
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Deri saat ini memilih untuk mengambil penerbangan ke Amerika untuk melaporkan dulu situasi sekarang serta dia ingin melaporkan tentang kematian Sarah, partnernya.
Sembari menunggu boording pass, Deri menatap kosong ke arah kaca yang memperlihatkan banyaknya pesawat yang sedang menunggu jadwal keberangkatan.
Ingatannya terbang mengingat Di saat kedatangannya bersama dengan Sarah. Begitu banyak misi yang mereka kerjakan, dan seharusnya dia sebagai seorang pria bisa menyelamatkan Sarah.
Lalu dia beralih melihat ke arah tanganya, sudah dua orang meninggal karena ulahnya.
“Mungkin jika Tuan Arvan masih hidup, aku bisa menanyakan tentang kejadian di masa itu.” Deri berucap di dalam hatinya. Kepalanya benar – benar sangat pusing sekarang.
Untuk sejenak dia merasakan bahagia, ketika telah bertemu dengan Ayah kandungnya. Tetapi, mungkin karena rasa amarahnya ketika melihat kematian Sarah yang begitu saja, di tambah hasutan Aditiya yang menyatakan bahwa keluarga Griffin adalah pembunuh Mamahnya, maka mungkin dia tidak akan bertindak segila ini.
Deri terlihat meringis sendiri, ketika dia mengingat sikapnya kemarin, “Arrrgggh, bodoh sekali kamu Der,” umpatnya di dalam hati.
“Andai saja kamu tidak mementingkan emosi, dan terus saja memikirkan strategi seperti biasanya, pasti kamu tidak akan mendapatkan penyesalan seperti ini,” ucapnya dengan rasa penyesalan yang tidak dapat bisa digambarkan.
**
Di sisi lain, Griffin yang baru saja ingin berangkat pergi meninggalkan Historia kini tengah sama – sama duduk di ruang tamu.
Semalam dia sadar bahwa dirinya juga telah mengambil hal yang paling berharga dari istrinya itu.
“Aku pergi,” pamit Griffin pada Historia, yang dijawab dengan anggukan kepala pelan.
__ADS_1
“Apakah kamu tidak ingin mengatakan apa pun?” tanya Griffin begitu penasaran. Karena seharusnya wanita ini bertanya kemana dia akan pergi.
Griffin merasa kikuk sendiri, ketika dirinya menyadari bahwa dia sudah terlalu kikuk di hadapan Historia.
“Mampirlah jika ada kesempatan,” ucap Historia pelan. Hanya kalimat itu yang mampu dia lontarkan untuk saat ini.
Griffin kembali menatap Historia, menunggu apakah ada kalimat lanjutannya atau tidak. “Aku tahu,” sahut Griffin dengan singkat. Lalu tidak lama kemudian dia mulai beranjak pergi meninggalkan Historia begitu saja.
Sudah Satu bulanan berlalu, Deri yang tidak henti memohon ampun pada Aiden, dan bahkan pernah dalam posisi sekarat, karena Aiden yang nyaris mengambil jantung di tubuhnya, kini harus rela hidup dengan banyaknya luka bekas operasi yang dibuat oleh Aiden kepadanya.
Sampai detik ini, bahkan dirinya tidak berhenti mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena ketika dia mengingat betapa mengenaskan dirinya dulu.
Perut yang dirobek, dada yang bolong karena luka tembakkan, beruntung tidak mengenai jantungnya, tetapi dia harus hidup dengan paru – paru baru dan juga ginjal baru, karena ada beberapa organnya yang hancur karena ulah Aiden.
Tujuannya hanya ingin Aiden tahu, bahwa dirinya benar – benar tulus meminta maaf dengan keadaan Lyla yang cacat karenanya.
Dan karena dirinya yang sudah tidak sempurna, dengan keadaanya yang belum pulih, Deri mendapatkan kabar buruk lagi, ketika dirinya harus dipecat secara tidak hormat dari pekerjaanya dengan alasan Pengkhianatan.
Kini Deri, tengah duduk di sebuah makam milik mendiang Zein. “Sudah begitu lama kita tidak bertemu,” lirihnya pelan, dengan memandang foto yang ada di dekat batu nisan itu.
“Paman,” panggilannya untuk Zein.
Dia begitu mengingat saat di mana Zein mengambilnya dari jalanan dan menjadikannya sosok seperti sekarang.
Deri kembali diam, setelah dirinya tidak tahu harus berbicara apa dengan Zein.
“Besok aku akan datang lagi, Paman,” sudah seminggu ini, Deri memang selalu saja datang ke makam Zein.
__ADS_1
Meskipun dia tidak mengatakan apa pun, namun diamnya itu sudah pasti bisa mengungkapkan betapa kosongnya dirinya saat ini.
Aiden yang berniat mengunjungi makam Zein juga, kini langkahnya terhenti ketika melihat Deri yang berada di sana.
Terbesit rasa penyesalan di dalam hatinya jika mengingat betapa kejamnya dia menciptakan rasa sakit di tubuh pria itu.
Deri yang menyadari kedatangan Aiden, kini hanya bisa terpaku menatap sosok paruh baya, yang nyaris merenggutnya nyawanya itu.
“Tuan Aiden,” lirihnya pelan, sambil membungkukkan tubuhnya, hormat kepada sosok itu.
Aiden mengedipkan matanya dengan pelan, “Hari ini datanglah ke rumah,” seru Aiden, dan langsung melangkahkan kakinya pergi, tanpa memberikan penjelasan apa pun, membuat Deri mendadak bingung.
Namun, seketika dia melihat ke arah tubuhnya, “Sudah tidak ada celah lagi untuknya mumutilasiku apa lagi menguliti tubuhku,” gumamnya pelan, dengan sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bagaimana bisa, aku berurusan dengan Manusia itu? Mana aku sudah janji mau nikahin putrinya lagi.” Deri merasa takut kali ini dengan Aiden. Ternyata, tentang kekejaman keluarga besar Mereka yang ramai diperbincangkan itu bukanlah hanya sebuah omong kosong ataupun gosip saja. Tetapi dirinya sudah benar – benar merasakannya, walaupun baru dengan Aiden saja.
“Terima Kasih Tuhan, engkau menyadarkanku dari kegilaan menantang Iblis kematian itu, engkau menyelamatkan nyawaku sebelum aku menghadapi Griffin,” batin Deri, yang tak henti – hentinya mengucapkan syukur, atas penyelamatan yang Tuhan berikan kepadanya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*