
Gagal merupakan pilihan yang datang bersamaan dengan frasa kembali berjuang
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
... peraturan yang cukup aneh."
Ghai memiringkan kepalanya kala mendengar jawaban dari Derren. Derren kemudian terkekeh melihat reaksi yang diberikan sahabat itu.
"Sebelum aku cerita, ayolah Ghai! Berhenti jadi hantu yang kaku! Kamu gak bisa terus-terusan pasang wajah datar kayak gitu. Nanti yang ada, penyelamat kamu takut lebih dulu liat kamu HAHAHAHA," ujar Derren yang kini tenggelam dalam fantasinya sendiri.
Ghai terkekeh menatap ekspresi aneh yang Derren keluarkan. Entah imajinasi apa yang menghampiri kepala bocah lelaki di hadapannya itu sampai-sampai dirinya perlu mengeluarkan ekspresi menggelikan seperti itu. Hal baiknya bagi Ghai semua itu mampu menghilangkan kesan buruknya terhadap kata hantu yang kini menjadi identitas dirinya secara tidak langsung.
"Emangnya kamu gak kaku apa? Bicara kadang pake bahasa baku, kadang pake bahasa gak baku," ujar Ghai.
"Lah, kamu sadar? Dari tadi tuh sebenernya aku mau keliatan bijak aja gitu. Cuma ternyata susah ya pake bahasa baku."
"Ngelawak ya? Bocah kayak kamu mau sok bijak jatuhnya kayak sok dewasa tau, hahahaha." Ghai tertawa lepas melihat Derren yang mulai mengerutkan wajahnya.
"Enak aja! Kita ini seumuran tau!" protes Derren.
"Kita? Seumuran? Tinggi kamu aja gak lebih dari pinggang aku, hahahaha."
Tiba-tiba saja datang cahaya. Derren berubah menjadi sesosok hantu yang umurnya sebaya dengan Ghai. Ghai terkejut, tentu saja.
"Hantu juga punya kekuatan kayak gitu?!" tanya Ghai.
"Gimana, kerenkan aku?" tanya Derren sembari membusungkan dadanya lalu mengusap hidung dengan begitu bangga.
"Hahaha, iya deh iya. Ngomong-ngomong apa semua hantu sama kayak kamu?" tanya Ghai.
"Maksudnya?"
"Kaku," jawab Ghai.
"Mungkin? Selama ini aku selalu ketemu hantu yang kaku begitu mengalami kebangkitan pertama, cuma satu. Cuma satu yang berbeda." Air muka Derren tak lagi berwarna, berubah kelabu secara tiba-tiba.
Ghai menyadari ada yang aneh kala suara Derren berhenti di sana. Ghai lantas mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan dalam usaha melihat detail lantai kayu yang digunakan dalam ruangan itu. Memperhatikan perubahan air muka Derren yang duduk tak jauh darinya.
"Kenapa?" tanya Ghai.
"Oh iya! Mulai dari mana ya? Aku pikir sebelum masuk ke peraturanku, aku akan menceritakan bagaimana asal muasal rumah kita ini diwajibkan tutup pada pukul 4 sore," ujar Derren.
"Oh, jadi karena itu. Pantas aja tempat ini kelihatan sepi dari tadi," ujar Ghai yang dibalas senyuman manis oleh Derren.
"Semua berawal dari kasus bunuh diri seorang mahasiswi berprestasi di bidang seni musik, mahasiswi juga mahasiswa di sini percaya bahwa kematian mahasiswi itu berhasil membawa malapetaka yang datang pada 3 murid jurusan seni musik kampus ini," ujar Derren.
Ghai mulai menanggapi semua perkataan Derren dengan serius. Tak lama kemudian Ghai semakin memperpendek jarak antar ke-duanya.
"Mahasiswi itu cantik, tapi korban bullying. Pada awalnya dia sama kayak kamu, sosok hantu yang mengalami kebangkitan. Aku hadir di sana untuk membimbing mahasiswi itu dan aku gagal. Ingatannya tidak terkontrol dan hal itu yang ngebuat dia kehilangan akal sehatnya. Dia memulai aksi balas dendam pada pelaku bullying yang berkaitan dengan kasusnya. Tiga orang terbunuh, termasuk dua pelaku bullying meninggal di tangan mahasiswi yang berwujud tak kasat mata itu," ujar Derren.
"Bagaimana cara ke-duanya terbunuh?" tanya Ghai.
"Dia cukup kejam. Korban pertama meninggal karena mahasiswi itu ngedorong korban dari tangga dan usahanya berhasil matahin leher si korban pertama, kejadian itu berlangsung pada pukul 4 sore. Lalu, korban ke-dua meninggal dengan cara terjatuh setelah terkurung berjam-jam di toilet wanita, lagi-lagi dengan cara yang sama patah leher, dan kejadian itu lagi-lagi berlangsung pada pukul 4 sore," ujar Derren.
__ADS_1
"Lalu korban ke-tiga?" tanya Ghai.
"... Itu puncak kegagalan ku. Karena peraturan bodoh ku, seseorang kembali terbunuh. Lagi-lagi karena aku hantu yang lemah, seorang manusia menjadi korban atas kesalahanku," ujar Derren.
"Apa maksudnya?" tanya Ghai.
"Seorang mahasiswa menjadi korban tabrakan akibat si pengendara yang dirasuki oleh mahasiswi itu. Mau tau kenapa jawabannya? Jawaban kenapa aku selalu gagal menyelamatkan korban dari aksi mahasiswi itu. Karena aku berubah jadi hantu lemah kalau kena sinar matahari, aku gak bisa memegang sesuatu, berjalan, juga terlihat bahkan oleh sesama hantu lainnya saat sinar matahari nyorot tubuh aku. Sebuah peraturan bodoh yang diberikan seseorang kepadaku yang bertugas menjaga semua hantu di tempat ini dan menunggu kedatangan seseorang," ujar Derren.
Ghai terdiam mendengar pernyataan Derren. Pasalnya Ghai tak lagi sanggup untuk berkomentar perihal cerita Derren. Bertanya saja ragu, apalagi berbicara dan mengomentari.
"Peraturan yang menyusahkan bukan?" tanya Derren.
"Siapa?" tanya Ghai.
"Apanya?" tanya Derren yang tampaknya tak paham dengan arti dari pertanyaan Ghai.
"Siapa si pemberi aturan ini?" tanya Ghai.
"Orang yang sama," jawab Derren.
"Orang yang sama? Siapa mahasiswi itu?" tanya Ghai. Sorot mata Derren berubah, entah karena dirinya menyembunyikan sesuatu, entah karena rasa bersalah yang lagi-lagi datang.
"Anais. Cukup satu kata dari 3 rangkaian kata indah mengenai nama miliknya," ujar Derren.
"Kamu, suka Anais ya?" tanya Ghai dengan kekehan.
"Apaan sih tiba-tiba?!" tanya Derren dengan pipi yang kini bersemu.
"Terus, di mana Anais sekarang?" tanya Ghai.
"Aku cuma nanya tuh. Gak ada perasaan takut sedikitpun," ujar Ghai sembari memutar bola matanya.
"Oh, masa? Gak takut mikirin seberapa gila Anais sampai-sampai ngelakuin aksi pembunuhan ke-3 sosok manusia?" tanya Derren.
"Bukannya dia pasti punya alasan? Terlepas dari emosi sesaat miliknya yang tidak terkendali dan kesalahannya perihal menghilangkan nyawa seseorang. Aku rasa para pembuli itu pantas mendapat ganjarannya," ujar Ghai.
"Tapi mereka gak ngebunuh Anais, jadi bukannya artinya Anais ngambil langkah yang terlalu ekstrem?" ujar Derren.
"Mereka emang gak ngebunuh Anais secara fisik, tapi mereka berhasil menghancurkan Anais dari dalam. Bukannya itu bagian terburuknya? Penyiksaan ketika berakhir dalam keadaan hidup akan berakhir jadi trauma, tetapi penyiksaan yang berakhir dalam keadaan mati akan berakhir jadi luka bagi penyiksa. Lagian aku juga gak membenarkan aksi Anais. Aku cuma prihatin sama Anais perihal kehidupannya," tanya Ghai.
"Tapi, Anais membunuh dan menghilangkan harta paling berharga milik semua orang. Nyawa. Itu hal yang paling buruk di antara yang lainnya. Bahkan kamu tahu, Tuhan membenci aksi mahluknya yang menyakiti diri sendiri juga mahluk lainnya. Diri setiap individu itu berharga, seburuk apapun identitas mereka, mereka berhak hidup selama mereka mencoba memperbaiki masa lalunya dan belajar melalui kesalahan.
Sama halnya dengan mereka yang punya banyak kegagalan di dalam hidupnya, bukan berarti kegagalan itu yang buat mereka jadi orang gagal yang gak pantas hidup. Hidup perihal memilih, jadi orang gagal itu pilihan, bukan karena kita banyak gagal. Mereka tidak bisa selalu terpuruk oleh masa lalu karena ada masa depan yang menanti," ujar Derren.
"Apa yang tadi itu bentuk sok bijak lainnya dari seorang Derren? Atau jangan-jangan kamu ini sebenarnya berusia 100 tahun?" tanya Ghai.
"Bukan gitu! Aku gini karena kamu terus membenarkan sesuatu yang menurutku salah," jawab Derren.
"Akukan udah bilang, aku gak membenarkan aksi Anais. Aku cuma menunjukkan bahwa aku ini kasihan sama dia," ujar Ghai.
Derren terdiam begitu mendengar ucapan Ghai. Mereka terhanyut dalam keheningan yang tak bertahan cukup lama. Derren berujar setelah memejamkan matanya untuk beberapa detik.
"Memang aku yang terlalu naif. Aku yang terlalu percaya dengan pikiranku hingga berhasil mengubah semuanya."
__ADS_1
"Apa maksudnya? Derren, kamu itu suka banget main teka-teki ya?! Aku ini hantu yang baru bangun. Ingatan yang aku punya mungkin cuma bongkahan upil di sebelah bongkahan emas berton-ton milik kamu. Jadi berhenti bermain teka-teki," ujar Ghai.
"Aku gak main teka-teki! Aku justru cerita kebenarannya. Udahlah, pokoknya itu asal muasal peraturan jam 4 sore diberlakukan. Intinya jangan tanya lagi soal ini nanti, karena aku gak mau lagi-lagi harus memberikan klarifikasi lainnya," ujar Derren.
Ghai kemudian terkekeh kala suara hentakan yang dikeluarkan melalui pertemuan antara sol sepatu khas milik Derren dengan lantai kayu tempat Ghai terduduk saat ini menjadi nada aneh yang cukup enak untuk didengar. Derren yang melihatnya siap menghujat Ghai.
"Ck! Ghai, tau gak sih?! Kamu itu berhasil buat aku jadi ngungkapin banyak rahasia yang aku pendam selama ini!" ujar Derren.
"Loh, bukannya bagus? Beban kamu jadi sedikit terangkat, 'kan?" tanya Ghai.
"Tapi soal Anais, dia gak salah. Bukan dia penanggung dosanya, tapi aku. Anais itu gadis manis yang selalu baik, ramah, dan hangat."
Semua deskripsi yang dikatakan Derren perihal Anais tiba-tiba saja membawa Ghai ke sebuah tempat. Bukit kecil di antara lautan senja dengan pohon-pohon Tabebuya yang berjajar manis sebagai pelengkapnya. Jemari mungil milik seorang gadis cilik menjadi pemandangan pertama yang Ghai tangkap. Bayangnya menjadi muskil akibat senja yang dengan egoisnya menampilkan keindahan di balik sosok manis itu. Hendak menyahut uluran jemari mungil itu, Ghai lagi-lagi direnggut, kini kegelapanlah tempatnya.
"GHAI! Ya ampun!! Aku pikir kamu kenapa-napa!" ujar Derren panik.
"Gak asing. Aku di sana gak sendiri," ujar Ghai.
"Maksudnya??" tanya Derren yang masih terlihat panik.
"Pohon Tabebuya di bukit kecil dengan pemandangan langit luas. Di mana tempat itu Der?" tanya Ghai.
"K-kamu ini. Tempat apa sebenarnya yang baru aja kamu singgahi?" tanya Derren dengan air muka terkejut.
"Ada anak perempuan di sana Der. Mukanya samar. Aku baru aja dari sana," jawab Ghai.
Derren terkesiap mendengarnya. Dengan cepat Derren mengambil tangan Ghai untuk bersalaman memberi selamat.
"Selamat! Ingatan pertamamu kembali. Aku pikir kamu bakal mati," ujar Derren.
"Bukannya emang udah mati? Hantu masih bisa mati untuk ke-dua kalinya ya?" tanya Ghai.
"Astaga Ghai! Masih aja bercanda di saat seperti ini," ujar Derren sembari memukul pundak Ghai cukup keras.
"Jadi?" tanya Ghai bingung.
"Jadi, sekarang apa?" tanya Derren sembari memiringkan kepalanya.
"Cari sosok yang dibilang si suara aneh pas tadi aku bangun," ujar Ghai.
"Oke! Aku bakal bantu kamu. Fighting!" ujar Derren sembari mengepal ke-dua tangannya erat-erat dengan posisi diangkat ke atas.
"Emang masih bocah, jadinya lucu," ujar Ghai sembari menatap sosok Derren yang berperawakan layaknya anak berumur 7 tahun.
"Apa?! Gak salah dengarkan gue?!!" tanya Derren.
"Pfft, gue? Kemana sosok sok bijak kamu tadi?" tanya Ghai diselingi tawa.
"Walaupun mati muda, gue belajar dari kosa kata kalian! Mulai sekarang gue gak akan kaku-kaku lagi ya! Hantu gaul mau kasih pelajaran nih!" ujar Derren sembari mengejar sosok Ghai yang sudah berada 5 langkah di depan Derren.
"Ih, takut," ujar Ghai dengan nada yang tidak terdengar serius sedikitpun sehingga perkataannya berhasil memberikan kesan canda di dalamnya.
__ADS_1
©AksamalpaAksara