Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Pilihan Berat


__ADS_3

Beruntungnya, tubuh Yaza ditemukan oleh pengunjung yang juga sama-sama tengah berlibur di tempat itu. Yaza berhasil diselamatkan. Hanya saja, kepalanya yang terbentur cukup keras membuat adanya pendarahan di otak Yaza. Hal ini membuat Yaza harus dioperasi dan setelahnya Yaza berada dalam kondisi koma.


Bersamaan dengan kondisi Yaza yang memiliki status koma, Renren yang pingsan hari itu kondisinya semakin memburuk setiap harinya. Lagi-lagi liburan mereka berujung petaka. Sudah satu minggu berlalu dengan kondisi Yaza yang masih sama. Ketika Yaza betah berlama-lama menutup matanya, di sana ada Renren yang tengah memperjuangkan hidupnya.


Hari itu ada Ghai yang tengah duduk di hadapan Yaza yang tengah terlelap. Ghai terlihat tidak nyaman, pandangannya tertuju pada jemari Yaza.


"Za,gue minta maaf."


Selang beberapa detik, Ghai memegang telapak tangan Yaza yang terhubung dengan selang infus. Entah kenapa, Yaza yang melihat pemandangan itu dapat merasakan sentuhan Ghai. Ghai kemudian menangis.


"Za, seandainya waktu bisa diulang biar gue yang ambil tempat lo sekarang. Gue gak sanggup Za liat lo sama Renren dalam kondisi kayak gini."


Yaza terdiam di sana, memperhatikan gerak gerik Ghai yang punggungnya semakin bergetar akibat isakan dari tangisnya. Ghai mengangkat kepalanya.


"Selama ini gue tau gue orang yang pengecut Za. Gue benci Renren karena gue gak mau mengakui kalau gue yang salah. Seandainya waktu itu gue gak punya sikap naif, mungkin semua ini gak akan terjadi. Seharusnya orang yang lo semua benci itu gue, bukan Renren. Gue tau pelakunya bukan Renren tapi, setiap saat kenangan itu datang gue masih ingat persis muka Renren hari itu. Gue jahat dan lo tau itu tapi, lagi-lagi kenapa lo gak benci gue Za? Gue lebih pantas dibenci ketimbang Renren. Gue mohon lo harus bangun. Kasih gue kesempatan untuk minta maaf. Gue gak mau ada sahabat gue yang pergi lagi karena gue."


Tubuh Yaza melemas, ia berjalan mendekat ke arah Ghai yang masih menangis sembari memegang tangan Yaza. Selang beberapa detik kemudian Yaza memeluk Ghai.


***


Yaza dibawa ke momen lainnya, di sana ada Ghai yang tengah berdiri menatap Arsa kecil. Tempatnya berada di sekitar area rumah sakit, di sana Ghai terlihat sangat lelah.


"Jadi mau Arsa apa sekarang? Kenapa Arsa terus-terusan mau bawa pergi sahabat aku?!" tanya Ghai dengan nada yang tidak bersahabat.


"Ghai, Arsa pikir Ghai bakal seneng kalau Arsa nyingkirin parasit," jawab Arsa.


"Parasit?! Kamu gila apa gimana Arsa?! Itu sahabat aku! Kamu ngerti gak sih sampai sekarang?!" tanya Ghai yang sudah kehilangan kesabarannya.


"Tapi mereka berusaha misahin kita Ghai! Mereka jahat sama Arsa. Mereka ingin Arsa hilang dari sisi Ghai, mereka ingin Ghai gak dekat-dekat sama Arsa. Papah bilang orang yang cuma bisa bawa sial harus dibunuh. Terus salah Arsa apa?" tanya Arsa.


"Kamu masih tanya salah kamu di mana?! Kalau kamu bilang mereka parasit untuk hubungan kita, berarti kamu parasit untuk hubungan aku sama mereka!"


Arsa terkejut, Yaza bisa melihatnya. Mata Arsa berubah sayu, di sisi lain Ghai mengusap wajahnya secara kasar.


"Kamu ngerti gak sih? Aku sayang mereka. Kamu jahat kalau kamu berusaha nyingkirin orang yang aku sayang Arsa!" teriak Ghai.


"Tapi Arsa juga sayang Ghai."


Ghai tidak mendengarnya tapi, Yaza bisa mendengar ucapan Arsa dengan baik. Ghai melangkah mendekat mengurangi jarak antara dirinya dengan Arsa.


"Kamu gak akan pernah ngerti apa itu makna sahabat karena kamu selalu sendiri dari awal," ujar Ghai.


Arsa menundukkan kepalanya kala mendengar ucapan Ghai. Di sisi lain air mata Ghai turun perlahan, ia membuang mukanya. Tak lama kemudian ia menghapusnya secara kasar, lalu kembali menatap Arsa.


"Aku berharap kamu hilang dari dunia ini."


Sepasang kenari cokelat tua milik Arsa membulat, matanya memanas. Ia mengepal tangannya erat-erat, air matanya turun mengalir melalui pipinya. Ada sedikit perasaan iba dari Yaza untuk sosok anak kecil berpakaian lusuh di hadapan Ghai. Tepat ketika Ghai ingin melangkah pergi, Arsa kembali membuka suaranya.


"Ghai harus pilih, di antara Yaza dan Renren siapa yang mau Ghai selamatin?" tanya Arsa.


Ghai menghentikan langkahnya, ia membalikan badannya lalu menatap Arsa yang kini tengah tersenyum miring. Matanya menatap Ghai tajam.


"Maksud kamu apa sekarang?!" tanya Ghai.


"Ghai tau kalau yang bisa selamat di antara mereka berdua cuma satu," jawab Arsa.


"Aku akan selamatin mereka berdua," balas Ghai.


"Gimana caranya? Yang satu rohnya lagi kehilangan arah dan yang satunya lagi berjuang sendiri melawan penyakitnya. Ghai emang punya kuasa apa untuk nolong dua-duanya?" tanya Arsa.


Ghai dalam situasi skakmat saat ini. Yaza yang mendengar ucapan Arsa kemudian melihat Ghai yang tengah mengepal erat tangannya.


"Kalau aku bisa karena, aku tau di mana Yaza. Ghai gak akan tau karena Yaza bertualang jauh sekarang."


Ghai menghela napas, ia terlihat tengah memutar kepalanya untuk mencari jawaban dari permasalahan itu. Ia menatap Arsa saat ini.


"Jadi aku harus apa untuk bisa selamatin mereka berdua?"


"Gak ada yang bisa Ghai lakuin. Ghai cuma bisa pilih salah satu di antara mereka. Siapa yang lebih pantas untuk diselamatkan? Waktu Ghai sedikit. Ghai harus pilih sebelum dua-duanya pergi dari sisi Ghai. Mau yang rohnya tersesat atau yang masa depannya akan terus menerus sakit-sakitan," ujar Arsa.


Ghai mengusap wajahnya kasar. Matanya menatap tajam Arsa.


"Malam ini. Sebelum matahari terbit, Ghai harus kasih aku jawabannya. Karena kalau besok, mungkin jiwa Yaza udah tersesat terlalu jauh dan Renren akan pergi."

__ADS_1


Arsa menghilang tepat setelah mengucapkannya. Tubuh Ghai luruh setelahnya, Ghai terlihat frustasi.


***


Lagi-lagi Yaza dibawa ke sebuah momen lainnya, kali ini di ruangan Renren. Di sana hanya ada Ghai dan Renren.


"Ghai? Ada apa ke sini?" tanya Renren.


"Hai," sapa Ghai.


"Aduh Renren jadi malu soalnya Renren lagi jelek," ujar Renren sembari mencoba duduk di ranjangnya.


"Udah tiduran aja gak apa-apa kok," ujar Ghai.


Renren kemudian tersenyum, ia menggerakan tangannya menyuruh Ghai untuk duduk di samping ranjang rumah sakitnya. Ghai menurut ia kemudian duduk di kursi yang tersedia.


"Loh Ghai sakit? Kenapa keliatan capek banget?" tanya Renren.


"Kondisi kamu gimana?" balas Ghai, mengalihkan pembicaraan.


"Gak tau tapi, Renren minta doanya boleh?" tanya Renren.


"Pasti selalu didoain kok," jawab Ghai.


"Yaza gimana? Masih betah di kasur?" tanya Renren.


"Renren maaf," ujar Ghai yang lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.


Renren terdiam, ia menatap Ghai cukup lama hingga akhirnya memberikan senyuman manis milik Renren kepada Ghai. Tangan Renren terangkat untuk mengelus puncak kepala Ghai.


"Ghai, Renren gak tau ada masalah apa belakangan ini yang nyerang Ghai tapi, apapun itu Ghai pasti bisa lewatin itu semua kok. Ghai jangan capek dan nyerah, Ghai harus kuat! Apapun itu, Renren tau Ghai pasti akan nemuin jawaban untuk permasalahan itu."


Ghai menundukkan kepalanya lalu menangis. Renren mengelus kepala Ghai dengan lembut.


"Ren, apa kamu pernah benci kita?" tanya Ghai.


Renren tersenyum mendengarnya. Ia kemudian menatap Ghai dalam.


"Ghai, bagi Renren, Yaza, Ghai, Nea, Arka, Fai, Balqis, dan Derren semuanya sangat berarti untuk Renren. Kalau ada yang harus Renren benci ya itu diri Renren sendiri."


"Ghai mau tau sesuatu gak? Rahasia terbesar yang selalu Renren simpan sendiri selama ini?"


Ghai mengangkat kepalanya, ia menatap Renren. Tangan Renren tak lagi mengelus puncak kepala Ghai.


"Renren capek. Selama ini Renren hidup selalu dibatasi, kalau mungkin ini saatnya Renren harus pergi Renren akan pergi dengan senyuman. Renren selalu pikir kalau di masa depan apa Renren akan hidup seperti ini terus? Mikirin hal itu menakutkan Ghai, Renren itu pengecut kalau Ghai mau tau. Cuma kalian yang bisa buat Renren ngelupain hal itu sejenak. Kalau ada kemungkinan Renren harus tukar nyawa Renren demi kalian, Renren rela selama Renren udah bisa ngerasain lagi kebersamaan bareng kalian, dan Ghai harus tau betapa berterimakasihnya Renren sama kalian yang mau ajak Renren main lagi bareng. Renren seneng setengah mati! Rasanya udah gak ada lagi yang Renren inginin di dunia ini sampai rasanya ingin nangis setiap malam kalau gak kesampaian. Sama Yaza dan yang lain Renren udah berhasil saling maafan, tinggal sama Ghai."


Ghai terisak. Mendengar ucapan Renren, membuat dada Ghai dan Yaza terasa sesak.


"Renren tau emang gak pantas untuk ini tapi, maafin Renren ya Ghai. Renren mau hapus dosa sebelum akhirnya pergi."


Ghai mengangguk sembari terus menangis. Renren tersenyum ia kemudian merentangkan tangannya.


"Mau peluk boleh?" tanya Renren.


Ghai kemudian maju untuk memeluk tubuh kurus Renren. Rasa hangat dan nyaman tersalur melalui tubuh Ghai pada Renren.


"Dari dulu Ghai emang orang yang selalu enak untuk dipeluk!" ujar Renren.


"Maaf. Sekali lagi maaf," ujar Ghai sembari terisak.


"Makasih Ghai, untuk semuanya."


Yaza di sana menangis. Menatap ke-duanya membuat Yaza merasa bersalah telah menyimpan sedikit rasa benci untuk Ghai dan Renren.


***


Yaza kembali ditarik ke momen lainnya, kali ini Yaza dibawa ke atap rumah sakit. Di sana Ghai tengah berhadapan dengan Arsa.


"Jadi gimana? Udah nemu jawabannya?" tanya Arsa.


Ghai terdiam cukup lama, saat itu jam menunjukkan pukul 3 pagi. Yaza dapat melihat raut muka Ghai yang terlihat lelah.


"Jangan takut. Jangan lupa sebentar lagi matahari terbit."

__ADS_1


"Aku capek," ujar Ghai tiba-tiba yang berhasil membuat Arsa bungkam.


"Gimana kalau kamu ambil aku pergi dan biarin Yaza sama Renren sehat lagi?" tanya Ghai.


Arsa mengepal tangannya erat-erat, ia menatap Ghai dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Yaza melihat pergerakan Ghai yang terlihat aneh, Ghai mengambil langkah mundur perlahan.


"Ghai!" teriak Arsa.


Ghai tersenyum miring. Di sisi lain, Yaza masih terdiam di posisinya melihat kemana hal ini akan mengarah.


"Kamu maunya aku-kan? Gak usah repot-repot, habis ini aku bakal sama kamu terus. Bukannya itu yang kamu mau?" tanya Ghai.


Ghai naik ke tembok di atap rumah sakit itu. Arsa terlihat takut dan panik.


"Ghai turun! Bukan ini yang Arsa mau!" ujar Arsa.


Yaza sudah memasang ancang-ancang kalau semisalnya Ghai tiba-tiba memilih loncat. Di sisi lain muncul hantu Renren di samping Yaza secara tiba-tiba.


"Gimana? Hadiah kecil dari aku asyik-kan Za?" tanya Renren.


"Maksud kamu apa bawa aku liat ini semua?" tanya Yaza.


"Supaya kamu bisa pilih siapa yang lebih pantas untuk dibenci," jawab Renren.


Ghai tersenyum menatap miring Arsa. Di sisi lain Arsa masih membujuk Ghai untuk turun.


"Bukannya bakalan jadi happy ending kalau misalnya aku jatuh dari sini? Aku gak harus pilih siapa yang selamat di antara mereka berdua. Aku bisa kasih jantung ini untuk Renren, Yaza bisa bangun dari komanya, dan aku jadi milik kamu seutuhnya. Bukannya itu akhir yang sempurna?" tanya Ghai.


"Gak! Gak boleh, Ghai gak boleh jadi aku!" ujar Arsa.


"Kenapa? Bukannya itu yang kamu pengen?" tanya Ghai.


"Renren, cepet bawa Ghai turun dari sana!" ujar Yaza.


"Mana bisa. Kita cuma penonton di sini, gak bisa dong sentuh dan interaksi dengan mereka," jawab Renren.


Yaza menatap Renren tidak percaya. Siapa yang Yaza lihat saat itu rasanya bukan Renren yang ia kenal.


"Kalau gitu sampai ketemu lagi Arsa!"


Ghai menjatuhkan tubuhnya, Arsa melompat ke arah Ghai lalu mencengkram kerah bajunya. Namun, tubuh Arsa yang kecil membuat Arsa malah ikut terjatuh dengan Ghai. Yaza melompat ke sana, mencoba menggapai Ghai.


"GHAI!!!"


Hebatnya saat itu, tangan Yaza berhasil menahan tangan Ghai. Arsa naik kemudian membantu Yaza menarik Ghai. Orang-orang yang berada di bawah histeris melihat kejadian itu, banyak dari mereka yang segera menyiapkan tumpukan kasur rumah sakit untuk berjaga-jaga jika Ghai tidak mampu menopang tubuhnya lagi di sana.


"Ghai! Jangan gila!" umpat Arsa.


"Tahan tangan gue!" teriak Yaza.


"Yaza?!!" ujar Arsa.


Arsa menatap Yaza, ia terkejut mendapatkan sosok Yaza di sampingnya. Ghai yang melihat Yaza di sana tersenyum, ia kemudian berucap.


"Gue pilih mau selamatin lo Za."


Tepat setelah berucap seperti itu, Yaza kembali tidak tersentuh. Tubuh Ghai terjatuh dan Arsa terseret ke bawah karena masih mencoba menahan Ghai. Beruntung Ghai jatuh tepat di tumpukan kasur rumah sakit. Arsa dengan cepat melihat ke atas.


"Kamu udah nentuin pilihan kamu jadi, kamu harus hidup," ujar Arsa.


***


Di tiga tempat yang berbeda dengan jarak yang cukup dekat, ada 3 orang yang tengah memperjuangkan kesadarannya. Ghai di ruang UGD dengan penanganan untuk luka cukup berat di kepalanya, Renren yang terkena serangan jantung dengan alat pacu jantungnya, dan Yaza yang perlahan mulai terlihat ada pergerakan.


Yaza bangun di ruangan dan langsung disambut oleh ke-2 orangtuanya, Ghai berhasil diselamatkan dengan luka jahitan di kepala dan gips di tangan kirinya. Hanya Renren yang tidak bisa melewati pagi hari itu dengan selamat. Malam itu Renren meninggal, pergi meninggalkan teman-temannya juga keluarganya.


Bersamaan dengan kejadian itu, Yaza terus menerus dibawa ke 3 tempat secara bergantian dengan waktu yang cepat. Rasanya seperti mau gila, melihat kondisi kritis sahabatnya secara bergantian itu menakutkan. Hingga akhirnya Yaza berhenti di ruangan Renren.


"Tanggal 12 April tahun 2016 pukul 04.00 WIB, Izola Renata Anais dinyatakan meninggal."


Tubuh Yaza luruh di lantai. Ia menangis, di saat yang bersamaan hantu Renren muncul.


"Gimana? Udah menemukan seseorang yang pantas untuk dibenci?"

__ADS_1


 


 


__ADS_2