
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Dorr,,doorr,,dorrr,,dorr,,dorr,, dorrr,,dorr.
“Tidaaakkkkkkkkkkkk,” teriak Eden ketakutan, ketika Aiden menembak kepala Arvan hingga benar – benar hancur tak tersisa.
Mario langsung mengambil alih pistol dari tangan Aiden, namun siapa sangka, Aiden malah langsung menembak Eden di bagian perut.
“Aideeennn,” hanya suara sentakan yang bisa Mario keluarkan dan bahkan tangisannya pecah ketika melihat istrinya yang sudah tidak sadarkan diri dengan luka tembak di perutnya.
Sedangkan Griffin kini hanya terdiam, melihat Arvan yang sudah berada di pangkuanya, bahkan darah kepala Arvan yang muncrat mengenai wajahnya hingga luka operasi yang masih basah itu, mengeluarkan rasa sakit yang bahkan dia sudah tidak bisa rasakan lagi.
“Kamu harus mati Griffin, kamu wajib matiiiiiii, banggsaaatttt,” jeritan Aiden dan kembali mengangkat pistolnya untuk membunuh Griffin.
“Pah, sudah pah, sudah,” suara Freya terdengar menyadarkan Aiden, dan menarik pria itu keluar.
“Sudah tolong sudah, jangan seperti ini,” Freya yang baru datang merasa terlambat ketika melihat dua nyawa sudah menjadi korban atas kesalahan dari Griffin.
Stella yang juga mengikuti langkah dari Freya yang mengatakan ingin menyusul Aiden kebawah, kini dikejutkan dengan sosok pria dengan kepala yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi.
Bughh, tubuh Stella terjatuh dan bahkan rasanya tidak bisa digerakan lagi.
“Mario bawalah istrimu agar segera mendapatkan perawatan terlebih dahulu!” perintah Arnon kepada Mario, karena dia yakin Eden masih bisa diselamatkan.
“Tolong lihat keadaan Griffin,” Mario menganggukan kepalanya dan segera mengangkat tubuh Eden yang sudah mulai melemah.
“Dan kamu Freya, bawa suamimu kembali ke kamar Lyla terlebih dahulu, tenangkan dia, biar papah yang akan mengurus di sini,” sambung Arnon memberikan perintah kepada menantunya, agar segera membawa Aiden dari sana.
Stella perlahan merangkak ke arah jasad kakaknya, dia ingin melihat, apakah dia salah dalam mengenali orang, apakah ini benar – benar Arvan kakanya, atau ini hanya sosok yang mirip dengan kakaknya.
Dengan penuh perasaan takut, Stella membalikan tubuh yang sejak tadi terlungkup di atas pangkuan Griffin.
__ADS_1
“Huaaaaaaa,,,” tangis Stella benar – benar pecah saat ini.
Itu benar kakaknya, itu benar Arvan, itu benar sosok pahwalanya.
Stella mengusap wajahnya kasar, kenapa harus kakaknya yang mengorbankan nyawanya seperti ini.
“Sabar sayang, ini semua bukan kehendak kita sama sekali, kita gak tau kalau keadaanya akan seperti ini,” Arnon tahu, ketika istrinya menangis tanpa suara, itu menandakan bahwa Stella benar – benar hancur saat ini.
“Gak akan ada lagi yang memanggilku Shea, gak akan lagi yang memarahiku ketika aku bertingkah tidak sopan kepada siapapun, hiskkk,,hisskkk,”
“Pleasee, Arnon dia kakak aku, satu – satunya keluarga yang aku punya, kenapa kematiannya harus seperti ini.” Stella menatap ke arah Griffin yang sejak tadi hanya diam saja tanpa ekspresi.
Tidak ada siratan kemarahan dari mata Stella, tetapi hanya ungkapan kekecewaan yang sangat sulit diartikan.
“Sudah puas Nak? Griffin sudah puas sekarang iya?” tanya Stella dengan begitu lembut.
Griffin masih terdiam, bahkan dia masih bingung dengan pernyataan Puaskah?
***
Hari pemakamanpun tiba, Baik Jenni maupun Stella, ke dua wanita yang sangat begitu menyayangi Arvan itu, kini terlihat begitu terpuruk, bahkan Jenni dengan kondisinya yang memang sudah melemah, kini semakin drop di buatnya.
Semua keluarga besar tengah berkumpul di dalam ruang tamu, di sana terlihat ada Alson dan keluarga yang lainnya yang masih merasakan duka atas kepergian Arvan, Namun, yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika mereka masih berduka, tetapi Robert datang dengan membawa beberapa Pengacara serta Notaris bersamanya.
“Seperti yang sudah pernah disampaikan oleh mendiang Lord Arvan sebelumnya, maka semua aset, semua kedudukan keluarga Manopo saat ini, semuanya secara sah dan Legal menjadi milik dari Lord Griffin,” sebuah pernyataan yang bahkan seluruh keluarga sudah sangat tidak perduli mendengarnya.
“Kamu marah kepada kami semua, kamu benci dengan kami semua, karena kamu merasa bahwa dunia ini tidak adil kepadamu, Karena kamu merasa keluarga ini begitu tega hingga membuatmu merasakan hidup serba kekurangan dan serba sulit sedangkan kami hidup dengan berlimapah,” ujar Stella, dengan menatap Griffin sendu.
Anak itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dari kejadian kematian Arvan, hingga pada saat semua keluarga berkumpul saja, dia masih enggab membuka mulut apa lagi sekedar mengucapkan kata maaf atau apapun , sepertinya tidak sama sekali terlintas di dalam otaknya.
“Ambilah semuanya Fin, semua Harta ini, kekayaan ini, Tahta ini, bahkan Kebahagiaan ini, ambil dan rengkuh semuanya,” kalimat Stella yang membuat Griffin kini mulai mengangkat kepalanya dan melihat wajah Stella yang sedang menatapnya.
“Dulu kamu mengatakan, bahwa kamu menginginkan sebuah keluarga, sebuah kehangatan yang belum pernah kamu dapatkan sebelumnya.”
__ADS_1
“Tapi sekarang? Kamu menghancurkan keluarga ini, kamu tidak mendapatkan apa – apa Fin, kamu hancurkan masa depan Lyla Terus sekarang kamu buang dia begitu saja? Kamu pikir kamu adalah orang hebat?”
“Bahkan, orang tuamu saja jika masih berada di sini, akan saya pastikan dia menangis ketika melihat kelakuan anaknya yang sudah seperti BINATANG,” Stella tidak henti – hentinya mengeluarkan kalimat demi kalimat yang sangat menohok untuk Griffin.
Baginya, jika saja Arvan dulu tidak merasa bersalah kepada Albert dan Briell, pasti kakaknya itu tidak akan pernah menyelamatkan Griffin pada saat baby.
Alson sosok yang begitu kalem dan bahkan tidak pernah marah pada siapapun, kini juga ikut menyimpan dendam kepada anak dari kembaranya itu.
“Masih teringat jelas, pada saat kematian kedua orang tuamu, kami semua di sini sangat bersedih, bahkan Papah saya, tidak memperdulikan keadaanya untuk mencari keberadaanmu yang diculik pada saat baru lahir, Papah saya dan juga Aiden, Papah dari Lyla wanita yang kamu –“
“Ahh, saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mengatakannya,” Alson berucap dengan mengusap wajahnya kasar ketika mendengar semua kelakuan bejat Griffin pada Lyla.
“Mereka itulah yang menyelamatkan hidupmu, mereja yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan nyawamu, tidakkah kamu mengucapkan terima kasih kepada mereka? Atau setidaknya kamu berpikir untuk membalas jasa – jasa mereka? Papah saya lebih sayang loh sama kamu dari pada sama saya? Tapi kamu kan tidak bisa berpikir, kamu buta dengan keserakahan dirimu sendiri,” Alson sudah tidak tahu lagi, bagaimana menyikapi ini semua.
Yang jelas sekarang, dia ingin menyelesaikan semua ini, sudah cukup bertahun – tahun kehidupan keluarga ini hanya harus memikirkan tentang Griffin saja.
Mereka juga ingin hidup, Mereka mempunyai keluarga sendiri, dan sudah waktunya Griffin memilih jalannya sendiri, seperti apa yang selama ini dia kehendaki.
*To Be Continue. **
Note: Brina dan Aldo, Mila dan Ares sama Chiko dan Jasmine. Malam nyusul updatenya ya. Soalnya Mimin ada Ibadah sore ini. Jadi Mimin updatenya malam saja, karena belum selesai. Di tunggu saja notifnya ya 🙏🏻🙏🏻
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
__ADS_1