Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Bawaan bayi


__ADS_3

Akifa masuk kedalam kamar setelah para tamu pulang. Ia membaringkan badannya setelah mencuci kaki serta wajah.


Menghela nafas panjang “Kasihan juga kak Ilmy. Dia harus berjuang untuk mendapatkan hati orang yang disukai nya. Sedangkan aku waktu itu..” Ia kembali mengingat saat-saat ia harus menikah dengan kakak iparnya sendiri, yah itulah yang ia kira. Padahal waktu itu Dylan sudah jadi duda.


“Yah kisah cinta setiap orang berbeda-beda.” Tiba-tiba Dylan masuk kedalam


Akifa terduduk “ Dan Alhamdulillah nya. Kisah cinta kita gak terlalu banyak drama yah mas.”


Dylan tertawa pelan sembari geleng-geleng “Yakin? Yang waktu itu sangat terpaksa menikah dengan mas siapa? Yang waktu itu mendiami mas karena salah paham berbulan-bulan siapa?” Menaik turunkan alis sembari duduk disamping sang istri


Akifa mencebik “Gak usah dibahas juga kali mas. Namanya juga kehidupan, gak mungkin bangat gak ada drama.”


Dylan tertawa mendengar penuturan sang istri “Bagaimana? Ilmy sudah cerita?” Tanya Dylan


Akifa merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami “Sudah mas, kak Ilmy kasihan banget.” Ia jadi ingin menangis saat teringat bagaimana kakak iparnya tadi menangis


Merangkul pundak istrinya “Apa masalahnya tentang Ar?” Dylan hanya menebak, entah mengapa ia merasa semua ini ada hubungannya dengan asisten pribadi Delon


Akifa mengangguk pelan “Mas tau? Kak Ilmy tadi sampai nangis-nangis loh. Aku jadi gak tega lihatnya.”


“Mereka bertengkar?”


“Hmm Mungkin. Katanya kak Ilmy mau nyerah ajah kejar cinta bang Ar. Kak Ilmy udah capek.” Akifa tak ingin menceritakan saat Marcell mengatakan muak dengan cinta Ilmy karena permintaan Ilmy sendiri.


Ilmy memang sadar jika adik iparnya pasti akan menceritakan masalah yang ia hadapi kepada Dylan, karena itulah Ilmy sudah mewanti-wanti Akifa agar tidak menceritakan apa yang dikatakan Marcell padanya. Takutnya Dylan gelap mata dan menghajar Marcell.


“Alhamdulillah, akhirnya Ilmy sadar juga. Untuk apa mengejar-ngejar seseorang jika orang yang dikejar tak mau merespon sedikit pun.” Mengelus pundak istrinya


Dylan malah senang dengan keputusan Ilmy, dengan begitu ia tak akan risau lagi saat akan kembali nanti.


“Tapi mas, kok aku ngerasa bang Ar juga punya perasaan yang sama dengan kak Ilmy.” Mendongak melihat suaminya


Dylan menunduk sehingga pandangan mereka bertabrakan, wajah keduanya sangat dekat bahkan hidung mereka sampai menempel.


Cup..


Dylan mengecup bibir Istrinya singkat “Sudah dua kali kamu bilang seperti itu, tapi buktinya apa? Dia malah menyakiti hati Ilmy.”


“Iya juga sih, tapi kasihan bangat kak Ilmy. Dia udah menyimpan dan menjaga perasaannya bertahun-tahun tapi malah hancur begitu saja.” Kembali menunduk


Dylan menghembuskan nafas panjang “Sebenarnya mas juga tau kalau Ar punya perasaan yang sama dengan Ilmy.” Perkataan Dylan sontak membuat Akifa kembali Mendongak melihat suaminya dengan tatapan terkejut


“Hahaha matamu sudah mau keluar loh sayang.” Mengecuo ujung hidung sang istri, ia masih bisa bersikap mesra disaat-saat pembahasan yang serius dan sensitif ini.


“Ihh mas lihat kondisi Dong.” Dylan malah kembali tertawa mendengar protes dari istrinya “Tapi, mas serius dengan apa yang mas bilang?”


Dylan mengangguk “Mas serius sayang. Mas juga bisa lihat Ar mencintai Ilmy, karena itu Mas dari dulu sangat mendukung. Tapi Ar sama sekali tidak maju-maju walaupun Ilmy dari dulu sudah siap dan selalu memberikan peluang yang lebar untuk nya.” Jelas Dylan


Akifa mengangguk mengerti “Iya juga yah, seakan-akan bang Ar sama sekali gak serius sama perasaan kak Ilmy.”

__ADS_1


“Nah itu tau, jadi yah lama-lama mas juga hilang respect dengan Ar. Bukam hanya menggantung perasaan Ilmy, dia juga menyakiti hati Ilmy. Bagaimana bisa mas mendukungnya sekarang.”


“Tapi kenapa bang Ar seperti itu yah mas? Padahal sudah jelas-jelas mereka berdua punya perasaan yang sama.”


“Yah namanya juga manusia, ada cara mudah malah cari yang susah.”


Akifa tertawa pelan dengan perkataan Suaminya “Tapi mas, misalkan nih. Bang Ar tiba-tiba melamar kak Ilmy, mas bakalan kasih restu?” Memainkan dagu suaminya yang mulus tanpa bulu


“Kalau Ilmy menerimanya, yah mas juga harus terima. Ilmy sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri.” Ucap Dylan mencoba untuk menjadi Abang yang baik dan bijak


Akifa mengangguk setuju “Semoga kak Ilmy bisa bahagia dengan orang yang dia cintai dan mencintainya.” Harapan Akifa


“Aamiin..” Dylan mengaminkan, ia juga ingin agar adiknya bahagia dengan pilihannya sendiri. “Yaudah ayo tidur, mas mau cuci kaki sam sikat gigi dulu.” Berdiri dari duduknya


“Jangan lama-lama ya.”


“Hmm memang nya kenapa? Cuman ke kamar mandi doang.”


“Aku mau dikelonin mas..” Akifa sudah tidak malu-malu lagi untuk bermanja-manja kepada suaminya.


Dylan tertawa gemas “Hahaha iya sayangku, cuman sebentar.” Ia labuhkan kecupan singkat dipucuk kepala sang istri, setelah nya barulah ia masuk kedalam kamar mandi.


...***...


Beberapa hari kemudian


Tepar, Ilya benar-benar tidak bisa bangun pagi ini. Rasanya seluruh semangat hidup sudah ia habiskan. Ia hanya ingin berbaring tanpa melakukan apa-apa.


“Apa hanya karena bumi itu gak punya ujung makanya dibilang bulat? Ck! Kenapa meja dibilang meja? Kenapa gak kursi? Terus kenapa kursi gak dibilang meja? Siapa yang dapat nama-nama mereka? Penemunya kah?”


Ceklek..


Fatih keluar dari walk closed, ia sudah rapi dengan kemejanya. Senyumnya terbit tatkala mendengar percakapan sang istri kepada dirinya sendiri


“Ada buktinya kenapa bumi disebut bulat sayang. Dan lagi, bumi itu tidak bulat seutuhnya seperti bola kasti. Tapi bulat lonjong. NASA tidak akan mengeluarkan teori bumi bulat tanpa ada bukti.” Berjalan mendekati sang istri yang tengah tertidur.


Ilya bangun dan duduk “Iya juga sih, Ilya juga udah cari di om google dan memang benar. Bumi itu bulat.”


Fatih tertawa geli, lantas ia duduk di samping sang istri “Bagaimana? Tidak pusing atau mual?” Mengelus rambut Istri nya


Ilya menggeleng pelan “Alhamdulillah gak pusing atau mual, kak. Cuman yah gitulah. Rasanya pengen tidur ajah, kaya udah gak punya gairah hidup.”


“Astagfirullah sayang.. jangan bilang seperti itu ah! Nyebut!”


Ilya tersenyum innocent “Sorry. Kakak mau berangkat ke kantor?” mengambil dasi yang ada di pundak Fatih


“Iya, Ilya baik-baik dirumah yah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak! Baik?” Memandangi wajah teduh istrinya yang tengah fokus memakaikannya dasi


Ilya menepuk-nepuk dada sang suami, lalu Mendongak “Baik! Kakak juga hati-hati yah. Maaf Ilya gak bisa antar sampai dihalaman.” Karena sangat nyaman kasur Ilya sangat malas untuk beranjak, mungkin bawaan bayi.

__ADS_1


Cup..


Mengecup kening istrinya “Tidak masalah. Oh yah jangan lupa makan dan minum vitamin sama susunya. Jangan karena malas bangun Ilya lupa makan.”


Ilya mengangguk tegas “Iya, tenang ajah.”


“Baiklah, kakak pergi dulu. Assalamu'alaikum..”


“Iya, Wa'alaikum salam. Hati-hati.”


Sekali lagi Fatih melabuhkan kecupan di kening dan bibir istri nya barulah ia berangkat. Sebenarnya cukup berat bagi Fatih untuk pergi meninggalkan istrinya disaat sedang hamil seperti ini. Namun apalah daya, ada tanggung jawab lain yang harus ia jalankan.


Ilya kembali merebahkan badannya setelah Fatih keluar dari kamar. Ia kembali menatap langit-langit kamar, menunggu hingga waktunya ia sarapan barulah Ilya bangun.


Ceklek...


Sontak Ilya kembali bangun “Kak? Kenapa? Apa ada yang ketinggalan?” Tanya Ilya melihat suaminya kembali


Fatih tidak menjawab apa-apa, ia terus melangkah hingga sampai didepan istrinya “Ada yang ketinggalan.” Menangkup pipi sang istri


“Apa? Mau Ilya ambilkan?”


“Tidak perlu.”


“Ap.. emmhpp.” Belum selesai ia bicara, Fatih sudah membungkam mulutnya dengan bibir. Fatih melumaat dan menjilat bibir ranum Sang istri.


“Ini yang ketinggalan. Baiklah kakak pergi dulu, Assalamu'alaikum sayang.”


“Wa.. wa'alaikum salam..” Ilya mematung menyaksikan kepergian sang suami


Blush..


“Kyaaa kak Fatih manis banget..” Menenggelamkan wajah di bantal. Fix, suaminya memang yang terbaik!


Ilya benar-benar merasakan yang namanya jatuh cinta, seakan dunia hanya berputar untuk dirinya dan juga sang terkasih.


“Oh yah, kalau gak salah hari ini di rumah ayah sama ibu lagi sibuk-sibuknya ‘kan? Apa aku pergi bantu juga?” Monolog Ilya. Ia berpikir keras, haruskah ia pergi membantu? Atau tidak?


Dilihatnya kembali bantal yang seakan-akan mempunyai magnet menarik dirinya untuk kembali tertidur.


“Astagfirullah!! aku benar-benar udah jadi pemalas. Gak bisa gini, aku gak boleh malas-malasan.” Ia pun bangkit dari tidurnya untuk segera sarapan dan berangkat ke rumah ayah dan ibu.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2