Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Pregnant


__ADS_3

Fatih terusik, ia merasakan pergerakan yang cepat disampingnya. Tak lama terdengar suara mual-mual dari dalam kamar mandi. Karena suara tersebut sangat ia kenali, sontak Fatih membuka mata.


Ia mencari keberadaan istrinya disamping, namun tak ia temukan.


Hoek.. hoek..


Kembali terdengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi, sontak Fatih bangun dari tidurnya dan langsung berlari masuk kedalam kamar mandi yang ungungnya tak terkunci.


“Sayang.. kamu kenapa?” Tanya Fatih khawatir sambil menghampiri sang istri yang tengah muntah di wastafel.


Hoek.. Hoek..


Fatih memijat pelan Tengkuk istrinya sembari mengusap-usap lengan Ilya.


Ilya membasuh wajah, ia nampak pucat. Kepalanya sakit akibat mual yang ia alami. Wanita itu menyandarkan punggungnya didada sang suami


“Aku panggil dokter yah.” Mengusap lengan istrinya lembut


Ilya mengangguk pelan, ia tak ingin membantah karena memang kepalanya sangat sakit. Belum lagi perutnya seperti diaduk. Dan lagi, Ilya adalah orang yang tidak akan pernah meremehkan sebuah penyakit, sekecil apapun itu.


Karena sesuatu yang kecil bisa saja dimasa depan menjadi besar.


Fatih menggendong sang istri, membawanya kembali kedalam kamar. Pria itu menidurkan Ilya diatas ranjang.


“Tunggu disini.” Mengecup kening Ilya


Fatih turun kebawah untuk menyuruh pelayan membuatkan bubur setelah tadi ia menghubungi dokter keluarga untuk datang memeriksa kondisi istrinya.


“Tolong, usahakan agar buburnya hangat yah bi.” Tidak panas maupun dingin, Fatih ingin yang terbaik untuk Ilya.


Bi Marwa mengangguk “Baik tuan.” Ujar wanita paruh baya tersebut “Kalau boleh tau, nyonya kenapa tuan?” Tanya bi Marwa karena tidak biasanya sang nyonya seperti ini.


“Itu bi, tiba-tiba saja istriku muntah-muntah. Kepalanya juga sakit.”


“Muntahannya cairan bening kental, tuan?” Bi Marwa kembali berkata dengan praduga nya.


“Loh kok bibi tau, apa bi Marwa tau istriku sakit apa?” Tanya Fatih berharap. Setidaknya ia berharap apa yang dialami sang istri bukanlah sesuatu yang membahayakan.


Bi Marwa terdiam sejenak “Begini tuan, gejala yang dialami nyonya Ilya sama dengan yang pernah dialami menantu bibi saat hamil muda.”


Fatih terdiam, apa mungkin hal itu benar? Pikirnya. Sesuatu didalam dada tiba-tiba bergejolak memikirkan kemungkinan yang terjadi. ia nampak memikirkan sesuatu “Begitu yah bi, doakan saja yah.”


“Aamiin. Semoga nyonya benar-benar hamil, tuan.”


“Aamiin..”


Setelah itu Fatih kembali ke kamarnya. Perbincangan dengan bi Marwa tadi membuat Fatih bersemangat. Bisa jadi yang dikatakan bi Marwa tadi benar dan semoga memang benar.


Sesampainya dikamar, Fatih duduk di tepi ranjang sembari mengusap-usap kepala istrinya “Masih sakit, sayang?”


Ilya mengangguk pelan menandakan bahwa kepala serta perutnya masih sakit. Ia ingin muntah namun tak ada yang keluar, sungguh sangat menyiksa.


Tak lama seorang dokter datang. Fatih mempersilahkan pria paruh baya tersebut memeriksa kondisi istrinya


“Bagaimana paman? Apa ada yang salah dengan istri saya?” Tanya Fatih saat melihat dokter tersebut selesai memeriksa kondisi sang istri


“Tidak ada yang salah Fatih. Tapi..” Dokter Ridwan menggantung ucapannya


“Tapi?”

__ADS_1


“Maaf ini sedikit sensitif. Kalau boleh tau kapan terakhir istri kamu datang bulan?” tanya Dokter Ridwan sedikit ambigu.


Fatih terdiam “Jangan bilang..” ia sepertinya sudah tau apa yang terjadi pada sang istri


Pria paruh baya tersebut tersenyum lalu mengangguk “Kemungkinan besar seperti itu.” Jawaban dokter Ridwan membuat senyuman Fatih mengembang lebar


“Sebaiknya periksakan lebih dulu ke dokter kandungan, atau bisa lebih dulu memastikan nya menggunakan tes pack.” Lanjutnya


Fatih mengangguk antusias “Terima kasih paman.”


Setelah itu dokter Ridwan pun pamit undur diri. Ia hanya memberikan obat pereda mual untuk Ilya dan obat sakit kepala yang aman dikonsumsi tanpa efek samping.


Setelah kepergian dokter Ridwan, Fatih dengan sigap menghubungi satpam yang berjaga untuk membelikannya tes pack


“Tolong yah pak, kalau bisa yang lebih akurat.” Seru Fatih diseberang telepon setelah mengatakan apa yang ia inginkan


“Baik tuan, nanti akan langsung saya antarkan.” Yang diseberang telepon menyanggupi. Segera satpam itu ke apotek untuk membeli pesanan sang tuan.


Ilya yang saat itu sayup-sayup mendengar percakapan dokter dengan suaminya serta saat sang suami menghubungi bawahannya terbangun pelan


“Kak..” Lirih Ilya mencoba duduk


Fatih dengan sigap membantu sang istri untuk duduk “Ada apa, hmm? Haus? Lapar? Pengen makan?” Tanya Fatih perhatian


Ilya menggeleng pelan “Kak apa maksudnya Ilya... Hamil?” Entah mengapa ia ragu kalau dirinya sedang hamil, bisa jadi ia hanya masuk angin.


Fatih Menggenggam tangan Ilya “Kakak juga tidak tau, tapi kita bismillah saja. Semoga memang ada yang tumbuh disini.” Mengusap perut Ilya


Ilya terdiam, ia sedikit ragu akan hal itu. Selama ini Ilya tak pernah memikirkan sekali pun kakau suatu hari dirinya akan hamil dan menjadi seorang ibu. Ia gusar, benarkah dirinya hamil?


Fatih yang menyadari kegusaran sang istri membelai pipi Ilya “Ilya tidak mau hamil anak kakak?” Apakah istrinya benar-benar tidak mau hamil? Kalau begitu apa yang harus ia lakukan? Akankah ia mendukung istrinya atau membantah nya?


“Enggak! Bukan gitu.” Sanggah Ilya cepat “Ilya cuman ragu kalau hamil, soalnya kita baru nikah tiga Minggu loh kak. Masa langsung hamil?” Ia menjelaskan takut prianya salah paham.


Fatih tersenyum lega, untunglah ia tak harus memilih antara istri atau mempertahankan anaknya. Benar juga, ini bukan sintetron yang mempunyai banyak drama, pikirnya


“Kenapa harus ragu? Tidak perlu ragu, anak itu rezeki. Kalau kita punya anak berarti itu memang rezeki kita. Apapun takdir yang diberikan Allah, semuanya harus disyukuri. Dan lagi, kita ‘kan memang selalu melakukan nya. Jadi tidak heran kalau kamu hamil, sayang.” Ia sangat gemas dengan istrinya yang menurutnya sangat polos.


Ilya tersenyum, benar juga. Bukannya anak itu titipan dari Allah SWT. kalau sudah rezeki pasti dapat!


“Iya kak, maaf yah Ilya sempat ragu.” Ia jadi merasa bersalah karena kesannya tadi dia tidak ingin mempunyai anak.


“Tidak apa-apa, itu cukup lumrah. Apalagi Ilya masih muda. Pasti belum siap jadi seorang ibu. Kakak ngerti kok.” Mengelus kepala istrinya


Ilya semakin dibuat klepek-klepek dengan perkataan Fatih. Sangat manis, ahh rasanya ia akan meleleh. Bagaimana mungkin Fatih bisa sepeka itu?


Tak lama kemudian pesanan tes pack sudah datang. Tak tanggung-tanggung ada berbagai macam merk serta model yang dibeli pak satpam.


“Pakai satu ajah yah kak,” Mengambil tes pack panjang yang hampir sama dengan termometer. Setidaknya alat itu sering ia lihat saat menonton drama atau saat membaca novel.


“Iya, tidak apa-apa yang lainnya bisa disimpan untuk cadangan.” Siapa tau di masa depan akan ada anak yang kedua? Ketiga? Atau keempat? Siapa yang tau?


Ilya mengangguk lalu masuk kedalam kamar mandi. Ia menunggu hasilnya, entah karena terlalu gugup rasa sakit yang sedari tadi pagi menyerang sudah tak ia rasakan.


Begitupun dengan Fatih yang setia menunggu diluar kamar mandi. Perasaannya cukup campur aduk, walaupun tadi ia dengan percaya diri meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, apakah benar ia sudah siap menjadi seorang ayah?


Walaupun dulu ia sangat suka mengkhayal ‘kan anak-anaknya dengan Ilya. Namun saat akan mengalaminya sendiri Fatih jadi deg-degan. Sungguh ia sangat senang.


Drtt.. drtt.. drtt...

__ADS_1


Getaran ponsel diatas nakas mengagetkan Fatih. Pria tampan itu mengambil ponselnya yang bergetar. Tertera nomor sang asisten yang menelpon, mungkin menanyakan dirinya yang sekarang tak ke perusahaan.


“Assalamu'alaikum.. maaf belum sempat menghubungi.” Ucap Fatih


“...”


“Aku tidak bisa ke perusahaan hari ini, istri aku sedang tidak enak badan.”


“...”


“Oke, aku percayakan padamu.” Setelah berbincang cukup lama sampi ia tak sadar istrinya sudah keluar dari kamar mandi dan sekarang sedang menunggu nya. Fatih pun memutuskan sambungan telepon.


“Kak sibuk bangat yah? Kenapa gak berangkat kerja ajah?” Tanya Ilya


“Astagfirullah sayang! Kamu bikin kaget saja. Bagaimana hasilnya?” Fatih malah lebih antusias dengan tes pack yang tadi digunakan Ilya


Seketika senyum Ilya mengembang lebar, ia memberikan tes pack itu kedapa suaminya “Garis dua.” Ucap Ilya antusias


Tanpa melihat tes pack itu, Fatih langsung memeluk erat sang istri. Ia melihat tes pack utu dari balik punggung Ilya, dan benar saja memang ada garis dua disana yang berwarna merah.


Cup..


Cup..


Cup..


Serangan kecupan ia berikan pada wajah serta pucuk kepala Istri nya “Terima kasih.. terima kasih.. sayang. I love you.. i love you so much.”


Ilya balas memeluk tubuh suaminya “Ilya juga senang, makasih kak udah datang lamar Ilya.” Ia merasa sangat beruntung sekarang karena telah dilamar oleh tuan muda dari keluarga Warrent tersebut.


Fatih menuntun istrinya duduk diatas sofa “Tidak kakak yang berterima kasih karena Ilya menerima lamaran kakak waktu itu.” Kembali mengecup bibir Istrinya lalu turun ke perut sang istri


“Assalamu'alaikum anak ayah..” Satu kecupan kembali ia daratkan di perut istrinya


Ilya tersenyum haru. Ia mengelus kepala sang suami yang ada di atas perutnya “Kira-kira Ilya bisa gak yah jadi ibu yang baik?” Mengingat sifatnya yang sedikit cuek dan memang tidak terlalu menyukai anak-anak, apakah ia bisa menjadi seorang ibu?


Fatih menarik diri lalu melihat wajah istrinya yang tiba-tiba gundah, lantas pria itu menangkup pipi istrinya “Kakak yakin Ilya akan jadi seorang ibu yang hebat. Kita sama-sama belajar menjadi orang tua yang hebat untuk anak-anak kita.”


“Tapi kak, Ilya gak terlalu suka anak kecil. Bagaimana kalau nanti Ilya malah..__”


“Hust.. kakak yakin Ilya tidak seperti itu. Bagaimana perasaan mu waktu lihat Al?”


“Baby Alan?” Fatih mengangguk, Ilya tersenyum lucu “Baby Alan menggemaskan kak, rasanya Ilya pengen bawa pulang.”


Fatih tertawa gemas “Itu, sudah membuktikan kalau Ilya itu sebenarnya suka sama anak kecil. Tapi karena kurang berinteraksi dengan anak-anak makanya Ilya beranggapan tidak menyukai anak-anak.”


“Benar juga yah, berarti Ilya tidak benci anak-anak ‘kan?”


Fatih mengangguk mantap “Pasti!” Lalu kembali melumaat bibir ranum sang istri dan disambut dengan baik oleh Ilya.


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2