Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Izola Renata Anais


__ADS_3

TOK TOK TOK


Nea mengetuk pintu dengan heboh. Kost-an milik Arka bukan termasuk kost-an dengan harga murahan, bahkan kost-an Arka hampir bisa dibilang seperti apartemen. Dengan dapur di dalam dan ruang yang cukup untuk menyambut tamu, bukannya sudah bisa dibilang mirip apartemen? Oke jangan lupakan fakta bahwa Arka berasal dari keluarga berada.


Nea terus mengetuk pintu Arka tak ada hentinya. Yaza yang melihat Nea heboh sebenarnya ikut heboh, tapi pikiran rasional Yaza berjalan lebih baik ketimbang Nea.


"Ya, gue tau lo panik ditambah takut, tapi kalem dikit napa? Ganggu tetangga si Arka nanti," ujar Yaza.


"Abis si Arka kagak ngebuka ni pintu dari tadi. Gereget gue!" ujar Nea yang masih melakukan aktivitas mengetuk pintu-nya secara heboh. Hingga akhirnya tiba-tiba sosok Derren hadir di hadapan Nea.


"Berisik woy! Bentar itu Arka lagi masak kagak bisa ninggalin masakannya gitu aja. Bentar lagi keluar kok orangnya," ujar Derren dengan sosok bocahnya.


"Derren! Ghai di mana? Keadaan dia gimana? Udah baik? Ngomong-ngomong kemana sosok besar lo?" tanya Nea. Alih-alih menjawab, Derren terlebih dahulu tersenyum lalu menganggukan kepalanya kepada Yaza, hal ini dilakukannya sebagai isyarat terima kasih.


"Satu-satu napa?! Energi gue lama-lama bisa habis kalau pake rupa itu mulu. Kagak peka amat sih lo Nea," ujar Derren disertai delikan matanya.


"Ghai gimana Der?" tanya Yaza.


"Aman, udah baik lagi kok orangnya, tuh ada di dalem. Nemenin si Arka yang lagi ketakutan di kost-annya" jawab Derren. Nea menghembuskan napas lega ketika mendengarnya.


"Lah, emang kenapa?" tanya Yaza.


"Kayak yang lo gak tau aja, ni kost-an megah sih iya, tapi yang ada di kamar si Arka lumayan juga..." ujar Derren.


"Oh, anak kembar itu?" tanya Yaza.


"Kapan lo pernah ke kost-an si Arka?" tanya Nea tiba-tiba, pasalnya Yaza adalah orang yang mulai menjauh dari lingkar pertemanan Nea ketika memasuki fase semester 4. Anehnya lagi, dengan santai-nya Yaza sekarang tengah mencoba kembali masuk ke pertemanan masa kecil yang Nea kenal, entah bagaimana caranya dan lucunya hal itu diterima tanpa banyak tanya baik dari sisi Arka, Fai, maupun Nea sendiri, padahal jika diingat-ingat lagi, Derren pernah bertanya mengenai alasan sebenarnya di balik sikap Yaza yang menjauh dari Nea secara tiba-tiba.


"Ya pernahlah."


"Kapan?"


"Waktu itu."


"Ya kapan?"


"Waktu gue diputusin si Cindy. Lo kepo banget sih!" protes Yaza.


Niat Nea menggoda Yaza diurungkan akibat Arka yang akhirnya muncul untuk membukakan pintu. Arka langsung mempersilahkan ke-dua sahabatnya itu masuk ke dalam kost-an.


"Fai mana?" tanya Nea.


"Udah ada di dalem bareng Ghai," jawab Arka singkat.


Memang bukan sembarang kost. Nea melangkah memasuki kamar Arka dan duduk di space khusus untuk menyambut tamu. Arka sudah menaruh meja pendek dan menyingkirkan kursi yang biasanya terletak di sana. Mengingat banyaknya orang yang akan hadir di sana hari ini, sepertinya akan lebih baik jika semuanya duduk lesehan di lantai berbalut karpet yang sudah disiapkan sedemikian rupa. Di sana Nea dapat melihat Fai dan Ghai yang tengah berbincang mengenai suatu hal, entah hal apa itu, yang jelas ke-duanya kini tertawa terbahak-bahak.


*lesehan = duduk di lantai beralaskan tikar.


"Ghai! Lo udah gak kenapa-napa?" tanya Nea khawatir.


"Tadi sih kenapa-napa, sekarang udah gak kenapa-napa," jawab Ghai dengan senyuman. Pandangan matanya beralih kepada Yaza yang kini tengah menatap sahabat lamanya yang sudah lama tidak berjumpa.


"Hai Yaza," sapa Ghai sembari mengulum senyumnya pada Yaza. Yaza yang melihatnya segera membalas senyuman Ghai.


"Maaf, butuh banyak keberanian untuk ketemu sama lo secara langsung Gha... Banyak hal yang ingin gue sampaiin ke lo. Kata-kata gue yang sempat keputus setelah kejadian waktu, gue minta maaf Gha," ujar Yaza tiba-tiba, kedua manik matanya memerah. Yaza menahan tangisan kawan-kawan!


"Kamu gak salah apa-apa kok Za... Ayo ikut duduk, ngapain terus berdiri?" tanya Ghai.


Yaza akhirnya mengambil posisi duduk terapit oleh 2 manusia bernama Nea dan Arka. Fai kemudian menatap Ghai dan Yaza silih bergantian, matanya menerawang kejadian lawas yang entah benar adanya atau hanya sebatas imajinasi Fai yang hadir tiba-tiba. Derren yang menyadari perilaku Fai segera bertanya.


"Kenapa Fai?"


"Kok gue ngerasa akrab ya? Kayak tiba-tiba aja gitu, mereka berdua gak asing gitu rasanya," jawab Fai, fokus semua orang teralihkan pada Fai.


"Jelas gak asing, orang dulunya kita teman," jawab Derren, Ghai tersenyum mendengarnya sedangkan Yaza yang duduk di hadapan Ghai terlihat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

__ADS_1


"Masalahnya gue tiba-tiba inget sesuatu," ujar Fai lagi-tiba-tiba.


"Apaan?" tanya Nea.


"Gak tau, seinget gue kita lagi ada di suatu tempat. Entah gue gak inget di mana, tapi yang jelas deket sungai. Iya! Deket sungai, kita lagi liburan disana," jawab Fai.


"Kok tiba-tiba?" tanya Arka.


"Gak tau, tiba-tiba aja gitu ngelintas di ingetan yang rasanya gak pernah ada sebelumnya. Lo jangan anggep ini bercandaan Ka! Gue serius," ujar Fai memperingatkan.


"Kagak sayang! Cuma kalau gitu gak adil dong buat gue?!" ujar Arka tiba-tiba.


"Lah apanya yang gak adil?" tanya Nea.


"Berarti cuma gue yang masih belum inget apa-apa!" jawab Arka. Ucapan Arka disahut tawa Ghai, sangat ringan hingga mampu menyentil hati Nea hingga kembali berdegup dengan cepat. Suara Yaza menginterupsi.


"Surat Renren itu dah ketemu?"


"Darimana lo tau gue dapet surat dari Renren?" tanya Arka.


"Gue penghubung misteri lo-lo pada, jangan tanya kenapa gue bisa tau Ka, karena jawabannya udah pasti," jawab Yaza.


"Kagak sportif lu! Kenapa cuma kita-kita aja yang lupa tentang masa lalu kita?" protes Arka.


"Percaya sama gue, itu semua bakal terungkap setelah lo semua mecahin ini," jawab Yaza.


"Kenapa gak lo kasih tau aja alasannya Za? Gue rasa itu masih ranah yang bisa kita jangkau," ujar Fai.


"Gue mau kalau misalnya gue tau alasannya. Sayang, gue sendiri kemakan sama misteri sialan ini, lagian Balqis juga udah bilangkan kalau ingetan kita juga gak sesempurna itu," ujar Yaza.


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar kost-an Arka diketuk oleh seseorang. Semua orang yang berada di ruangan itu terlonjak kaget. Arka segera menepuk tangannya ketika menyadari bahwa ia mengundang satu orang lagi untuk datang ke kost-annya. Tak lama kemudian Arka bangkit dari posisi duduknya untuk berjalan membukkan pintu kepada satu orang lagi yang akan bergabung dengan mereka malam ini.


"Panjang umur," ujar Arka sembari menuntun Balqis memasuki ruangan.


"Masuk Qis," jawab Arka.


"Jangan kayak gitulah Nea... Balqis juga temen masa kecil kita, jangan lupa peran dia sama kayak Yaza, lo yang ngasih tau gue ya FYI," ujar Aka seolah memberi jawaban atas pertanyaan Nea yang tidak terucap. Nea berdecak sebagai jawaban.


"Oke, aku mau kasih sebuah klarifikasi kenapa aku jutek pas ketemu kamu lagi Nea. Supaya ke depannya gak ada kesalah pahaman yang bikin situasi di antara kita canggung," ujar Balqis yang seolah mengerti alasan mengapa Nea terlihat tidak suka padanya.


"Waktu itu aku jutek karena aku takut untuk terlibat lagi, aku cuma takut perkataan aku salah dan jadinya malah ngefek ke semuanya. Tentunya kamu udah dikasih tau konsekuensi salah-salah kata dari pihak aku, Yaza, dan Derren kan?" ujar Balqis.


Nea mengangguk sebagai balasan. Arka kemudian pergi menghilang untuk sementara entah kemana. Selama kepergian Arka, Balqis mencoba untuk mengembalikan suasana ruangan terasa hangat kembali. Tidak pernah Nea sangka, Balqis yang dulunya sering dijadikan bahan ghibahan Arka, Fai, juga dirinya bisa seramah dan semanis ini. Oke, benar kata orang-orang dan mama, kalau ghibah itu isinya cuma berdasar pada spekulasi yang belum tentu kebenarannya, bisa berujung petaka jika salah info.


"Oke, gue balik!" ujar Arka antusias dengan tangan kanan yang terangkat memegang surat.


Di tangan Arka saat ini terdapat surat bertuliskan tulisan tangan seorang gadis bernama Renren. Derren yang terlihat paling gugup di sana, terlihat kebingungan untuk meluapkan rasa penasaran atau takut kepada isi di dalam suratnya.


"Oke, karena ini surat udah usang kagak tau kenapa alasannya, kita kudu buka hati-hati," ujar Arka yang kemudian mengambil posisi duduk.


*kudu = harus


Semua orang semakin merapat, mencoba mendekat untuk dapat melihat isi di dalam suratnya. Di sisi lain Arka mencoba memperlihatkan suratnya ke segala sisi, dengan cara mengacung-acungkan surat itu ke depan muka setiap orang di ruangan itu.


Amplop surat itu memang terlihat usang, benar kata Arka. Di depannya terlihat sebuah tulisan sambung yang rapih dan terlihat indah.


To. Arka


From. Renren


"Udah siap belum ngeliat isinya?" tanya Arka. Semua orang di sana meneguk saliva-nya, rasanya menegangkan mengingat alasan entah apa yang akan mereka temukan di dalamnya.


"Gue buka ya," ujar Arka yang kini mulai membuka surat itu perlahan dan membacanya dengan seksama.


Hai Arka! Ini aku, Renren.

__ADS_1


Udah lama aku gak nulis surat kayak gini. Sebenarnya ada ponsel, tapi kamu taukan? Aku hanya meniru kebiasaan Nea yang selalu menulis surat dengan alasan 'Surat itu lebih romantis ketimbang surat elektronik!'. Oh, ralat, maksudnya surat dengan embel-embel nama catatan tanpa judul. Ah, aku rindu kalian semua! Aku rindu vila milik Nea di Lembang! Saat aku pulang ke Indonesia ayo kita main ke Lembang! Ngomong-ngomong aku juga rindu vila milik keluargamu kok Ka! Bagaimana kabar kalian semua? Di sini sedang musim semi, persiapan memasuki perguruan tinggi kalian aman?


Maaf lagi-lagi aku menulis surat dan menanyakan kabar kalian melalui kamu Arka, kamu tau alasannyakan?  Oh, ngomong-ngomong bagaimana soal perasaanmu pada Fai? Jangan bilang kamu masih memendamnya... Jangan terlalu lama, tidak baik.


Ngomong-ngomong pengobatanku berjalan lancar di sini, jadi aku bisa pulang setengah tahun lebih cepat. Tunggu aku di sana ya! Oh, dan tolong dengan teramat sangat! Rahasiakan kepulanganku dari semua orang. Mungkin bulan Maret aku akan ada di sana. Sampai jumpa Arka!


From your dearest friend, Renren


4/6/2015


"Udah? Cuma segitu? Pasti masih ada lagi nih! Tapi gue taro mana ya?! Masa ilang gitu aja? Dia bilang lagi-lagi nulis suratnya ke gue soalnya!" ujar Arka yang kemudian mulai berdiri lagi mencoba mencari-cari barang kali ada surat lain yang terselip di ruangan itu.


"Sebentar, gak ngerasa aneh gitu?" ujar Fai tiba-tiba yang berhasil menghentikan aktivitas Arka.


"Apaan?" tanya Nea spontan begitu mendengar pernyataan yang terdengar seperti pertanyaan dari Fai.


"Orang di dalam surat itu, Renren maksudnya. Dia bilang akan pulang setelah pengobatan. Renren sakit?" tanya Fai.


"Iya, Renren punya penyakit bawaan dari orangtua-nya," jawab Balqis.


"Gimana kalau gini aja, kita datang ke rumah Renren untuk berkunjung. Siapa tau orangtua Renren inget sama kita," ujar Fai yang dibalas gelengan dari Balqis.


"Penghapusan memori itu berdampak ke semua orang yang terlibat di misteri ini. Termasuk orangtua Renren. Bayangin aja, tiba-tiba orang yang gak dikenal datang dan nanyain kabar anaknya yang udah pergi dari sisi mereka. Aku yakin itu bakal nampar habis orangtua Renren," ujar Balqis.


Semua orang tampak terfokus pada pembicaraan. Tidak sadar jika sedari tadi gelagat Nea sudah aneh, ditambah lagi tatapan matanya yang terlihat berbeda. Hingga tiba-tiba,


"Bukan itu alasan utamanya kan?" ujar Nea.


Semua orang di ruangan tiba-tiba terbungkam. Fokus Derren beralih pada Nea, di sisi lain Nea sendiri tidak sadar tengah berucap sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak pernah mengingat hal itu sebelumnya, bahkan jika dikata yang berbicara saat itu Nea, mungkin saja belum tentu benar jawabannya.


"Itu karena kalian emang pada dasarnya mencoba menjauh dari aku kan?" tanya Nea.


"Hah?" Derren terlihat gugup.


"Lo kenapa Nea? Kok tiba-tiba aku-kamu?" tanya Arka.


"Maksud lo apaan sih Nea?" tanya Fai.


"Itu bukan Nea," jawab Yaza singkat, padat, dan jelas yang membuat seisi ruangan bergeming sekaligus merinding.


"Kenapa? Apa salah aku? Kenapa kalian ngejauh?" tanya Nea lagi tiba-tiba.


"Nea?" tanya Balqis yang mencoba memastikan kesadaran Nea.


"Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya?" tanya Balqis lagi untuk yang ke-dua kalinya.


Mata Nea tiba-tiba berkabut, siap mengeluarkan air matanya. Yaza dengan tatapan sayu kemudian memanggil sebuah nama lama yang dulu sempat hadir di sisi mereka cukup lama. Sebuah nama yang sempat terlupakan dan kini mulai kembali diingat kehadirannya.


"Izola Renata Anais?"


Nea kemudian mengangkat kepalanya, matanya sudah basah. Derren membelalakan matanya, dengan cepat Derren berdiri.


"Yaza. Lama gak jumpa."


Kening Nea siap mendarat di meja kecil yang sengaja dibawa Arka ke tengah-tengah space tempat mereka duduk jika saja Yaza tidak segera menahan kepalanya agar tidak terbentur cukup keras. Semua orang terlihat terkejut setengah mati, tidak ada yang menyadari kehadiran Renren karena terlalu fokus pada perbincangan sebelumnya.


Nea pingsan, setelah dirasuki oleh Renren bersama dengan ucapan salamnya yang mampu mengguncangkan hati ke-6 sekawan di sana. Nea diangkat Yaza untuk tertidur di kasur yang sudah Arka siapkan.


"Renren mampir," monolog Derren. Ghai menoleh mendengar ucapan Derren yang terdengar berbisik, hampir tak terdengar.


 


 


 

__ADS_1


©AksamalpaAksara


__ADS_2