekarangan mansion yang cukup luas “Kita sudah sampai.” Melepas seatbelt
Akifa melihat suaminya dan Ikut melepas seatbelt yang ia pakai “Ini mansion siapa mas?” Tanyanya lagi dengan wajah bingung
Bukannya menjawab, Dylan malah membuka pintu mobil “Sudah ayo turun dulu.” ajaknya
Akifa mengangguk, ia pun membuka pintu mobil dan ikut keluar bersama suaminya. Matanya membelalak melihat mansion di hadapannya. Dari dalam mobil memang sudah terlihat kemewahan serta kebesaran mansion itu, namun saat di lihat langsung mansion itu jauh terlihat lebih mewah!
“M.. mas.. i.. ini, ki.. kita ngapain disini?” Ia jadi tergagap, merasa tak pantas untuk ada disini
Dylan tertawa melihat raut wajah istrinya, menggandeng tangan Akifa “Ayo masuk.” Tanpa mendengar balasan Akifa, pria itu membawa istrinya masuk kedalam mansion.
Akifa kembali dibuat terkejut saat melihat beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka “Selamat datang, tuan nyonya.” Ucap para pelayan menundukkan kepalanya
__ADS_1
Sontak, Akifa menoleh melihat suaminya yang tersenyum kearahnya “Mas..”
“Ayo masuk sayang.” Kembali menarik tangan Akifa memasuki mansion tersebut.
Jantung Akifa semakin terpacu saat ia melihat seberapa mewahnya mansion yang ia masuki. Matanya yang selama ini sangat jarang melihat barang-barang mewah dan mahal tak bisa berkedip saat melihat isi mansion berwarna putih namun emas lebih mendominasi.
“Mas...”
Dylan tersenyum lantas memegang bahu sang istri berhadapan dengannya “Mulai hari ini, kita akan menempati mansion ini.” Perkataan Dylan membuat Akifa tak dapat berkata-kata.
Matanya membulat sempurna, ia tak tau harus tertawa atau menangis haru sekarang. “Mas..” Suaranya tercekat
Memeluk tubuh istrinya lalu menggendong Akifa untuk duduk di sofa yang ada disana. Dylan mendudukkan istrinya dipangkuan berhadapan dengannya
“Kamu tau sayang, sudah sangat lama mas ingin membawamu tinggal disini bersama. Dan akhirnya harapan mas bisa terkabul. Mas berhasil membawa mu tinggal di mansion dengan status nyonya rumah.” Mengecup bibir istinya
Akifa tersenyum haru, “Makasih mas, aku senang bangat. Udah lama aku bermimpi bisa tinggal di mansion mewah kayak di novel.”
Dylan terkekeh pelan “Dasar otak halu!”
“Biarin! Oh yah mas, kapan mas beli mansion ini? Bagus bangat loh.” Melihat sekeliling mansion
“Suka?”
Akifa mengangguk antusias “Bangat!”
“Alhamdulillah. Mas tidak membeli mansion. Tapi mas membangun mansion. Mas membangun mansion ini saat mas sudah jatuh cinta dengan seorang gadis SMA dengan poni estetik, mas selalu berdoa agar suatu hari nanti. Mansion yang mas bangun susah payah bisa di tempati orang yang tepat. Dan seperti nya itu terkabul.” Memandangi istrinya yang saat ini juga tengah memandangi nya dengan wajah haru
“Omg, mas... Kamu romantis bangat sih mas. Mirip Bandung Bondowoso, terus aku Roro Jonggrang nya hahahah.” Akifa terbahak
Dylan hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar perumpamaan istrinya. Tidak salah memang, tapi sedikit aneh untuk Dylan. walaupun ia membenarkan perumpamaan yang dikatakan istrinya.
Yang membedakan, Bandung Bondowoso membangun candi karena permintaan Roro Jonggrang, sedangkan ia membangun mansion atas keingin dirinya sendiri, tanpa paksaan.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...
__ADS_1