Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Pingsan


__ADS_3

Dylan Keluar dari dalam kamar dengan wajah lesu. Dylan melangkahkan kakinya menuju dapur.


“Bi, tolong antarkan makanan kedalam kamar.” Titah Dylan pada salah seorang pelayan


“Baik tuan.”


“Pastikan agar istriku memakan habis makannya.”


Pelayan tersebut mengangguk mengerti “Siap tuan.”


Setelah itu Dylan melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, disana sudah terlihat keluarganya yang sedang duduk menunggu dirinya.


“Nak, gimana Akifanya?” Dian, ibu Dylan bertanya. Keluarga besar Dylan langsung datang saat mendengar berita duka yang menimpa Indah.


Dylan duduk di sebelah kakak kembarnya “Dia marah bu, sepertinya kecewa sama Dylan.” Menghembuskan nafas kasar


Delon yang ada disampingnya menepuk pundak sang adik. Ia tidak berkata-kata hanya memberikan tepukan yang berarti menguatkan Dylan. Dylan tersenyum tipis membalasnya.


Ilmy dan Ilya bangkit dari duduknya dan memeluk kakak kedua mereka “Sabar bang, kakak ipar masih berduka. Atau kita katakan yang sebenarnya ajah.” Seru Ilmy melepas pelukannya. Ia akan menjadi adik yang baik saat kedua kakaknya sedang mendapatkan masalah, bahkan sampai memanggil kakak-kakak nya dengan sebutan ‘abang’


Dylan menggeleng pelan “Waktunya belum bagus, aku juga tidak yakin akan mengatakan nya.”


Ilya tersenyum lembut “Sabar bang, pasti bisa.” Ucapnya dengan nada lembut yang menenangkan. Adik bungsunya yang satu ini memang sangat pendiam dan datar saat berhadapan dengan orang lain namun tetap hangat saat bersama keluarganya.


Bukan hanya Ilya, namun hampir seluruh anggota keluarganya juga seperti itu. Akan dingin dan datar pada orang lain namun hangat dengan orang-orang dekatnya, kecuali Delon yang memang datar dan dingin dari bayi.


Mungkin hanya sang ibu, Dian lah yang akan selalu hangat dengan siapapun itu. Dian bagaikan api kecil yang memberikan kehangatan pada keluarga mereka yang terlihat dingin dan datar.


Dylan mengelus pucuk kepala adiknya “Iya sayang, terima kasih.” Ucapnya, Dylan memang paling sayang dengan adik bungsunya yang introvert dan sedikit berteman.


Dian bangun dari duduknya dan memeluk putranya yang sangat manja saat kecil dulu “Kamu anak ibu yang kuat, ini cobaan untuk rumah tangga Dylan, apapun yang menimpa Dylan. Ibu harap Dylan bisa melewatinya dengan tetap tawakal.” Ujar ibu Dian lembut


Dylan tersenyum hangat lalu membalas pelukan ibunya.


“Sayang? Sudah ‘kan. Ayo sini, kemari.” Ilyas yang tak pernah berubah dari dulu memanggil istri kesayangan nya.


Dylan memutar bola mata melihat tingkah ayahnya. Padahal ia sedang sedih, tapi bagaimana bisa ayahnya sangat santai bahkan terlihat datar


“Ayah tidak bis lihat kondisi yah. Putra mu ini sedang sedih loh.” Protes Dylan


“Kau seorang pria tapi cengeng. Hanya masalah sepele kau sudah ingin menangis, kalau ada masalah sebaiknya dibicarakan baik-baik, kalau tidak bisa bawa ke ranjang..”


“By..” Tegus Dian, wanita itu duduk di sebelah Suaminya


“Apa? Ada yang salah.”


Menghembuskan nafas panjang “Ayah ku tersayang, aku bukan ayah yang setiap masalah selalu dibawa ke ranjang.”


“Apa salahnya? Bukannya kalau sudah diranjang semuanya akan membaik.” Delon turut menimpali. Ia memang belum berpengalaman, tapi Delon selalu memperhatikan bagaimana ayahnya menenangkan ibunya saat marah.

__ADS_1


“Astaga Lon, kamu udah kaya berpengalaman ajah.” seru Ilmy


“Jangan dengarkan perkataan ayahmu, tunggu sampai istrimu tenang baru bicarakan baik-baik. Jangan dalam keadaan yang tidak stabil seperti ini, apalagi Akifa masih syok atas apa yang sudah menimpanya.”


Dylan mengangguk “Iya bu, aku juga rencananya akan seperti itu.”


...***...


Satu Minggu berlalu semenjak kepergian Indah. Selama itu pula, Akifa mendiami Dylan. Ia tak lagi mau berbicara padanya, bahkan mereka sampai pisah kamar.


Akifa juga sudah bertemu dengan anggota keluarga Dylan. Jujur saja keluarga Dylan memang baik dan sangat menyambut nya dengan ramah. Namun ia masih belum bisa menerima keadaan saat ini.


Hingga tiga hari yang lalu keluarga suaminya pulang kembali ke kota asal mereka. Sampai saat itu, Akifa sangat jarang keluar kamar, ia selalu merenung di dalam kamar seorang diri. Berbicara dengan keluarga suaminya hanya saat diperlukan saja, selebihnya ia akan diam.


Akifa masih terlampau kecewa dengan sikap Dylan saat itu. Dylan hanya bisa pasrah, ia tak ingin memaksakan kehendaknya yang berakibat fatal.


Pagi ini, keduanya sarapan bersama di meja makan. Tak ada obrolan yang terdengar hanya denting sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring terdengar.


Setelah selesai sarapan..


“Mau satu mobil dengan mas?” Dylan menawarkan


Akifa hanya terdiam sembari berdiri dari duduknya. Ia mengambil tas dan juga ponsel untuk dibawa ke kampus.


Dylan menghembuskan nafas kasar. Hatinya sakit di diamkan selama seminggu ini oleh sang istri


“Sayang, Mas berangkat dulu. Jangan lupa makan. Okey?” Dylan mengelus kepala Akifa dengan sayang, ia mengecup singkat kening sang istri


Setelah mobil Dylan meninggalkan rumah, Akifa pun bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Walaupun kakak nya pergi meninggalkannya, bukan berarti kehidupan Akifa akan berhenti disitu juga.


Ia harus tetap bertahan, demi dirinya dan juga kakanya yang sudah tenang di alam sana.


Akifa memasuki kelas dengan biasa, ia tidak menunjukkan kesedihan nya sama sekali. Ia duduk di kursi nya.


Tiba-tiba Winda datang dan langsung memeluk Akifa “Sabar yah Fa, gue tau lu kuat.” Menepuk-nepuk punggung Akifa. Ia baru mendengar kabar kemarin tentang kematian Indah.


Akifa tersenyum, ia balik menepuk-nepuk punggung Winda “Iya, udah.. udah.. lepasin gue.”


Winda melepas pelukannya dengan air mata yang menggenang di mata “Lah.. gue yang berduka napa lu yang Nangis.” Menghapus air mata Winda


“Hiks.. gue gantiin lu nangis.” slurppp.. mengusap ingusnya


Akifa tertawa geli “Ihh jorok bangat. Nih tisu.”


Mengambil tisu yang diberikan Akifa sambil duduk di kursinya, mengusap air mata “Lu yakin gak apa-apa?”


“Tenang ajah, gue baik-baik ajah kok. Lagian itu udah satu Minggu yang lalu kali.” Mengibas-ngibaskan tangan didepan wajah, pertanda ia baik-baik saja.


Winda menarik sudut bibirnya membentuk senyuman ”Syukur deh kalau lu baik-baik ajah, padahal niat gue tadi pengen traktir lu, tapi berhubung lu udah baik-baik ajah, traktiran nya di cancel.”

__ADS_1


“Lah gak bisa gitu dong. Aduh ... Tiba-tiba gue gak baik-baik ajah, kayanya gue butuh traktiran deh.”


“Pala lu peak!!”


Akifa tertawa melihat wajah kesal Winda. Ini pertama kalinya ia tertawa lagi setelah satu Minggu yang ia lewati terasa berat.


“Fa lu kok pucat? Beneran gak apa-apa? Gak sakit ‘kan?”


“Hah? Pucat?” Mengambil kamera ponsel untuk bercermin ”Eh?! iya yah, padahal tadi pagi gak baik-baik ajah deh.”


“Yakin? Kita ke uks ajah gimana?” Winda nampak khawatir


“Yee palingan lu cuman pengen bolos.”


“Hehe gak salah sih, tapi gue juga khawatir tau.”


”Gak papa kok. Cuman rada pusing doang. Mungkin karena kebanyakan nangis kali.” Selama satu Minggu ini ia memang hampir menghabiskan waktu dengan menangis


Winda menghela nafas lega “Bilang kalau sakit nya tambah parah.” Akifa mengangguk menanggapi.


.


.


Setelah kelas berakhir, seperti biasa dua sejoli tersebut bergegas ke kantin. Hal yang tidak akan pernah sekalipun ketinggalan.


“Eh Fa? Lu tambah pucat. Keringat lu juga tambah banyak.” Winda seketika heboh saat melihat wajah sahabatnya bak mayat berjalan


“Gak tau juga Win, kepala gue sakit bangat. Perut gue juga kaya ada yang kocok. Pengen muntah.” Memegang kepala, ia kembali duduk di kursinya.


Tinggal sedikit orang yang ada didalam kelas, mereka semua sudah keluar.


“Ada apa nih? Eh! Muka lu pucat habis Fa!” Dimas, salah satu teman sekelas mereka datang menghampiri


“Iya, sebenarnya ini udah dari awal kelas. Kita ke Uks ajah yah Fa.” Bujuk Winda


Akifa hanya memejamkan mata, ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan dua orang di depan nya. Tiba-tiba pandangan nya buram.


Brukk..


Akifa jatuh pingsan, Winda dan Dimas langsung histeris melihatnya. Dimas buru-buru menggendong Akifa dan membawanya ke Uks


“Ayo Dim! Buruan! Gue telepon Suaminya dulu.”


.


.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2