
20/1/2019
12.34
Tiba-tiba ingatan Yaza terbagi untuk Nea. Nea menangis, di sisi lain Yaza membuka tasnya untuk mengeluarkan sapu tangan miliknya.
"Mungkin penyebab kematian Renren itu gue," ujar Yaza.
Yaza kemudian memberikan sapu tangan miliknya kepada Nea. Yaza kembali membuka tasnya untuk mengeluarkan sepucuk surat bertuliskan tulisan tangan Renren.
"Mulai dari hari itu, Renren suka muncul di hadapan gue. Kasih ingatan lainnya yang gak sempurna setelah kecelakaan yang buat gue lupa beberapa hal tentang kalian. Kecelakaan yang buat gue berubah lalu menjauh dari kalian untuk pilih pertemanan baru dan jadi orang yang berbeda dari yang kalian kenal," ujar Yaza.
Nea memang pernah bilang sebelumnya bahwa Yaza sempat menjauh dan berubah. Setelah Yaza bangun di hari itu, Yaza sempat kehilangan ingatannya. Ternyata setelah berbagi ingatan Nea dapat mengingat bahwa Yaza sudah menjauh dari mereka cukup lama. Bukan hanya dari dihapusnya ingatan mereka tentang Ghai, Derren, dan Renren.
"Mungkin lo lupa tapi, Ghai juga berubah setelah kecelakaan itu."
Nea menatap Yaza. Netranya menangkap wajah pucat Yaza.
"Za, lo sakit?" tanya Nea.
"Gak gue gak kenapa-napa kok. Cuma kecapean aja belakangan ini."
"Lo yakin?" tanya Nea.
"Iya."
"Ngomong-ngomong Za, gue juga dapat ingatan tentang kematian Derren. Apa ingatan itu udah kebagi untuk lo juga?" tanya Nea.
"Iya, gue inget hari itu," jawab Yaza.
"Bukan Renren pelakunya-kan?" tanya Nea.
Yaza terdiam beberapa saat. Nea menatap Yaza untuk memastikan Yaza mendengar pertanyaannya.
"Bukan. Jadi, jangan salahin Renren atas kepergian Derren," jawab Yaza.
Yaza kemudian berdiri, ia mengambil tasnya lalu mulai beranjak pergi. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Nea, Yaza mengatakan sesuatu.
"Surat dari Renren harus lo baca. Siapa tau itu buka ingatan lainnya dan maaf gue gak bisa antar lo pulang."
***
20/1/2019
15.36
Nea berada di kamarnya saat ini. Ia memegang surat dengan amplop usang yang bertuliskan tulisan tangan Renren. Tiba-tiba Ghai hadir di sampingnya.
"Nea!"
"Ghai?! Ya ampun. Lo datang kok gak bilang-bilang?" tanya Nea.
"Hehe, maaf. Ngagetin lagi ya?" tanya Ghai.
"Pake nanya lagi!" jawab Nea.
"Lagi apa?" tanya Ghai.
Nea terdiam sejenak. Ia menatap Ghai tak lama kemudian.
"Ingatan Yaza udah terbagi ke kamu belum?" tanya Nea.
Ghai terdiam sejenak. Matanya berubah sayu sesaat lalu kembali ceria setelahnya.
"Belum. Ada apa emang?" tanya Ghai.
"Yakin belum? Lagi gak bohong-kan?" tanya Nea.
"Ya, belum."
Ghai berbohong. Ghai ingat apa yang diingat Yaza. Ia hanya menghindari pertanyaan dari Nea yang mungkin akan membuatnya sakit.
"Kenapa ya? Padahal Yaza jelas-jelas bilang kita bakal mulai berbagi ingatan mulai saat ini," monolog Nea.
"Tapi serius deh kuping gue adem banget," ujar Ghai tiba-tiba.
"Hah?" tanya Nea yang gagal paham.
"Dari tadi gue belum denger lo ngumpat dan bahkan sempet manggil aku pake kamu bukan lo."
Pipi Nea bersemu, entah karena rasa malu atau tersipu mengenai perhatian Ghai pada dirinya. Nea segera mengalihkan pembicaraan ke surat milik Renren.
"Tadi gue dapet ini dari Yaza. Surat Renren yang lain," ujar Nea.
"Ya udah ayo kita baca," ujar Ghai.
Nea kemudian membuka suratnya. Surat dengan amplop bertuliskan dari Renren untuk Yaza sahabatku.
Hai Yaza, ini aku Renren. Iya, tau masih benci sama aku itu wajar. Maaf karena berani kirim surat untuk kamu. Aku cuma mau bilang maaf untuk yang kesekian kalinya. Yaza, kalau boleh apa kita bisa berteman lagi kayak dulu?
Yaza, maaf Renren banyak tanya. Gimana kabar yang lain di sana? Ghai baik aja-kan? Yaza, Renren mau ke Indonesia mungkin sekitar setahun lagi. Apa boleh kalau Renren minta di tahun itu kita kembali seperti dulu? Untuk yang terakhir kalinya Renren mohon, Renren ingin pergi main lagi bareng kalian kayak dulu.
Ngomong-ngomong, kemarin malam aku didatangi Derren di mimpi. Dia bilang, itu bukan salah aku. Aku gak ngerti jadi, apa bisa pas Renren pulang nanti kita luruskan permasalahan ini?
__ADS_1
3/10/2015
Dari Renren
"Apa maksud dari Derren datang ke mimpi Renren?" tanya Ghai.
"Apa maksud dari Yaza suruh aku baca ini karena mungkin Derren benar-benar muncul di depan Renren? Derren di mana sekarang?" tanya Nea.
***
"Apa kamu yakin bisa menyelesaikan semuanya sesuai dengan yang dia mau?"
"Aku mohon, kasih kita lebih banyak waktu untuk nyelesaiin semua kesalahpahaman ini," ujar Derren.
Kini Derren tengah berbincang dengan sesosok mahluk yang sedari dulu memperhatikan gerak-gerik Derren pun Arsa. Seseorang yang bertugas membawa mereka pergi ke atas nantinya.
"Kebencian kamu untuk dia sudah hilang sepenuhnya? Kamu yakin?"
Derren terdiam sejenak. Matanya tertuju ke lantai untuk beberapa saat.
"Sebelumnya aku pikir semua penyebab dari semua ini itu dia, Arsa. Tapi, dunia ini penuh dengan misteri dan kebenaran yang tidak terduga bukan? Mungkin aja penyebab semuanya bukan dari siapapun tapi dari diri kita masing-masing. Berada di situasi seperti ini udah berhasil mengajarkan aku tentang gak semua mahluk halus itu jahat," ujar Derren.
"Setidaknya ada satu yang waras di sini yang bisa ku ajak bicara. Kamu harus bisa menjadi tuas pengaman untuk Renren."
"Apa aku bisa ketemu lagi sama Renren?" tanya Derren.
"Tentu bisa. Cuma kamu yang bisa membawa Renren kembali seperti sebelumnya. Mohon diingat."
"Aku mau tanya satu hal. Apa alasan di balik sikap Arsa membuat teka-teki ini?" tanya Derren.
"Masih banyak yang belum kamu tau ternyata. Kamu tau-kan mahluk sepertiku tidak diizinkan ikut campur dalam permasalahan manusia dan mahluk seperti kamu. Aku cuma bisa mengawasi sebelum akhirnya membawa kalian semua pergi. Satu hal yang bisa kuberitahu, mungkin saja niat Arsa tidak jahat untuk kembali mempertemukan kalian semua. Jadi, silahkan selesaikan tepat pada waktunya. Ketika sudah sampai di waktu itu, aku akan membawa kalian kembali ke sana."
Derren mengangguk sebelum akhirnya sosok itu pergi dan menghilang. Belakangan ini Derren terus merenung mengenai alasan di balik tindakan Arsa pada mereka. Semakin diingat lagi, semakin Derren tahu bahwa dulu dirinya begitu egois dan memaksa.
Orang yang sedari dahulu selalu mencoba memisahkan Arsa dari Ghai adalah dirinya dan Yaza. Orang yang sedari dahulu berperilaku jahat pada Arsa dan membenci Arsa adalah dirinya. Jadi, apakah mungkin alasan di balik semuanya adalah dirinya? Derren tengah tersesat saat ini.
Di sisi lain, dirinya begitu ingin bertemu kembali dengan Renren. Namun, entah kenapa lidahnya terasa kelu begitu dirinya dihadapkan dengan Renren. Lagi-lagi Derren di sana menangis sendiri.
***
"Fai, hari ini bisa ketemuan?" tanya Arka.
"Ada apa Arka?" tanya Fai.
"Ada sesuatu yang harus aku cari tau Fai," ujar Arka.
"Apa itu?" tanya Fai.
"Oke, Arka jemput Fai ke rumah ya. Nanti Fai siap-siap dulu," ujar Fai.
"Oke."
Sambungan terputus. Arka segera mengganti pakaiannya. Apa yang membuat Arka hari ini yakin ingin mencari time capsule milik mereka adalah surat dari Renren yang baru saja ia temukan kembali.
Hai Arka!
Iya, ini Renren. Aku tulis lagi surat untuk kamu gak apakan? Bagaimana kabarmu hari ini? Kondisi-ku semakin membaik selama di sini. Maaf lagi-lagi merepotkan kamu, soalnya cuma kamu yang bisa aku kirimi surat.
Arka, kabar yang lain di sana gimana? Aku harap semuanya baik-baik saja ya! Hei, jangan pelit-pelit kirimi surat untuk aku! Coba deh sesekali kirim lewat surat, jangan telepon mulu! Asyik tau.
Oh, aku tanya ini karena aku penasaran. Time capsule milik kita apa masih terus berlanjut? Terakhir kita isi itu sebelum kepergian Derren dan seperti yang kamu tau, seminggu setelah kepergian Derren aku pindah ke Belanda. Jadi, apa mungkin hal itu masih berlanjut tanpa aku? Jangan salah paham, aku cuma penasaran. Kamu ingatkan? Kotak yang berisi surat-surat dari kita dengan kunci yang selalu Nea bawa. Aku ingat kotak itu hadiah dari Ghai untuk Nea setelah pulang dari Jerman. Sayangnya aku sudah lupa lokasi penguburan kotak itu, apa kamu ingat di mana kotak itu dikuburkan? Seingatku itu tempat favorit Nea, iyakan?
Ah, aku rindu masa-masa itu. Banyak curhatan milik kita yang terkubur di dalam kotaknya. Aku jadi penasaran apa saja isi tulisan milik kamu Ka! Apa isinya tentang Fai? Hahaha. Oh, jangan lupa cepat ungkapkan perasaanmu pada Fai. Perempuan itu butuh kepastian.
10/5/2015
From your prettiest bestfriend, Renren.
***
Di sini-lah Arka dan Fai berdiri sekarang. Sebuah taman kota yang dulu selalu Nea kunjungi ketika penat.
"Kamu yakin di sini tempatnya?" tanya Fai.
"Gak yakin sih beb. Cuma, ya katanya di tempat favorit Nea. Kamu tau gak sih tuh anak suka kemana aja?" tanya Arka.
"Kenapa gak tanya Nea-nya langsung sih? Jadi lebih praktis-kan kalau gitu," ujar Fai.
"Anak itu susah dihubungi. Mana udah lama gak ketemuan," ujar Arka.
"Ya habis kamu sih suka sok sibuk gak bisa ikut kumpul. Yaza juga, kenapa susah diajak main ya?" tanya Fai.
"Karena aku sibuk sayang. Nanti deh aku sering ikut kumpul lagi," ujar Arka.
"Sibuk apaan sih?" tanya Fai.
"Nyusun TA cintaku."
Bohong. Arka sebenarnya sibuk mencari keberadaan tubuh Ghai. Sudah banyak rumah sakit yang Arka datangi dengan hasil yang sama bahwa mereka tidak merawat pasien dengan status koma beridentitas Abhiyoga Ghaitsa Mahawira. Arka jadi curiga, apakah mungkin Ghai dirawat di rumah sakit luar kota?
"Gini aja deh, gimana kalau kita kontak Nea dan tanya soal ini," usul Fai.
"Ya udah, coba kamu yang kontak sekarang. Ngomong-ngomong, apa kamu inget kematian Renren sama Derren gimana?" tanya Arka. Fai terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Arka.
__ADS_1
"Aku dapat ingatan baru tentang itu tapi, selalu di mimpi. Jadi, aku gak tau apa itu kejadian yang sebenernya atau cuma mimpi," jawab Fai.
"Ya udah kita tanya soal itu nanti aja pas ketemuan sama mereka."
***
20/1/2019
18.23
Semuanya berkumpul di gedung jurusan musik saat ini. Alasannya karena Nea bilang dirinya tengah berada di sana bersama dengan Ghai dan Derren.
"Pertama iya, apa yang kalian ingat tentang kematian Derren dan Renren itu kejadian sebenarnya. Yaza bilang, kita mulai berbagi ingatan," ujar Nea.
Ternyata, ingatan yang dibagi oleh mereka ingatan yang sesuai dengan apa yang mereka alami. Arka dan Fai tidak mengingat kejadian Ghai yang berusaha melompat dari atap rumah sakit waktu itu karena mereka memang tidak ada di sana saat itu, apa yang mereka ingat adalah panggilan dari orangtua Renren dan Derren yang mengatakan bahwa anaknya sudah tidak ada hari itu. Nea juga sebenarnya tidak akan tahu mengenai aksi Ghai di atap rumah sakit itu kalau Yaza tidak memberitahunya. Dengan kata lain, mereka yang dibawa lompat ke ingatan sebenarnya lebih mengetahui dengan jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi hari itu.
"Semuanya selalu mengarah sama satu sosok yang sama kayak waktu itu," ujar Arka.
"Siapa?" tanya Balqis.
"Arsa," jawab Fai.
Derren sempat berpikir sejenak, hingga akhirnya berani mengungkapkan hal ini. Ia pikir, hal ini tidak akan berbahaya setelah bertemu kembali dengan sosok mahluk yang menjaga mereka dan mengetahui bahwa sebenarnya sosok yang mereka salahkan selama ini, sangat membutuhkan Derren.
"Oke, aku akan kasih tau semuanya tentang Arsa yang aku tau," ujar Derren.
Ghai menyimak. Satu-satunya yang sedari tadi hanya mendengarkan tanpa antusias hanya Yaza.
"Jadi, waktu itu...
***
Ghai tengah berlibur di villa keluarga miliknya. Ghai di sana hanya bersama keluarganya, tidak ada yang lain. Semua bermula dari sini, hari di mana Ghai bertemu Arsa.
Sedari dulu, tempat favorit Ghai dari villa miliknya adalah hutan pinus di belakang bangunan ditemani mata air dengan air terjun kecil yang indah. Airnya jernih, pemandangannya sangat bagus. Bagi Ghai, tempat itu adalah tempat yang tepat untuk menjernihkan pikiran.
Ketika berada di jalan, Ghai melihat sesosok anak kecil yang terus menerus memperhatikan Ghai yangmain air di sungai itu. Ada saatnya di mana air sungai memiliki arus deras dan tenang seperti ini, biasanya hujan penyebab derasnya aliran sungai di sana.
Ghai yang merasa terganggu akhirnya membalas tatapan sosok anak kecil itu. Dilihatnya anak lelaki berpakaian lusuh berjalan tanpa alas kaki. Ghai akhirnya keluar dari sungai dan berhenti bermain air.
"Sini, jangan pergi," ujar Ghai.
Sosok itu berjalan mendekat ke arah Ghai. Ghai bisa melihat tubuhnya yang jauh lebih tinggi ketimbang sosok anak lelaki yang ada di hadapannya.
"Nama kamu siapa? Kenapa gak pake sendal? Kan kotor," ujar Ghai.
Sosok itu hanya menatap Ghai dalam diam. Ghai yang hanya ditatap akhirnya menghela napas.
"Tunggu di sini sebentar ya!"
Ghai pergi, tak berselang lama Ghai kembali sembari membawa sepasang sendal dengan karakter kartun tergambar di sana. Ghai berjongkok lalu menaruh sepasang sendal itu di hadapan sosok anak lelaki tersebut.
"Pake ini, jadi kalau jalan-jalan gak sakit. Rumah kamu di mana? Ayo aku antar pulang," ajak Ghai.
Sosok tersebut menurut, ia mengenakan sendal yang diberi Ghai. Ia menatap Ghai sekali lagi sebelum akhirnya berbicara.
"Kamu bisa lihat aku?" tanya sosok itu.
Ghai langsung memukul jidatnya. Sadar apa yang dihadapinya sekarang bukan manusia, Ghai menghela napas berat.
"Waduh, bisa-bisa kena marah Derren sama Yaza nih," ujar Ghai.
"Siapa itu?" tanya sosok itu.
Ghai tersenyum sebelum akhirnya kembali menatap sosok itu. Ia pikir tidak akan jadi masalah selama Derren dan Yaza tidak mengetahui masalah ini.
"Temen aku. Nanti aku kenalin. Mereka galak sama sejenis kamu tapi, mereka baik kok," ujar Ghai.
"Temen?"
"Iya. Ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Ghai.
Sosok itu segera mengubah air mukanya, dari yang sebelumnya terlihat datar jadi terlihat ketakutan. Ghai akhirnya mulai mengalihkan pembicaraan, tiba-tiba sosok Arka teringat di otaknya. Melihat sosok anak lelaki itu gelisah, entah kenapa terlihat seperti Arka.
"Ya udah aku aja yang kasih kamu nama."
Sosok itu mulai mengangkat kepalanya, menatap Ghai dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Ghai kemudian tersenyum.
"Arsa! Aku panggil kamu Arsa ya!"
Entah kenapa, sosok itu mulai menangis. Ghai yang melihatnya jadi salah tingkah, ia kemudian melangkah mendekat.
"Jangan nangis. Kamu kenapa nangis? Mulai sekarang kita temen ya."
Pertemanan mereka berlanjut, dan benar saja tebakan Ghai mengenai tanggapan Yaza dan Derren. Mereka tidak suka dengan Arsa, alasannya sederhana. Menurut mereka mahluk seperti Arsa itu berbahaya, banyak dari mereka yang jahat dan berusaha mencelakai manusia, maka dari itu mereka tidak suka melihat kebersamaan Ghai dan Arsa. Terlebih lagi Ghai menamai teman barunya dengan nama yang mirip dengan Arka.
***
"Ya singkatnya gitu. Aku sama Yaza gak suka banget sama yang namanya mahluk halus. Dari dulu, banyak dari mereka yang niatnya ganggu makannya aku sama Yaza punya pemikiran bahwa mahluk seperti mereka berbahaya dan jahat," ujar Derren.
Yaza yang sedari tadi diam, tiba-tiba buka suara. Ia menatap Derren.
"Hari itu, di tanggal 3 Oktober 2015 lo muncul di depan Renren?"
__ADS_1