Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Sebuah Pesan Untukmu


__ADS_3

Karena, semua aksara yang tertuang melalui rasa berawal tanpa judul


° • ° •**Catatan Tanpa Judul**• ° • °


Di sebuah tempat, yang menjadi saksi di mana kedua insan bertemu dan saling jatuh cinta. Di mana memori-memori dalam kalbu terukir. Masih di bawah langit yang sama, tempat itu dipenuhi oleh gelak tawa ke-4 orang yang kini tengah berkumpul dengan tujuan melepas rindu.


Bersama rindangnya Sang Penyejuk Hari, seorang wanita nampak menyendiri di antara keramaian itu. Ia tengah terduduk di salah satu bukit. Menatap indahnya hamparan ladang berwarna hijau yang dihias oleh indahnya bunga-bunga yang bermekaran dengan warna-warni pohon Tabebuya yang romantis.


Tangannya tergerak mengelus tanah tempatnya terduduk. Masih dengan perasaan yang sama, wanita itu memejamkan matanya. Memeluk sebuah surat yang ditulis olehnya di setiap tahun. Dengan tanggal, bulan, dan detik yang sama. Ia kemudian tersenyum begitu mengingat sepotong memori yang ia alami bersama sesosok manusia yang tengah ia rindukan saat ini.


Ia tertawa hampa untuk sejenak, jika saja, jika saja dirinya berhasil menutup relung hati. Mungkin ia tidak akan terluka untuk kurun waktu yang panjang. Mungkin saja, hari ini tidak akan pernah datang.


Namun, setiap kali pikiran ini menghampiri wanita itu. Ia selalu merasa bahwa dirinya terlalu jahat. Terlalu jahat pada sosok itu yang telah memberikannya banyak kenangan indah. Rasanya seperti mengkhianati asa yang pernah tercipta melalui suatu wujud fana yang sempat nyata. Terlalu jahat pada hatinya yang terus menerus dibohongi, karena pada kenyataannya, wanita itu merindukannya.


Dengan segenggam surat yang ia bawa, wanita itu membuka sebuah kotak yang penuh dengan secarik kertas usang, beberapa sudah rapuh termakan waktu, dan beberapa lagi memiliki aroma khas buku lama.


Wanita itu kemudian memasukkan secarik kertas berisi tulisan tangannya. Dengan secercah harapan untuk dapat kembali bertemu sekedar melepas rindu.


Ditutupnya kotak itu. Dikubur di dalam tempat yang sama, ruang hampa yang bahkan masih tersisa di dalam relungnya, bahkan ketika waktu tak lagi mampu mengobati. Bersama sebuah permen kesukaan sosok itu. Ia tersenyum, lalu berdiri.


"Wahai kamu, mulai sekarang, aku akan berusaha melupakanmu."


Wanita itu menyambut hangat tangan lelaki yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan sendu. Diam-diam berharap melalui doa yang pelik mengenai sesuatu yang masih rancu kebenarannya.


"Udah siap untuk pulang?" tanya lelaki itu.


"Selalu siap. Mulai dari sekarang," ujar wanita itu.


"Apa nanti kamu bakal balik lagi ke sini?" tanya lelaki itu lagi.

__ADS_1


"Mungkin? Untuk sesekali barang melepas rindu. Bolehkan?" tanya wanita itu.


"Apapun untuk kamu. Lagipula, dia pernah hadir di dalam kehidupan kita dan mengambil peran besar dalam ceritanya. Kenapa aku harus melarang?" ujar lelaki itu.


"Terima kasih. Lalu, maafkan aku," ujar wanita itu.


"Aku selalu siap menerima fakta, dan mungkin, aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini? Lagipula ini perihal hati kamu, berhak apa aku atas perasaanmu?" lelaki itu tersenyum.


Wanita itu kemudian memeluk lelaki tersebut dengan erat. Tak perlu waktu lama bagi lelaki itu untuk membalas pelukan dari wanita itu. Pelukan yang diharapnya akan setulus pun sehangat si pembalas.


"Hei! Udah siap? Ayo berangkat!" teriak salah seorang sahabat wanita itu.


Wanita itu memandang sendu pepohonan rindang yang menjadi tempatnya berpulang selama beberapa tahun terakhir ini.


"Sampai jumpa lagi."


Wanita itu kemudian berlalu pergi. Menggenggam hangat tangan lelaki yang menunggunya sedari tadi. Meninggalkan sebuah tempat yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah, meninggalkan semua perasaan yang selama ini dia bawa.


Wahai kamu, sampai jumpa.



Teruntuk kamu yang jauh di sana. Ku sampaikan salam rinduku melalui belaian lembut Sang Bayu yang mengalun indah layaknya sebuah nada.


Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Tolong katakan bahwa kau baik-baik saja, karena aku pun tengah berusaha kembali menjadi diriku yang dulu. Jika saja rasa rindu memiliki bentuk, mungkin saja dunia ini sudah tenggelam.


Aku yang jauh darimu selalu terbayang akan sosokmu. Ia hadir di setiap detiknya, berupa ilusi semata atau biasa kau sebut dengan fatamorgana. Menghantui diriku yang setiap harinya selalu mencoba untuk melupa.


Hai kamu, kapan kembali? Hari demi hari yang ku lewati dengan deretan doa. Rasanya belum cukup dengan hanya bertemu setiap malamnya ketika aku tengah menjelajahi dunia khayalku. Satu hal yang selalu ku takuti adalah apa yang mereka harapkan selama ini benar-benar terjadi padaku, yaitu melupakanmu.

__ADS_1


Semesta yang menjadi saksi turut mengambil andil untuk kisah kita yang penuh akan goresan berwarna kelam namun indah. Aku menikmatinya, jujur saja.


Bagaimana dengan waktu? Detik demi detik yang ku lewati tanpa adanya kehadiranmu sungguh menyiksa, terasa sesak, dan jenuh.


Wahai langit malam yang dipenuhi bintang, lukislah malam ini dengan keindahan, goreskanlah berbagai cat penuh warna itu di kanvas yang terbentang luas sejauh mata memandang. Buatlah malamnya yang sunyi menjadi indah, sampaikanlah salam rinduku untuknya yang jauh di sana. Biarlah kau menjadi saksi atas pengungkapan rasa rinduku padanya, beserta luasnya kanvas yang tidak dapat kau temukan ujungnya itu, sebagai rasa cintaku yang tidak akan pernah terputus.


Wahai semesta, jika kau berkenan. Biarkanlah aku bertemu dengannya sekali lagi.


Dariku, seorang yang tengah kehilangan pemilik hatinya.


08/08/2021


 


 


 


 


Sebuah hadiah manis untukmu! [Silahkan teman-teman salin link yang tertera di bawah]


CTJ Teaser : 


 


 


 

__ADS_1


 


©AksamalpaAksara


__ADS_2