Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Pemeriksaan kandungan


__ADS_3

Dylan dan Akifa sekarang sudah ada di depan rumah sakit. Sesuai perkataan Dylan waktu itu, kalau Akifa harus diperiksa dahulu apakah kandungannya sudah bisa dibawa naik pesawat.


Dylan menggenggam tangan istrinya masuk kedalam rumah sakit. Ia memelankan langkah menyamakan langkahnya dengan langkah sang istri.


Setiap langkah mereka selalu di sertai dengan beberapa tatapan dari pegawai rumah sakit yang tentu sangat mengenal Dylan sebagai direktur rumah sakit ataupun seorang dokter anak.


Jika mungkin Akifa belum hamil, tentu ia akan peka akan keadaan. Namun sayang, bawaan bayi membuat nya tak peka dengan sekitar dan dia sama sekali tak sadar sekarang tengah menjadi pusat perhatian.


“Mas, habis ini kita ke supermarket yah.” Pinta Akifa menatap suaminya


“Hmm baik, memang nya kamu mau beli apa?” Menyingkap anak rambut istrinya ke belakang telinga.


Perlakuan manis Dylan membuat beberapa wanita disana berteriak histeris dalam hati. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang. Namun tentu saja ada juga yang iri dan sangat ingin bertukar tempat dengan Akifa


“Cemilan heheh.” Mengangkat kedua jarinya membentuk bentu V


Dylan geleng-geleng dibuatnya “Bisa, asal jangan ice cream.”


Bak ditimpuk batu, Akifa hampir berteriak karena kesal dengan perkataan suaminya. Padahal ice cream lah yang jadi sasaran utamanya.


Ia mencebik “Mas... Gak perfect kalau gak ada ice cream nya. Ya.. bisa ya.. please~” Rengek Akifa merangkul lengan suaminya


Dylan mengulum senyum, lantas ia berdehem “Baiklah..” Jawaban Dylan membuat wajah Akifa berbinar “Tapi..”


Wajah yang tadi berbinar tiba-tiba jadi was-was. Kenapa harus pake tapi?!


“Tapi apa mas?” Menunggu dengan harap-harap cemas, takut dengan lanjutan perkataan suaminya


“Tapi, cuman boleh satu. Tidak bisa ditawar atau tidak sama sekali!” Tegas Dylan. Ia hanya tidak mau gigi istrinya kembali sakit seperti tiga hari lalu karena makan ice cream terlalu banyak. Akifa yang menangis, tapi sakitnya sampai ke ginjal Dylan


Akifa menghembuskan nafas lega, namun juga tak rela. Ia lega karena setidaknya Dylan tak melarangnya memakan ice cream, namun ia tidak rela jika hanya bisa makan satu saja. Tidak adil! Dengusnya kesal!


“Bagaimana? Mau tidak? Yah kalau mas sih malah senang kalau kamu tidak setuju. Artinya kamu tidak akan mas izinkan makan ice cream lagi.”


“Iya.. iya.. aku setuju! Huh!” dengusnya ”Gaya elit! beliin istri ice cream sulit!” Gumam Akifa


Dylan terkekeh kecil mendengar gumaman istrinya “Bicara lagi, tidak jadi mas belikan ice cream.” Dylan menakut-nakuti istrinya


Akifa mencebik “Iya.. iya.. bibirnya udah dikunci!” Membuat gaya seolah menarik resleting tepat didepan bibir


“Bagus.” Merangkul bahu Akifa dan menuntun nya jalan


.


.


“Jadi, Bagaimana dok? Apa kandungan saya kuat untuk diajak naik pesawat?” Tanya Akifa kepada dokter Tina yang sekarang ada didepannya

__ADS_1


Dokter Tina tersenyum “Hmm dari hasil pemeriksaan, kandungan nyonya sangat kuat dan juga sehat. Mungkin karena pengaruh dari lingkungan serta gaya hidup yang baik dan juga mood nyonya yang selalu stabil membuat kandungan anda sangat kuat.”


“Artinya tidak ada masalah ‘kan, jika naik pesawat?” Tanya Dylan mengusap perut istrinya yang sudah sedikit menonjol


Dokter Tina mengangguk “Tenang saja tuan, untuk diajak olahraga pun sangat bisa. Apalagi kehamilan nyonya sudah memasuki trimester kedua. Dimana organ-organ penting didalam tubuh bayi sudah terbentuk.”


“Baiklah terima kasih dok.” Ucap Akifa tersenyum senang.


Memasuki kehamilan trimester kedua ini memang sedikit berat walaupun sudah tak mengalami mual-mual atau pun morning sick. Namun keluhan-keluhan seperti sakit dibawah perut dan sakit punggung mulai terasa.


Keduanya keluar dari ruangan dokter Tina “Kita jadi ‘kan singgah di supermarket?” Tanya Akifa bersemangat


Dylan mengangguk “Iya, tapi tunggu dulu. Mas ada keperluan dengan Ilham, kamu tunggu ruangan mas saja.” Dylan ingin memastikan pekerjaan nya terlebih dahulu sebelum ia tinggal jauh lagi.


Akifa mengangguk, dengan patuh ia mengikuti langkah suaminya masuk kedalam ruangan direktur rumah sakit.


Dylan mendudukkan istrinya di kursi kerjanya karena kursi itulah yang paling empuk dari sekian kursi dan juga sofa didalam ruangan tersebut.


Berjongkok di depan sang istri “Mas pergi dulu, tunggu disini. Okey?” Mengecup kening istrinya lalu turun ke bibir


Akifa mengangguk lantas mengusap pipi sang suami “Gak usah buru-buru.” Dylan mengangguk lalu kembali mencium seluruh wajah istrinya dan turun ke perut buncit sang istri.


“Anak papa jangan nakal ya, nanti papa akan belikan ice cream.” Mengecup perut istrinya. Akifa mengulas simpul melihat bagaimana sang suami berinteraksi dengan jabang bayinya.


Setelah berpamitan, ia pun pergi dari sana. Akifa Mengambil ponselnya lalu mulai berselancar di media sosial.


Ia menghubungi Winda yang sudah cukup lama tak dilihatnya sebab selama hamil Akifa sudah jarang ke kampus. Apalagi tinggal satu bulan lagi untuk dia di wisuda.


Yang diseberang nampak diam dan tak membuka suara “Maaf, anda siapa?“ Suara yang amat sangat Akifa kenali terdengar dari spiker ponsel.


“Jangan mulai deh, Win.” Menghembuskan nafas kasar. Belum apa-apa sudah diajak berantam


Winda mencebik diseberang sana “Iya.. iya.. nyonya Dylan yang udah lupa sahabatnya, yang udah punya suami langsung lupa sahabatnya.” Sarkas Winda


Akifa nampak terkekeh kecil “Maaf? Sahabat? Sejak kapan kita bersahabat, ya mbak?” Ia jadi ingin menjahili Winda yang terdengar kesal dari suaranya.


Dan benar saja, Winda mendengus kesal “Huh! Gak usah Ikut-ikutan. Jadi, ada apa nih nyonya Dylan hubungi gue?”


Lagi, Akifa tertawa kecil “Gini, Minggu depan gue sama mas Dylan bakalan berkunjung ke rumah mertua. Jadi, lu mau.._”


“Oleh-oleh.. pokoknya gue mau oleh-oleh.” Potong Winda cepat saat tau sahabatnya akan pergi keluar pulau


“Hahah iya, memang itu tujuan gue nelpon lu. Lu mau oleh-oleh apa?”


Terdengar suara cekikikan dari seberang membuat Akifa mengelus dada “Terserah sih, asalkan ada. Mau baju, makanan, tas dll.. gua terima.”


Akifa kembali tertawa mendengar Dll yang keluar dari mulut Winda “Iya nanti D sama double L nya gue bungkusin.”

__ADS_1


“Ck! Gue serius!”


Terlihat Dylan sudah kembali, dengan kode tangan Akifa menyuruh Dylan menunggu sebentar.


Sementara yang menunggu berlutut di hadapan istrinya setelah memutar kursi sang istri ke samping, lantas ia mengelus perut Akifa. Sangat menggemaskan melihat tonjolan yang ada.


Akifa tersenyum lalu mengelus kepala suaminya yang sekarang memeluk erat pinggang nya “Iya.. iya.. yaudah ya, gue tutup dulu. Bapak negara lagi pengen di manja-manja.”


Setelah terdengar umpatan dari seberang sana beserta salam, Akifa pun menutup sambungan telepon sepihak saat Winda kembali ingin mengumpat.


“Udah selesai mas?” Masih setia Mengelus kepala Dylan.


Dylan mendongak lalu mengangguk “Pulang yuk.”


.


.


Sesuai permintaan Akifa tadi, mereka pun singgah di supermarket yang berada didekat rumah.


Dengan semangat empat lima, Akifa turun dari mobil di ikuti Dylan. Setelah menutup pintu mobil, dengan langkah nya yang lebar Dylan menggandeng tangan istrinya.


“Jangan lari-lari sayang, kalau jatuh bagaimana? Kasihan kamu sama bayinya.” Nasehat Dylan dengan suara lembut


Akifa tersenyum menampilkan gigi yang berderet “Maaf.. lain kali gak gitu deh.”


“Tidak ada lain kali!” Tegas Dylan “Mas tidak mengizinkan mu lari-lari seperti tadi, katanya punggung nya suka sakit.” Kali ini ia tak ingin dibantah


“Iya.. iya.. aku kan udah minta maaf mas, gak deh. Gak ada lain kali, aku akan lebih hati-hati kalau jalan.”


“Bagus.” Tersenyum tipis mengusap kepala istrinya yang sekarang tengah memilih beberapa cemilan untuk dimasukkan di troli belanja yang di dorong Dylan


“Jangan ambil itu sayang, itu pedas!” Titah Dylan tatkala melihat Akifa Mengambil sebuah cemilan kripik singkong bertuliskan balado disana.


“Yah, tapi mas..” Memberikan wajah memelas


“Tidak boleh!” Tegas Dylan. Dylan memang sangat over protective saat Akifa hamil. Jika suaminya sudah bilang tidak boleh, maka Akifa tak bisa membantah lagi.


Akifa mendengus lalu menaruh kembali kripik yang tadi dia pegang ke tempatnya semula dengan rasa yang sangat tak rela ia meninggalkan tempat itu.


Dylan mengulum senyum melihat Istrinya yang sangat menurut padanya. Untunglah se bar-bar bagaimana pun Akifa, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dan mengerti kodrat nya sebagai istri.


.


.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2