Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Ingatan Lainnya


__ADS_3

"Oh jelas dong tan" jawab Fai.


"Saya baru tau Renren punya teman sebanyak ini" ujar mamanya Renren.


"Selalu punya kok tan, baik dari dulu sampai sekarang" ujar Balqis.


"Ini namanya siapa aja?" tanya mamanya Renren.


"Saya Nea tante" jawab Nea dan seterusnya dilanjut dengan perkenalan yang lainnya.


"Mau ngobrol sama saya di sana?" tanya mamanya Renren sembari menunjuk sebuah gazebo di pemakaman itu.


"Boleh tante" jawab Arka.


"Ya sudah ayo ke sana nak" ajak mamanya Renren.


***


"Iya, Renren itu anaknya periang sekali. Dulu tante suka bawa Renren main sama temen-temennya, tapi tante lupa siapa nama anak-anak itu."


"Iya tan, Renren itu anaknya manis banget" ujar Balqis setuju.


Nea dan Fai adalah ke-2 orang yang kini hanya tersenyum manis menanggapi perkataan mama Renren dan Balqis, pasalnya ke-duanya tidak memiliki begitu banyak memori tentang Renren. Di sisi lain Arka dan Yaza tengah sibuk membicarakan otomotif dengan papanya Renren. Jangan tanya Derren dan Ghai yang sekarang tengah menghilang entah ke mana.


"Renren itu anaknya susah makan. Udah tau kondisi tubuhnya lemah tapi makannya susah. Tante suka heran."


"Waktu masih di Belanda juga susah makan tan?" tanya Balqis.


"Iya, sama aja. Di Indonesia, di Belanda semuanya sama, susah makan."


"Dasar Renren" ujar Balqis ditemani senyuman sendu.


"Ini kalian lagi pada mau ke mana habis ini?" tanya mama Renren.


"Rencananya mau tahun baruan bareng tan" jawab Balqis.


"Oalah begitu. Rencananya mau kemana itu teh?"


"Lembang tante. Ini di vilanya Nea" jawab Balqis sembari menunjuk Nea.


"Hati-hati ya sayang. Kalau tante abis ini mau balik ke Belanda, penerbangan sekitar jam 4 sore" ujar mama Renren sekali lagi.


"Gitu ya tan? Tante ini emang rencana menetap di sana?" tanya Nea kali ini memberanikan diri.


"Oh, bukan gitu sayang. Cuma kerabat si om emang banyaknya di sana kan, jadi tante mah sebagai istri ngikut ya gak?" tanya mama Renren dengan senyuman.


"Oalah gitu ya tan? Kira-kira balik ke Indo-nya lagi kapan tuh?" tanya Nea lagi.


"Hmm, kalau gak salah nanti April tante balik lagi ke sini soalnya si om ada project, tapi itupun di Jakarta sih. Nanti mampir ke rumah sana kalau main ke Jakarta ya! Tante pasti sambut dengan baik kok."


"Pasti tante" jawab Balqis dengan senyuman.


"Ya udah, kalian masih ada rencanakan habis ini? Tante deluan ya! Titip Renren ya sayang! Makasih udah jadi sahabat Renren selama Renren masih ada di sini bareng kita semua" ujarnya sekali lagi.


"Sama-sama tante" jawab Nea, Fai, dan Balqis.


***


"Derren, lo mau kemana? Nanti yang lain cari loh!" peringat Ghai pada Derren.


"Lo tunggu di sana aja bareng yang lain Gha, gue ada urusan bentar" balas Derren.


"Ya mau kemana? Nanti pas pada berangkat jadinya gue bisa nyusul lo dan langsung ngajak lo balik" ujar Ghai.

__ADS_1


"Ck! Diem di sana aja kenapa sih? Gue pasti balik kok kalau lo panggil!" ujar Derren gemas melihat Ghai yang terus bersikeras untuk mengikuti Derren.


"Gak bisa gitu Der! Kalau lo kenapa-napa gimana coba?" ujar Ghai.


Tiba-tiba muncul sebuah pergerakan, gerak itu mengarah ke sebuah semak-semak yang tidak jauh dari tempat Ghai dan Derren berpijak saat ini. Derren segera menoleh mencari sumber suara.


"Kamu balik dulu cepetan!" perintah Derren.


"Hantu kok takut hantu!" ujar Ghai yang kemudian melangkah maju mencoba mengecek ulah siapa yang membuat Derren saat ini benar-benar gugup.


"Ghai!" Derren memberi peringatan dengan teriakan setengah berbisiknya pada Ghai.


"Apaan sih?!" Ghai menoleh dengan air muka jengah.


"Bahaya! Cepet balik sini!" perintah Derren.


"Apanya yang bahaya?" tanya Ghai yang kemudian menyibak semak-semak itu. Derren terperanjat dari tempatnya kemudian mengambil langkah mundur perlahan.


Ghai kemudian menoleh, menatap ke arah semak belukar yang baru saja ia sibak sebelumnya. Derren dengan cepat mengambil tangan Ghai. Namun terlambat, Ghai melihatnya. Sesosok anak lelaki dengan tubuh kurus dan pakaian lusuh itu tengah meringkuk di antara semak belukar itu. Rambutnya terlihat tidak rapi, ia tidak memakai alas kaki apapun. Tak lama kemudian anak lelaki tersebut menoleh ke arah Ghai perlahan. Lingkaran hitam di matanya terpampang jelas.


"Ghai, ingat aku?" suaranya terdengar menyesakkan dada.


Ghai seolah ditarik masuk ke lubang lagi. Kini, Ghai berada di alam bawah sadarnya. Sebuah pemandangan pohon pinus di sekelilingnya membuat Ghai tersadar, ia pernah ke sini sebelumnya. Ghai kemudian melihat kembali sesosok anak tadi, dengan pakaian lusuhnya tengah berdiri menatap seorang anak lelaki lainnya.


Pakaiannya berupa kaos berwarna biru langit dengan tulisan "I Love My Mom" namun terlihat penuh debu dan usang, celana yang dikenakannya berupa celana jeans pendek berwarna coklat muda. Ghai menatap anak lelaki itu lekat-lekat.


"Jauh-jauh dari Ghai! Ghai itu temenku, jangan jahat sama dia!"


Ghai mengenal suaranya, jika tidak salah itu Derren. Ghai mengambil langkah maju mencoba melihat wajah anak lelaki yang kini tengah berbincang dengan si sosok yang tadi dilihatnya.


"Ghai juga temenku, kenapa Ghai gak boleh temenan sama aku?" tanya sosok itu.


"Soalnya kamu jahat, kamu mau nyelakain Ghai. Gak boleh! Kamu gak boleh deket-deket Ghai" jawab Derren kecil.


"Soal itu--"


"Derren! Ngapain di situ?" sosok Renren kecil muncul dari balik pohon pinus.


"Renren?!"


Sosok itu menghilang, menyisakan Derren dan Renren kecil di sana. Ghai kemudian ditarik lagi ke tempat lainnya. Kini tepat di samping sungai, Ghai kecil tengah bersama dengan sosok anak kecil misterius tadi.


"Maaf ya, aku gak mau temenan lagi sama kamu" ujar sosok Ghai kecil.


"Kenapa? Kalau Ghai pergi nanti aku sama siapa? Aku gak punya temen" ujar sosok kecil itu.


"Arsa main sama yang lain aja, Ghai sama temen-temen Ghai" jawab Ghai kecil.


"Tapi aku gak punya yang lain, aku maunya Ghai!" ujar sosok anak kecil itu yang kini diketahui identitasnya bernama Arsa.


"Maaf ya Arsa, Arsa baik-baik ya. Ghai pulang dulu, dicariin mama" ujar Ghai kecil yang kini mulai beralih pergi meninggalkan Arsa.


Ghai dapat melihat sosok kecilnya disambut dengan Yaza dan Derren yang kemudian memeluk Ghai untuk segera pergi dari sana. Sosok Yaza dan Derren sesekali menatap ke belakang melihat Arsa yang melihat kepergian Ghai sembari menangis. Ghai merasa iba, hingga tiba-tiba.


"Sudah ingat aku?"


***


"GHAI! NAPAS! Tenang! Ada kita di sini" suara Nea terdengar.


Ghai menggeliat, sekujur tubuhnya terasa sakit. Entah bagaimana caranya kini Ghai sudah berada di tempat sebelum dirinya pingsan, bersama dengan ke-6 sahabat yang lainnya.


"Lo gak apa?" tanya Yaza.

__ADS_1


"Jir! Gue gak tau harus gimana! Dikasih aer juga kagak bisa diminum jir!" ujar Arka panik.


"Ini lo apain si Ghai Der?!" tanya Balqis panik.


"Ini, gue bawa minum! Siapa tau guna" ujar Fai yang terlihat berlari-lari menghampiri Derren dan Ghai.


Ghai mulai bisa mengatur napasnya, matanya menatap ke-6 sahabatnya satu persatu dengan tatapan lelah. Tak lama kemudian Ghai memejamkan matanya untuk beberapa saat.


"Lo udah gak apa Gha?" tanya Derren mencoba mengecek kondisi Ghai yang masih memejamkan matanya.


"Udah, gue udah gak kenapa-napa" ujar Ghai yang kemudian mulai berusaha bangkit dari posisi terlentangnya dibantu Derren.


"Gue panik an*ir! Gak tau harus ngapain" ujar Arka sembari memukul pundak Ghai yang tidak terpegang dan berujung dirinya yang mulai oleng hampir jatuh, beruntung Nea menangkap tubuh Arka.


"Gak usah sok gaya makannya lo!" ujar Nea pada Arka.


"Ya lupa gue! Maaf" ujar Arka.


"Beneran udah gak kenapa-napa Gha?" tanya Nea sekali lagi.


"Iya, dikira gue kayak gitu berkepanjangan apa? Kan enggak, udah ayo sekarang ke makam Renren. Jadi lupa sama tujuan utama kan" jawab Ghai.


Ghai berjalan sembari mencoba mengingat, siapa sosok anak kecil di alam bawah sadarnya tadi. Sosoknya mengingatkan Ghai pada si Suara Berat yang menyambutnya saat Ghai terbangun. Entah kenapa tapi, Ghai rasa kilas balik kehidupannya tadi terlalu singkat dan hal itu mampu membuat Ghai merasa ingin tertidur sedikit lebih lama.


"Iya ayo" ujar Yaza.


***


"Hai Renren, lama gak ke sini. Maaf ya" ujar Balqis.


"Hai Ren, ini gue bawa anak-anak ke sini ngunjungin lo. Lo kemana sih? Sering-sering muncul dong, Ghai sama Derren aja sering muncul kok" ujar Yaza.


Derren menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengar perkataan Yaza. Satu persatu dari mereka menaruh buket bunga yang dibawanya ke depan makam Renren.


"Hai Ren, ingetan gue tentang lo emang belum seutuh itu tapi, maaf ya. Maaf karena gue lupa tentang lo, maaf karena gue gak pernah berkunjung ke sini" ujar Nea.


"Maaf ya Ren" ujar Fai.


"Ini buat lo, wahai sahabat yang gue lagi lupain tapi sekarang lagi gue usahain buat dicari ingetannya tentang lo. Tentang surat lo, mungkin baru dibaca sama gue, dan gue minta maaf tentang itu. Semoga aja surat lo yang lainnya bisa cepet ketemu sama gue" ujar Arka sembari menaruh bunganya ke depan makam Renren.


"Lo berdua gak ada yang mau disampein gitu?" tanya Arka mengarah pada Ghai dan Derren.


"Maafin gue ya baru mampir Ren. Gimanapun dan apapun resikonya, gue pasti nemuin memori gue tentang lo kok" ujar Ghai dengan senyuman.


"Giliran lo Der" ujar Nea mempersilahkan Derren untuk maju lebih dekat ke arah makam Renren.


Derren mengambil 3 langkah maju mendekat dengan tatapan yang masih tertuju ke bawah. Di sisi lain Nea dan Fai mulai menyingkir memberi jalan.


"Hai Renren, lama gak ketemu ya? Maaf ya, semuanya karena aku. Seandainya waktu itu aku gak salah langkah, kamu pasti masih di sini bareng kita. Aku minta maaf, aku minta maaf untuk semuanya. Seandainya di saat ini aku bisa tatap muka sama kamu. Aku mau bilang, tolong benci aku, karena cuma dengan cara itu aku bisa nerima hukuman yang sepantasnya. Maafin aku Ren" ujar Derren dengan isakan.


Semuanya menatap punggung Derren yang kini bergetar. Ghai berjalan mendekat, mengusap punggung Derren perlahan. Jika saja bisa, Yaza, Arka, Nea, Fai, dan Balqis juga ingin melakukan itu pada Derren.


"Bukan salah lo kok Der. Salah kita semua" ujar Yaza dengan senyuman sendu.


"Udah yuk nangisnya. Gue yakin Renren juga gak suka liat lo begini" ujar Balqis.


"Mending sekarang kita caw ke tujuan selanjutnya" ajak Arka sembari sembunyi-sembunyi menghapus air mata yang hadir di sudut matanya.


"Iya yuk!" ajak Balqis.


Derren akhirnya berdiri, kemudian mulai mengambil langkah meninggalkan makam Izola Renata Anais, seorang gadis manis yang berstatus sahabatnya pun seseorang yang disukai Derren. Sembari berjalan menjauh meninggalkan jasad seorang gadis cantik yang kini sudah dikebumikan, Derren bermonolog dalam diam.


"Di manapun kamu berada, apapun kondisinya. Tolong benci aku dengan sepenuh hati, jangan beri aku maaf mu yang harganya jelas gak akan bisa aku bayar dengan nyawa sekalipun, dan lagi-lagi aku di sini dengan bodohnya berdiri cuma bisa berucap maaf untuk yang ke-sekian kalinya pada kamu, seseorang yang aku cintai dan aku kecewakan sekaligus. Maaf Renren"

__ADS_1


__ADS_2