Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Menghilang


__ADS_3

Yaza terbangun di malam hari menuju ke pagi. Dirinya merasa haus setengah mati. Begitu matanya terbuka ia dapat melihat sosok Arka yang tengah tertidur lelap dan Derren yang tertidur dalam posisi duduk di pojok ruangan. Yaza menggaruk kepalanya lalu bangkit dari posisinya.


Ia menyalakan layar ponselnya, sekedar melihat pukul berapa ia terbangun. Tak lama kemudian dirinya mulai turun ke lantai bawah. Begitu sampai ke lantai bawah, ia berjalan ke dapur yang berada di dekat pintu halaman belakang yang materialnya berupa kaca.


Yaza melihat Nea di sana, tidak sendiri ia bersama Ghai. Tidak berniat menganggu Yaza memperlambat langkahnya berusaha sebaik mungkin untuk tidak menimbulkan suara. Bahkan, Yaza membuka kulkas perlahan dan membuka kaleng minuman dengan sangat hati-hati.


Yaza dapat mendengar sedikit percakapan di antara Ghai dan Nea. Salahkan rasa penasaran milik Yaza yang berhasil melukai hatinya di malam itu. Alih-alih kembali ke kamar, Yaza memilih bersembunyi di balik dinding untuk menguping pembicaraan ke-2 sahabatnya itu, tentunya gelar itu hanya berlaku untuk salah satu dari ke-2nya saja, sebab untuk Nea berbeda, karena Yaza menaruh hati pada Nea.


"Gue mau ngulang ini semua dengan satu syarat" ujar Ghai.


'Lo mau ngulang semua ini? Lo gila Gha. Jawaban gue gak, ini semua terlalu gila untuk diputar ulang' monolog Yaza di dalam hatinya.


"Apa?" suara Nea terdengar dari balik sana, Yaza mendengarnya baik-baik, pasalnya ia pun penasaran mendengar jawaban Ghai.


"Dipertemukan lagi sama lo."


Yaza diam tak bergeming. Situasi hening sejenak, sebelum akhirnya suara Ghai kembali terdengar. Entah kenapa Yaza merasa hatinya mencelus mendengar pernyataan Ghai pada Nea.


"Iya, gue rela ngulang ini semua asal gue dipertemukan lagi sama lo."


Yaza tertinggal satu langkah di belakang Ghai, ia akui. Yaza bukanlah tipikal lelaki romantis yang mampu berbicara sepuitis itu, mampu meluluhkan hati para wanita dengan ucapan manis adalah hal yang sulit baginya. Yaza tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Yaza terlalu bodoh untuk permasalahan egois dalam urusan cinta.


Yaza hanya tidak mau ia kembali merusak sesuatu yang seharusnya berjalan lancar, Yaza hanya tidak mau ia kembali menghancurkan kehidupan sahabatnya akibat tingkah egoisnya.  Sakit, memang Yaza akui tapi, apa yang dapat Yaza lakukan? Jawabannya tidak ada selain lagi-lagi menyakiti hati dengan melihat pun mendengar aksi ke-2nya. Lagipula Yaza yakin kesempatan akan berpihak padanya suatu saat. Entah apa yang didapat hasilnya nanti, yang jelas Yaza di sini siap menunggu Nea melihatnya..


Yaza merasa ia sudah cukup mendengar semuanya. Pikirnya, ia harusnya kembali ke kamar sedari tadi, setidaknya itu mampu menjaga hatinya. Iya, Yaza bodoh, dan Yaza akui itu. Yaza mengambil langkah secara hati-hati namun, terburu-buru.


Sesampainya di kamar, Yaza memilih berusaha kembali ke alam bawah sadarnya. Hingga akhirnya ia berhasil terlelap.


***


"Anj*ir, si Nea tidur di luar? Tuan rumah kok tidurnya di luar sih?" tanya Fai yang melihat Nea tengah tertidur di kursi halaman belakang ditemani Ghai di sampingnya.


Ghai yang melihat Fai datang segera memberikan isyarat pada Fai untuk tidak berisik agar Nea tidak terbangun. Memang Fai yang pertama bangun di antara yang lainnya. Nea tertidur di sana dengan selimut menyelimuti tubuhnya.


"Lo nemenin si Nea di sini dari kapan Gha?" tanya Fai.


"Dari zaman Paleolitikum masih berjaya" jawab Ghai dengan nada bercanda.


"Dasar!" ujar Fai disusul kekehan miliknya.


"Hari ini kita ngapain" tanya Ghai pada Fai.


"Lah, kok lo nanya gue? Biasanya kan lo yang suka nyusun rencana liburan. Harusnya gue yang nanya itu ke lo!" jawab Fai.


Mendengarnya, baik Ghai maupun Fai, sama-sama membelalakan mata. Ucapan Fai serasa terucap begitu mudah dari mulutnya. Seolah-olah Fai mengenal Ghai dengan baik.


"Oke, satu fakta tentang diri gue terungkap lagi, makasih untuk lo" ujar Ghai sembari tersenyum pada Fai.


"Demi apa?! Gue gak percaya gue bisa ngomong kayak udah ngenal lo 100 tahun" ujar Fai.


"Emang udah kenal lama kali. Lo nya aja yang lupa" tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapa telinga ke-dua orang di sana.


"Udah bangun lo Za?" tanya Fai pada Yaza yang tengah menggaruk tengkuknya.


"Udah, lo berdua pada berisik jadi gue kebangun dah" jawab Yaza.


"Mimpi indah lo Za? Mukanya kusut amat" ujar Ghai dengan nada bercanda.


Yaza menoleh menatap sumber suara. Tak lama kemudian ia menatap Nea yang tertidur di luar, lengkap ditemani selimut berwarna biru tua.


"Mode pms kali Gha" Fai menyahut dengan tawa.


***


Hari sudah siang, Ghai sempat menghilang dari pandangan beberapa orang di sana, kecuali di pandangan Yaza dan Balqis. Semua sudah bangun dan rapih, rencananya hari ini mereka ingin bersepeda mengelilingi daerah sana. Ghai dan Derren tentunya hanya ikut tanpa menaiki sepeda karena mereka bisa terbang dan berteleportasi.


"Awas hipotermia lo Ne" ujar Arka.


"Kagak lah, gila ya lo?!" ujar Nea.


"Ya habis, kok bisa sih lo tidur di luar? Kagak dingin apa?" tanya Arka.


Nea yang ditanya malah salah tingkah, pandangan matanya tertuju pada segala arah. Di sisi lain, Yaza hanya mampu memperhatikan Nea dari samping Balqis.


"Gak dingin lah, orang diselimutin" ujar Yaza dengan nada ketus, bola matanya berputar.


"Lah, lo kenapa kayak yang sewot?" tanya Arka.


"Biasa... Kayak yang gak tau aja Ka" Derren menyahut.


"Oh, gitu toh" Arka menjawab sembari menganggukan kepalanya berulang kali.


Kini Balqis menatap ke arah Yaza, beberapa detik kemudian kepalanya ditundukan. Fai yang melihatnya menghela napas berat.


"Udah yuk! Nanti makin siang jadi gak enak sepedahannya" ujar Fai.


"Gue ngikut dari belakang kalian semua kok" ujar Ghai yang hanya terdengar suaranya saja.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu kita berangkat sekarang!" ujar Derren bersemangat.


***


Nea mengayuh susah payah. Faktanya Nea yang tertinggal di belakang ditemani Yaza di sampingnya. Bukan, bukan karena Yaza tidak bisa mempercepat kayuhannya. Kalian tahu betul alasannya bukan?


"Gila! Sepeda gue kok berat banget sih?!" protes Nea.


Yaza menatap ke arah kursi belakang sepeda milik Nea. Lagipula sudah di bilang pakai sepeda gunung saja, tapi bukan Nea namanya kalau tidak keras kepala. Katanya, sepeda yang kini tengah Nea naiki itu memiliki nilai estetika tersendiri.


Ghai yang terlihat oleh Yaza kini tengah memberi jari telunjuknya pada Yaza, memberi isyarat untuk tetap diam. Di sisi lain Ghai kini tengah menahan tawanya sekuat tenaga. Iya, Ghai duduk di kursi boncengan milik sepeda Nea.


"Jelas berat orang ada penumpang di kursi belakang sepeda lo" jawab Yaza.


"Hah?! Siapa?" tanya Nea sembari menengok ke belakang.


"Ghai-lah! Siapa lagi?!" ujar Yaza gemas sekaligus kesal.


"GHAI!!" teriak Nea. Kini tawa Ghai membludak.


"Siapa bilang lo boleh duduk sini?!" tanya Nea dengan nada ketus.


"Lagian, mending gue yang naikin-kan? Lo tuh harusnya bersyukur gue yang jadi penumpang lo, bukan yang lain!" ujar Ghai membela diri.


"Turun! Udah sana lo terbang aja! Bisa kan?!" ujar Nea.


"Ih! Jahat banget lo sama gue sumpah!" ujar Ghai.


"Males gue lama-lama."


Setelah mengatakannya, Yaza mempercepat laju sepedanya. Meninggalkan Nea di belakang.


"Za! Tungguin gue ih!" teriak Nea.


"Lo-nya cepetan dikit napa?!" ujar Yaza.


"Tenang aja kali, kan ada gue" ujar Ghai.


"Gak mau lo berat soalnya!" ujar Nea.


"Ya udah iya, gue turun" ujar Ghai yang kemudian turun dari kursi penumpang.


"Nah kan jadi agak ringan! Za! Tungguin gue!" ujar Nea.


"Za, tungguin gue." Ghai mengulang perkataan Nea dengan suara yang terdengar mengejek.


"Nea!"


Yaza menghentikan laju sepedanya, ia kemudian menghampiri Nea yang kini tengah meniup lututnya yang berdarah. Ghai segera memasang posisi jongkok di samping Nea.


"Duh! Makannya kalau jalan tuh liat tanah!" ujar Yaza.


"Gue kan gak jalan! Lagi naik sepeda juga" balas Nea.


"Lo gak apa? Sebentar" Ghai terlihat menahan tawanya sedari tadi, akhirnya ia tertawa lepas.


"Ih! Lo mah jahat! Gue jatuh malah diketawain!" protes Nea.


"Ya habisnya lo jatuhnya lucu. Lagian, suruh siapa tadi matanya kemana aja" ujar Ghai.


"Tau ah!" ujar Nea dengan nada bicara ketus.


"Ya udah sini gue bantu!" ujar Yaza dan Ghai bersamaan. Ke-2nya pun sama-sama mengulurkan tangannya kepada Nea. Yaza menatap Ghai.


"Lo apaan sih? Udah sono lo bawa sepeda gue, gue bonceng lo sampe balik ke villa" ujar Yaza pada Ghai.


"Lah, emang kenapa?" tanya Ghai.


"Lo kan gak bisa ke pegang Ghai! Udah sono, gue aja yang bantuin Nea" ujar Yaza.


Ghai mendecih, pandangan matanya beralih pada sepeda Yaza yang diparkir sembarangan. Ghai membenci dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa di saat seperti ini. Nea kemudian dibantu berdiri oleh Yaza. Nea dapat melihat sepeda Yaza yang mulai berjalan tanpa penumpang.


"Ghai yang bawa sepeda lo?" tanya Nea.


"Iya" jawab Yaza.


"Ayo cepetan! Lama amat sih!" protes Ghai yang menghentikan laju sepedanya kemudian melihat ke arah belakang.


"Ya sabar! Ini gue mau naik!" ujar Nea yang kemudian mulai duduk di kursi belakang sepedanya.


"Yuk" ujar Yaza yang mulai melajukan sepedanya.


***


Arka bergidik ngeri melihat sepeda milik Yaza melaju tanpa pengemudi. Tentu saja rombongan Arka, Fai, Derren, dan Balqis sudah lebih dulu sampai di tempat tujuan.


"Lah, kenapa lo ngebonceng si Nea?!" ujar Fai.

__ADS_1


"Tau, tanya anaknya sendiri yang ceroboh!" jawab Ghai ketus.


"Lah lo dimana Gha?" tanya Fai.


"Di se-be-lah lo" jawab Ghai.


Yaza menuntun Nea untuk turun dari sepeda. Tangannya terulur menunggu sahutan tangan Nea.


"Apaan sih lo! Gue bisa jalan sendiri kali" ujar Nea yang kemudian menepis tangan Yaza.


"Ya udah kagak usah marah-marah kan bisa, yang ngetawain siapa, yang kena marah siapa" perotes Yaza.


Nea menatap Yaza tajam, lalu mulai berjalan dengan langkah tertatih. Ghai yang melihatnya segera mengambil posisi berjalan tepat di samping Nea. Kira-kira butuh sekitar10 detik lagi waktu untuk Ghai dapat terlihat. Yaza berjalan mengikuti Nea dari belakang.


"Lo kenapa sih Za, lagi nyebelin banget kayaknya hari ini" ujar Arka.


"Masa sih?" tanya Yaza.


"Ck, coba tanya yang lain. Gue rasa orang-orang juga bakal ngomong hal yang sama. Uring-uringan, senyumnya ilang, kagak ada aksil jahil dari lo. Lo kenapa?" tanya Arka.


"Perasaan lo doang kali, orang malah kalian yang bikin gue sebel" jawab Yaza.


"Dih! Darimananya kita buat lo sebel?!" tanya Arka.


"Ninggalin gue sama Nea di belakang!" jawab Yaza yang kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Arka di belakang.


Tujuan Yaza dan Nea balik ke villa dibatalkan akibat Nea yang kukuh ingin tetap pergi ke tujuan mereka, mata air yang dilengkapi air terjun. Di sana licin, mereka harus berjalan secara hati-hati. Lagi-lagi karena Nea mengambil langkah secara tertatih, dirinya jadi tertinggal di belakang bersama dengan Ghai dan Fai yang berjalan mengikuti kecepatan langkah Nea.


Salahkan kecerobohan Nea yang terpeleset dan mulai terjatuh. Waktu serasa diperlambat, bersamaan dengan jatuhnya Nea, Ghai mulai terlihat tubuhnya perlahan muncul.


"AAAA!" Nea berteriak.


Beruntungnya Nea, di detik-detik dirinya siap menghantam tanah yang dilapisi bebatuan itu Ghai berhasil kembali terlihat seutuhnya. Tubuhnya segera di posisikan sedikit berjongkok untuk berusaha menangkap tubuh mungil Nea. Fai yang berada di sebelah Nea juga berusaha menangkap tangan Nea yang mencari pertolongan. Ghai memejamkan matanya sembari berucap dalam batin,


'Aku mohon, kali ini biarkan wujudku terasa nyata.'


BRUK!


Nea membuka matanya, rasa sakitnya terasa tidak menghantam Nea sama sekali bahkan, Nea tidak merasa tubuhnya mendarat di tanah. Ghai yang sama-sama memejamkan matanya tadi mulai membuka ke-dua netranya secara perlahan. Ghai berhasil, Ghai berhasil menahan tubuh Nea agar tidak terjatuh. Namun, beberapa detik kemudian.


BRUK!


"Aw!" ringis Nea.


Ghai kembali tak terpegang. Tubuh Nea menembus tangan Ghai yang masih terdiam dalam posisinya. Fai kemudian berlari kecil menghampiri Nea yang bedanya hanya sekitar 5 langkah darinya.


"Astaga! Lo sih banyak gaya kagak mau dibantu si Yaza!" ujar Fai.


"Lo liat tadi?!" histeris Nea sembari menatap Ghai.


"Apaan?" tanya Fai.


"Gue ketangkep sama Ghai!"


Ghai kemudian menatap ke-2 tangannya. Berarti ini sudah yang ke-2 kalinya ia bisa terasa nyata bagi teman-temannya. Namun, tiba-tiba saja tangan Ghai terlihat transparan.


"Lo kenapa?" tanya Fai yang mulai histeris melihat Ghai yang mulai terlihat menghilang dan terlihat lagi berulang kali.


"Gha?!" tanya Nea.


"Ghai!"


Lagi, Ghai menghilang secara tiba-tiba. Entah apa alasannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"200 joule, clear!"

__ADS_1


bZZzTT


__ADS_2