Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Terlalu cinta


__ADS_3

Othor Revisi lagi soalnya gak diterima ampe lebaran😑


Othor cuman mau bilang


...Minal Aidin wal Faidzin 🙏🙏...


............


Flash back beberapa hari yang lalu....


Disebuah mansion besar di kawasan elit. Didalam rumah, tepatnya di meja makan. Setelah makan malam yang ceria.


Terlihat seorang wanita paruh baya memakai jilbab panjang dan terlihat masih cantik dengan mata biru yang tajam, tengah membersihkan meja makan dibantu kedua putri kembarnya yang mempunyai kepribadian bak minyak dan air.


Seorang pria paruh baya yang juga masih tampan dengan tubuh Tegap dengan mata greynya yang tajam namun teduh dan seorang putranya masih duduk dimeja makan.


Setelah semuanya bersih, ketiga perempuan itu kembali ke tempat duduknya


Ehem..


Pria muda tersebut berdehem membuat atesintas keempat orang disana menoleh dan melihatnya.


Setelah berdehem, pria muda tersebut pun angkat bicara “Aku menyukai seorang gadis..” Ucapnya dengan tegas


Ucapan pria itu membuat ayah, ibu dan kedua adiknya terdiam. Tidak! Lebih tepatnya mereka syok dengan perkataan pria tersebut.


Adik nya yang memilik tahi lalat diujung bibir lantas menghampiri sang kakak lalu menaruh tangan nya diatas dahi “Abang tidak sakit! Bang, abang tidak sedang bercanda ‘kan?” Bagaimana tidak, kakaknya yang terkenal alim dan anti wanita tiba-tiba mengatakan hal yang mengejutkan


Pria tersebut tersenyum lembut lalu mengusap pucuk kepala adiknya yang terlapis hijab “Jangan begini dek, abang serius.” Beralih melihat ayah, ibu dan adiknya yang paling bungsu


“Fatih tidak main-main?” Lyza, ibu dari pria bernama Fatih tersebut bertanya. Mantan ketua mafia itu tak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya mendengar penuturan putra semata wayangnya.


Fatih mengangguk “Rencanya, aku akan melamar gadis itu uma. Tapi sebelum itu, aku harus meminta izin kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu.”


Ares, ayah dari Fatih nampak mengangguk-angguk “Bagus, sikapmu sangat gentle boy..” Menurut nya perkataan yang dikatakan sang putra sangat bagus dari pada harus mengajak gadis itu berpacaran terlebih dahulu.


Lyza melotot tajam kearah suaminya, bukan apa-apa. Ia hanya khawatir dengan putranya yang memang tak pernah menyukai seorang gadis ataupun dekat dengan lawan jenis yang bukan mahram tiba-tiba ingin melamar seorang gadis. Ia takut Fatih ditipu oleh penampilan luar gadis itu.


Ares tersenyum melihat istrinya, ustadz tampan dan mantan CEO W Corp tersebut mengerti kekhawatiran istrinya. Apalagi Lyza yang memang mantan ketua mafia pasti akan selalu waspada akan hal-hal yang baru menurut nya.


Namun berbeda dengan Ares, pria tersebut memegang punggung tangan istri tercinta “Sayang, Fatih sudah dewasa. Dia juga pasti sudah tau bagaimana gadis yang akan dia lamar.” Tuturnya dengan lembut


Lyza menghela nafas panjang, ia pasti akan selalu luluh jika dihadapkan dengan suaminya “Hmm kamu benar, by. Yasudah uma akan mendukung Fatih.”


Fatih Tersenyum sumringah “Terima kasih Uma, Abi.”


.


.


Dan disinilah Fatih, pria tersebut membenarkan jasnya sebelum keluar dari dalam mobil. Ia sedang sendirian. Fatih bersiap-siap ingin mengatakan niatnya untuk melamar gadis pujaan hati.


Melihat kearah spion depan mobil untuk melihat penampilan nya apakah sudah cukup sempurna atau tidak. Mata birunya menatap tajam dirinya sendiri ”Hmm perfect.” Menghembuskan nafas kasar lalu mengambil bungkusan yang ia bawa sebagai buah tangan.


Fatih kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang mansion besar tersebut. Setelah berbincang sedikit dengan penjaga keamanan, Fatih pun akhirnya diberi izin untuk masuk.


Didalam, ia melihat sepasang suami istri paruh baya yang terlihat harmonis sangat mirip dengan kedua orangtuanya


“Assalamu'alaikum tante, om..” Salam Fatih tersenyum manis

__ADS_1


Dian dan Ilyas lantas berdiri “Wa'alaikum salam.” Jawab keduanya, Fatih hendak menyalam tangan calon mertuanya, namun tangan Ilyas lebih dulu mendarat dipundaknya


“Bukan mahram..” Ucapnya dengan wajah datar


Fatih tak tersinggung, ia malah tersenyum dan merasa bersalah “Haha maafkan saya om..”


Ilyas hanya berdehem. Dian tersenyum melihat pemuda tampan didepannya yang tak pernah berubah “Ayo duduk dulu nak Fatih.”


Fatih pun duduk, ia menaruh buah tangan yang ia bawa diatas meja “Kalau yang ini tidak masalah ‘kan, om?”


Ilyas mengangguk “Lakukan sesukamu.” Jawaban yang sudah Fatih duga


“Wah.. terima kasih yah Fatih, malah repot-repot ini.” Dian jadi sungkan, apalagi suaminya yang sama sekali tak ada ramah-ramahnya.


“Tidak apa-apa tante,”


“Oh yah, kak Lyza gimana kabarnya?” Tanya Dian. Ia cukup mengenal keluarga Warrent, Ares sebagai rekan bisnis suaminya dan juga Lyza teman Dian dulu saat mengantar Dylan dan Delon ke sekolah.


“Alhamdulillah uma baik tante. Tante bisa ke rumah kalau mau.”


Mereka berbincang-bincang sebagai bentuk basa-basi sebelum ke inti utamanya


Fatih berdehem beberapa kali saat tadi Ilyas menanyakan maksud kedatangannya yang tiba-tiba. Ia duduk tegap lalu Melihat kedua mertuanya, eh! CALON mertua! Kalau diterima..


“Sebenarnya saya datang kesini ingin mengutarakan maksud baik saya, tante.. om..” Menghembuskan nafas perlahan lalu kembali mengambil nafas dengan perlahan pula


“Saya berniat.. akan membawa kedua orang tua saya untuk melamar putri om dan tante.” Ucapnya dalam satu tarikan nafas.


Dian membulatkan mata mendengar penuturan pria muda tampan dihadapannya. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba anak dari temannya datang melamar sang putri. Berbeda dengan Ilyas yang langsung memberikan tatapan tajam pada Fatih.


“Beran..__”


Perkataan Ilyas terpotong karena Dian langsung mengambil alih “Apa nak Fatih serius? Maksud tante, apa nak Fatih menyukai salah satu putri Tante?”


“Bukan menyukai tante, tapi saya sudah jatuh cinta pada putri tante.” Ucapnya mencoba untuk tegas walaupun rona merah tak dapat ia tahan di pipi


Semakin kagetlah Dian dan Ilyas. Cinta? Bagaimana bisa? Mereka bahkan tidak pernah bertemu! Pikir kedua orang tua posesif tersebut


“Cinta? Jangan mengatakan omong kosong! Katakan yang jelas tujuan mu sebenarnya ingin menikahi putriku!” Seru Ilyas datar


Fatih menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Ia sebenarnya sangat malu menceritakan perasaannya sendiri


“Ehem.. tentang cinta, saya tidak bohong om.. tante. Saya jatuh cinta pada pertemuan pertama putri bungsu om dan tante..”


“Apa??! Jadi.. maksudnya Ilya?” Tanya Dian tak percaya. Putrinya yang pendiam, datar dan sangat tertutup itu dapat menarik perhatian seorang pengusaha muda tampan.


Berbeda dengan Ilyas yang tiba-tiba melunak mendengarnya. Jika pria baik-baik seperti Fatih yang menikahi anak bungsunya, mereka tak akan khawatir lagi dengan masa depan sang putri yang sangat jarang bergaul dan juga sangat jarang berbicara.


“Kau tidak berbohong dengan perkataan mu tadi? Apa yang membuatmu menyukai putri bungsu ku.” ‘Yang sangat manis’ Pria bucin anak ini hanya bisa mengatakan nya dalam hati


Fatih tersenyum dan kembali berdehem beberapa kali. Padahal niatnya hanya ingin meminta izin, tapi kenapa seluruh isi perasaannya harus ia katakan juga!


“Maaf om, tapi saya sendiri juga tidak tau kenapa bisa mencintai putri bungsu om dan tante. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik tapi saya juga menyukai semua yang dalam dirinya.” Jawabnya dengan suara yang sedikit kecil, ia sangat malu mengutarakan nya.


Mungkin jika dihadapkan calon istri, ia tak akan keberatan. Namun lain cerita jika ia mengutarakan nya dihadapan calon mertuanya.


Dian tersenyum mendengar hal itu, ia tak menampik bahwa memang dari dulu Dian memang selalu berharap agar tuan muda dari keluarga Warrent itu akan menikahi salah satu putri nya


Sama dengan Ilyas, dari Fatih kecil dulu. Ia memang sudah menyukai pria muda tampan didepannya. Tak ada alasan untuk menolak, namun sekali lagi semua keputusan berada ditangan putri bungsunya

__ADS_1


Dian melihat sang suami dan yang dilihat mengangguk Samar membuat senyum Dian melengkung lebar


“Baiklah nak Fatih, kami akan menyambut keluarga nak Fatih datang.”


Perkataan Dian tentu bagaikan mendapat durian runtuh “Alhamdulillah.. terima kasih tante, om.. dua hari lagi saya akan datang bersama keluarga saya.”


”Jangan dua hari, Minggu depan maka kami akan menyambut mu.” Seru Ilyas. Ia harus mengabari semua anak-anaknya agar bisa berkumpul hari itu.


Walaupun sedikit kecewa, Fatih tetap menyetujui. Ia seharusnya bersyukur karena sudah mendapatkan izin dari orang tua gadis pujaannya.


“Baiklah om, saya akan datang Minggu depan bersama keluarga saya.”


Setelah berbasa-basi sedikit, Fatih pun pamit. Ia berjalan cepat menuju mobilnya lalu melajukan mobil dengan kecepatan pelan.


Tidak masalah lambat asal selamat, ia akan membuat dirinya seaman mungkin karena sebentar lagi ia akan menikah, pikirnya.


“Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya sebentar lagi..” Jika bisa ia ingin berteriak sekencang-kencangnya.


Sebelum pulang Fatih terlebih dahulu ke buku toko teman ayahnya. Ia baru saja mendapatkan pesan untuk mengambil pesanan buku dari sana.


Setelah memarkirkan mobil, Fatih keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam toko buku.


“Permisi.. paman Rakanya ada?” tanya Fatih pada Seorang kasir


“Oh.. tuan Fatih, pak Raka ada didalam ruangannya.”


“Okey terima kasih..” Ia pun masuk kedalam ruangan Raka


“Assalamu'alaikum paman..”


Raka mendongak, pria paruh baya itu melihat anak temannya datang “Wa'alaikum salam, Duduk Fatih..”


.


.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Fatih keluar dari dalam toko buku dengan cepat. Ia terlalu larut mengobrol dengan Raka yang membuat nya terlambat lagi ke perusahaan.


Karenanya tak melihat jalan dengan benar, tiba-tiba ada yang menabraknya dari depan. Sontak Fatih langsung memegang pundak perempuan yang hampir jatuh karena menabrak nya. Matanya seketika membole saat melihat siapa yang ada di hadapannya.


Calon istrinya! Gadis pujaannya hatinya! Ilya-nya!


Ilya melepaskan diri ”Maaf tuan.. dan terima kasih..” Fatih menunduk menatap lekat sang pujaan hati


Sedangkan yang ditatap hanya menunduk membuat Fatih gemas dan hanya bisa tersenyum karena masih belum bisa di peluk, dicium atau di karungin!


“Tidak apa-apa, lain kali hati-hati.”


Setelah mengatakan itu, terlihat sang gadis mengangguk lalu berlalu pergi dari sana. Fatih lagi-lagi hanya mengulum senyum melihatnya


“Istriku memang menggemaskan!” padahal belum jadi istri, tapi sudah mengaklaim lebih dulu.


.


.


TBC


kalau kalian tanya kenapa up nya lama bangat 😖 jangan tanya othor, soalnya sistem yang lama me-review 😑

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2