
Melalui liku yang sempat ku lewati, kembali menjadi jawaban atas apa yang aku pilih
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
9/12/2018
21.08
"Thanks Za," ujar Nea.
"Your wellcome Nea," ujar Yaza.
"Mau masuk dulu?" tanya Nea.
"Waduh, lo tawarin gue masuk pas gue-nya lagi kepingin cepat-cepat pulang," ujar Yaza.
"Jadi kesimpulan gak mau?" tanya Nea.
"Gak usah dulu deh," ujar Yaza.
"Ya udah deh kalau gitu. Gue masuk ya," ujar Nea.
Nea kemudian mulai membuka pagar rumahnya dan memasuki area rumahnya. Namun, langkah Nea terhenti akibat panggilan Yaza.
"Nea! Mau tanya satu hal," ujar Yaza.
"Tanya apaan?" tanya Nea.
"Apa lo udah jatuh terlalu dalam?" tanya Yaza.
"Hah?" Nea gagal paham dengan pertanyaan Yaza yang entah apa maksudnya. Yaza kemudian tersenyum kala melihat reaksi Nea.
"Emang bocah. Lupain," ujar Yaza dengan kekehan.
"Hah? Maksud lo apaan sih? Gak nyambung banget tau Za," ujar Nea.
"Ya dibikin nyambung aja. Habisnya tadi lo nangis, apa karena itu?" tanya Yaza lagi.
"Oh! Jadi lo pikir gue nangis karena jatuh? Gak kok, gue nangis bukan karena itu," jawab Nea. Yaza yang mendengar perkataan Nea segera terkekeh pelan.
"Ya udah deh, gak akan nyambung kalau di terusin. Oh satu hal lagi," ujar Yaza.
"Apa? Cepetan! Dingin nih di luar," balas Nea.
"Apa kita bisa balik kayak dulu lagi?"
"Maksud lo?" tanya Nea, tak paham.
"Sahabatan kayak dulu," jawab Yaza. Nea terkekeh mendengarnya.
"Dari dulu sampai sekarang lo masih sahabat gue Za, sayang aja lo-nya nyebelin setiap millisecond di hidup gue," jawab Nea. Yaza tersenyum mendengarnya.
"Oke itu aja udah cukup buat gue. Kalau gitu gue pulang ya! Dah." Yaza kemudian melajukan motornya.
"Asli deh, Yaza tuh kenapa ya?!" monolog Nea.
13/12/2018
09.18
"Yow, met pagi ciwi-ciwi kuuuh!" ujar Arka yang kemudian merangkul kedua sahabatnya.
"Aduh! Berat tau, lepasin!" protes Nea.
"Hehehe." Arka kemudian melepas rangkulannya dan mulai mengambil posisi duduk di sebelah Nea.
"Tumben kesiangan, untung udah gue tibsenin," ujar Nea.
"Iya, gue tadi malem gak bisa tidur," ujar Arka.
"Lah, abis ngapain lo sampe gak bisa tidur?" tanya Fai.
"Habis marathon anime baru itu loh!" ujar Arka.
"Beuu, salah lo sendiri itu mah," ujar Fai.
"Buat cari referensi Fai. Itu berguna loh! Lo harus nonton deh Fai! Rame parah, plotnya bagus," ujar Arka yang mengeluarkan pembelaan.
"Iyain aja dah," ujar Fai.
Nea terdiam kemudian mulai memainkan bolpoin miliknya dengan tangan kanannya. Arka dan Fai yang melihatnya mulai berdecak.
"Ck, mulai," ujar Fai.
"Gue males ya kalau tentang cowok kembaran lo itu," ujar Arka yang merujuk ke Ghai. Nea melirik Yaza sejenak dengan tatapan mematikannya.
Layaknya sesuatu yang dilakukan berulang dan berakhir menjadi ciri khas. Arka dan Fai bisa dengan cepat mengetahui Nea tengah kalut, akibat kebiasaan Nea ketika terlibat dalam suatu masalah, dan ketika itu terjadi, jemari tangan kanan Nea akan mulai sibuk bermain dengan bolpoin. Tak berhenti di situ, tatapan mata Nea juga akan terlihat kosong, terlihat seperti seseorang yang tengah berpikir keras.
"Gue lagi banyak pikiran," jawab Nea. Arka menghela napasnya berat, benarkan dugaannya. Ini pasti karena teman kolaborasinya lagi.
"Gue bilang juga apa. Fiks lo kenalan sama temen si Yaza yang anak musik aja, ganti rekan ajalah! Jangan kepala batu lo," ujar Arka.
"Gue lagi menentukan pilihan yang mungkin akan merubah jalan hidup gue selamanya tau," ujar Nea.
"Apaan itu teh?" tanya Fai.
Nea terdiam, merasa ragu untuk menceritakan perihal rahasia Ghai kepada kedua sahabatnya. Dirinya kemudian terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Mungkin gak sih? Kalau kalian berdua jatuh cinta sama orang yang baru kenal beberapa hari?" tanya Nea.
"Hah? Jangan bercanda lo! Si teman kolaborasi kampret lo itu?!" tebak Arka, Nea mengangguk pelan dengan bibir yang mengerucut.
"Gak kaget sih gue. Cuma gue gak sangka aja lo bakal suka seserius itu sama dia," ujar Fai.
"Lo gak salah, 'kan?" tanya Arka.
"Iya, Arkana Ephraim Rafardhan. Gue gak lagi bercanda," jawab Nea.
"Kalau gue sih selama dianya gak nakal sama Nea, oke-oke aja," ujar Fai.
"Gue yang gak apa-apa! Gak bisa! Lo gak boleh sama orang kayak gitu," protes Arka.
"Heh! Mohon digaris bawahi, gue bukan minta restu," ujar Nea.
__ADS_1
"Lo pura-pura lupa apa gimana? Gue itu ayah-ayahan lo selama di luar. Artinya kalau lo mau deket sama cowok harus dapet restu dari gue," ujar Arka.
"Apaan sih Ka, gak jelas lo! Dia gak sejahat yang lo pikir. Lagian ada yang mau gue tanyain lagi nih," ujar Nea.
"Apaan?" tanya Fai.
"Apa yang bakal kalian pilih saat orang itu kasih tau rahasia yang mungkin gak bisa kalian terima secepat itu?" tanya Nea.
"Hah? Apaan sih maksud lo? Gak usah belibet Nea, lo tau IQ gue gak setinggi lo Ya," ujar Arka.
"Gak ngerti," jawab Fai.
"Iiiih, jadi maksud gue tuh. Apa yang bakal lo pilih ketika orang yang lo suka nyeritain tentang rahasia hidupnya yang mungkin gak bisa kalian tanggung di hidup kalian? Apa kalian berdua bakal pilih pergi, tau mungkin bantu orang yang lo suka?" tanya Nea.
"Masalahnya apa dulu?" tanya Arka.
"Iya, masalahnya apa dulu Nea?" tanya Fai.
"Ya masalah yang mungkin gak bisa kalian handle," ujar Nea.
"Hmm, mungkin kalau gue bakal milih pergi," jawab Fai.
Arka terlihat merenung sejenak. Arka mulai mengerti, mungkin alasan di balik susahnya Nea mendapatkan kepercayaan dari si lelaki yang tengah mereka bicarakan ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang Nea angkat. Arka jadi berpikir ulang mengenai pandangannya terhadap orang itu selama ini.
"Hmm, jawaban gue gak," jawab Arka. Nea membelalakan matanya, respon Arka berbeda dari dugaannya. Bukan berarti gue mihak lo ya, lo cuma lagi beruntung, pikir Arka.
"Bukan berarti gue kasih lo restu ya! Cuma kalau lo tanya, apa yang bakal gue pilih, ya gue bakal milih bantu orang yang gue suka. Kenapa milih pergi, gimana kalau lo satu-satunya orang yang bisa bantu dia? Gimana kalau misalnya cuma lo satu-satunya yang bisa dia percaya? Bukannya dengan milih pergi lo bakal hancurin orang yang lo suka dua kali?" tanya Arka. Fai terdiam kala mendengar penjelasan Arka.
"Sekarang gue tanya, gimana kalau gue-nya udah mau ngebantu, tapi terhalang restu ayah-ayahan gue?" tanya Nea. Alih-alih menjawab, Arka menggaruk tengkuknya.
"Bener kata Arka, gue terlalu cepat menyimpulkan. Sekali lagi gue tanya, apa ini ada kaitannya sama si anak jurusan musik itu?" tanya Fai.
"Sebentar gue kasih tau ya, yang pertama, anak itu punya nama. Panggil dia Ghai oke? Terus untuk yang kedua, jawabannya iya," jawab Nea.
"Masalah yang gak bisa lo handle kira-kira bakal ngehancurin lo gak? Ngelukain lo gak?" tanya Arka.
"Gak. Bukan masalah yang kayak gitu kok," jawab Nea.
"Selama itu gak akan ngelukain lo, oke dia dapat restu gue. Cuma inget, kalau mungkin lo udah ngerasa gak sanggup, lo boleh berpaling dan panggil kita. Apalagi kalau sampe macem-macem sama lo. Satu hal yang harus lo inget, lo masih punya kita berdua. Jadi, kalau ada apa-apa bilang," ujar Arka.
Rasa hangat menyeruak melalui relung hati Nea. Nea bersyukur bisa dipertemukan dan diizinkan manjalin ikatan persahabatan dengan Arka dan Fai, karena keduanya sangat peduli dengan Nea. Mungkin hanya mereka berdualah yang mampu menghilangkan risau hati Nea secepat itu.
"Aaaahhh, kalian lucu deh. Sini pelukan dulu!" ujar Nea yang kemudian mulai merangkul kedua sahabatnya.
"Ingat ya Nea, kalau lo udah ngerasa gak bisa handle masalah itu lo bisa memilih pergi," ujar Fai.
"Iya-iya."
Nea kemudian memberikan senyuman manis kepada kedua sahabatnya. Kini hati Nea semakin terasa mantap untuk memilih kembali mengunjungi Ghai hari ini.
"Sorry ya gue belum bisa ceritain masalah tentang dia ke kalian," ujar Nea.
"Gak masalah, mungkin Ghai juga udah ngeamanatin ke lo untuk gak cerita ke siapa-siapa tentang masalah dia ke orang lain. Lagi pula lo ngejaga aib orang kok, kenapa kita harus marah," ujar Arka.
"Iya, tapi kalau Nea ngerasa gak kuat dan ingin cerita, kita siap dengar kok, dan gue yakin lo tau kita dengan baik. Kita bukan ember bocor," ujar Fai.
"Aahh, makin sayang deh sama kalian. Ayo pelukan sekali lagi!" ujar Nea.
Nea terlarut dalam kehangatan pagi hari bersama kedua sahabatnya; kedua tempat curhat terbaik Nea selama kurang lebih 20 tahun dirinya hidup di bumi. Arka begitu juga dengan Fai sama-sama tersenyum begitu mengingat Nea yang sangat menyayangi keduanya.
"Jadi hari ini juga bakal ketemuan sama si Ghai?" tanya Arka.
"Iya," jawab Nea.
"Yah, padahal mau kita ajak main hari ini. Udah lama kita gak main, 'kan?" tanya Fai.
"Iya, kapan ya terakhir kali?" tanya Arka.
"Maaf ya guys, ada yang harus gue lurusin dulu untuk masalah gue sama dia," ujar Nea.
"Iya, gak apa-apa. Berhubung besok kita kelas agak free, besok harus main ya!" ujar Fai.
"Iya," jawab Nea.
"Oke deh!" ujar Fai sambil tersenyum.
13/12/2018
12.00
"Eh Nea!" sapa Yaza.
"Eh Za! Lagi ngapain di sini? Gedung lo, 'kan di sana," ujar Nea.
"M-mau ke cafetaria," jawab Yaza.
"Lah, 'kan cafetaria ada yang lebih deket sama gedung lo," ujar Nea.
"Mau-nya yang deket sama gedung jurusan seni musik, habisnya yang di sana makanannya lebih enak-enak," ujar Yaza.
"Oh, pantes aja selalu rame," ujar Nea.
"Hehehe. Lo mau kemana?" tanya Yaza.
Nea terdiam sejenak. Ia baru saja berpikir untuk pergi ke gedung jurusan seni musik, tetapi tidak mungkin, mengingat aturan yang diberikan pada Ghai mengenai jam 4 dan hujan turun membuat Nea menghentikan niatnya. Terlebih ia tidak tahu apa Yaza boleh mengetahui mengenai keberadaan Ghai.
"Gak tau, udah gak ada kelas lagi sih," ujar Nea.
'Tau gitu tadi main dulu aja sama Fai sama Arka.' Nea membatin.
"Oh, kalau gitu mau nemenin gue makan di luar?" tanya Yaza.
"Lo gak ada kelas lagi emang?" tanya Nea.
"Ada, tapi masih agak lama. Jam 1," jawab Yaza.
"Gak ah, gue mau pulang aja," tolak Nea.
"Gak minta traktir kok gue. Kali ini gue aja yang traktir, mau?" tanya Yaza.
__ADS_1
Nea kemudian menatap Yaza. Pikirnya kasian juga Yaza yang sudah mengajak Nea, tapi ditolak. Toh hanya makan siang, mungkin Yaza tidak memiliki teman makan siang. Lagipula sebenarnya dia benar-benar berhutang pada Yaza kali ini.
"Ya udah hayu, lagian rezeki gak boleh ditolak, 'kan?" tanya Nea.
"Hahaha, dasar. Nanti gantian dong, gue mulu yang traktir lo," ujar Yaza.
"Gak kebalik tuh? Jadi, ini tuh gak ikhlas? Ya udah gak jadi aja sekalian," ujar Nea dengan nada bercanda.
"Eh, gak gitu maksudnya. Ya udah lo tunggu sini, gue ambil motor dulu." Yaza kemudian pergi untuk mengambil motornya.
Nea memandang sekitar, keadaan area gedung yang terhitung cukup sepi membuat Nea merasa sedikit tidak nyaman. Akhirnya Nea memutuskan untuk menunggu di depan gedung jurusan seni musik, lagian Ghai tidak akan muncul di jam-jam seperti ini pikir Nea.
Nea harus akui, berkat Ghai dan Derren, Nea kini merasa bangga ketika dirinya menyadari bahwa rasa takutnya sedikit memudar. Ketika banyak mahasiswa juga mahasiswi yang lebih memilih jalan memutar dan tidak melewati gedung jurusan seni musik, Nea malah berdiri di depannya tanpa ada rasa takut. Padahal keadaan saat itu area gedung sangat sepi.
Ketika Nea tengah menatap jam tangannya, tiba-tiba saja terdengar sebuah sapaan dengan suara anak kecil yang khas. Nea segera menoleh ketika mendengar suara itu, walau masih ada sedikit perasaan takut yang menyelimuti, Nea merasa lebih berani daripada sebelumnya.
"Nea! Kamu balik lagi?!!" tanya Derren.
"Derren? Kok lo ada di sini? Eh, awas jangan kena sinarnya. Berdiri di belakang bayangan gue aja," ujar Nea, Derren tersenyum kala mendengar ucapan Nea.
"Aku tau kamu bakal bali lagi. Aku benar-benar bersyukur, makasih Nea!" ujar Derren.
Nea tersenyum kikuk menanggapi ucapan Derren. Nea tak habis pikir, bagaimana sekiranya jika Derren tau bahwa Nea sempat berpikir untuk pergi dan tidak kembali.
"Ghai di mana?" tanya Nea.
"Ghai lagi tidur," jawab Derren.
"Tapi dia ada?" tanya Nea.
"Percuma, kamu gak akan bisa lihat dia saat ini. Oh, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Derren.
"Nungguin teman. Sebentar gak usah pake aku-kamu, gue tau lo ngomong gue-lo. Kedengaran canggung kalau pake aku-kamu," ujar Nea.
"Sebenernya ingin-ingin aja sih, cuma aku ngerasa agak aneh kalau ngomong gue-lo pake wujud anak kecil kayak gini," ujar Derren.
"Lo bisa ngerubah fisik lo jadi versi lo dewasa?" tanya Nea sedikit tidak percaya.
"Bukannya aku udah pernah bilang ya?" tanya Derren.
"Gak tau, gue lupa."
"Bisa. Jadi, lo gak keberatan kalau gue ngomong pake gue-lo kayak sekarang?" tanya Derren.
"Iya, soalnya kerasa kayak gak deket aja gitu kalau pake aku-kamu," ujar Nea.
"Tapi Ghai pake aku-kamu ngomongnya," ujar Derren.
"Kalau Ghai pengecualian," jawab Nea yang mampu membungkam mulut Derren dan mengganti pertanyaan di dalam dirinya dengan senyuman jahil.
"Apaan sih?" tanya Nea sembari terkekeh pelan.
"Gak kenapa-napa," jawab Derren.
Suara motor terdengar mendekat, Nea segera menoleh mencari si sumber suara. Dilihatnya Yaza yang mulai mendekat. Nea kemudian berpamitan kepada Derren sebelum benar-benar pergi.
"Itu temen gue, gue pergi ya!" ujar Nea.
"Oh, oke. Have fun," ujar Derren.
"Nanti gue ke sini kok. Jangan kasih tau Ghai dulu," ujar Nea.
"Oke," jawab Derren dengan senyuman.
Yaza sampai di depan gedung dengan senyuman menghias wajahnya. Nea kemudian melangkah maju agar terlihat oleh Yaza.
"Ya ampun, lo pindah tempat nunggu. Gue kira lo kemana, bilang kali kalau mau pindah tempat nunggu," ujar Yaza.
"Ya sorry, gue abisnya males kalau berdiri di sana sendirian. Mending di sini," ujar Nea.
"Tumben lo berani. Emang lo gak tau rumor gedung ini ya?" tanya Yaza.
"Tau. Udah, gak usah dibahas. Gue naik ya!" ujar Nea.
"Oke. Jangan heboh kayak kemarin." Yaza memperingatkan.
"Kagak! Ya ampun," ujar Nea.
"Tadi lo bicara sama siapa?" tanya Yaza.
"Siapa?" tanya Nea.
"Lo tadi kayak ngobrol sendiri," ujar Yaza sembari menatap ke arah kaca yang langsung mengarah ke dalam gedung jurusan seni musik. Mata Yaza membelalak kala menatap ke arah itu.
"Gak kok. Khayalan lo doang. Ayo maju," ujar Nea.
Yaza terdiam, masih menatap kosong ke dalam gedung jurusan seni musik. Nea yang merasa heran kemudian menatap arah pandang Yaza yang tertuju ke arah Derren, ketika Nea menatap Derren ternyata Derren sendiri tengah menatap Yaza dengan pandangan yang tak dapat Nea artikan.
"Za, lo lagi liat apa?" tanya Nea.
"Hah? Oh iya, maaf. Ayo kita pergi," ujar Yaza yang kemudian melajukan motornya.
Selama perjalanan Nea sibuk bermonolog, mempertanyakan arti tatapan yang Yaza pancarkan kala dirinya sibuk memperhatikan sosok Derren. Entahlah, mungkin saja fokus Yaza tidak terpaku pada Derren. Mungkin itu hanya terkaan semata yang Nea keluarkan perihal Yaza yang mampu melihat Derren. Namun, untuk memastikannya Nea bertanya pada Yaza.
"Za, lo bisa liat yang aneh-aneh gak?" tanya Nea untuk menghapus rasa penasaran di dalam hatinya.
"Liat yang aneh-aneh kayak gimana?" tanya Yaza yang masih fokus menyetir.
"Ck! Lo indigo? Kayak punya indra keenam gitu?" tanya Nea to the point.
"Hahahaha, ya gak lah. Lo pikir gua paranormal apa?" jawab Yaza dengan spontan.
"Emang indra keenam identik sama paranormal? Kan bukan berarti mereka yang indigo pasti jadi paranormal," ujar Nea.
"Hah? Gak kedengeran. Mau makan di mana?" tanya Yaza.
"Beuh, ni anak lagi ditanya indra keenam malah nanya makan di mana, dasar. Terserah, yang penting enak," jawab Nea.
__ADS_1
©AksamalpaAksara