
Sebelum lanjut baca, othor pengen bilang ~Selamat menunaikan ibadah puasa~ Bagi yang menjalani☺️, othor juga sih🤭
...Happy reading...
Makan malam bersama yang canggung pun dimulai. Setelah mengambil makanan untuk Dylan dengan penuh gerutuan di dalam hati, akhirnya Akifa bisa makan dengan tenang juga.
Tidak, lebih tepatnya ia mencoba berpura-pura tenang ‘Mbak Indah ihh’ Ingin sekali ia ke rumah sakit dan menyeret Indah dari sana.
“Apa mbak Indah selalu sibuk?” Tanya Akifa saat mereka selesai makan malam bersama
“Yah begitulah.” Jawab Dylan singkat
Akifa Mendengus. Setelah membantu para pelayan membersihkan piring serta makanan sisa yang ada di meja makan. Ia segera berlalu ke ruang keluarga untuk melanjutkan menonton drakor.
Dylan hanya melihat istrinya pergi meninggalkannya dengan wajah masam. Ia diam-diam tersenyum tipis.
...***...
“Ckckck akhirnya mbak keluar dari gua juga.” Akifa berkaca pinggang didepan pintu saat melihat Indah baru pulang dari rumah sakit pagi ini.
Indah Tersenyum dengan wajah lelah yang nampak pucat “Mau kemana dek?” Ia lebih memilih tidak meladeni omelan Akifa yang pastinya akan panjang bahkan lebih panjang dari jalan tol
Akifa Mendengus “Kuliah lah. Aku masih normal loh mbak, kalau malam istirahat nanti pagi baru beraktivitas lagi.” Jawabnya dengan nada menyindir
Indah tertawa geli “Iya.. iya.. si paling normal. Udah yah Mbak capek, mau istirahat.”
“Jangan maksain diri mu, mbak. Bagaimana kalau mbak berhenti kerja ajah, mas Dylan punya banyak uang kok buat nafkahin mbak.” Akifa tak tega melihat kakaknya harus banting tulang melakukan pekerjaannya padahal suaminya sendiri sudah lebih dari Cukup untuk membiayai kehidupan nya
Indah Tersenyum manis “Mbak suka dengan pekerjaan mbak, dek. Bukan karena pengen cuannya doang.” Memang, saat pertama kali mungkin Indah melakukan nya karena ingin gaji, tapi sekarang ia melakukan nya karena suka
“Haaahh baiklah. Terserah mbak ajah. Tapi ingat loh, jangan maksain diri. Kalau udah gak sanggup lambaikan tangan mbak ke kamera. Gak lucu loh kalau perawat yang merawat pasien harus jadi pasien karena harus merawat pasien.” Akifa memberikan ultimatum yang disertai dengan guyonan
Indah tertawa geli mendengarnya “Nanti perginya bareng Dylan ‘kan? Awas loh yah jangan pergi keluyuran. Sekarang udah punya suami, gak sama pas kamu masih lajang.”
Akifa Mendengus “Kau tau kok, mbak. Udah ah mending aku tunggu di luar ajah. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.” Menggeleng tak percaya melihat kelakuan adik angkatnya sembari tersenyum hangat. Namun senyuman hangat itu berubah menjadi senyum miris.
Dylan datang dari dalam rumah, ia melewati Indah begitu saja seolah-olah wanita itu tak pernah ada
“Ah.. Dylan..” Panggil Indah
Dylan menghentikan langkah lalu berbalik. Ia menatap datar kearah Indah
“Jaga Adikku, dan hmm hati-hati dijalan.” Ucap Indah canggung
Dylan hanya mengangguk “Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.”
Indah menatap punggung kekar tersebut yang semakin lama semakin menjauh “Syukurlah kau bahagia.” Lirihnya dengan senyum pahit
...***...
Satu Minggu sudah pernikahan Dylan dan juga Akifa. Semuanya berjalan seperti biasa, Akifa dan Dylan akan saling bicara hanya jika ada hal penting dan harus ditanyakan. Selebihnya tidak ada, mereka benar-benar seperti dua orang asing.
Akifa juga sadar, kalau Indah sengaja jarang pulang ke rumah untuk memberikan Dylan dan kuga Akifa waktu berdua.
Menyadari hal itu membuat hati Akifa teriris.
Pagi itu, Akifa tidak sengaja melihat kakaknya membawa koper besar. Dengan tanda tanya yang sangat besar, ia menghampiri sang kakak
“Loh mbak. Mbak mau kemana bawa koper segala?” Tanya Akifa menunjuk koper
“Syukurlah kamu disini dek. Tadi mbak cariin kamu. Ini, mbak mau ke Singapura. Ada urusan.”
“Hah! Urusan apa mbak? Kok baru sekarang sih bilangnya.” Ia kesal. Kenapa tiba-tiba kakaknya harus pergi?
__ADS_1
“Mbak ada kerjaan di sana. Kamu baik-baik disini, soalnya mbak gak tau kapan pulang.”
Perkataan Indah berhasil membuat Akifa syok “Memangnya selama itu mbak?”
“Kayanya, tapi doakan mbak semoga kerjaannya cepat beres. Dan mbak bisa pulang cepat.”
“Mas Dylan gimana? Gak ikut mbak?” Kali ini ia berharap agar Dylan juga ikut. Dengan begitu, mungkin saja hubungan Dylan dan juga Indah akan kembali erat dan dia bisa bersenang-senang di rumah besar Dylan
Indah nampak menggeleng “Dylan gak ikut. Cuman beberapa perawat doang yang ikut, Dylan juga harus ngurus rumah Sakit.”
Akifa mengangguk mengerti. Runtuh sudah khayalan bersenang-senang nya di rumah Dylan.
“Mbak berangkat sekarang ‘kan? Mau ku antar sampai bandara?”
“Gak perlu. Mbak udah diantar Dylan. Sekali lagi mbak ingatin! Baik-baik disini, ingat loh kamu udah punya suami.”
Memutar bola mata malas mendengar kalimat yang selalu terlontar dari mulut Indah “Iya, mbak juga hati-hati.”
Setelah berpamitan, Indah pun pergi dari sana menuju ke bandara dengan diantar Dylan. Akifa tersenyum miris ‘segininya kamu pengen aku dekat dengan mas Dylan, mbak’
Akifa hanya bisa tersenyum miris. Ingin sekali dia melambaikan tangan ke kamera, namun apalah daya mengangkat tangan saja ia sudah tak sanggup.
Dari pada memikirkan hal yang pasti akan selalu membuat nya pusing tujuh keliling, Akifa memilih untuk siap-siap berangkat ke toko buku tempat nya bekerja.
Sesampainya disana, ia segera masuk kedalam toko buku dan mengganti pakaiannya menggunakan pakaian seragam
“Wissss tumben datang cepat.” Celetuk Ali, kasir tempatnya bekerja
“Yee gue emang selalu datang cepat kali.” mengangkat kotak berisis beberapa buku baru
“oh iya, kata mas Rian buku yang baru nanti ajah disusun. Belum di periksa semua.” Ucapan Ali berhasil membuat Akifa kembali menaruh kotak yang tadi dia angkat
“Tumben lambat, biasanya kami yang harus cepat-cepat nyusun. Emangnya mas Rian kemana?”
“Lagi sibuk ngurusin pernikahan adiknya.” Ratu, teman kerja Akifa datang menghampiri
“Pantes, yaudahlah mau gimana lagi.”
“Loh? Emang belum selesai? Perasaan kemarin juga itu Mulu yang lu kerjain.”
“Itu banyak Ifa, hampir penuh segudang. Ayo bantuin gue. Biar Ali sama Faiz yang ngurus disini.” menarik tangan Akifa
Akifa pasrah, ia mengikuti langkah Ratu menuju ke tempat buku-buku lama yang siap di daur ulang. Tugas mereka hanya memilah yang masih bagus dan masih layak di jual serta dibaca dan yang sudah tidak layak jual dan dibaca
“Beeeuuhh beneran banyak yah. Bakalan sibuk nih.” Celetuk Akifa melihat banyaknya tumpukan kardus berisi buku dilantai
“Jangan ngeluh dulu. Ayo bantuin gue.” Salsa, salah satu rekan kerja Akifa yang lebih tua tiga tahun darinya dan berkacamata sudah duduk dilantai sembari memilah buku
...***...
Akifa mengambil ponsel yang ada diatas ranjang. Ia duduk di pinggir Ranjang sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk. Ia lebih menyukai memakai cara manual mengeringkan rambut dari pada memakai hair dryer.
Setelah mempertimbangkan berbagai alasan. Akhirnya Akifa pun menghubungi sang kakak yang pasti sekarang sudah sampai di Singapura.
Tut.. tut..
“Halo, Assalamu'alaikum Ifa.”
“Wa'alaikum salam, mbak. Gimana mbak? Udah sampai di Singapura ‘kan?”
“Alhamdulillah iya. Sekarang mbak lagi istirahat nih.”
“Eh? Maaf mbak, aku ganggu yah.” Ia jadi tidak enak. Takut mengganggu Indah yang sedang beristirahat
“Haha santai ajah kali dek. Enggak kok, gak ganggu. Ini juga mbak lagi main hp ajah.”
Akifa mengangguk walaupun tak ada yang lihat “Gimana kerajaan nya mbak? Udah tau berapa lama disana?”
__ADS_1
“Lumayan banyak dek. Mbak juga gak yakin sampai kapan mbak disini, pasiennya membludak.”
Akifa menghela nafas panjang “Yang penting jaga kesehatan mbak. Jangan maksain diri.”
“Iya.. iya.. kamu ini, itu-itu ajah Mulu yang dibilang.”
“Haiss mbak ini, itu kan buat kebaikan mbak juga. Udah deh, malas ngomong sama mbak, mbak istirahat ajah. Jangan lupa oleh-oleh nya kalau pulang.”
“Hahaha baru juga sampai udah tanya oleh-oleh.”
“Iyalah, pecinta gratisan kan emang kaya gitu.”
“Iya deh, terserah kamu dek. Oh yah mbak ingatin lagi! Ikuti semua yang dikatakan Dylan. Sekarang dia suamimu, jangan jadi istri durhaka.” Indah terdengar mewanti-wanti
Memutar bola mata “Udah bosan aku dengar nya, mbak. Itu-itu mulu. Tenang ajah, Aku tau gimana cara jadi istri yang baik.”
“Mbak cuman ingatin doang dek. Mbak Paling tau gimana sifatmu.”
“Yang bar-bar tak tau arah ‘kan mbak?” Akifa menimpali dengan nada malas
“Hahaha nah itu tau. Yaudah mbak tutup dulu. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.” Menatap layar ponsel yang memperlihatkan lama percakapan nya bersama sang kakak.
Menghembuskan nafas yang Sangatttttt panjang, “Nasib.. nasib..” Menghempaskan tubuh keatas ranjang
...***...
Akifa menatap rumah sakit terbesar di kotanya. Saat perjalanan pulang tadi, Indah menelpon agar Akifa membawakan makan siang Dylan ke rumah sakit.
Memang, tadi pagi Dylan tidak sarapan dan langsung ke rumah sakit karena sibuk dan sepertinya Indah mengetahui nya saat ia bekerja di negeri Singa tersebut.
Sebenarnya Akifa malas, tapi mau bagaimana lagi. Ini tugasnya sebagai istri “Semangat Ifa!”
Ia masuk kedalam rumah sakit dengan membawa paper bag. Tujuannya sekarang adalah ruang pribadi Dylan.
Saat masuk di loby, Akifa tak sengaja melihat Dylan yang tengah bercengkrama dengan pasien di bangku tunggu
‘Dia tampan kalau tersenyum’ Batin Akifa melihat senyuman Dylan saat mencoba membujuk seorang anak kecil berbaju biru garis-garis putih.
“Assalamu'alaikum, mas Dylan.” Seru Akifa
“Wa'alaikum salam. Apa yang kau lakukan disini?” Senyuman tadi langsung sirna saat melihat Akifa datang
Tiba-tiba Akifa jadi malas berbicara dengannya. Tapi karena sudah melangkah terlalu jauh, ia tetap harus maju
“Mas belum makan siang ‘kan? Tadi mbak Indah suruh aku buat antar makan siang untuk mu, mas.” Mengangkat paper bag yang ia pegang.
Dylan mengangguk “Sebentar.” Ia kembali melihat anak kecil yang tadi ia coba bujuk untuk minum obat
“Fer makan obat yah? Sekali saja. Nanti om dokter kasi ice cream deh kalau sudah sembuh.” Menampilkan senyuman hangat
‘Uhhh ‘kan dia tampan’ Batin Akifa meronta-ronta melihat senyuman Suaminya yang tak pernah diperlihatkan padanya
Anak kecil tersebut menggeleng pelan, ia perlahan-lahan menatap Akifa dengan wajah berbinar “Om doktel, kakak cantik itu ciapa?”
“Hmm memang nya kenapa?”
“Aku cuka cama kakak cantik.” Serunya Fer bersemangat
Tiba-tiba air wajah Dylan berubah, ia lantas berdiri lalu memegang tangan Akifa “Maaf yah Fer, kakak cantik ini istrinya om. Jadi kamu tidak bisa menyukainya, okey?”
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian like komen and vote ya 🙃
...Subscribe woi 🙂...