
“Gemes bangat yah kan.” Ucap Ilmy sembari mengarahkan kamera ponsel ke bayi mungil yang ada di keranjang bayi
“Iya kak, aku jadi pengen cepat-cepat pulang.” Ilya di seberang telepon menyahut
Pagi-pagi, Ilmy sudah datang berkunjung ke rumah sakit tempat Akifa dirawat. Niatnya nanti siang Akifa akan pulang ke mansion untuk dirawat jalan, karena itu Ilmy datang pagi ini untuk membantu adik iparnya serta melihat keponakan tampan nya.
“Oh yah, kapan kalian pulang?” Tanya Ilmy kepada adiknya yang tengah di negeri Sakura itu.
Ilya dan Fatih sudah hampir seminggu lebih di Jepang untuk menikmati bulan madu.
“Mungkin tiga hari lagi kak, kenapa emangnya?”
“Enggak, cuman nanya doang.”
“Sayang..” terdengar suara Fatih yang memanggil Ilya dari balik ponsel Ilmy
Ilya melihat sumber suara “Ada apa yank?”
“Lihat baju aku tidak? Yang warna putih gambar cat ditumpahin.” Jawab Fatih dari balik walk closed
“Kayanya ada di paling bawah de. Seingat Ilya, waktu nyusun pakaian, Ilya taruh di paling bawah yank.” Setelah Ilya memberikan jawaban yang memuaskan Fatih, sudah tak ada lagi suara yang terdengar.
Hingga Fatih keluar dari dalam walk closed dan duduk di samping sang istri yang masih video call dengan Ilmy. Fatih mengecup kening istrinya sambil mengusap rambut pendek Ilya membuat wajah Ilya merona karena pasti adegan mesra itu ditonton langsung oleh Ilmy yang selalu iri melihat kemesraan pasangan.
“Il, coba kasi lihat wajah keponakan ku.” Ucap Fatih kepada Ilmy yang nampak tersenyum paksa kepada mereka berdua
“Huh! Baru sadar ada orang lain yang lihat kalian.” Keluarlah sikap iri Ilmy melihat kemesraan pasangan
“Sorry, aku Susah sadar ada orang kalau sedang dengan istriku.” Melirik istrinya dengan tatapan menggoda sambil mencium punggung tangan Sang istri
“Ishh yank.. malu..” Lirih Ilya dengan senyum kesemsem yang sangat jarang ia tampilkan
Ilmy antara kesal dan senang melihat pemandangan itu. Kesal karena harus jadi nyamuk, dan senang karena adiknya yang datar bisa tersenyum malu juga rupanya
“Astagfirullah.. gak abang aku, gak adik ipar aku. Kalian berdua sama-sama ngesellin. Sumpah!” kesal Ilmy
“Sorry.. aku dan Dylan memang sahabat waktu sd.” Jawab Fatih santai
“Kami sahabatan waktu Sd, kalau kau lupa Il.” Dylan yang rupanya dari tadi mendengar percakapan mereka pun menyahut membenarkan perkataan Fatih yang mana semakin membuat Ilmy kesal
“Ckckck.. kalian berdua ini, iya.. iya.. kalian sahabat bagai kepompong. Udah yah, aku tutup dulu. Bay..” Ilmy langsung menutup panggilan sepihak karena kesal membuat yang di seberang sana terkekeh geli
“Uhh Alan.. nanti kalau besar jangan jadi kaya papa mu yah, tengil. Bisa-bisa gak ada yang mau sama kamu.” Mengecup pipi baby Alan yang sedang tertidur
Dylan yang saat itu menyuapi istrinya makan sontak menolah melihat Ilmy “Asalkan tampan dan kaya, perempuan mana sih yang tidak mau.” sahut Dylan percaya diri
“Huh! Mentang-mentang ganteng.” ketus Ilmy
“Aku memang ganteng.”
“Mas.. udah ih!” Tegur Akifa menggelengkan kepala
“Tapi sayang..”
“Iya.. iya.. kamu yang paling ganteng.” Menangkup wajah suaminya lalu mencium kedua pipi sang suami
Senyum Dylan merekah, ia kemudian diam lalu kembali menyuapkan makanan kedalam mulut Akifa
Sekali lagi, Ilmy membuang nafas kesal, tidak adilnya tidak abangnya mereka semua selalu saja memamerkan kemesraan nya.
‘Lihat saja, kalau aku nikah nanti. Aku akan mesra-mesraan didepan kalian 24 jam nonstop!’
Ceklek..
Pintu ruangan terbuka membuat atensi ketiga orang disana teralihkan kearah Delon yang baru saja datang lengkap dengan jas kerjanya
__ADS_1
“Assalamu'alaikum..” Salam Delon masuk sambil membawa sebuah paper bag
“Wa'alaikum salam.” Balas ketiga orang disana
Delon lantas mendekati Dylan dan memberikan paper bag tersebut “Ini dari ibu.” Ucapnya
Dylan mengambil paper bag itu dan melihat isi didalamnya. Rupanya ada pakaian ganti untuk Akifa didalam. Kembali melihat Delon “Ibu sama ayah kemana? Kok tidak datang?”
“Ayah tiba-tiba sakit demam, jadi mau tidak mau ibu harus menjaga ayah.” Duduk di sofa tepat disamping Ilmy
“Tumben ayah sakit.. ckck bisa jadi itu cuman akal-akalan nya doang karena gak mau perhatian ibu terbagi.” Seru Ilmy menggendong baby Alan
“Yah biasalah, siasat pak tua itu memang selalu berhasil.” Celetuk Dylan mendapatkan cubitan manja dari istrinya “Auchh sayang..”
“Mulut mu itu loh mas, minta dilakban.” Bisik Akifa kesal
“Untuk info sekilas, pria tua itu adalah ayah kita. Kalau tidak ada dia kita juga tidak ada.” Sahut Delon
Akifa mengangguk-angguk membenarkan “Nah dengar tuh mas.”
“Iya.. iya.. mas minta maaf,”
Akifa hanya bisa menghela nafas pasrah. Dylan kembali menyuapi istrinya makanan
“Biarkan aku menggendong nya, Il.” Ucap Delon pada Ilmy yang duduk disampingnya
“Memangnya kamu bisa? Nanti kalau jatuh gimana?” Memicingkan mata melihat Delon dengan wajah tidak bisa dipercayai
“Jangan menatapku seperti itu!”
“Yakin bisa?” Ilmy memastikan
Delon mengangguk mantap “Berikan padaku.” Paksa Delon
Ilmy melihat Delon dengan tatapan yang sulit diartikan “Kalau jatuh gimana?” Ia tetap tak percaya karena setau Ilmy, Delon tidak terlalu suka dengan anak kecil
“Jangan bertengkar didepan putraku. Nanti dia bangun!” Tegur Dylan kepada kedua saudara kembarnya
“Tuh dengar papa nya. Cepat kemarikan keponakan ku.”
Ilmy mendengus lalu memberikan baby Alan pada Delon. Dengan perlahan Delon mengambil baby mungil itu kedalam gendongannya. Pengalaman pertama yang benar-benar membuatnya menjadi menyukai bayi
“Tampan..” Gumam Delon tersenyum tipis. Rasanya ia ingin menculik baby mungil itu.
“Aku tau isi pikiran mu Lon, jangan berani-berani melakukan nya.” Sahut Dylan yang seperti mengetahui isi pikiran abangnya
Delon berdecak “Aku bisa membuatnya sendiri.”
“No.. no.. kau gak bisa melakukannya soalnya gak punya pasangan.” Celetuk Ilmy
Dylan dan Akifa tertawa pelan mendengar penuturan Ilmy yang benar adanya “Sadar diri Il.” Seru Dylan
“Sudah.. sudah.. pantas ajah ibu selalu ngeluh tentang kalian bertiga. Dikit-dikit berantem. Memang dasar kembar tiga!” Tegur Akifa menggelengkan kepala
“Yah kami kembar tiga.” Dylan mengangkat bahu acuh
“Memang kembar tiga.” Seru Ilmy membenarkan
“kembar tiga.” Timpal Delon
Akifa menahan senyum sambil minum air putih yang disodorkan sang suami. Mereka memang kembar tiga yang solid.
.
.
__ADS_1
Siang ini, Akifa pun pulang dari rumah sakit. Karena Dylan tak ingin membuat istrinya yang baru saja melahirkan berjalan, alhasil Akifa harus rela duduk di kursi roda sambil menggendong baby Alan. Dan Dylan lah yang mendorong kursi roda itu.
“Harus bangat pake kursi roda yah mas.” Akifa masih keberatan karena harus pakai kursi roda padahal ia sudah bisa berjalan dengan baik
“Harus!” Jawab Dylan singkat, padat, dan jelas
“Padahal aku udah bisa jalan dengan baik loh, mas.” Kalau pakai kursi roda, ia merasa seperti orang sakit yang tak bisa apa-apa.
“Sayang, sebelum pulang kita mampir beli batagor mau?” Dylan mengalihkan percakapan dengan membahas makanan yang paling disukai istrinya
Akifa mendongak “Beneran mas?” Tanyanya dengan wajah berbinar dan disambut anggukan oleh sang suami
“Mau.. mau bangat. Jangan bohong yah!”
“Mana mungkin, makan kacang-kacangan juga bagus untuk pengeluaran asimu.” Akhirnya Dylan berhasil mengalihkan pembicaraan dari kursi roda ke batagor
“Yeaayy kita makan batagor nanti nak.” Mengecup pipi putranya yang tengah menatap kearahnya. Bayi berusia tiga hari itu hanya tertawa tanpa tau apa yang dikatakan mamanya.
Dylan tersenyum hangat, ia tak menyangka akan mempunyai keluarga kecil yang bahagia seperti ini. Istri cantik dan putra yang tampan.
Nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan?
Dylan mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang sambil masih mendorong kursi roda melewati lorong-lorong rumah sakit membuat orang-orang yang melihat tersenyum salah tingkah dengan apa yang dilakukan Dylan.
“Loh, kak Dylan?” tiba-tiba seorang dokter wanita cantik datang menghampiri Dylan
“Hmm Mia ‘kan?”
“Astaga benar rupanya. Aku kira tadi cuman salah lihat, rupanya memang benar kak Dylan. Seniorku yang paling di incar dulu.” Perempuan yang diduga namanya adalah Mia itu nampak sangat akrab dengan Dylan
“Bisa saja kamu Mia, aku juga baru tau kamu rupanya kerja disini. Hebat kamu!”
Mia nampak tersenyum senang, bahkan pipinya sedikit Merona karena dipuji oleh pujaan hatinya. Akifa yang melihat itu tentu saja tau maksud dari perempuan yang bernama Mia itu menghampiri suaminya. Bahkan menyapa nya saja tidak.
“Mas, dia siapa?” Tanya Akifa memang tangan suaminya
“Ini sayang, junior mas dulu waktu kuliah. Namanya Mia.” Ucap Dylan “Oh yah Mia, wanita cantik ini istriku, Akifa. Dan bayi tampan itu putra ku, Alan. Baru lahir tiga hari yang lalu.”
“Halo, aku Akifa.” Akifa mencoba meramah tamah
Terlihat jelas Mia kurang suka namun tetap menunjukkan senyuman “Halo juga, aku Mia.”
“Oh yah kak, sekarang kak Dylan kerja dimana? Bukannya waktu itu kak Dylan bilang kerjanya di pulau Jawa yah?” Terlihat sekali Mia tak sudi beramah tamah dengan Akifa, bahkan memberikan selamat atass kelahiran baby Alan pun tidak. Dia benar-benar fokus dengan Dylan
Akifa nampak tak suka dengan kelakuan Mia yang terang-terangan ingin menjadi duri dalam hubungannya dengan sang suami. Dan Dylan pun juga sama yang seakan tau maksud Mia.
“Aku memang kerja di pulau Jawa, aku pulang karena istriku hamil. Kan lebih bagus kelahiran putra pertama ku disaksikan oleh keluarga besar ku. Iya ‘kan sayang?” Mengecup punggung tangan Sang istri
Akifa Tersenyum lebar sambil mengangguk, ia senang dengan perlakuan suaminya.
“O.. oh begitu yah.” Wajah Mia sudah hampir memerah menahan kesal dan juag cemburu melihat hal itu
“Maaf yah Mia, kami buru-buru. Takut bayiku rewel. Kami duluan yah.” Pamit Dylan
“Ah.. iya.. lain kali kita ketemu lagi yah.”
Dylan hanya tersenyum lalu pergi dari sana. Mia sungguh muka badak, bagaimana bisa ia masih menyerukan kata-kata ketemu lagi padahal sudah sangat jelas ia ditolak.
.
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...