Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Orang Asing yang Terasa Akrab


__ADS_3

"Makan!" teriak Nea dari dalam.


Ghai yang pertama berdiri, sedangkan Arka masih terdiam di posisinya. Ghai menoleh menatap Arka.


"Gak ikut lo? Ayo makan, habis ini kita balik" ajak Ghai.


***


"Makasih!! Nanti main lagi ya!" ujar Balqis pamit.


Yaza mengantar satu persatu sahabatnya dan yang terakhir adalah Arka. Jangan salahkan Yaza, alasan Arka yang diantar paling terakhir karena Arka memilih pulang ke kost-an ketimbang rumahnya. Kata Arka ke-2 orangtuanya sedang berada di sana. Sebenarnya masih tersisa Ghai dan Derren selama perjalanan.


"Sisa lo berdua. Mau dianter ke kampus apa gimana?" tanya Yaza.


"Kita turun bareng Arka aja. Lagian jarak dari sini ke kampus deket. Lo balik aja, kasian dari tadi nyetir" jawab Ghai.


"Yakin gak mau dianter? Gua gak apa kok. Lagian lo udah baikan?" tanya Yaza.


"Lo kira gue sakit sampe tidur lagi gitu? Gue udah sehat kok, sana balik" jawab Ghai.


"Ih seriusan gue gak kenapa-napa kalau harus mampir ke kampus bentar" ujar Yaza.


Derren yang jengah mendengar perdebatan ke-duanya memutar bola mata malas sembari berkacak pinggang. Akhirnya Derren memutuskan untuk buka suara.


"Ck! Lo maksa banget sih Za, kan jadi gak enak gue tolak" ujar Derren sembari kembali melangkah masuk ke dalam mobil.


"Gak mau ikut?" tanya Derren.


"Ck! Dasar, niat baik supaya lo gak cape lebih dari ini malah ditolak" protes Ghai.


"Niat baik supaya lo gak tumbang di jalan dan nyusahin Derren malah ditolak" protes Yaza.


"Tau dari mana coba, gue masih sakit. Sok tau amat" ujar Ghai.


"Ngaca sono! Muka udah kayak mayat masih ajak ngelak" balas Yaza.


"Berisik amat sih! Cepetan, cepetan! Dasar bocah, yang kayak gitu aja jadi berantem" protes Derren.


"Lo yang bocah!" balas Ghai dan Yaza bersamaan.


"Ish!"


***


Catatan Tanpa Judul pt.1


Hai! Karena dear diary udah mainstream, jadi gue mau menjadi pelopor trend baru untuk diri gue sendiri memulai buku harian dengan judul 'Catatan Tanpa Judul'. Gak, sebenernya bukan buku harian juga sih. Habisnya, gue mau mencoba hal lain juga, mungkin sewaktu-waktu akan berubah jadi surat, atau mungkin bener-bener sekedar catatan yang berfungsi untuk nyelesaiin teka-teki ini. Itu terserah gue kan?


Kata Derren, dari dulu gue selalu bikin yang kayak ginian. Hm, semacam catatan harian yang mungkin isinya perlu diberi judul tapi otak seorang Nea malas berputar mencari nama yang tepat untuk catatannya.


Jadi, gak banyak sih. Gue cuma mau sok ngide aja mencoba jadi diri gue yang dulu. Oh iya! Selama liburan gue malah fokus ngerjain TA. Terus karena, untuk kali ini niatnya dibuat sebagai catatan harian, gue cuma mau bilang gak banyak yang terjadi setelah liburan tahun baru kemarin. Selama 9 hari ini gue cuma bolak balik kampus buat ketemu sama Ghai sekaligus ngobrol dan ya ngehabisin waktu bersama? Walau selama 9 hari ini personil band (apaan si gue? gak jelas bangeud) ya intinya kita gak selalu lengkap, ada aja yang ada urusan. Maklum, jarang-jarang bisa liburan.


Catatan Tanpa Judul pt.1 ini akan bener-bener gue mulai tanpa arti kayak gini. Nanti ke depannya mungkin gue mau coba jadi anak sok puitis yang duduk di balkon kamar, pasang lagu nuansa senja sembari ditemani secangkir kopi manis, ralat. Gue lupa. Gue gak terlalu suka kopi. Ya, mungkin ganti jadi secangkir matcha latte?


Terserahlah, intinya catatan hari ini gue akhiri sampai di sini. Oh, tentang jejak pencarian harta karun catatan gue yang entah disimpan atau terkubur di mana, pasti akan gue kabarin. FYI karena sekali lagi gue mau sok anti-mainstream ini catatan, mau gue sobek terus dikumpul nanti sama kertas sobekan berisikan catatan gue yang lain.


Oke, untuk sekarang benar-benar sampai jumpa!


10/1/2019


Dari Nea si pemburu harta karun


***






Arka berjalan menyusuri area depan kampus. Janjinya dengan Nea hari ini untuk pergi mencari rumah sakit akan ditepati. Terlebih untuk urusan TA miliknya bisa dikerjakan nanti lagi karena, Arka tidak mengejar target seperti Nea yang memiliki durasi waktu yang ingin dicapai. Pikirnya, cukup dengan waktu minimal yang diberikan dan hasilnya maksimal kenapa tidak?


"Ka!"


Merasa lama menunggu Arka mengeluarkan ponselnya berniat menanyakan keberadaan temannya yang satu itu. Salahkan Arka yang datang lebih awal dari waktu janji yang ditentukan olehnya padahal, jika melihat keseharian Arka, manusia itu termasuk dalam kalangan manusia buta waktu, alias tukang telat.



Arka segera melihat ke depan. Nea di sana tengah memberikan sapaan hangatnya yang berbeda dari sebagian orang pada umumnya, sebuah kepalan tangan dengan bibir bawah yang digigit. Benarkan kata Yaza? Nea itu unik.


Tak ingin berlama-lama, setelah melihatnya, Arka segera memasukan ponselnya ke dalam tas. Ketika tengah menyebrangi jalanan, sebuah motor dengan cepat melintas. Nea terkejut setengah mati, ia dengan cepat berlari ke arah Arka. Di sisi lain, jantung Arka berpacu dengan cepat, membuat dadanya terasa sakit. Napasnya tercekat, tak kuasa menahan rasa sesak yang hadir, Arka kini tengah berjongkok.

__ADS_1


"Lo gak apa Ka?! Jawab gue! Kena mananya lo?" tanya Nea dengan suara panik.


Tidak, Arka tidak tertabrak di tempat itu. Ia baik-baik saja bahkan, tidak ada luka ataupun goresan sekecil apapun di tubuhnya. Hanya saja, rasa tidak mengenakan itu hadir dan membuat tubuhnya keringat dingin saat ini.


"Ka! Coba liat sini!" ujar Nea yang mulai merentangkan tangan kiri Arka, sedangkan tangan kanannya masih ia taruh di depan dadanya dan terhimpit oleh paha miliknya.


"Coba liat muka lo" ujar Nea yang mulai memegang ke-2 pipi milik Arka, memaksa Arka memandang wajah berisikan air muka panik milik Nea.


Arka memejamkan matanya sesaat. Tiba-tiba saja suara Ghai terdengar bersamaan dengan si pelaku yang membuat Arka terlihat kesakitan seperti saat ini.


"Nea! Arka! Kenapa?!" teriak Ghai dari sisi jalan.


"Maaf, saya gak tau saya ngebut di jalan, saya gak sadar. Maaf ya" ujar si pengemudi.


Nea merasa kesal setengah mati pada si pengemudi. Tidak sadar katanya? Sudah gila apa? Nea yang terlihat kehilangan kesabarannya segera berdiri menatap si pengemudi dengan tatapan tajam sembari berkacak pinggang. Kakinya ia hentakan ke aspal.


"Gak sadar? Gila ya lo?! Kalau temen gue sampe kenapa-napa gimana coba?!" ujar Nea dengan nada tinggi.


"Maaf ya" ujar si pengemudi tanpa melepas pelindung kepalanya.


Nea kesal dengan si pengemudi yang tidak terlihat menyesal sama sekali. Nea kemudian memukul helm si pengemudi keras hingga Ghai yang berada di sebrang jalanpun meringis mendengarnya.


"Lepas gak tu helm?! Udah tau salah. Gak sopan banget minta maaf mukanya kagak diliatin!" protes Nea.


Arka yang sudah membaik mulai berdiri. Ia menggenggam tangan Nea, mencegah amarah Nea semakin menjadi. Bisa repot Arka nantinya kalau itu terjadi. Di sisi lain, Ghai membulatkan matanya secara sempurna melihat aksi Arka. Ia segera berpindah tepat di samping Arka, tak lama setelahnya ia segera merangkul Arka.


"Kagak ada acara modus ke cewek gue tolong" ujar Ghai.


"Lah lo di sini Gha?" tanya Arka masih dengan suara yang terdengar lelah.


"Hah?" tanya Nea yang bingung, sama halnya dengan si pengemudi.


"Eh gak, gak kenapa-napa kok. Udah Nea, gue juga gak ketabrak ini kok. Sehat wal afiat gue" ujar Arka.


"Gue panik, ngeliat lo ngemodus sama Nea jadi gemes juga gue sama lo" bisik Ghai pada Arka.


"Berisik lo, udah diem aja" balas Arka dengan nada berbisik.


"Yakin lo gak kenapa-napa Ka?" tanya Nea.


"Yakin" jawab Arka.


Setelah menatap Arka, pandangannya beralih kembali pada si pengemudi. Si pengemudi yang terlihat terusik mulai menggaruk helm miliknya.


"Emang ya cewek gue" ujar Ghai setengah berbisik sembari bertepuk tangan memberikan apresiasi pada sikap Nea.


"Cewek gue, cewek gue. Emang udah dideklarasiin sama lo?" balas Arka yang mendapatkan sebuah senggolan sebagai jawaban. Jangan berharap lebih, tubuh Arka tidak bergoyang sedikitpun. Hanya terasa seperti ada angin yang berhembus tepat di samping pinggangnya.


"Iya, maaf ya" ujar si pengemudi.


Tak lama kemudian si pengemudi melepas helm miliknya. Si pengemudi menyisir rambutnya yang sempat teracak karena aksi lepas helmnya. Wajahnya terlihat tidak asing, terutama bagi Ghai. Melihatnya, tubuh Ghai mulai menggigil. Ghai membatu di tempatnya berdiri saat ini, keringat dingin mengalir melalui pelipisnya.


"Loh, Adrian? Jadi lo!" ujar Nea.


"Siapa ya?" tanya si pengemudi bernama Adrian itu. Pertanyaannya berbuah pukulan keras di tangan Adrian, dan Nea-lah pelakunya.


"Temen SMA lo anj*r! Nea. Nyetir kagak bener lagi! Curiga SIM lo nembak. Besok-besok lo ngebut-ngebutan lagi, lo mati di tangan gue awas aja!" peringat Nea.


"Nea? Oh, Nea yang namanya panjang itu? Si 5 Suku Kata?" tebak Adrian.


5 Suku Kata adalah panggilan Nea semasa SMA. Jangan lupakan nama Nea yang panjang, hal itulah yang menjadi alasan di balik nama panggilan miliknya di SMA.


"Iya woy!" jawab Nea yang terdengar antusias.


Tubuh Ghai yang melihat sosok Adrian, entah kenapa merespon secara tidak baik. Ia mulai kehilangan keseimbangan, alhasil Ghai bertumpu pada ke-2 lututnya. Arka memang tidak dapat melihat Ghai, namun ia bisa mendengar napas Ghai yang tersenggal-senggal.


"Gha? Lo kenapa?" bisik Arka.


"Ghai?" tak terdengar balasan Arka kembali memanggil nama Ghai.


Ketika Nea sibuk bertukar kabar dengan Adrian, Arka disibukan oleh kegiatan mencari keberadaan Ghai yang sebenarnya sedari tadi ada tepat di samping Arka. Ghai berulang kali mencoba meraih jaket yang Arka kenakan, namun aksinya tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Anj*r, lo jangan bikin gue panik. Lo di mana?" tanya Arka masih mempertahankan nada setengah berbisiknya itu.


"Sebelah lo Ka" jawab Ghai dengan napas tercekat.


"Lo kenapa?" tanya Arka.


"Gue pergi dulu. Nanti gue nyusul lo berdua" ujar Ghai.


"Lah, Gha!" kelepasan tak lagi berbisik, Nea dan Adrian segera menoleh menatap Arka.


"Gha? Ghai di sini?" tanya Nea setengah berbisik. Arka menatap Nea dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. Adrian sempat menatap Arka cukup lama, lalu setelahnya menepuk lengan Arka.

__ADS_1


"Ini Arka ya? Anak XII MIPA 4? Maaf ya bro, gue gak sadar tadi ngebut" ujar Adrian yang dibalas dengan tatapan menyelidik dari bawah hingga atas oleh Arka. Dalam urusan seperti ini, Nea peka.


"Gue deluan ya Dri! Masih ada urusan lagi sama si Arka" pamit Nea.


"Oh gitu. Okelah, hati-hati ya!" balas Adrian.


"Jangan ngebut-ngebut lo!" ujar Nea.


"Iya, gue sebenernya udah gak ngebut-ngebutan kok semenjak, hmm... sekitar setahun ke belakang? Tadi kelepasan aja" ujar Adrian.


"Awas lo!" ujar Nea.


"Iya 5 Suku Kata" balas Adrian diiringi kekehan.


"Ya udah, gue deluan ya Dri!" pamit Nea lagi.


"Yo!" balas Adrian.


Tak lama setelahnya, Adrian kembali mengenakan helm miliknya lalu pergi meninggalkan area tersebut. Tersisa Arka dan Nea sekarang.


"Lo yakin gak kenapa-napa Ka?" tanya Nea.


"Ya Nea. Btw, anak tadi siapa sih? Gue gak suka" jawab Arka.


"Adrian. Anak kelas gue dulu, inget gak lo?" jawab Nea.


"Gak dan gue rasa tu orang gak penting diingat" jawab Arka.


"Terserah lo dah. Oh, jadi kita mau kemana ini? Naik apa?" tanya Nea.


"Lo gue ajak keliling rumah sakit di Bandung intinya. Naik motor gue aja, gue bawa motor" jawab Arka.


"Lah? Bisul lo emang udah gak sakit?" tanya Nea. Arka memutar bola matanya ketika mendengar ucapan Nea.


"Martabat gue Nea. Martabat!!" ujar Arka dengan nada yang terdengar kesal, ucapannya diiringi aksi menoyor kepala Nea.


***


"Ka!" suara Ghai terdengar tepat di samping telinga Arka.


"Jir! Kaget gue" ujar Arka.


"Kenapa lo malah bawa Nea? Gue kan dah bilang Yaza aja" protes Ghai.


"Yaza sibuk katanya. Ada anak kelasnya minta tolong ajarin ke si Yaza. Lagian daripada gue sendiri gue ajak aja Nea" jawab Arka.


Ghai terkekeh menatap Arka yang sibuk berbicara seolah-olah Ghai berada di samping kirinya. Padahal, Ghai berada di samping kanan Arka.


"Gue di kanan" ujar Ghai. Mendengarnya, Arka segera memutar tubuh lalu berkacak pinggang.


"Lo kasih tau gitu dari tadi?! Malu kan gue jadinya" protes Arka.


"Hehehe. Supaya gampang mohon diingat, gue selalu muncul dari sisi kanan lo" ujar Ghai.


"Ck! Berasa malaikat pencatat amal baik aja lo" protes Arka.


"Hehe. Pacar lo kemana?" tanya Ghai.


"Acara keluarga" jawab Arka.


"Ck."


Nea datang membawa sekantung plastik berisikan jajanan Indomaret. Ghai menatap Nea sembari menyilangkan dada.


"Yang penting lo gak ngasih tau tujuan kita sebenarnya ke Nea-kan?" tanya Ghai.


"Nasib buruk gue bohong pantat gue kena bisul. Bisa jadi bahan lawakan nih gue untuk ke depannya" ujar Arka sembari mengusap wajahnya frustasi.


"Hahahaha. Makasih zheyenk! Memang Arka itu manusia yang paling bisa diandalkan di dunia ini" ujar Ghai.


"Udah lo ngerayunya?" tanya Arka jengah.


"Udah, hehehe. Eh inget! Nea gak boleh tau gue ngikut lo berdua" ujar Ghai mengingatkan.


"Iye, urusan itu mah gampang."


"Sekali lagi, thanks bro" ujar Ghai.


"Gak akan gue jawab you're wellcome, FYI" ujar Arka.


"Tau kok. Cuma mau bilang aja."


Jauh di lubuk hatinya Arka merasa sedikit bersalah mengatakan hal itu. Maksud bercanda memang tidak selalu berujung tawa.

__ADS_1


'Sama-sama bro. Terimakasih juga untuk lo yang balik lagi ke samping gue dan kasih kesempatan ke-2 untuk gue yang pasti punya banyak salah sama lo' - Arka.


__ADS_2