
Dua Minggu berlalu..
Dua Minggu kemarin, Akifa dengan ditemani Dylan memeriksakan kandungannya dan semuanya dinyatakan baik-baik saja. Namun jenis kelamin sang bayi belum bisa terlihat karena kandungan ynag masih terlalu kecil. Diperkirakan kandungan Akifa memasuki Minggu ke 9
Terlihat jelas guratan kebahagiaan Dylan kala itu, ia tak henti-hentinya memegang tangan sang Istri dan sesekali menciumnya.
Tapi seperti biasa, Akifa akan mengabaikan dan bahkan menganggap Dylan tak ada.
Dan naasnya, satu Minggu ini Akifa sama sekali tidak pernah bertemu dengan sang suami. Entahlah ia tak melihat batang hidung Dylan akhir-akhir ini, padahal dua Minggu yang lalu suaminya sangat siaga dan selalu ada di sampingnya, namun sekarang tak ada sama sekali kehadiran dokter tampan tersebut.
Sore ini, Akifa yang sedang duduk di ruang tamu menunggu suaminya pulang. Tiba-tiba ada rasa khawatir, kemana suaminya selama ini? Apa yang dia lakukan hingga tak pulang? Pikiran-pikiran buruk menghentam kepala Akifa.
Apa mungkin suaminya mencari kehangatan di luar sana?
Dada wanita itu berdenyut sakit membayangkan apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Saat bertanya pada bi Santi pun, terlihat jelas wanita paruh baya tersebut selalu menghindar dari pertanyaan.
Ada apa ini sebenarnya? Jangan bilang orang-orang dirumahnya bersekongkol untuk mengelabuhi nya?
Air mata Akifa sudah mau jatuh membayangkan apa yang ia pikirkan. Tidak seharusnya ia mendiami sang suami, seharusnya ia mendengarkan penjelasan suaminya.
“Gak bisa gini,” Diambilnya ponsel untuk menghubungi Dylan. Belum sempat ia membuka kunci ponsel, tiba-tiba seorang satpam mendatangi Akifa.
“Permisi nyonya.”
“Ah! Iya pak, ada apa?”
Menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna meraj muda “Paket untuk anda, nyonya.”
Kening Akifa berkerut dalam. Paket? Perasaan dia tak pernah memesan sesuatu secara online!
Walaupun ragu-ragu, ia tetap mengambil kotak kecil tersebut. Kotak yang mirip tempat penyimpanan cincin atau perhiasan kecil lainnya.
“Hmm dari siapa yah pak?”
Belum menjawab, tiba-tiba suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Akifa. Ia memandangi nama yang tertera disana dan segera menggeser tombol hijau
“Halo, Assalamu'alaikum bu.” rupanya ibu mertua yang menelpon
“Wa'alaikum salam. Gimana kabarnya nak?”
Akifa tersenyum “Alhamdulillah baik bu. Ibu sendiri gimana kabarnya?” setiap menelpon ibu mertuanya pasti akan selalu menanyakan kabarnya
Dengan tatapan mata, Akifa menyuruh pak satpam yang sedari tadi berdiri disana undur diri. Satpam tersebut mengerti dan segera pergi dari sana.
Terdengar jawaban Dian yang mengatakan baik dengan suara lembutnya “Oh iya, paketnya udah datang?”
“Eh? Jadi ini paket dari ibu? Baru datang sih bu. Ifa sempat bingung siapa yang ngirim paket.” memandangi kotak tersebut
“Sebenarnya bukan dari ibu, ibu cuman menjalankan amanah.”
__ADS_1
‘Amanah’ Batin Akifa bingung “Amanah dari siapa bu?”
“Ada, nanti kamu buka sendiri. Kalau gitu ibu tutup dulu yah,”
“Iya bu,”
Terdengar salam dari seberang, Akifa pun membalas salam tersebut sebelum panggilan berakhir.
Setelah menyimpan baik-baik ponselnya, Akifa menatap kotak kecil berbentuk persegi tersebut dengan kening berkerut.
“Apa isinya sebuah cincin? Hmm tapi masa sih.” Jika dilihat dari kotak nya memang seperti tempat penyimpanan perhiasan kecil.
Karena tak ingin larut dalam kebingungan, akhirnya Akifa membuka penutup kotak tersebut “Flashdisk? Loh kenapa ibu ngasih flashdisk?”
Flashdisk berwarna merah tersebut terlihat tidak asing di mata Akifa. Seperti pernah melihatnya namun ia tidak bisa mengingat dimana ia pernah melihatnya.
Akifa memejamkan mata sembari bersedekap dada mengingat-ingat dimana dia pernah melihat flashdisk berwarna merah yang nampak sudah lama tersebut.
Satu detik...
Dua detik..
Tiga detik..
Mata Akifa terbuka lebar saat mengingat dimana ia melihat flashdisk itu. Iya, flashdisk kakaknya yang pernah ia lihat saat sang kakak sedang menyalin data dari laptop untuk tugas kuliah. Waktu itu Akifa masih SMA.
Tanpa membuang waktu lagi, Akifa segera masuk kedalam kamar dan mengambil laptop nya untuk mengetahui isi dari flashdisk berwarna merah milik kakaknya.
Entah mengapa jantung Akifa berdetak cepat. Kekhwatiran karena suaminya tidak pernah pulang pun semakin besar. Apalagi saat tiba-tiba ibu mertua mengirimkan sebuah flashdisk milik almarhumah kakaknya.
Tanpa membuang waktu lagi Akifa memutar video tersebut.
Air mata wanita hamil itu tak terbendung saat menampilkan wajah Kakaknya yang tengah duduk di ranjang rumah sakit.
Namun hal yang membuatnya tercengang adalah pengakuan kakaknya.
Akifa tergugu dengan nafas yang tersengal-sengal menyaksikan rekaman video yang sengaja dibuat Indah.
Pantas saja.. pantas saja suaminya sangat dingin terhadap kakanya.
Pantas saja.. Dylan tak menolak saat Kakaknya ingin dia menikah dengan Akifa.
Pantas saja.. selama ini Dylan tetap sabar dan tabah menunggu nya..
“Maaf.. hiks.. maafin aku mas.. hiks..” Tanpa banyak bicara lagi, Akifa merapikan kembali laptop nya setelah memindahkan file yang ada didalam flashdisk kedalam ponsel dan laptop.
Ia bergegas mengambil cardigan selutut lalu keluar kamar. Dia ingin mencari suami nya dan mendengarkan penjelasan yang sebenarnya.
Sebelum itu, Akifa menghubungi ponsel suaminya. Namun nihil, hanya tersambung namun tidak ada yang menjawabnya. Karena sudah terlalu khawatir Akifa segera keluar rumah dan meminta sopir membawanya menuju rumah sakit.
__ADS_1
“Tapi nyonya, tuan menyuruh saya untuk menjaga..__”
“Pak saya mohon, ini sangat mendesak.” Akifa mengibah, air matanya kembali menetes
Karena tak tega melihat keadaan sang nyonya, mau tidak mau sopir itu pun mengeluarkan mobil dari bagasi. Belum sempat ia turun untuk membukakan pintu untuk Akifa, wanita hamil itu sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan duduk di bangku belakang.
“Cepat pak!” Ia sudah tak sabar menemui suaminya dan meminta maaf.
Tidak seharusnya ia mendiami sang suami. Dia memang bodoh! Kenapa harus selalu terbawa perasaan?!! Setidaknya berpikirlah dengan logika terlebih dahulu sebelum bertindak.
...***...
Dylan keluar dari dalam kamar mandi, ia lagi-lagi saja memuntahkan makanan yang masuk kedalam perutnya tadi siang.
Hari ini adalah hari ketujuh ia menginap dirumah sakit untuk dirawat, namun Dylan lebih memilih dirawat di ruangannya dari pada harus membuka kamar lain lagi di rumah sakit.
Dengan langkah gontai ia naik keatas ranjang. Tak sempat melihat ponsel karena terlalu lemah, kepalanya juga terlalu pusing untuk melihat layar ponsel.
Ia tak tau kalau tadi Istri nya sempat menghubungi beberapa kali.
Baru ia ingin menutup mata, tiba-tiba Dylan dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka cukup keras. Tanpa melihat siapa yang datang “Siapa yang berani mengganggu ketenangan ku!” Ujarnya dingin “Keluar!!”
Namun orang yang masuk tak mengindahkan. Dengan langkah tertahan ia memaksakan masuk “M.. mas.. ka.. kamu kenapa mas??”
Pekikan yang sangat dikenal Dylan membuat pria itu membuka matanya lebar. Ia terkesiap dan langsung duduk “Ifa? Sayang.. ada apa?” Tanya nya khawatir saat melihat istrinya menangis
Bukannya menjawab, Akifa berjalan cepat Memeluk tubuh suaminya erat “Hiks.. kamu kenapa mas? Kenapa gak bilang kalau sakit! Hiks.. maaf.. maafin Ifa..”
Walaupun kaget dengan tingkah istrinya, Dylan tetap membalas pelukan sang istri lalu menepuk-nepuk punggung Akifa yang bergetar karena menangis
“Sudah jangan menangis, mas tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit.” Ujarnya dengan nada yang lembut, tiba-tiba rasa mual dan sakit dikepala nya seketika sirna. Ia jadi semangat melihat istrinya.
“Kenapa Ifa datang kesini? Hmm? Rindu yah sama mas?” Sifat tengilnya kembali keluar
“Hiks.. maaf.. maaf.. iya.. aku rindu sama mas..”
Dylan tersentak mendengarnya, ia tersenyum simpul lantas memeluk erat tubuh istrinya. Ia tak tau apa yang menyebabkan Akifa menangis sampai sesegukan, namun ia akan menunggu istrinya berbicara langsung setelah lebih tenang.
“Mas juga rindu sama Ifa. Tapi jangan terlalu rindu sayang. Berat, biar mas saja..”
Refleks Akifa memukul pelan pundak Dylan membuat empunya terkekeh kecil. Bukankah perkataannya memang tepat? Atau.. seharusnya bukan Dylan palsu seperti nya yang pantas berbicara seperti itu?
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...