Cassino Kings ( Griffin Struggle )

Cassino Kings ( Griffin Struggle )
Chapter 46


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Setelah kepergian Albert dan Mario, Briell bangun dari kepura - puraannya tidur.


“Weyy, luu sudah bangun ya?” Tanya Tabib Ahcong itu.


Briell menganggukan kepalanya pelan, lalu dia menoleh ke arah Robert, meminta pria itu untuk menjelaskan semuanya kepada Tabib Achong.


“Apakah kamu sudah mengerti?” Tanya Robert pada tabib.


“Sudah loh, tapi saya tidak tahu macam mana boleh buat? Tapi pasti akan saya usahakan.” Ucap Tabib itu lagi, dan akhirnya mulailah mereka menyusun rencana sembari menunggu Albert balik ke Cyberaya.


***


“Briell, Albert sudah perjalanan balik ke sini, kamu harus cepat, waktu kita hanya 30 menit!” Perintah Robert, membuat Briell menghela nafasnya panjang.


“Kamu siap?” Tanya Robert, lalu memberikan Briell obat racikan pertama yang berjumlah 30 butir.


Dengan menarik nafasnya panjang, Briell mencoba untuk meminum obat itu. Lalu dia tersenyum dan merasa jika dia bisa melakukkan itu.


Namun berbeda dengan Robert, jantungnya dag dig dug, karena merasa takut jika Briell akan mati beneran karenanya.


5 menit sudah berlalu, dan Briell mulai kehilangan fokusnya dia tersenyum seperti orang pencandu yang sedang berhalusinasi.


“Briell, Briell,” ucap Robert, meminta Briell kembali membuka mulutnya dan meminum obat racikan ke dua yang berjumlah 50 butir.


Briell tidak bisa menelan semua obat - obat itu, “Telan Briell, please telan, waktu kita gak banyak!” Pinta Robert, membungkam mulut Briell, agar dia tetap meminum obat itu.


Dua menit yang Briell butuhkan untuk meminum obat itu, namun pada akhirnya dia merasa semakin menurun kesadaraan.


“Huekkkk,hueeekk.” 7 menit sudah berlalu, ketika Robert mau memasukan obat racikan yang ke tiga, Briell ternyata tidak sanggup dan bahkan dia memuntahkan racikan ke ke dua dan pertama.


“Aku tidak bisa, aku tidak bisa.” Keluh Briell, di saat perjalanan mereka sudah berada di tenang.


Robert mendengar suara pesawat yang sudah mendekat. “Kenapa mereka datang lebih cepat?” Gumam Robert, dan merasa pusing dengan semua ini, Albert yang sudah datang, namun Briell belum mati.


Lalu Robert melihat sebuah kolam air bersih, yang memang sengaja di letak di sana untuk mempermudahkan mereka mengambil air minum.


Sedari tadi, tabib Achong hanya diam saja melihat prilaku antara Briell dan juga Robert. “Tabib, tolong panggil pelayan untuk membersihkan semua itu!” Perintah Robert pada tabib itu.

__ADS_1


Dan segera tabib itu memanggil pelayan agar bisa segera membersihkan obat - obatan yang tersisa serta muntahan Briell tadi.


Sedangkan Robert, kini berusaha menekan kepala Briell di dalam air, “kublukkk - kubblukkk.” Briell kesulitan bernafas, dan itu membuat Robert semakin keras untuk menekan kepala Briell. Hingga dua menit kemudian, Briell tidak lagi bergerak.


“Briell,” panggil Robert, dan Briell sama sekali tidak bergerak bahkan bernafas.


Merasa berhasil, Robert langsung membawa Briell naik ke atas tempat tidur, dan meninggalkan Briell bersama dengan tabib itu.


***


Jika di dalam Robert berusaha untuk membunuh Briell, lain halnya dengan Albert, Sesampainya dia di Markas, dengan berlari sangat cepat Albert memasuki ruangan istrinya.


Dan hatinya benar-benar hancur ketika melihat sosok yang sudahh di tutupi oleh kain putih.


“Enggak,,ini gak mungkin,, ini gakkkk mungggkkkinnnnnnnnnnn,” teriaknya histeris lalu melangkah membuka kain itu.


Dan begitu jelas matanya menatap ke arah wajah wanita yang sangat dia cintai sudah pergi meninggalkanya untuk selama-lamanya.


“Briell sayangg, heyy bangun yuukk, anak kita sudah sembuh sayang,,ayo bangunn kamu harus bangunn untuk mendukung putra kita Gabrieelllaaaaa, hisskkk,, Briell bangun,” tangisnya benar-benar tidak tahu harus bagaimana.


“Aaarrrrgggghhh praaaangggg bruuugggghhh,” Albert menggila dengan menghancurkan seluruh barang yang ada.


Baginya jantung dan hatinya jauh lebih sakit melihat istri yang begitu dia cintai, kini telah pergi meninggalkan dirinya.


“Briell sayang, kamu dulu pernah berjanji jika kita akan berjuang bersama-sama, dan hidup dalam satu hembusan nafas begitu juga mati dalam ikatan cinta, lalu mengapa kamu pergi sendiri tanpa membawaku? Aku gak sanggup menahan semua ini demi Tuhan aku gak sanggup Briell, aku lemah aku gak mampu berdiri tanpa ada yang menopang ku.” Lirihnya menatap wajah Briell yang terlihat sudah tenang.


Albert diam duduk termenung mengingat seluruh perkataan indah yang keluar dari mulut istrinya dulu. "Karna aku percaya, ketulusan hati yang kamu miliki saat ini akan merubah segalanya seiring berjalannya waktu nanti. Aku dan kamu adalah satu, aku akan berusaha melindungimu, membuktikan kepadamu jika aku layak bersamamu, apa pun permasalahanya, seberat apa pun itu, tolong jangan pernah tinggalkan aku,aku akan terus bersamamu, menemanimu, dan berusaha mencintamu. Aku mau kita bersama untuk melewati segalanya, kamu bahagia, aku bahagia, kamu sedih, aku sedih, kamu fight, aku fight, kamu mati, aku juga mati." Kalimat Briell yang terus menerus terngiang di kepalanya.


Albert benar-benar tidak sanggup mengingkari janjinya itu. “Kamu mati aku juga mati,” tangisnya kembali pecah mengingat janji yang terucap dulu.


Ini adalah pilihan sulit untuk Albert, “Griffin, hiduplah dengan damai son, maaf Papah mengambil jalan seperti ini, sungguh Papah tidak sanggup memikul semuanya, Papah mencintamu dan Mamah, tapi Papah sudah berjanji lebih dulu jika akan hidup dan mati bersama-sama. Papah yakin setelah ini kamu akan hidup dengan bahagia sayang, maafin Papah karna belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk kamu sayang.” Lirihnya menangis di pelukan istrinya.


Dia juga mengingat jika beberapa jam yang lalu, dia masih di beri kesempatan untuk memeluk dan meyapa putranya di saat Griffin baru terbangun dari obat biusnya.


Bagaimana putranya mersepon dan berbicara denganya, bagaiaman dia menyentuh lembut kulit tubuh itu, betapa hangatnya dekapan kasih sayang yang di berikan kepada Putranya Griffin untuk yang pertama dan terakhir kali.


Dia memeluk tubuh kaku Briell dengan Robert, Tabib dan Gina yang sudah terlihat menangis melihat itu.


Robert merasa bersalah dengan kejadian ini, Namun ini juga adalah sebuah misi yang sangat penting. Dia terus menangis sembari melihat ke arah jam tangannya, pasalnya Briell tidak boleh mati lewat dari 15 menit.


Luka yang di terus mengeluarkan darah itu kini semakin mencengram dadanya.

__ADS_1


Albert merasakan sesak yang berlebih, karna dirinya yang merasa tertekan dan terus menerus bergerak dan membuat luka itu kembali terbuka dan semakin membuatnya lemah.


“Maafkan Papah Griffin,terus melangkahlah Nak, yakinlah jika suatu saat nanti kamu akan bahagia, jadilah anak yang berbakti dan tegaslah pada keputusanmu, doa Papah dan Mamah akan selalu menyertaimu. Raini Griffin Erol. Papah mencintaimu Nak, Papah mencintamu.”


Dan tak lama kemudian, Mario dan Eden datang untuk melihat jasad Briell.


Buuuuggghhhh, Mario kali ini benar-benar tak mampu menopang kakinya.


Hilang sudah harapan untuk melihat putrinya sembuh dan kembali ke pelukanya.


“Ba,,bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah tadi kalian bilang dia sudah melewati masa kritisnya? Lalu ini apa?” bentaknya pada Robert dan tabib itu.


“Maaf Tuan, ketika Anda dan Tuan Albert pergi tadi, Nona Briell menunjukkan reaksi yang tak terduga, dan tiba-tiba saja dia menjadi drop dan kami sudah berusaha untuk mengembalikan detakan jantungnya, namun tidak ada balasan maupun respon dari Nona, hingga kami benar-benar menyerah dan meyatakan jika Nona Briell sudah tidak bisa di selamatkan lagi.” Jawab Tabib tadi dengan suara yang bergertar menahan rasa sakit.


Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa Briell, dan ini sangat penting baginya. Briell mengingatkanya pada sosok putrinya yang juga pergi tanpa bisa di selamatkan.


“Saya mohon ampun Tuan, tapi saya menyerah, saya bukan Tuhan yang mampu menyelamatkan nyawa putri saya dan juga putri Anda, maafkan saya Tuan.” Tangis Tabib itu yang mengingat kejadian di saat dirinya menjadi Mario saat ini.


Sakit kehilangan sosok putri yang paling di cintai itu memanglah sangat sakit. Dan siapapun tidak akan pernah bisa mengikhlaskanya.


Dan itulah yang membuat tabib itu sampai mengembara jauh ke Brazil agar bisa melupakan kenangan pahit itu.


Sedangkan Eden kini melangkah mendekat ke arah Albert yang sedang memeluk tubuh Briell tanpa pergerakan.


10 menit berlalu, Robert membuat sebuah alasan agar mereka bisa keluar lebih dulu, agar Robert bisa menjalankan rencananya yang ke dua.


****


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*

__ADS_1


__ADS_2