Cassino Kings ( Griffin Struggle )

Cassino Kings ( Griffin Struggle )
Chapter 10


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Ketika Griffin baru saja ingin menjawabnya, tiba – tiba saja ponsel Griffin berbunyi, dan memperlihatkan nama kakeknya di sana.


“Siall, tua bangka itu,” gumamnya yang merasa begitu kesal ketika Arvan kerap kali menganggunya ketika dirinya sedang bahagia.


“Angkatlah, aku bisa menunggu,” seru Kintan, yang kemudian dengan berani membuka ponsel Griffin dan melihat pesan yang dikirimkan oleh Arvan ketika panggilan itu telah mati.


Hanya Kintan yang bisa dan berani membuka ponsel Griffin untuk memeriksa isi di dalamnya, “Gak ada apa – apa sayang, aku jarang berkomunikasi oleh siapapun,” tungkas Griffin, yang sepertinya tahu apa yang sedang di cari oleh Kintan di dalam ponselnya.


Kintan menghela nafasnya, lalu membuang ponsel Griffin begitu saja ke sebelahnya. “Pergilah, Lord Arvan menunggumu,” ucap Kintan, yang kini sedang berusaha bangkit untuk membuka pakaiannya.


Griffin menggelengkan kepalanya pelan, “Apa maksudnya?” tanya Kintan.


“Aku tidak akan pulang, sebelun aku benar – benar melihatmu selesai mandi dan beristirahat,” jawab Griffin, yang kini mulai beralih untuk mengangkat tubuh Kintan lagi untuk masuk ke dalam kamar mandi.


“Fin, pulanglah, aku bisa sendiri,” ucap Kintan, membelai lembut wajah pria yang begitu dia cintai, sambil menatap mata indah itu, untuk meyakinkan bahwa dia sedang baik – baik saja.


“Pergilah,” sambungnya lagi, ketika Griffin hanya diam dengan menatapnya.


Karena Kintan berinisiatif sendiri, dia mengeccup bibir Griffin dengan lembut.


“Sudah, go,”


“Tapi, aku gak bisa meninggalkanmu, setelah aku menyakitimu, setidaknya biarkanlah aku merawatmu malam ini,” tolak Griffin, yang sebenarnya hanya beralasan ingin terus bersama Kintan menghabiskan malam ini bersama.


“Jangan, aku baik – baik saja, pulanglah, dan jangan terlalu sering mendekatiku jika sedang di luar,” Griffin semakin kesal ketika Kintan kini berada di pihak si tua bangka.


“Oke Fine aku pulang,” jawab Griffin dengan sedikit membanting pintu.


Kintan sudah begitu hafal dengan sikap mantan kekasihnya itu, dengan helaan nafas yang berat, akhirnya Kintan melepaskan kaca mata power rengers dari gunung kembarnya, serta Gstring yang masih dia gunakan saat main tadi. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini, ada rasa bahagia ketika Griffinlah yang menjadi orang pertama baginya, akan tetapi tetap saja dia merasa sedih, karena seandainya dia menyerahkan semua ini sedari awal, mungkin Griffin tidak akan salah sasaran pada malam itu, hingga meniduri Lyla.


Terbesit rasa bersalah dari dalam dirinya, dia begitu munafik ketika meminta Griffin untuk menahan hasratnya pada malam itu, dia yang sama sekali tidak bisa membantu kekasihnya yang pada malam itu sedang menderita karena tidak sengaja meminum obat perangsanng dari salah satu teman mereka, akhirnya harus ikhlas menerima ketika Griffin menjadikan Lyla sebagai partner ranjangnya.

__ADS_1


“Hhaa, semuanya juga sudah terjadi,” batinnya yang tidak mau lagi melihat ke belakang.


Dan ketika Kintan mengira Griffin telah pergi, tiba – tiba saja pria itu masuk lagi ke dalam kamar mandi, dan melihat tubuh polos Kintan yang benar – benar tanpa penghalang.


“Fin,” pekik Kintan, dan langsung menetupi dadaa dan apomnya.


“Maaf, tadi aku mengambil kunci mobil yang ketinggalan dan lupa berpamitan denganmu,” ucap Griffin tanpa rasa bersalah dan langsung segera pergi, sebelum Kintan kembali marah dengannya.


***


Griffin yang sudah sampai di mobilnya, kini kembali melihat rumah Kintan.


Dia tidak bisa menghindari perasaanya dia kepada Kintan, namun Lyla, dia juga menyayangi Lyla, tetapi tidak sebesar perasaannya pada Kintan.


“Ahhh, aku tidak ingin Fokus dengan semua ini dulu, aku ingin fokus dengan pembunuh papah dan mamah terlebih dahulu,” ucapnya pada diri sendiri, untuk meyakinkan dirinya agar tetap fokus pada misi mereka.


Griffin harus mencari tahu ciri – ciri orang itu dari oppanya Mario, dan itu berarti mengharuskannya untuk terbang ke Paris.


Ketika Griffin baru saja ingin menyalakan mobilnya, dia mendapatkan sebuah panggilan, dan yang kali ini menurutnya sangatlah penting.


“Ahhh kakak sedang bersama dengan kak Kintan ya,” sambungnya lagi, namun Griffin hanya tersenyum saja mendengarnya.


“Bagaimana kabarmu?” Tanya Griffin pada wanita itu.


Wanita itu terlihat tersenyum bahagia sambil menganggukan kepalanya pelan, namun ada satu yang ditangkap oleh Griffin, adik kecilnya itu berarti sedang merasa sedih ketika dirinya memegang liontin kalungnya.


“Linzi, apakah semuanya baik – baik saja?” tanya Griffin meyakinkan jawaban gadis remajanya itu.


“Aku – aku hanya merasa sepi kak, ketika aku pindah ke rumah Kakak Jingga bersama dengan suaminya di Jakarta ini, semuanya terasa sangat berbeda,”


“Dulu kak Jingga begitu perhatian kepadaku, namun sekarang dia terasa asing bagiku,” Linzi bercerita, dengan tanpa dia sadari, air mata mengalir dari pipinya.


Griffin mengehela nafasnya berat, dia sudah tahu bahwa ini semua pasti akan terjadi.


“Linzi, kakak harus menyelesaikan pekerjaan kakak dulu, setelah itu kakak berjanji akan mengunjungimu di sana,” imbuh Griffin, yang mengucapkan janji agar wanita remajanya itu merasakan bahagia.

__ADS_1


“Baiklah kak, aku tunggu ya, bye – bye,” setelah itu panggilan mereka terputus.


Griffi yang begitu malas, kini harus melajukan mobilnya ke arah Mansion utama, dia tidak tahu apa lagi yang ingin dibahas pria tua bodoh itu kepadanya.


Sudah begitu lama dirinya tidak pulang ke Mansion utama, setelah kejadian di mana dirinya ketahuan tengah menyusun rencana untuk menghancurkan rumah tangga Brio dan Vita, sejak saat itulah kebenciannya kepada seluruh keluarganya semakin besar, hingga memilih untuk keluar dari rumah itu dan memilih untuk tinggal sendiri dan menjalankan bisnisnya sendiri.


“Masih ingat pulang kamu ternyata,” suara Bass yang menghentikan langkahnya ketika dia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion besar ini.


Griffin memutar bola matanya malas, jika bukan karena permintaan Kintan yang menyuruhnya untuk pulang, maka dirinya tidak akan pernah lagi pulang ke Mansion ini.


“Griffin,” suara itu terdengar semakin emosi, ketika nama yang dipanggilnya sama sekali tidak menyahutinya.


“Ada apa?” tanya Griffin begitu santai. Dirinya benar – benar sangat tidak suka dengan pria tua ini.


“Sudah beberapa tahun ini kamu tidak pulang, dan tidak pernah sedikitpun kamu mengatakan maaf kepada keluarga ini, terutama pada Brio dan istrinya, sekarang kamu dengan tidak tahu dirinya lewat begitu saja dan melupakan keluarga ini.” Arvan mengeluarkan urat – urat kemarahan di wajahnya.


Dia pikir tadi ketika dirinya meminta cucunya ini pulang, cucunya ini akan berubah dan meminta maaf kepadanya atas apa yang terjadi selama ini.


“Apakah Anda sudah selesai bicaranya?” tanya Griffin dengan begitu santai, tidak sedikitpun terlihat rasa bersalah dari wajahnya.


“Griffin,” sentak Arvan, begitu lelah dengan sikap Griffin yang tidak pernah mau berubah.


“Anda, mau saya meminta maaf kepada siapa? Apakah Anda lupa? Jika Anda sendiri tidak pernah mengajarkan saya untuk minta maaf kepada siapapun?” singungg Griffin pada kakeknya, mengatakan sebuah fakta, bahwa sampai detik ini, Arvan belum pernah meminta maaf kepada Jingga maupun Linzi, terutama kepada Dara.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*

__ADS_1


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*


__ADS_2