
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah menunggu waktu yang cukup lama, terlihat Albert dan Briell turun untuk menemui yang lainnya.
“Bagaimana? Apakah sudah mendapatkan titik terang?” Tanya Briell pada yang lainnya.
Brio yang sudah selesai melacak nomor itu, terlihat menganggukan kepalanya pelan. Lalu memberikan data itu pada kakaknya.
“Kintan? Siapa itu Kintan?” tanya Briell pada siapapun yang mengetahui nama itu.
“Kintan itu adalah anak buahnya Griffin,” sahut Aiden, yang memang mengetahui siapa itu Kintan.
Briell kembali berusaha memahami situasi, sedangkan Lyla sudah di bawa ke kamar karena dia berulang kali pingsan menanyakan nasib suaminya.
“Fin,” panggil Briell, tapi tidak mendapatkan sosok putranya itu di sekelilingnya.
“Kemana anak ini?” Tanya Briell pada Albert di belakangnya.
“Sepertinya dia masuk ke kamarnya untuk menemui Historia sebentar.” Jawab Albert, menurut sepengetahuannya.
“Apakah kita akan bergerak?” Tanya Albert menatap istrinya.
Briell mengusap wajahnya, lalu dia duduk di sofa menatap wajah keluarganya satu persatu. “Aku tidak yakin kalau kamu dan Griffin bisa menyelesaikan ini.” Ungkap Briell, memberitahukan keraguan dalam hatinya.
“Kita akan bertemu lagi Briell.” Seru Albert, yang tahu bahwa istrinya bukan ragu, melainkan takut.
“Kembalilah dengan membawa kemenangan, dan jangan sampai ada yang kehilangan nyawa.” Tuntutnya pada Albert.
“Tunggu, aku ikut! Aku ayah mertua dari Dery, dan aku harus melihat sendiri keadaannya untuk memastikan, apakah dia baik - baik saja atau tidak.” Ujar Aiden, yang terlihat mau ikut dengan peperangan antara Albert dan masa lalu.
“Sayang, tidak, kamu tidak boleh ikut, aku takut kamu kenapa - kenapa.” Freya melarang Aiden suaminya untuk ikut.
Jika Briell yang biasanya terlihat santai dan tenang saja bisa sekhawatir itu, berarti masalah ini bukanlah sesuatu yang di anggap main - main.
“Tapi Freya, aku ada tanggung jawab di dalamnya. Dan aku sebagai laki - laki sudah seharusnya membantu.” Bantah Aiden tidak perduli dengan larangan istrinya.
Sedangkan di belakang, Terlihat Griffin yang baru turun dengan Historia. Mereka terlihat sudah siap dengan koper mereka. “Untuk apa kamu membawa banyak barang?” Tanya Albert pada putranya.
“Ini barangku dengan Historia.” Jawab Griffin singkat.
“Kenapa Histo harus ikut? Ini bukan mau liburan Griffin, kamu itu kenapa sih?!” Sentak Briell, yang tidak mau Histo dan bayinya kenapa - kenapa.
“Aku lebih baik ada Histo Mah, kalau dia jauh aku malah lebih khawatir.” Sahut Griffin, yang tetap kekeh ingin membawa istrinya bersamanya.
__ADS_1
Briell merasa lebih pusing saat ini, anaknya ini sangatlah keras kepala, dan sama sekali tidak bisa di beri tahukan dengan baik.
“Terserah sudah, tapi kalau Histo dan Calon cucu mamah ada kenapa - kenapa, maka kepalamu juga akan Mamah penggal!” Tegasnya membuat keputusan.
Griffin dengan santainya hanya diam saja, karena baginya kalau Histo kenapa - kenapa, ya berarti juga tidak ada arti hidupnya.
***
Jika di sisi lain sedang mempersiapkan diri untuk menuju peperangan. Berbeda halnya dengan kubu Aditiya.
Pria itu terlihat begitu bahagia karena memiliki Kintan dan Dery sebagai tahanan.
“Papah, kenapa papah harus melakukan ini Pah? Apa kesalahan mereka sama Papah sampai Papah berbuat demikian?” Tanya Derry, yang sejak dulu merasa penasaraan apa motof Aditiya selalu menyerang keluarga Griffin.
“Kamu mau tahu alasannya?” Tanya Aditiya dengan senyumnya yang terlihat menyimpan kepahitan.
“Saya tidak akan pernah rela melihat kematian Papah saya Daniel.” Jawabnya sendiri, dia mengingat kembali kejadian di mana Papahnya di seret dengan begitu kejinya menggunakan mobil sport.
“Hahahhahah Lucas, sayangnya pria itu sudah mati, jika tidak aku akan lebih dulu membunuhnya dengan ke dua tanganku ini.” Timpalnya lagi, memperlihatkan kepalan di ke dua tangannya.
“Tidak mungkin mereka membunuh tanpa ada kesalahan Pah, mungkin saja -“
“Mungkin saja apa?!” Sentak Aditiya lebih dulu. Merasa tidak terim jika Ayah kebangganya itu di salahkan oleh anak tidak tahu diri ini.
Adit berjalan mendekat ke arah jendela, “papah saya adalah pria yang sangat baik, dia menolong seorang gadis yang paman saya tabrak, dia mendonorkan darahnya agar gadis itu tetap hidup, tapi balasan apa yang dia dapatkan?” Jelasnya, lalu menoleh menatap tajam ke arah Derry.
Namun, Dery hanya terdiam saja karena dia memang tidak mengetahui persoalan itu. Seandainya jika dia di ceritakan atau di jelaskan lebih dulu. Mungkin Dery bisa membantah atau sedikit menyadarkan Papahnya.
“Kenapa kamu diam? Bukankah kamu tadi menyalahkan papahku?” Tanyanya lagi, menuntut jawaban dari putranya.
“Pah, apapun yang terjadi di masa lalu, biaah terjadi, pergi dan buatlah masa depan papah sendiri.” Tandasnya, namun bukannya iba, Adit malah terlihat tertawa mendengar perkataan putranya itu.
“Diam kamu anak sial!” Sentaknya pada Derry.
“Kamu itu adalah anak sial! Kenapa kamu tidak mati saja!”
“Dulu kehidupanku bahagia bersama dengan Neriz, tapi wanita itu malah kekeh untuk melahirkan kamu.”
“Sehingga kematian yang pantas untuknya hahahahhahahaha.” Aditiya memang terlihat seperti orang yang sakit.
Namun, satu kalimat yang dapat di tangkap oleh Dery. “Kematian yang pantas untuknya? Itu berarti kamu adalah pembunuh ibuku?!”
“Kamu yang bunuh Mamah, kamu yang -“
“Ya, memang aku!” Jawab Aditiya, tidak mau menutupi kebenaranya.
__ADS_1
“Kamu benar - benar laki - laki keji! Kamu adalah iblis, kamu tidak pantas di sebut manusia -“ pekiknya, merasa begitu marah pada Adit.
Sekian lama dia mencari siapa pembunuh Mamahnya, tapi ternyata pembunuhnya adalah ayah kandungnya sendiri.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa kamu membunuhnya?” Lirihnya bertanya, dengan suara yang benar - benar sudah sangat lesuh.
“Aku sudah bilang, karena dia mau mempertahankan kamu! Seandainya dia mau menurut dan membunuhmu semenjak lahir, maka sekarang aku tidak membunuhnya.” Jawab Adit dengan begitu santai.
Dery benar - benar tidak habis pikir, kenapa bisa ada manusia seperti Adit di dalam hidupnya ini.
Setelah puas berbicara dengan Dery, tatapan Aditiya jatuh pada Kintan yang sejak tadi hanya diam dan menangis saja.
“Kenapa kamu menangis?” Tanya Aditiya, pada Kintan yang menundukkan kepalanya.
“Angkat kepalamu!” Sentaknya membuat Kintan lebih ketakutan.
“Hiskk,,hiskkk,,hiskk,hisskkk.” Tangis Kintan tanpa memperdulikan perintah Adit.
Adit yang kesal memberikan kode pada anak buahnya untuk mengangkat kepala wanita itu.
Dengan patuh salah satu anak buah Adit, langsung melaksanakan tugasnya, dia menjambak rambut Kintan, agar wanita itu mendangakan kepalanya.
“Apakah kamu menangisi kematianmu?” Tanya Adit pada Kintan, sembari mengusap wajah Kintan dengan lembut menggunakan pisau di tanganya.
Kintan ketakutan, bahkan dia tidak berani bergerak pada posisinya. “Kenapa kamu takut mati? Bukankah kamu sudah sering membunuh dan melihat orang lain membunuh?” Tanya Adit lagi.
“Oh, apakah kamu takut jika kamu mati kamu akan terjun ke api neraka, hahahahahhahahaha.”
“Tenang saja, kita semua pasti akan ke neraka.” Timpalnya lagi, benar - benar menunjukkan jiwanya yang sakit.
Dery terus berpikir, apa yang harus dia lakukkan agar tidak ada korban lainnya dalam hal ini.
Dia menoleh pada Kintan yang bergertar ketakutan. Dia ingin menolong tapi tidak bisa.
“Tuhan, berikan aku kekuatan untuk melawan semua ini.” Batinnya, berdoa mengharapkan denuah kekuatan yang sedikit bisa menolongnya lepas dari kesakit jiwaan pria yang mengaku papahnya ini.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*