
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Sangat buruk,” pria itu menyahut, ketika mendengar Mario mengatakan keadaan Griffin sangatlah buruk.
Mario menganggukan kepalanya pelan, lalu menganggruk sedikit kepalanya yang tidak gatal. “Mau cerita dari mana ya? Bingung juga.” Gumam Mario, merasa bingung mau menceritakan semua keburukan mulai dari mana.
Tidak lama kemudian, di saat mereka semua sedang serius, terlihat semua keluarga masuk ke dalam ruangan itu dan melihat dua sosok yang sangat mengejutkan mereka.
“What?” Teriak Aiden begitu nyaring, ketika melihat hal yang sungguh mustahil ada di depan mereka.
“Kenapa kamu kaget seperti itu!” Tegur wanita itu.
“Kalian - kalian! Kalian seharusnya sudah mati!” Tekan Aiden, yang sontak mendapatkan serangan jantung dari kejadian ini.
Tidak terkecuali dengan Stella, Alson dan Jenni, semua orang yang ada di sana merasa seperti mereka hidup di dunia lain.
“Kalian harus menjelaskan ini semua!” Tegas Stella, yang merasa marah karena dipermainkan oleh keadaan.
Albert dan Briell kini sama - sama saling pandang, mereka menghela nafas mereka dan akhirnya mereka sama - sama menganggukan kepala mereka yakin untuk bercerita.
FlashBack On.
Ketika Briell lebih dulu sadar di banding Albert, dia melihat sosok Arvan yang berdiri tepat di hadapannya.
“Albert, Albert,” panggilnya pada sosok suaminya yang berada di sebelah.
Arvan yang melihat Briell bangun, langsung mendekati wanita itu. “Tenang Briell, suami kamu baik - baik saja.” Ucap Arvan, meyakinkan menantunya bahwa tidak ada yang perlu dirinya khawatirkan.
“Lalu, Griffin? Bagaimana dengan Griffin Pah?” Tanya Briell lagi.
Arvan menghela nafasnya, lalu menceritakan semua hal yang terjadi pada Griffin dan dengan penjahat yang belum berhasil mereka tangkap.
“Kenapa? Kenapa dia mengincar kami Pah? Kenapa?” Tanya Briell merasa sangat frustasi.
Dia sama sekali tidak mengerti, dari banyaknya keturunan mereka kenapa hanya keluarganya yang di kejar, dan? Apa ini? Kenapa anaknya di jadikan bahan untuk ritual? Apa mau dari pria ini?
__ADS_1
“Ini adalah semacam hal Mistik Briell, mereka percaya pada ramalan sebuah mimpi sialan! Di tambah dendam pada Mario di masa lalu.” Jelas Arvan lagi. Membuat Briell sama sekali tidak bisa berpikir apa - apa lagi.
“Pada intinya, darahmu dan darah Griffin di anggap sebagai darah sempurna yang bisa dijadikan tumbal oleh mereka. Dan mereka tidak akan berhenti sampai dalang dari pasukan itu berhasil membunuhmu dan juga Griffin.” Ungakp Arvan lagi.
“Lalu? Lalu? Apa yang harus aku lakukkan Pah? Apa - apa yang harus Briell lakukkan untuk menghindari Griffin dari mara bahaya itu?” Tanya Briell pada Arvan.
Namun Arvan juga terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Dia kahabisan ide untuk ini dan lagi dan lagi. “Papah butuh salah satu kalian untuk dekat dengan Griffin dulu, sampai operasinya berhasil.”
“Tapi, Papah juga sudah terlanjur membuat kematian palsu untuk kalian.” Tandasnya lagi, membuat Briell juga terus berpikir hal apa yang bisa dia lakukkan.
“Kalau begitu, palsukan lagi kematian kami!” Ucap Briell dengan tegas, memberikan saran untuk mertuanya.
“What?” Sahut Arvan, merasa ide ini sudah gila.
“Ya, aku rasa kita bisa menyusun strategi untuk melawannya, tetapi caranya kami harus mati dulu.” Briell memperbaiki kalimatnya. Membuat Arvan terpikir dengan satu hal.
“Ya, kamu benar, tetapi kali ini kamu harus benar - benar mati, agar mereka bisa percaya.” Sahut Arvan lagi, menganggukan kepalanya paham dengan rencana yang di buat oleh menantunya.
“Jadi, kami akan membunuh kalian, lalu kami akan menghidupkan kalian kembali.” Timpalnya lagi, membuat Briell kembali berpikir, apakah cara ini akan berhasil atau tidak.
“Tapi bagaimana caranya?” Tanya Arvan lagi, dia bingung bagaimana caranya membunuh orang dan menghidupkannya kembali.
Lalu Arvan meminta agar Robert membawakan semua obat - obatan yang tentu saja akan mereka racik sendiri untuk membunuh Briell.
***
Setelah menunggu beberapa saat, Robert datang dengan membawa beberapa ratusan biji obat dan 15 CPR adrenaline yang berbentuk suntikan.
“Beberapa bulan yang lalu, saudara sepupuku mengalami kejadian yang begitu naas, dia menelan Zat - Zat berbahaya dalam jumlah banyak.”
“Dia mati, selama 15 menit tapi, kami berusaha menghidupkan dia kembali.” Ucap Robert lagi, mengingat saudaranya yang meninggal pada saat itu.
Arvan dan Briell menganggukan kepala mereka paham, dan melihat obat - obatan yang di bawa oleh Robert.
Obat - obatan itu terdiri dari 5 warna dan Robert mulai meraciknya.
“Minum ini secara berurutan!” Perintah Robert, lalu di jawab dengan anggukan kepala oleh Briell.
__ADS_1
“Racikan pertama, akan mungurangi efek kesadaranmu, kamu akan merasa bahwa kamu sedang terbang ke atas awan mungkin mengendarai kuda Unicorn.” Jelas Robert, dan di jawab dengan anggukan kepala lagi oleh Briell.
“Racikan ke dua, mungkin akan menurunkan rasa intimu, mungkin kamu akan merasa mual.”
“Tetapi kamu perlu mengambil jeda antara 5 menit untuk meminum setiap racikannya.” Arvan dan Briell mendengar semua itu secara saksama.
“Karena racikan ke tiga ini akan benar - benar mematikan sarafmu! Kalau kamu tidak memberikannya jeda, maka semuanya akan kacau!” Tegas Robert lagi, memberikan peringatan kepada Arvan dan juga Briell.
Namun tatapan Arvan jatuh pada CPR Adrenaline yang ada di atas meja. “Berapa yang kita punya?” Tanya Arvan, khawatir jika 15 biji tidak cukup untuk menghidupkan Briell dan Albert kembali.
“Banya Lord, kita punya ribuan.” Jawab Robert, membuat Arvan semakin yakin dengan rencananya ini.
“Tunggu, ini Epinephrine Tanya Briell, yang sangat mengenal obat itu secara dia adalah Dokter terbaik.
Robert menganggukan kepalanya pelan. “Anda jelas tahu nyonya, bahwa Epinephrine ini yang biasa kita sebut dengan Adrenaline.” Robert memegang Epinephrine itu dan Briell tersenyum.
“Yes, that’s is a Jesus.” Briell yang sebenarnya khawatir dengan hal ini namun dia harus siap dengan apa pun resiko yang akan terjadi kedepanya.
“Briell, papah yakin kamu mengerti dengan semua ini.” Ucap Arvan, meyakinkan menantunya bahwa jangan ada ragu ataupun kesalahan dalam melakukkan hal ini.
Briell mengatur nafasnya, agar dirinya tidak lagi khawatir dengan apa yang akan terjadi di ke depannya nanti.
“Baiklah, Papah tidak bisa lama - lama, sebentar lagi Albert akan sadar dan Robert mungkin Mario akan datang menjemput Albert, dan aku harap kamu bisa membunuh Briell dengan cepat!” Tandasnya lagi, dan di jawab anggukan kepala oleh Robert.
“Baik Lord, saya akan melakukkan hal ini dengan cepat.” Sahut Robert dengan penuh keyakinan.
Arvan menganggukan kepalanya pelan, lalu dia memilih untuk pergi, sebelum ada orang lain yang menyadari jika dia tidak ada di rumah sakit.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*