Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Pembicaraan absurd


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Fatih mencoba untuk berbasa-basi. Bercerita dari ujung Timur ke ujung Timur lagi. Namun terlihat jelas Ilya hanya menanggapi dengan deheman, iya, begitu ya, tidak. Hanya itu! Sangat terlihat ia tidak tertarik.


Namun bukannya berhenti, Fatih malah makin menjadi. Menceritakan hal-hal yang menurut Ilya benar-benar diluar akal sehat.


“Ilya, kamu percaya tidak? Kalau seseorang bisa mengulang waktu?” Obrolan absurd rupanya masih berlanjut


“Tidak.” Jawabnya singkat


“Iya juga yah, itu tidak mungkin. Tapi aku ingin tau opini mu tentang itu, boleh beritahu aku?” Fatih tak akan patah arang untuk bisa membuat Ilya berbicara.


Ia merasa menghadapi Tifa, adik bungsunya yang benar-benar datar dan dingin. Bedanya, Ilya masih bisa diajak berbicara sedangkan Tifa, sang adik benar-benar sulit diajak berbicara!!


Ilya nampak berpikir sejenak, setelah mengambil nafas ia pun menjawab “Seperti yang tadi aku katakan, aku gak percaya seseorang bisa ngulang waktu. Aku pernah dengar, katanya kita tidak boleh mengatakan ingin mengulang waktu, karena masa lalu yah masa lalu. Dan menurut ku hal itu juga gak adil untuk orang-orang yang dapat mengulang waktu.” Jawab Ilya


Fatih manggut-manggut, ia tidak menyangka calon istrinya akan menanggapi dengan serius. Padahal pertanyaan yang ia lontarkan adalah pembahasan yang biasa ia bicarakan dengan teman-teman nongkrong nya apabila gabut.


“Hmm aku juga sependapat. Mengulang waktu untuk seseorang, akan sangat tidak adil untuk semua orang di muka bumi ini.”


“Iya,” Respon yang sudah Fatih duga


“Oh yah, kamu suka K-Pop?” Fatih kembali bertanya


“Lagunya, aku lumayan suka lagu-lagunya.”


“Membernya?”


“Gak terlalu, dan juga gak boleh terlalu mengidolakan seseorang. Itu gak baik, aku pernah dengar ceramah, katanya siapa yang kita idolakan saat didunia, maka nanti di Padang Mahsyar saat kita dikumpulkan. Orang-orang yang kita idolakan akan dibangkitkan dekat dengan kita.” itulah Ilya, selalu membawa ceramah yang pernah ia dengar saat berbicara dan berharap orang yang mendengar akan bosan padanya.


Namun sayang, Ilya salah pilih lawan sepertinya. Fatih malah sangat senang dengan jawaban Ilya. Ia juga pernah mendengar ceramah abinya tentang percakapannya sekarang dengan Ilya.


“Bukannya bagus? Dengan begitu kamu bisa lebih dekat dengan mereka ‘kan?”


Ilya mengangguk “Memang, tapi aku bukan orang yang suka dengan hal-hal seperti itu. Lebih baik aku mengidolakan ulama-ulama besar dan juga nabi Muhammad Rasulullah Saw beserta sahabat-sahabatnya.”


Percakapan mereka mengalir begitu saja. Dan Ilya sama sekali tidak sadar kalau ia sekarang sedang berbicara panjang lebar dengan orang asing. Jujur saja, Fatih sangat hebat dalam mencuri perhatian Ilya.


Setiap pertanyaan yang di lontarkan Fatih, pasti akan membuat Ilya tertarik.


“Oh iya.. em.. tuan muda, bisa.__”


“Fatih, panggil Fatih saja.”


Ilya mengangguk “Kak Fatih, bisa tolong berhenti di supermarket diperempatan?”


Fatih tersenyum senang mendengar panggilan Ilya yang tetap sopan “Dengan senang hati.” Jawabnya


Tak terasa, mobil pun sampai didepan mansion. “Aku turun disini saja, kak.”


“Tidak, biar aku antar sampai dihalaman. Sekalian menyapa tante dan om.” Alasan, yah itu hanya alasan Fatih agar bisa berlama-lama dengan Ilya


Ilya hanya mengangguk. Setelah seorang satpam membukakan gerbang, Fatih mengendarai mobil hingga ke halaman mansion.

__ADS_1


Mobil berhenti, terlihat di halaman samping ada keluarga Ilya tengah berkumpul. Fatih menelan ludahnya susah payah saat melihat calon ayah mertua, dan calon kakak iparnya memandangi tajam pada dirinya saat turun dari mobil.


‘Bisa!’


...***...


Setelah beristirahat beberapa saat, Akifa ingin jalan-jalan ke samping halaman depan mansion. Ia tak sengaja melihat ayunan dan rumah koko dibawah pohon ketapang yang terlihat asri. Membuat Akifa ingin kesana berjalan-jalan santai. Apalagi halaman depan dan samping sangat luas.


“Disini juga ada lift yah mas.” Ucap Akifa yang saat itu tengah digandeng sang suami keluar dari dalam lift


“Malahan sangat tidak mungkin kalau di mansion ini tidak ada lift mengingat ke-posesifan ayah.” Ayahnya yang sangat bucin tak mungkin tak memasang lift didalam mansion


Akifa tersenyum geli sembari mengangguk. Ia merasa gemas dengan kedua mertuanya yang selalu nampak harmonis dan romantis mengalahkan pasangan muda-mudi.


“Ada apa? Kenapa senyum-senyum?” Tanya Dylan melihat istrinya yang cengingir tak jelas


“Hehe enggak mas, ayah sama ibu masih kelihatan romantis yah. Dari dulu emang kaya gitu?” Mendongak melihat suaminya yang tinggi. Tinggi Akifa yang hanya sampai seleher sang suami mengharuskan nya mendongak dan jujur kadang hal itu membuat lehernya sakit sendiri.


Padahal menurutnya, ia cukup tinggi dengan tinggi 165 cm.


“Tidak pernah berubah, sikap ayah selalu seperti itu sama ibu. Tidak mengenal tempat dan waktu, untung saja sekarang mas sudah biasa.”


“Hahaha sepertinya sekarang aku yang harus dibiasakan yah mas.” Jawabnya sembari tersenyum lebar. Karena mereka memang berniat untuk tinggal disana sampai Akifa melahirkan.


“Semoga kita juga bakalan kaya ibu sama ayah sampai tua yah mas.” Mengelus perut buncitnya


Dylan tersenyum simpul lantas menaruh tangan nya diatas tangan sang istri yang ada diperut “Aamiin.. kita usahakan.”


“Memangnya bisa? Kayanya susah deh mas. Soalnya aku lihat ayah memang laki-laki romantis. Sedangkan mas...hmmm..” Memindai Suaminya dari atas sampai bawah


“Yah kan mas emang gak ada romantis-romantisnya.” Mengangkat kedua bahu seolah acuh, yah padahal memang suaminya tidak terlalu bisa bersikap romantis. Namun Akifa tetap cinta!


“Oh... Nantangin nih ceritanya? Oke, kalau itu maunya istri Muhammad Dylan Sam, akan saya laksanakan nyonya Dylan.” Tanpa aba-aba, Dylan langsung menggendong sang istri ala bridal


Akifa terpekik tertahan, sontak ia melingkarkan tangannya di leher sang suami “Mas.. jangan ngagetin bisa ‘kan?”


Dylan tertawa pelan “Mas kira di novel-novel yang selalu dibaca Ilya adegannya seperti ini kan.”


“Ilya suka baca novel mas?” Tanya Akifa dengan wajah yang tak percaya. Melihat sifat Ilya, ia sama sekali tidak percaya akan perkataan sang suami


“Begitu-begitu, Ilya juga baca Novel. Seperti novel yang akhir-akhir ini kamu baca.”


Akifa manggut-manggut, walaupun ada rasa tak percaya namun mendengar Dylan mengatakan nya tanpa ragu Ilya jadi percaya dengan tiba-tiba.


“Masih mau yang lebih romantis lagi? Atau kita pergi makan malam romantis sambil melihat pemandangan kota? Ke Paris misalkan?” Tanya lagi Dylan sembari melangkah


Akifa Mendongak melihat suaminya dengan wajah yang berbinar “Paris mas? Benar? Kita bisa ke Paris? Mau.. mau.. aku mau mas!!” Jawab Akifa bersemangat. Salah satu impian Akifa sebelum akhir hayat yang pernah ia buat semasa SMA adalah ke Paris!


Melihat antusiasme istrinya membuat senyuman lebar terbit dibibir Dylan “Tentu saja, bahkan keliling dunia pun mas bisa bawa istri mas!” Ucapnya menyombongkan diri


“Yakin? Bukannya mas sibuk bangat yah?”

__ADS_1


“Kalau soal itu bisa diatur. Kapan-kapan kita ke Paris, bagaimana? Hmm?” Dylan tidak ingin membuat sang istri bersedih. Jujur saja selama ini ia memang selalu sibuk di rumah sakit, namun selama 5 bulan ini ia akan cuti dan menemani istrinya di mansion kedua orang tuanya.


Wajah Akifa kembali berbinar “Benar mas? Yesss akhirnya bisa ke Paris juga...” Girang Akifa, hampir saja ia melompat-lompat digendongan suaminya sebelum ultimatum panjang lebar diberikan Dylan yang membuat Akifa kembali diam


“Hehe maaf mas.. aku kesenangan, bisa sekalian bulan madu ‘kan.”


Dylan mendengus “Senang sih.. senang.. tapi jangan lompat-lompat juga sayang, Untung mas kuat. Kalau tidak bisa gawat!” ia kembali melangkahkan kaki sesaat setelah tadi ia berhenti karena Akifa hampir melompat


“Tapi benar juga yah, kita bisa sekalian bulan madu.”


”Kan.. aku udah gak sabar.”


Dylan tersenyum, ia menunduk lalu mengecup bibir istrinya “Kemana lagi? Hal romantis apalagi yang kamu mau? Hmm?”


“Aku mau diajak naik basoka mas..” Suara seseorang yang sangat dikenal Dylan dan Akifa terdengar dari arah dapur.


Sontak keduanya menoleh melihat sumber suara “Baksonya mas Dylan..” Seru Ilmy mendekati pasutri tersebut hanya dengan menggunakan daster sebetis dan rambut di sanggul seadanya.


Saat sore-sore seperti ini, tidak ada pelayan yang diizinkan masuk kedalam mansion. Karena Ilmy yang jarang menggunakan hijab jika didalam mansion.


“Cie... Yang lagaknya kaya pengantin baru padahal udah mau jadi orang tua..” Goda nya lagi


Wajah Akifa sudah merah karena kedapatan sedang digendong oleh suaminya sendiri. Niat hati ingin menyuruh Dylan menurunkan nya namun yang dikode malah tersenyum manis tanpa menjawan kodeannya.


“Jomblo karat minggir.” Sindir Dylan menyinggungkan senyum miring


Ilmy tersedak ludah mendengar penuturan kakak kembarnya “Huh! Mentang-mentang udah punya pasangan sombong!!”


“Iya dong.” Jawab Dylan memanjangkan suaranya “Iya kan sayang.” Mengecup kening istrinya


“Mas..” Tegur Akifa “Maaf kak Ilmy, mas Dylan orangnya memang agak laen.”


Ilmy tergelak “Iya benar Fa, hahahhah.”


Sedangkan Dylan mendengus “Sayang..” Menekankan perkataan


“Hehehe maaf mas. Kan mas Dylan memang lain dari yang lain, iya kan suaminya Akifa?”


Dylan tersenyum simpul “Iya dong sayang.” Jawabnya dengan nada bangga


Sedangkan Ilmy memutar bola mata malas melihat kelakuan pasutri didepannya yang membuat jiwa jomblonya meronta minta nikah!


‘Sabar, si doi masih suka lari’


.


.


.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2