
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Pernahkah Anda berpikir meminta maaf kepada Dara? Tidak ingatkah betapa teganya Anda mengambil nyawa dari pria yang begitu dia cintai, pria yang begitu aku hargai,” Kali ini Griffinlah yang meluapkan emosinya kepada Arvan.
Tidak pernah sekalipun dia melupakan kejadian itu, kejadian di mana dirinya harus merasakan kehilangan untuk ke sekian kalinya.
“Dan Anda sekarang marah dengan saya, karena aku merusak rumah tangga cucu kesayangan Anda, seperti itu?”
“Lalu Anda memanggil saya pulang ke rumah untuk apa?” Griffin berusaha menahan emosinya. Dia tidak ingin berbasa basi lagi, dan tidak ingin sampai siapapun keluar terlebih lagi Alson tahu jika dirinya berada di Mansion ini.
“Nenek Jenni sedang sakit Griffin, dan dia ingin sekali bertemu denganmu,” ucap Arvan, berusaha menahan emosinya, karena dia teringat tentang permintaan istrinya yang ingin sekali bertemu dengan Griffin.
“Astaga, hanya masalah kecil begini saja Anda repot – repot memanggil saya pulang? Kenapa tidak Anda panggil tiga cucu kesayangan Anda,” Griffin nyaris frustasi dengan jawaban yang diberikan oleh Arvan.
“Fin, Jenni adalah nenek kamu, ibu dari papah kamu, dan kesehatannya benar – benar menurun, dan ingin sekali bertemu dengan kamu,” Arvan sangat tidak menyangka, jika beberapa tahun ini sikap Griffin kepada keluarga semakin parah.
Rasanya Arvan ingin sekali menangis memperlihatkan kesedihannya dan memohon kepada cucunya ini, agar kembali berubah pada sikapnya dulu.
Sifat yang ramah, penyayang, rendah hati dan mampu menghargai orang tuanya, tapi kini?
Entah bagaimana cucunya itu bisa berubah hingga menjadi manusia yang paling tidak memiliki hati saat ini, bahkan terhadap nenek kandungnya sendiri.
Arvan mengusap wajahnya dengan kasar, tanpa sadar kini dia sudah menangis di hadapan cucu kesayanganya.
Cucu yang sampai detik ini masih menjadi kebangganya, walaupun Griffin sendiri tidak mau menganggapnya sama sekali.
“Papah dan Mamah kamu, dulu sangat menyayangi Jenni Fin, apakah kamu pernah tahu, jika Papah kamu pernah berkorban untuk menyelamatkan nen –“
“Dan karena menyelamatkan istrimu itulah semua kejadian itu terjadi,” sentak Griffin yang kini kembali mengeluarkan taringnya.
__ADS_1
Dia mengingat kejadian di mana dirinya mengetahui tentang kejadian pada saat itu, “Jika saja kamu tidak menyia – nyiakan istrimu, maka adik kekasihmu itu tidak akan pernah menculiknya, dan papah mamahku, tidak akan pernah menjadi sasaran untuk mereka berdua, tahukan kamu, bahwa semua yang terjadi pada saat ini, itu semua karena kamu! Kematian papah dan mamahku, itu semua karena ke – egoisan kamu dan keluargamu yang memiliki dendam tak berkesudahan dan sekarang, kamulah yang menjadikanku sasaran dari musuh, ini semua gara – gara kamu, Arvan,” dengan berani Griffin menunjuk – nunjuk wajah tua yang terdapat banyak kerutan di wajahnya.
Tidak ada rasa iba di dalam hatinya kepada wajah tua yang tengah menangis memperlihatkan kelemahannya itu. “Harusnya kamu yang mati, bukan orang tuaku, harusnya kamu bunuh aku pada saat bayi, dan biarkan aku terkubur bersama dengan papah dan mamahku, bukan menyelamatkanku untuk menjadi tameng keluargamu.” Sambungnya lagi, dan berlalu pergi meninggalkan Arvan begitu saja menuju kamarnya.
Praanggg,,praanggg,, braakkkk, Griffin memecahkan apa saja yang dia lihat atau menurutnya menganggu jalannya. Dia sama sekali tidak perduli, jika penghuni Mansion ini akan bangun, dan melihat segala kekacauan yang dia buat.
Sedangkan Arvan hanya bisa terdiam, sambil menangis menatap langkah Cucunya yang sudah hilang di telan pintu.
Dengan nafas yang sudah memburu, Griffin masuk ke dalam kamarnya, “Arrrggghhhhh,” teriaknya lalu membanting seluh barang – barang yang ada.
“Benar – benar sialll aku hari ini bisa nurut banget buat ketemu sama pria tua itu,” Griffin mengusap wajahnya kasar, lalu dia mencoba untuk naik ke lantai dua kamarnya, yang terdapat ruang Gym di sana.
Dengan cepat Griffin membuka bajunya, dan memperlihatkan tubuhnya yang hanya berbalut celana training, Bugghhh,,bugghhh,,bugghhh,,bugghhh, dia memukul sebuah samsak yang berada di sana untuk meluapkan segala emosi di jiwanya.
Sedangkan di sisi lain, Arvan yang saat ini sedang berdiri di sebuah ruangan rahasia miliknya, menatap ke arah sebuah bingkai foto besar di hadapannya.
Hal yang selalu dia lakukan jika dirinya merasakan sedih yang teramat.
Namun, dia begitu ingat pada saat itu, Jacob adalah keturunan terakhir keluarga Malik, dan Mario juga telah membunuhnya, Lalu siapa musuh mereka sekarang? Kenapa dia harus mengincar Griffin untuk menghancurkan keluarganya?
“Pada saat itu, kakek hanya bisa berpikir, bahwa mengasingkanmu adalah keputusan yang paling terbaik Fin, tidak ada sedikitpun niat di dalam hati kakek untuk membuangmu, bahkan jika bisa detik ini Nyawa kakek bisa diberikan untuk melindungimu,” lirihnya pelan, dan terus memandang foto seorang bayi, yang tidak lain tidak bukan adalah Griffin.
“Tidak ada lagi kesedihan yang paling menyakiti kehidupan kakek, selain kehilangan papah dan mamahmu, kakek ingin yang terbaik Fin,” Arvan sangat tidak menyangka, bahwa di saat Griffin mengetahui jati dirinya, sifatnya akan bertolak belakang sekali dengan masa lalunya.
“Albert, Briell, papah minta maaf, karena Papah gagal mendidik Griffin untuk menjadi anak yang berbakti kepada keluarga, Papah gagal untuk memperbaiki pisikisnya yang telah rusak karena ke – egoisan Papah, bisakah kalian menjemput Papah, pria tua ini sudah benar – benar lelah menjalani semuanya.” Arvan tidak bisa berkata – kata apa lagi saat ini. Jiwanya sangat hancur mendapatkan sikap Griffin yang menolak jati dirinya yang sebenarnya.
Di detik selanjutnya, Arvan memilih untuk menghapus air matanya dengan perlahan, serta menetralkan perasaan sedih yang bercampur dengan amarah, lalu segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
Dia ingin melihat Jenni istrinya yang saat ini sudah tidak bisa berbuat apa – apa.
Penyakiti diabetes serta darah tinggi yang dimilikinya, membuat kondisi Jenni semakin menurun, bahkan saat ini untuk menggerakan tubuhnya saja dia sudah tidak kuat.
__ADS_1
“Dari mana?” tanya Jenni, yang melihat suaminya masuk ke dalam kamar.
Arvan tersenyum manis, lalu duduk di sisi kasur dekat dengan tubuh istrinya, “Griffin sudah pulang Mah, nanti pagi Mamah sudah bisa menemuinya,” ucap Arvan, sembari mengelus kepala Jenni dengan pelan.
Mendengar hal itu, Jenni langsung menangis di dalam diamnya. “Kenapa menangis?” tanya Arvan, yang juga ikut menangis.
Mungkin inilah yang dikatakan sifat alamiah seorang Lansia, perasaan yang begitu sensitif, membuatnya dengan mudah menangis.
“Tidak, aku hanya berpikir, betapa rentahnya sekarang usia kita yang hamir menginjak angka 70, kamu enak masih sehat, masih bugar, coba kamu lihat aku, bahkan berdiri saja aku sudah tidak mampu,” ucap Jenni, pada Arvan yang kini sedang menatapnya.
“Kamu bisa sembuh kok sayang, ayo semangat, Papah akan mencari dokter – dokter terbaik di dunia ini untuk menormalkan gula darahmu,” balas Arvan, yang sama sekali tidak tega melihat tubuh istrinya yang semakin lama semakin kurus. Membuatnya terlihat seperti nenek yang sudah berumur ratusan tahun.
“Aku hanya berpikir, mungkin waktu aku sudah tidak lama lagi di Dunia ini,” Makin lama Jenni selalu ngelantur setiap berbicara, dirinya selalu mengatak hal – hal yang berbau kepergian.
“Heyy, sayang, jangan bicara seperti itu, kita hidup bersama, matipun nanti sama – sama, udahh ya, kamu harus strong, bertahanlah sampai kita bisa membalikkan keadaan ini,” sahut Arvan lagi, yang dijawab anggukan kepala oleh Jenni.
Arvan sangat menyayangkan hal ini, begitu banyaknya uang yang dia miliki hingga tidak terkira, tetapi dia sama sekali tidak bisa membelikan obat kepada istrinya agar penyakit diabetes itu bisa disembuhkan.
Sayangnya, obat penyembuh itu sampai sekarang belum ditemukan, dirinya hanya bisa membeli puluhan alat yang katanya bisa membantu menormalkan dengan segala janji manis namun kenyataanya Nol besar.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*