
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah mengusir Kintan dari rumahnya, ketika Griffin baru saja ingin melangkahkan kakinya, dia merasa bahwa ada yang sedang memperhatikannnya, dan lalu dia menolehkan kepalanya untuk melihat ke atas.
“Sudah selesai melihat pertunjukkannya?” Tanya Griffin tiba – tiba, sontak mengejutkan Historia yang berada di sana.
“Apa?” Tanya Historia balik.
“Apa kamu tidak tahu, jika melihat apa lagi menguping pembicaraan orang lain itu adalah attitude yang buruk?” Ucap Griffin lagi.
Historia yang merasa sudah ketahuan, kini hanya mengedikan bahunya singkat, dan mau tidak mau dia turun ke bawah untuk datang kepada Griffin.
“Suamiku, ada banyak hal yang aku tidak tahu mengenaimu, tetapi aku mengetahui hal itu dari orang lain.” Historia, menatap ke arah Griffin dengan lekat.
“Tetapi, aku tahu, sebenarnya yang kamu inginkan dan yang kamu butuhkan, bukanlah seorang pengikut ataupun sebuah konpirasi.” Sambungnya lagi, lalu dengan gerakan cepat dia memeluk tubuh suaminya itu.
Sontak saja, Griffin terkejut, ketika mendapatkan sebuah pelukan yang tiba – tiba seperti ini, dia bahkan sudah lupa, kapan terakhir kalinya dia mendapatkan sebuah pelukan hangat nan tulus seperti ini.
Mungkin saja dia bisa mendapatkannya dari keluarga besarnya, tetapi, dia sendiri yang memilih untuk tidak mau menerima itu semua.
Historia sendiri, wanita yang datang dengan ketulusan di hatinya, dengan kalimat yang begitu sederhana mampu membuat jantungnya bergetar dan rasanya ingin berteriak mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.
“Griffin yang terlihat, aku tahu bahwa dia tidak sejahat dan sekuat itu.”
“Aku tahu, pilihanmu sekarang adalah berjalan di dalam dunia kegelapan. Tetapi, aku sarankan, kamu untuk membuka matamu, agar kamu bisa melihat seberkas cahaya yang akan menuntumu ke jalan yang berbeda dari masa lalumu untuk sekarang.” Nasihat kembali diberikan oleh Historia. Tidak akan pernah dia berhenti untuk menarik Griffin dari lorong kejahatan yang selama ini menyakiti banyak orang.
Griffin tersenyum sinis mendengar kalimat yang dilontarkan oleh istrinya, “aku sudah lama menutup kedua mataku serta hatiku Historia, Tujuanku sekarang hanya berada di jalan kegelapan.” Tandas Griffin, lalu melepaskan pelukan istrinya begitu saja.
Griffin melangkah dengan pelan, berjalan lalu mengambil sebuah pisau buah yang berada di atas meja ruang tamu. “Apakah kamu tahu? Apakah kamu paham, kenapa di sini,” ucapnya sembari memegang ke arah dadanya.
__ADS_1
“Di sini bukan bukan luka, tetapi rasanya di sini sangat sekali! Apakah kamu tahu? Bagaimana caranya agar aku bisa medapatkan obat dari rasa sakit ini?” Tantangnya kepada Historia.
Dari semua hal yang dilakkukan hanyalah karena ingin menekan rasa sakit di dalam dadanya itu, rasa sakit yang bahkan sama sekali tidak memperlihatkan darah apa lagi luka, tetapi rasanya sangat begitu perih dan membuatnya begitu sakit.
Historia paham dengan situasi ini, dan dia kembali mendekat ke arah Griffin, lalu mengambil pisau kecil itu dari tangan suaminya.
Sreeeekkkk, dia mengiris telapak tanganya sendiri di depan Griffin. “Historia, apa yang kamu lakukkan?!” Bentak pria itu, yang marah melihat tindakan istrinya.
Tetapi, bukannya memperlihatkan kesakitaanya, Historia justru tersenyum sembari memperlihatkan darah yang mengalir dari telapak tangannya itu.
“Luka ini, disebut dengan luka Fisik, pasti akan berdarah dan juga terlihat sangat menyakitkan. Tetapi seiring berjalannya waktu, luka ini akan sembuh dengan sendirinya, apa lagi jika dibantu dengan beberapa obat – obatan itu akan membuatnya lebih cepat sembuh.”
“Tetapi, masalahnya sekarang, itu adalah luka di dalam hati, dan tidak mudah untuk disembuhkan.”
“Luka Hati?” Gumam Griffin mengulang kalimat istrinya.
“Luka hati itu sedikit berbeda dengan luka fisik, kamu tidak akan bisa membeli obatnya ataupun yang lainnya, dan bahkan kadang – kadang itu tidak bisa sembuh.” Ungkap Historia, yang lalu mengambil tissue, untuk menghentikan darah yang mengalir dari tangannya. Sedangkan Griffin, kini hanya terlihat teremenung sembari terus memegangi dadanya mendengar semua kalimat yang diungkapkan oleh istrinya.
“Hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan luka hati,” seru Historia lagi.
“Apa nama dari obat itu?” Tanya Griffin dengan antusias. Dia sangat ingin tahu, apa yang bisa menyembuhkan rasa sakit dihatinya itu. Sudah begitu lama dia mencari obat itu, tetapi kenapa baru sekarang dia bisa mengetahuinya.
Historia tertawa kecil mendengar suaminya bertanya dengan wajah yang begitu excited, “nama obatnya adalah Kasih Sayang dan juga Cinta yang tulus.”
“Kasih sayang dan cinta yang tulus?”
“Iya Benar,” sahut Historia, ketika tahu bahwa suaminya ragu akan jawabannya.
“Bagaimana aku bisa mendapatkannya?” Tanya Griffin ragu, mengingat dia bahkan tidak tahu apa arti dari kata kasih sayang apa lagi cinta.
“Kamu sudah mendapatkannya Lord Griffin,” jawab Historia lagi.
__ADS_1
“Dari mereka.” Tunjuk Historia pada foto Mamah dan Papah Griffin.
“Dan dari sini.” Timpalnya lagi, mengarahkan tangan Griffin ke arah perutnya.
“Cukup itu saja yang kamu percayai sekarang, sisanya, biarkan waktu yang akan perlahan membalut luka hati itu.”
Griffin menatap Historia dengan tatapan yang sulit diartikan, seumur hidupnya, tidak pernah ada yang menasihatinya dengan kalimat yang begitu sederhana serta kelembutan. Yang ada selama ini semuanya hanya penuh emosi dan sama sekali tidak pernah menanyakan apa yang dia rasakan dan apa keinginannya.
Dirinya tentu saja menolak semua yang Historia katakan, apa lagi, dengan posisi saat ini, hanya Historia yang pernah melihat dia melemah dan bahkan seperti anak kecil yang sedang mendengarkan gurunya.
Historia yang mendapatkan suaminya diam, kini memilih kembali untuk memeluknya. Dia mencurahkan semuanya, hanya Griffinlah satu – satunya yang dia punya saat ini. Hanya Griffinlah yang menjadi pelindungnya saat ini.
“Beristirahatlah Historia, besok kita akan melakukkan penerbangan ke Italia,” ucap Griffin tiba – tiba. Dan hanya di jawab anggukan kepala pelan oleh Historia.
Tidak ada pertanyaan ataupun pernyataan yang keluar lagi dari mulut wanita itu, tubuhnya memang sangat begitu lelah, setelah menghadiri acara pernikahaan Lyla dan Deri tadi.
Tetapi sebelum Historia pergi masuk ke dalam kamar, Griffin lebih dulu membantu istrinya itu untuk membalut luka tadi, luka yang karena ingin menasihatinyah istrinya sampai rela mengiris tangannya sendiri.
“Mamah, kenapa aku merasa dia berbeda dari yang lain?” Batin Griffin, sembari membalut telapak tangan Historia dengan perban.
***
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*