
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah menenangkan Deri, kini Aditiya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, wajah Aditiya memang masih sangat tampan. Di usianya yang sudah menginjak 50 tahun itu, dirinya masih terlihat sangat tampan.
Sudah 50 tahun ini, dirinya hidup dengan rasa amarah dan juga dendam dengan keluarga besar tersebut. Dan dirinya meyakinkan bahwa tahun ini adalah tahun di mana dendam Papahnya harus di balas dengan cara yang lebih menyakitkan dari kematian papahnya dulu.
“Tunggu saja Mario, kehidupan bahagiamu sudah saatnya Harus berakhir,” lirihnya dengan semerik iblis yang tercipta di raut wajahnya.
“Sudah saatnya kamu menginzinkan tamu penderitaan itu masuk ke dalam kehidupanmu. Kematian Putri dan menantumu itu dulu, sama sekali tidak memberikanku rasa puas, dan sekarang sudah saatnya untuk menumpahkan darahmu itu.” Aditiya benar – benar yakin, bahwa seranganya kali ini pasti akan meluluh lantahkan semuanya. Karena dulu dia merasa bahwa lawan terberatnya itu adalah Arvan.
Dan setelah kematian Arvan, dirinya tidak ingin lagi membuang waktu untuk segera mengakhiri semua ini.
“Tunggu sebentar lagi, Mario, hidupmu akan berakhir.” Ucapnya, tanpa dia sadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang mendengarkan semua kalimatnya.
Deri, yang tadinya hanya berniat untuk menanyakan tentang keadaan orang tua Kintan, kini malah terdiam ketika dirinya mendapatkan fakta bahwa Papahnya dulu pernah membunuh sepasang suami istri, dan bahkan sekarang berniat untuk melakukan kudeta kembali.
“Mario?” lirihnya pelan, dan sebelum dirinya ketahuan oleh Papahnya, Deri segera melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kamar.
Otak Deri terus saja berpikir tentang kalimat Papahnya tadi, bagaimana bisa Papahnya mengatakan tentang Ketidak puasaan hatinya setelah membunuh.
“Aku yakin, pasti ada yang tidak beres dari semua ini,” batin Deri, yang mulai merasakan bahwa pasti ada konspirasi besar yang telah dibuat papahnya.
Setelah selesai mengikat janji suci mereka, Kini Griffin dan Historia, sudah berada di Indonesia, tempat di mana Griffin dibesarkan.
“Griffin, ini?” tanya Historia, ketika dia merasa ragu untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Rumah Clasic dengan menyungsung interior jepang, menjadikan rumah ini lebih mencolok dari rumah lainnya.
“Aku sudah menikahimu, juga sudah tidak mempunyai hutang budi apa pun dengan siapa pun,” tegas Griffin pada Historia, ketika mereka tengah duduk di ruang tamu rumah tersebut.
Historia paham bahwa dirinya tidak bisa meminta lebih dari sekadar status oleh Griffin.
Bahkan sepanjangan jalanpun Historia memilih diam saja dari pada harus berdebat dengan pria di hadapannya ini.
“Aku sudah membebaskanmu dari ayahmu Martin, serta ibu tirimu, jadi setelah ini kehidupanmu tergantung dari bagaimana caramu bersikap,” ucap Griffin lagi.
__ADS_1
Historia kembali diam, lalu melihat ke arah jari – jari tangannya, yang di mana terdapat sebuah cincin kawin bertahtahkan berlian.
Sedangkan Griffin yang sama sekali tidak mendapatkan respon apa pun dari Historia, kini Memilih untuk bersiap kembali, agar bisa segera sampai di Italia.
*****
Sedangkan di sisi lain, Deri yang sudah dari semalam mendapatkan sebuah kecurigaan kuat tentang konspirasi kudeta ini, kini memilih untuk terus berwaspada.
Dia akhirnya sadar, bahwa dirinya masihlah seorang anggota CIA yang akan melindungi hukum Pemerintahan.
Dirinya juga sekelibatan ingat malam pembantaian itu, dan mendengar dengan jelas bahwa mamahnya berteriak katakan pada suamiku.
“Aarrrggghhhh,” jerit Deri, ketika dirinya merasakan sakit di kepalanya karena terus memaksa ingatan di masa itu.
“Aku?” gumamnya bingung. Dia tidak tahu kebencian yang di tanamnya pada Griffin ini apakah benar atau tidak.
***
“Griffin bayi, diasingkan oleh kakeknya, karena ada sebuah penyerangan yang sempat menewaskan ke dua orang tuanya pada malam itu,” jelas Lyla pada Deri, ketika pria itu menanyakan tentang traumatic yang dimiliki oleh sahabat masa lalunya itu.
“Siapa? Siapa yang berani membunuh orang tuanya?” Tanya Deri lagi, semakin berusaha Menggali informasi sedetail mungkin.
“Tidak ada satupun dari kita yang mengetahui siapa pembunuh itu, tapi yang jelas, Kakek Mario pernah mengatakan bahwa pembunuh itu memiliki Tato harimau Di tubuhnya, serta lambang bintang di dadanya.”
***
“Lambang bintang? Tato Harimau?” gumam Deri lagi, sambil terus berpikir bahwa dirinya pernah melihat tanda bintang itu, tapi di?
Ke dua bola mata Deri seketika membesar, ketika dia mengingat siapa pemiliknya, “Ini pasti tidak mungkin, bisa saja yang aku lihat ini adalah salah,” ucap Deri, namun segera beranjak untuk menghampiri papahnya.
Dia sangat yakin, bahwa jam segini pasti papahnya itu tengah melakukan olahraga, dan jarang sekali memakai baju ketika sedang berkeringat.
DEG, jantung Deri terasa ingin lepas dari tempatnya ketika dirinya melihat tato harimau yang dimiliki oleh Papahnya.
“Apa?” tanyanya terkejut, serta raut wajah yang menampilkan kebingungan.
“Ja – jadi, pembunuh orang tua Griffin adalah –“ ucapnya terhenti, ketika dirinya nyaris saja masuk ke dalam jurang hasutan papahnya.
__ADS_1
“Aditiya,” gumam Deri, dan langsung pergi begitu saja untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
***
Kini kepala Deri benar – benar terasa sangat sakit. Dirinya tidak tahu sekarang harus berdiri di mana.
Apakah dirinya harus terus melanjutkan misi untuk menyelesaikan kasus Cassino itu? Ataukah dirinya harus berdiri dan mendukung Griffin dengan pasti membunuh Papahnya? Atau membantu Papahnya untuk menghabisi keluarga Manopo?
“Arrggghhhh, aku benar – benar kacau saat ini, apa Yang harus aku lakukan sekarang?”
Berulang kali Deri mondar mandir agar bisa memunculkan ide di kepalanya, Namun tetap saja ide itu tidak mau muncul sama sekali.
“Sepertinya aku harus meminta bantuan dari Tuan Mario,” gumamnya pelan.
“Intinya sekarang, aku harus menyelesaikan kasus Cassino itu dulu, aku yakin jika Griffin masih mempunyai hati untuk menyudahi permainan itu.”
Deri kembali terdiam sejenak, dia kembali berpikir untuk mencari tahu apa yang sebenarnya apa yang membuat Griffin sampai harus bersikap seperti sekarang?
“Aku yakin, pasti ada jalan dari semua ini, dan aku akan bertanya, apakah benar bahwa keluarga besar itu yang telah membunuh Mamah.” Deri menarik nafasnya sedalam mungkin, sambil terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa rencana ini, biarkan dirinya sendiri yang bergerak tanpa harus melibatkan orang lain.
Dan untuk masalah Kintan, mungkin dia akan meminta maaf lebih dulu kepada wanita itu, lalu membebaskan ke dua orang tuanya.
Karena saat ini, banyak penjaga yang pasti akan berpihak kepada Aditiya, dan jika dia sembarangan melangkah, pasti akan sangat bahaya nantinya untuk Kintan sendiri kalau sampai rencananya diketahui oleh Aditiya.
***
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*