
Menghembuskan nafas panjang lagi! Ya lagi!! Ini sudah hembusan nafas bosan yang sudah tak terhitung jumlahnya. Ia bosan, jenuh. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan bosan selama ia menjadi kaya dadakan
“Rupanya menjadi kaya juga bisa bosan yah.” Lirih Akifa. Sekarang ia sedang ada ditaman samping sambil main ayunan.
Tidak ada orang dimansion, hanya ada pelayan dan dirinya yang pengangguran. Dylan sedang ke perusahaan bersama Delon, walau bagaimanapun Dylan tetap seorang pewaris dan ia juga mempunyai saham di perusahaan, walaupun jujur saja ia tak terlalu tertarik.
Sedangkan ibu mertuanya sedang sibuk mengurus pernikahan si bungsu, dan tentu ayah mertuanya tak akan membiarkan kesayangan nya pergi sendiri. Calon pengantin sibuk dengan magang, sedangkan Ilmy juga tengah ke galery.
Sedangkan Akifa tak diizinkan melakukan apapun karena ia sedang hamil besar. Sungguh membosankan namun juga mengenakkan di lain waktu.
Dan Akifa benar-benar sendiri hanya ditemani oleh pelayan yang tak berani mendekat.
Akifa mengambil ponsel, ia memilih menonton video lucu-lucu. Tiba-tiba fyp nya muncul drama yang cukup menguras emosi
Perasaan nya tiba-tiba jadi campur aduk, ia bosan, sedih namun juga senang karena sekarang ia sudah menjadi orang kaya.
“Kaya gado-gado ajah.” Gumamnya masih fokus dengan ponsel
”Jadi pengen gado-gado.” Lirih sambil memegang perut yang sudah membuncit namun pandangannya tetap kearah ponsel
”Tapi beli dimana ya?” Masih belum ada niat lebih untuk makan gado-gado, namun sebuah video muncul dengan adegan seseorang membeli gado-gado dengan versi jumbo membuat keinginan Akifa semakin kuat terhadap gado-gado
Setelah mengusap ilernya, ia berdiri lalu masuk kedalam mansion untuk mengambil kardigan serta dompet. Setelah itu Akifa kembali keluar.
“Non Akifa mau kemana?” Satpam yang menjaga bertanya saat majikannya ingin lewat pagar
“Eh! Kebetulan pak, bapak tau pedagang gado-gado yang dekat sini gak?” Mengeratkan kardigan nya
“Ada di depan Kompleks, non. Nona mau beli gado-gado?”
Akifa mengangguk “Iya, makasih yah pak.”
“Eh? Tunggu nona, biar saya yang pergi. Tidak baik ibu hamil jalan sendiri.”
“Hahaha gak apa-apa pak, sekalian saya mau jalan-jalan.” Mengelus perutnya
“Baiklah, tapi hati-hati nona. Apa perlu saya antar?” Ia tetap saja khawatir. Apalagi Akifa sedang hamil dan madih baru di daerah ini
“Gak perlu pak, sumpah aku bisa sendiri. Tempatnya di ujung komplek kan? Yaudah aku duluan pak. Mari..” Pergi dari sana cepat-cepat sebelum satpam kembali membuka suara yang ujung-ujungnya akan membuatnya tertahan
Akifa cukup menikmati acara jalan-jalan dadakannya sore ini. “Pemandangan di dalam kompleks memang beda!” Memandangi Beberapa mansion besar dan megah yang is lewati serta beberapa pohon rindang.
Di sepanjang jalan ada saja yang menyapa Akifa, dan Akifa pun membalasnya dengan sopan.
Lima belas menit berjalan, akhirnya Akifa melihat sebuah pedagang di ujung kompleks yang menjual gado-gado
“Nah pasti yang itu.” Terlihat ada beberapa orang yang sepertinya juga sedang ingin membeli gado-gado.
Kening Akifa mengerut “Itu?? Mas Dylan!!”
Terlihat Dylan sedang mengobrol dengan seorang wanita di depan pedagang gado-gado. Sepertinya mereka berdua sedang menunggu pesanan nya.
“Apa-apaan! Aku dari tadi nunggu di mansion dan rupanya mas Dylan enak-enak mengobrol dengan perempuan cantik. Dasar mas Dylan kegenitan!” Ia kesal melihat mereka berdua yang sepertinya sangat asik mengobrol entah apa yang di obrolkan
__ADS_1
Melepas gulungan rambut membuat rambutnya terurai panjang. Dengan langkah yang percaya diri, Akifa menghampiri suaminya.
“Mas Dylan...” Panggil Akifa melambai sambil tersenyum manis
Sontak Dylan dan perempuan itu menoleh. Senyum Dylan mengembang, ia cepat-cepat menghampiri Akifa “Sayang, kok kamu kesini?” Merangkul bahu istrinya. Dylan, si suami siaga itu menuntun istrinya untuk duduk di tempatnya tadi, tepat di depan gerobak pedagang gado-gado.
“Aku mau beli gado-gado mas, kayanya ngidam deh.” Mengelus perut buncitnya
Dylan tersenyum lebar, ia ikut mengelus perut sang istri “Ini mas juga mau beli gado-gado. Tadi waktu lihat gerobak gado-gado, langsung teringat istri mas, jadinya mas langsung beli.” Karena sudah tak ada kursi, Dylan pun berdiri di belakang istrinya
“Hehe kayanya kekuatan batin kita bertiga kuat bangat yah mas...”
Dylan ikut tertawa mendengarnya “Hmm istri siapa sih ini,” Mencubit gemas pipi Akifa yang mulai chubby
“Siapa hayo...”
“Siapa ya?” Pura-pura berpikir “Oh istrinya mang Didin yah!”
“Ihh mas....” Mencebik “Beneran jadi istrinya mang Didin baru tau rasa!”
Dylan tergelak. Sekarang kedua pasutri itu benar-benar merasa berada di dunia mereka sendiri.
Sampai sebuah suara deheman menarik paksa mereka berdua. Akifa melihat wanita berambut pendek di hadapannya.
“Hmm Dylan, dia..?”
“Oh kenalin ini istriku. Akifa,” Seru Dylan sambil membuka jasnya lalu menutupkan ke perut sang istri. Walaupun Akifa sudah memakai kardigan, Dylan merasa cuaca di sekitar masih terasa sedikit dingin
Akifa tersenyum kepada wanita dihadapannya “Akifa..” Mengulurkan tangan,
Wiwin menyambut tangan Akifa sembari berkata “Wiwin, teman satu bangku Dylan saat SMA.” Ia seakan bangga akan hal itu
Mendengar penuturan Wiwin membuat Akifa heran, apa hubungannya dengan sang suami dan Wiwin yang satu bangku saat SMA? itu sudah berlalu ‘kan? Dan barulah Akifa sadar saat wanita itu nampak tak suka dengan perhatian yang diberikan Dylan padanya
‘Wah... calon pelakor rupanya! Lihat saja bakalan aku log out kan sebelum login!’
“Wah.. teman SMA, waktu itu berarti aku masih SD yah mas.” Mendongak melihat suaminya
Dylan yang tak tega melihat istrinya mendongak lantas bergerak ke samping tubuh Akifa dan duduk berjongkok sambil memegang tangan sang istri, perlakuan yang sederhana namun sangat manis dimata Akifa, membuat wanita hamil itu tersenyum menang dalam hati.
‘Dia milikku!’ Batin Akifa menggebu-gebu
“Hahaha iya, waktu mas SMA kamu masih Sd. Berarti masih ditahap polos dan menggemaskan yah.”
“Eh.. eh.. eh.. jangan salah yah mas, sekarang pun aku masih polos dan menggemaskan tau!”
“Iya.. iya.. si paling polos..” Dylan jadi tau bahasa gaul karena Akifa yang juga selalu berbahasa gaul padanya
Wiwin yang melihat adegan mesra dadakan didepannya benar-benar dibuat kesal setengah mati. Harusnya dia yang disana! Yang di elus perutnya! Yang di genggam tangan nya! Yang diberikan senyuman hangat!
“Eh! Oh yah Dylan, ingat tidak waktu SMA dulu kita juga sering jajan siomay goreng dekat sekolah ‘kan. Aku ingat waktu itu kamu suka banget sama saos kacangnya.” Ia tak akan tinggal diam
“Ah? Oh sepertinya iya..” Entahlah, Dylan juga tak terlalu ingat dan tak terlalu tertarik
__ADS_1
“Loh? Bukannya kamu alergi kacang mas?” Tanya Akifa dengan wajah pura-pura polos
Kening Dylan berkerut dalam “Apa mak.._ auchh.” Dylan menelan salivah lekat mendapati cubitan kecil di lengan dari sang istri
“Eh? Aku kira kamu paling suka kacang, Dylan.” Wiwin kembali buka suara
“Hmm benar mas? Bukannya kamu alergi, hmm?” senyuman polos yang membuat bulu kuduk Dylan meremang
“Ah! I.. iya, aku alergi kacang dari dulu Wiwin. Sepertinya kamu salah orang.” Dylan akhirnya mengikuti permainan istrinya yang sedang cemburu.
“Eh? Masa sih?”
“Kayanya memang salah orang mbak, yah mau gimana lagi ya. Muka suami saya memang pasaran. Haha,” tertawa sumbang
Dylan hanya bisa mengelus dada dalam hati. Istrinya yang cemburu, malah tampang nya yang limited edition yang dijual-jual jadi murah.
“Pesanan gado-gado mas sudah jadi sayang.” Dylan segera mengalihkan topik. Ia tak ingin istrinya tambah cemburu dan berdampak pada dirinya. Dan Dylan juga sebenarnya sudah tau maksud dari Wiwin, ia tak ingin membuat calon perusak rumah tangga nya begitu saja.
Dylan berdiri mengambil dua bungkus gado-gado lalu kembali ke tempat sang istri “Pulang yuk.”
Akifa berdiri dibantu Dylan “Yang banyak cabe nya kan mas?”
“No.. cuman setengah dan bagian mua cuman seperempat!”
“Cih.. pengen seperduanya mas..”
“Seperempat atau ti.._”
“Iya.. iya seperempat. Deal!!”
Dylan tersenyum senang dengan keputusan istrinya. Akifa sangat suka makan cabai membuat Dylan tak tahan setiap kali istrinya kepedasan. Karena itu Dylan lah yang mengatur kadar cabai dalam makanan istrinya.
“Kalau gitu kami duluan yah mbak, mari..” Tersenyum manis, saat Dylan ingin berpamitan juga. Akifa kembali mencubit lengan suami bulenya yang sekarang ia pegang membuat Dylan langsung bungkam
“Ah! Dylan, lain kali aku bisa singgah dirumah mu kan?”
“Aduh maaf bangat mbak, tapi akhir-akhir ini orang di rumah lagi sibuk. Biasa mereka semua punya kegiatan masing-masing, cuman pengangguran yang suka nongkrong di gerobak gado-gado. Yaudah saya duluan yah mbak.” Langsung pergi dari sana setelah memberikan sindiran untuk Wiwin yang sekarang mukanya sudah memerah.
Dan rupanya bukan hanya Wiwin yang merasa, namun Dylan yang ada di samping Akifa pun merasakan sinyal berbahaya atas sindiran sang istri yang tak langsung padanya.
‘Mampus’
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...
__ADS_1