
"Udahan lo ngambeknya?" tanya Nea yang fokusnya teralihkan dari laptop jadi ke Ghai dengan cara curi-curi pandang.
"Udahlah, ngapain ngambek lama-lama, nanti capek sendiri," jawab Ghai yang kemudian mulai memainkan tuts piano, sekedar bermain di nada C hingga G sudah membuat Nea terbius akan pesona Ghai.
Nea kemudian melangkah mendekat ke arah Ghai meninggalkan laptopnya. Ghai yang fokusnya masih terpaut pada piano kemudian mulai menolah ke arah Nea ketika gadis itu mulai mengambil posisi duduk di samping Ghai.
"Ghai, gue penasaran deh sama jawaban lo dari pertanyaan gue yang satu ini," ujar Nea tiba-tiba.
"Pertanyaan apa?"
"Kalau misalnya lo itu orang yang pertama kali nemuin piano, apa yang jadi motivasi kamu untuk itu?"
"Apaan sih? Kamu gak jelas, emang kenapa?"
"Jawab aja kali.. Penasaran aja gue tuh."
"Hmm, kenapa ya? Mungkin karena itu cara penyampaian perasaan aku ke publik?"
"Hah? Kenapa lo mikirnya gitu?"
"Kamu tanya pendapat aku, ya itu jawaban aku lah neng, jadi sebebasnya aku dong mau jawab apaan. Iya gak?" ujar Ghai sembari mengangkat ke-dua tangannya.
"Gini nih keselnya gue sama lo. Bener terus. Kalau gitu kenapa lo sampein perasaan lo lewat piano? Padahalkan lo bisa ngomong langsung, iya gak sih?" tanya Nea penasaran.
"Karena menurut aku, mengungkapkan itu sama sulitnya kayak kamu misahin garam sama merica. Udah banyak kejadian tentang kebodohan aku sendiri mengenai susahnya berbicara jujur tentang perasaan yang berujung miris, bodohnya aku masih terjebak di dalam batas itu. Batas yang aku buat sendiri, dan saking nyamannya aku gak tau cara buat hancurin itu, bahkan tentang niatan untuk hancurin batas itu aja masih rancu di hati aku, puas?" tanya Ghai setelah menjawab pertanyaan Nea secara rinci.
Nea terdiam, dirinya kembali berpikir terus menerus mengenai jawaban Ghai. Baginya, menyampaikan perasaan melalui alunan nada yang indah itu agak sulit, atau itu mungkin hanya dari Nea sendiri saja? Nea tidak tahu.
"Kamu akan tahu tentang itu. Musik itu indah, rasanya kayak kamu bisa pergi ke suatu tempat fantasi yang gak nyata, kamu bisa terlarut di dalamnya sampai kamu sendiri ngerasa, 'oh, aku udah di ambang batas di mana, sesuka itu aku sama musik,' itu yang aku rasain dulu."
Nea masih menyimak perkataan Ghai, mata Ghai menerawang rembulan yang kini mulai tampak. Nea terpukau, sekali lagi oleh ketampanan seorang Abhiyoga Ghaitsa Mahawira.
"Musik itu penuh misteri, rasanya aneh. Lucunya, kamu gak akan bisa bawain lagu sampai bikin orang yang nonton nangis kalau misalnya kamu belum bisa menjiwai lagu yang mau kamu bawa. Maka dari itu, aku bilang musik adalah bentuk penyampaian perasaan aku ke publik. Suatu saat."
Pandangan Nea yang tadinya mulai terfokuskan ke bawah kembali kepada wajah Ghai. Tatapan mata ke-duanya bertautan, Ghai kemudian tersenyum.
"Suatu saat kamu akan mengerti alasan di balik jawaban aku," Ghai tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
"DERREN!! DERREN!! GHAI HILANG!"
Nea panik setengah mati, malam adalah waktunya bagi Ghai untuk dapat terlihat oleh Nea, tapi apa ini? Tiba-tiba Ghai menghilang di tengah perbincangan panjang ke-duanya. Nea berlari mencari Derren yang entah pergi kemana. Nea berhenti di sebuah ruangan dengan tulisan 'Klub Biola', ruangannya terkesan jarang dikunjungi karena terlihat berdebu.
Nea tidak sadar bahwa di sana ada banner bertuliskan 'Dilarang mengunjungi pada pukul 4 sore ke bawah!'. Nea tidak peduli ia terus melangkah, tetapi, sebuah suara menghantikan langkahnya.
"Gi-gimana bisa?"
"Udah lama gak ketemukan? Saling sapa dong! Gimana sih?"
Nea berniat menguping, suara yang satunya Nea kenal, itu adalah Derren, sesosok hantu kecil yang sedari tadi dicarinya. Nea mencoba mengintip melalui celah jendela kecil. Nea bisa melihat Derren di sana tengah berdiri terdiam membatu dengan tatapan terkejut bukan main. Sayang, lawan bicara Derren berdiri di sisi berlawanan dari kaca yang bisa Nea intip dari luar.
"Apa tujuanmu?!"
"Bagaimana kalau peraturannya kita ubah?"
"Mau apa lagi kau?!!"
"Rasanya pembongkaran rahasia dengan cara seperti ini cukup lama dan membuat kamu dan yang lain menderita karena gemas mau memecahkan permasalahan-kan? Lagipula aku sudah menemukan caranya."
"Kalian bisa keluar."
"Hah?"
"Kalian bisa keluar dari tempat ini..."
Nea membelalakan matanya, Derren menunjukkan ekspresi tidak senang. Jika dia bisa merubah peraturan seperti itu, apa artinya dia adalah seseorang yang menciptakan permainan teka-teki tak berujung ini?
"Kalian bisa ikut memecahkan misteri, kalian bisa menghabiskan sisa waktu dengan kebersamaan yang dulu sempat terenggut olehku."
"Bayarannya apa? Kenapa pula tiba-tiba peraturannya dirubah?!"
"Aku kan sudah bilang. Aku menemukan caranya."
"Jadi bayarannya apa?!" tanya Derren gemas.
__ADS_1
"Waktu."
"Maksudnya apa?"
"Pecahkan semuanya di akhir bulan Januari, bisa?"
"Kamu gila?! Aku bisa menyelesaikan semuanya di detik ini juga kalau kamu gak buat peraturan bodoh yang membatasi gerak-gerik aku, Yaza, dan Balqis."
"Oke, oke. Kalau gitu aku beri waktu lebih dikit deh, polanya sudah kamu tahukan? Kalau gitu, pola itu aku rubah menjadi lebih awal tapi tetap di bulan yang sama."
"Kapan?"
"4 April 2019, semua harus sudah terpecahkan. Kalau kalian terlambat, konsekuensinya kamu tahu jelas apa itu."
Tiba-tiba sosok dengan suara berat itu menghilang entah kemana, bersisa Derren di dalam sana beserta seorang gadis dengan rambut di kepang satu ke belakang, bajunya berupa dress berwarna putih bersih, wajahnya bisa dikatakan manis, tetapi tatapan matanya terlihat kosong.
"Maaf, semuanya karena aku."
Derren memberikan tatapan sendu, seolah lupa dengan urusan Ghai yang tiba-tiba saja menghilang, Nea masih sibuk menyimak apa yang terjadi di dalam sana. Derren berjalan mendekat ke arah gadis itu, tangannya tergerak hendak mengelus puncak kepala si gadis manis namun urung dilakukan.
"Aku takut aku gagal lagi kali ini. Aku takut Ghai hilang lagi seperti kamu yang pergi dari eksistensi 4 dimensi yang sama seperti Nea, Arka, Fai, Yaza, dan Balqis. Aku takut."
Hati Nea serasa ditusuk oleh belati tak kasat mata, kenapa dirinya merasa sesesak itu mendengar Derren seserius itu. Pandangan Derren kembali menatap gadis manis dengan tatapan kosong itu.
"Dunia kita mengerikan, menjerit tanpa terdengar mereka yang disayang, hadir di samping mereka yang bahkan tidak mampu melihat dan menyadari kehadiran kita. Rasanya seperti hidup sebagai debu, beriringan dengan mereka tapi tak kasat mata dan ditakuti kehadirannya juga dihapus keberadaannya."
Nea menangis, tak bisa Nea pungkiri, perasaan seorang sahabat lama seolah hadir di benaknya saat ini. Nea betul-betul ingin memeluk Derren di saat seperti ini. Derren menangis, tidak terlihat rupanya karena posisi Derren yang membelakangi Nea, tapi Nea dapat melihat punggungnya yang terisak.
"Aku mohon Renren, bantu aku, beritahu aku bagaimana jalan keluarnya? Jalan keluar dari lingkaran setan mahluk tadi."
Nea membelalakan matanya, tangannya tergerak spontan menutup mulutnya yang menganga. Renren? Jadi, korban ke-2 adalah Renren? Si gadis cilik di foto kecil yang kehadirannya sempat dipertanyakan?
Lantas, apa itu lingkaran setan yang dimaksud Derren? Apa itu artinya berarti selama ini Nea termasuk teman-temannya hanya menunggu giliran mereka tiba? Untuk berkumpul dalam kondisi tak bernyawa di dimensi berbeda dengan dimensi-nya saat ini.
__ADS_1
©AksamalpaAksara