
Fatih yang masih berusia 11 itu terpaksa harus ikut bersama abinya ke tempat pertemuan para pengusaha dan pebisnis se-Indonesia. Umanya sedang sibuk dengan restoran yang sedang sibuk dan juga kedua adiknya.
Alhasil Fatih lah yang disuruh Lyza mengawasi snag abi karena saat ini, umanya sedang bertengkar dengan abinya. Yah, Fatih tak terlalu tau permasalahan orang dewasa. Ia hanya menurut saat uma tersayang menyuruhnya ikut bersama abinya.
“Nanti, Fatih mau ikut abi atau tunggu di ruang tunggu saja?” tanya Ares menggandeng tangan putranya masuk kedalam sebuah hotel
“Fatih mau ikut masuk dulu abi, nanti kalau bosan baru Fatih keluar.“ Hanya alasan, sesuai amanah Lyza. Fatih ingin mengawasi abinya terlebih dahulu. Jika tak ada yang aneh, maka ia akan keluar.
Ares mengangguk “Jangan jauh-jauh dengan abi.” Fatih kembali mengangguk
“oh yah abi, abi sama uma sedang bertengkar?” Fatih yang memang peka langsung tau maksud dari umanya yang menyuruh mengawasi abinya
Ares tersenyum paksa, ia tak tau harus menjawab apa. Bertengkar? Yah sebenarnya tidak salah namun tidak benar juga. Hanya ada sedikit kesalahpahaman yang membuat Lyza kesal padanya.
Lyza pernah melarang Ares tersenyum pada wanita lain, namun Ares adalah seorang binis man dan lagi ia tidak mempunyai sifat datar dan dingin. Bawaannya yang memang ramah kerap membuat istrinya cemburu. Seperti halnya saat Ares tak sengaja tersenyum pada seorang wanita yang dulu hendak dijodohkan padanya, namun Ares menolak. Membuat Lyza yang kala itu melihat senyuman sang suami untuk wanita lain menjadi cemburu.
Dan akhirnya pertengkaran kecil tak dapat dihindari, walaupun ujung-ujungnya Ares jugalah yang harus meminta maaf walaupun ua tidak salah apa-apa.
Dan entah mengapa, sifat istrinya yang tidak pernah berubah itu malah terlihat menggemaskan dimata Ares, dan hingga kini Ares sengaja belum meminta maaf pada istrinya dan ingin melihat sejauh apa istri cantiknya bertindak. Dan mungkin mengirim anaknya mengawasi dirinya adalah tindakan yang diambil sang istri.
“Yah cuman salah paham sedikit. Bukan hal yang terlalu besar.”
Fatih mengangguk “Harusnya abi minta maaf saja, kan tidak baik membuat uma banyak pikiran.” Ia jadi menasehati abinya, karena harusnya yang tadi ia ada janji main bole dengan temannya malah tidak jadi karena haru ikut abinya memenuhi permintaan sang uma.
Ares terkekeh geli “Nanti kamu tau sendiri kalau sudah menikah bagaimana rasanya dicemburui istri yang selama ini terlihat datar.”
Fatih geleng-geleng kepala melihat tingkah abinya bak anak remaja yang sedang jatuh cinta. ‘Abi lagi masa-masa lucunya’
Sesuai rencana tadi, Fatih ikut masuk kedalam ruang pertemuan. Disana ada beberapa anak-anak seperti dirinya namun ada juga yang sudah terlihat remaja. Kebanyakan anak-anak yang datang menemani ayah atau ibunya adalah pewaris.
“Tidak ada yang aneh.” Gumam Fatih, apalagi rata-rata yang disana adalah pria. Sedangkan wanita hanya menemani suaminya.
Tiba-tiba perhatian Fatih jatuh pada seorang pria seusai abinya. Pria dingin dan datar yang terlihat gagah dan tampan, namun bukan itu yang jadi perhatian nya.
Tatapannya malah terfokus pada seorang anak kecil, perempuan yang mungkin seusia adiknya, 5 atau 6 tahun. Wajah cantik anak kecil yang memakai hijab langsung dengan motif bunga didepan dada terlihat menggemaskan dengan wajah datar mirip pria yang menggendong nya. Apalagi mata yang berwarna grey terlihat sangat indah.
Diam-diam mata biru Fatih memandangi anak kecil itu lamat-lamat dengan senyuman diwajah. Tiba-tiba gadis mungil itu terlihat ikut melihatnya, Fatih mencoba untuk Tersenyum namum yang dikasi senyuman malah terlihat datar dan bahkan memalingkan wajah seolah tak peduli.
Menghembuskan nafas panjang, Fatih yang sudah tidak terlalu suka disana meminta izin pada abinya untuk keluar dan menunggu diruang tunggu yang sudah disiapkan.
Setelah mendapat izin, Fatih pun berjalan menuju ke ruang tunggu. Di ruang tunggu ada beberapa anak kecil seusianya dan ada juga yang sudah remaja.
Fatih memilih duduk di sebuah sofa panjang, ia mengambil Al-Qur'an kecil yang selalu ia bawa-bawa guna untuk di baca ataupun saat ia ingin menghafal. Seperti sekarang, Fatih harus menyetor hafalannya nanti malam pada abinya, jadi dia harus memperdalam hafalannya.
Saat sedang fokus menghafal, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang naik keatas sofa. Fatih tak menghiraukan dan tetap melanjutkan bacaan nya, namun ia merasa orang yang baru saja naik memperhatikan nya. Apalagi tercium bau baby yang sangat kental dan wangi.
Sontak, Fatih menoleh kesamping. Dan benar saja ada seorang gadis kecil tengah memperhatikannya. Bola matanya yang bulat terlihat menggemaskan, wajah yang datar semakin membuatnya menggemaskan.
__ADS_1
Kening Fatih berkerut saat gadis cantik yang tadi ia perhatikan digendongan ayahnya tidak sadar kalau sekarang Fatih melihatnya. Fatih akhirnya memperhatikan arah tatapan mata gadis mungil itu, dan yah rupanya mata bulat itu tengah fokus Melihat Al-Qur'an yang sedang Fatih pegang.
Dalam tatapan matanya ia seperti sangat menginginkan Al-Qur'an yang Fatih pegang.
“Kau mau ini?” Fatih membuka suara
Ilya yang saat itu masih berusia 5 tahun tersentak. Lantas, ia mengangguk lemah. Fatih tersenyum melihat hal itu, ia sedikit mendekatkan diri kearah Ilya.
“Mohon maaf tuan muda, jangan terlalu dekat dengan nona muda kami.” Seorang pengawal Ilya datang menghampiri.
Memang semua anak-anak disana dibekali dengan pengawal masing-masing, dan Fatih pun tak luput dari hal itu. Pengawal yang ditempatkan untuk jaga-jaga kalau ada hal yang tak terduga terjadi. Apalagi semua anak didalam ruang tunggu adalah pewaris ataupun anak dari orang-orang berpengaruh.
Sontak Fatih kembali mundur “Ah! Maafkan saya..”
Ilya melihat pengawal nya “Gak apa-apa, kakak itu gak menyeramkan.” Ilya membela Fatih karena ia menginginkan Al-Qur'an yang sedang Fatih baca. Al-Qur'an yang selalu ia idam-idamkan karena Ilya sekarang baru bisa membaca iqra
“Tapi none muda..”
“Maaf? Apa ada yang kau perlukan dengan tuan muda Fatih?” Pengawal Fatih yang baru saja dari toilet langsung ambil tindakan saat melihat tuan mudanya seperti dipojokkan
“Tidak apa-apa pak, tidak ada yang salah. Pak Ijo kembali saja, cuman ada kesalahpahaman sedikit.” Fatih angkat bicara sebelum ada keributan. Apalagi sekarang orang-orang yang dekat dengan mereka mulai memperhatikan
“Bapak pengawal nya adik ini yah pak?, Bapak tenang saja. Saya bukan orang jahat, majikan bapak cuman penasaran dengan Al-Qur'an saya. Bapak bisa kembali jaga.”
Melihat kesopanan anak laki-laki berusia 11 tahun itu, pengawal Ilya pun kembali ketempat nya setelah meminta maaf.
Ilya terdiam sejenak, “Kakak hebat, apa Ilya boleh pinjam Al-Qur'an nya?”
Seutas senyum terbit di bibir Fatih saat melihat Ilya sangat antusias dengan Al-Qur'an yang sedang Fatih pegang “Memangnya kamu bisa baca Al-Qur'an?”
Ilya menggeleng pelan “Ilya gak bisa, masih iqra.”
“Lalu, untuk apa kamu mau pinjam Al-Qur'an kakak?”
“Ilya penasaran dengan isinya, abang-abang Ilya semuanya sudah bisa baca Al-Qur'an.” Jawab Ilya polos dengan mata bulat yang berkedip-kedip membuat Fatih gemas sendiri
Fatih berpikir, kalau abang yang dibilang Ilya.. ‘apa mungkin, Delon dan Dylan, serta Ilmy juga?’ Ucapnya dalam hati. Ia satu sekolah dengan Delon, Dylan dan juga Ilmy. Dan Fatih bisa menyadari kalau Ilya adalah adik dari teman dekatnya itu karena Ilyas yang tadi sempat ia lihat
“Maksudnya Dylan dan Delon?”
Ilya mengangguk cepat “Kakak tau abang-abang Ilya? Sama kak Ilmy juga!” Serunya bersemangat
Fatih tersenyum “Kakak teman dekat Dylan.” yah hanya Dylan, karena Delon cukup susah didekati. Sedangkan Ilmy yang supel juga tak bisa terlalu dekat dengan nya
“Wahhhh... Kakak satu sekolah berarti dengan abang dan kakak Ilya?” Tanyanya dengan raut wajah yang berbinar
Fatih kembali mengangguk “Oh yah nama nya Ilya yah?” Ilya mengangguk cepat
__ADS_1
“Kalau kakak?”
“Fatih..” Mengelus pucuk kepala Ilya dengan lembut, lalu tangannya turun Mencubit gemas pipi Ilya yang sudah dari tadi mencuri perhatian Fatih
Ilya yang kembali datar hanya menatap Fatih dengan raut wajah yang sedikit bingung “Apa pipi Ilya gak papa kalau dicubit?” Tanyanya dengan polos kembali membuat Fatih tergelak
Sontak, ia menekan-nekan pipi Ilya membuat pipi yang tembem itu mengerucutkan bibir kecil Ilya “Ini sangat enak.. lain kali jangan biarkan laki-laki lain mencubitnya, okey?”
Ilya mengangguk “Ayah sama abang-abang Ilya juga bilang gitu.”
Fatih kembali tertawa, sudah ia duga. Karena selama ini Dylan kadang menceritakan tentang adik bungsunya yang sangat menggemaskan, dan itu memang terbukti. Adik bungsu sahabat dekatnya sangat menggemaskan!
Saat sedang asik memainkan pipi Ilya, tiba-tiba ada suara basah menginstruksi “Lepaskan tangan kotormu dari pipi Ilya-ku.”
Sontak Fatih melepas cubitannya, ia melihat ayah gadis cantik yang sedang duduk disampingnya tengah menatap datar kearah nya “Om? Apa kabar om?” Fatih sudah sering bertemu Fatih saat pria dewasa itu mengantar anak-anak ke sekolah
Ilyas berjongkok dihadapan putrinya “Ilya sayang, apa yang bocah ini lakukan padamu?”
Bibir Fatih berkedut mendengar perkataan Ilyas yang seakan-akan dirinya sudah melakukan hal tak senonoh pada putrinya
Ilya menggeleng pelan “Kakak Fatih cuman ceritain tentang abang Dylan dan abang Delon. Katanya mereka satu sekolah.”
“Loh Ilyas, ada apa ini?” Tiba-tiba Ares datang ingin menjemput putranya
Sambil menggendong Ilya “Bukan apa-apa, lain kali katakan pada putramu jika ingin mendekati putriku itu masih terlalu cepat seratus tahun.”
Tentu Ares sedikit bingung akan perkataan Ilyas, namun saat melihat putranya hanya mengangguk membuat Ares ikut mengangguk
“Baiklah saya kurang tau apa yang sudah terjadi, tapi jika putra saya melakukan kesalahan saya sebagai ayahnya meminta maaf.”
“Tidak, putra mu tidak melakukan kesalahan. Saya hanya bilang agar tunggu dia dewasa dan bisa menafkahi anak saya baru dia mendekati putriku.”
“Ah hmm baiklah, terima kasih untuk izinnya.” Walaupun bingung Ares hanya mengiyakan,
Setelah pamit, Ilyas dan Ilya pun pergi dari sana. Dan pertamuan pertama itulah yang membuat awal mula Fatih mulai mencari tau bagaimana Ilya dari Dylan dan Ilmy bahkan Delon. Fatih juga pernah mencari informasi dari Dian, ibu Ilya saat masih kecil.
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...
__ADS_1