
Drrtt Drrtt
Tiba-tiba ponsel Nea bergetar, untung ponselnya sudah di mute sebelumnya. Sebuah nama muncul di layar ponsel Nea yang bertuliskan Manusia Absurd terlihat kala pertama kali Nea mengaktifkan ponselnya. Nea segera pergi menjauh,mencari tempat yang aman untuk menelpon Arka. Entah kenapa, rasanya Nea seperti baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak Nea lihat.
"Nea! Akhirnya diangkat. Oh, gue udah nemu suratnya, gimana? Mau gue ke sana sekarang?" suara Arka terdengar dari balik ponsel Nea.
"Sebentar Ka, kayaknya waktunya kurang pas kalau lo maksa ke sini."
"Lah emang kenapa?" kini suara Fai yang terdengar dari balik sana.
"Ada sesuatu yang cukup aneh."
"Hah gimana? Sebentar-sebentar, lo abis nangis apa gimana? Suara lo kok kedengeran aneh gitu?" tanya Arka.
"Gak, gue gak habis nangis. Masalahnya agak gak enak buat dibahas dari telpon, besok gue jelasin aja lebih jelas."
"Oh jadi ini gue gak usah ke sana?" tanya Arka.
"Gak usah."
"Ya udah, gue sama Fai mau mandi dulu juga, soalnya badan kita bau sampah," ujar Arka dari balik sana.
"Eh sumpah ya lo berdua. Gak percaya gue, kagak ada akhlak emang lo berdua!"
"Hah? Maksud lo kita berdua kagak usah mandi apa begimana sih?!" protes Arka.
"Emang bener-bener, gue tau lo berdua udah dapet restu, tapi gak gini caranya bangsul! Fai harusnya lo jaga!"
"Nah, emang pikiran-pikiran kotor lo tuh orangnya. Ya kagaklah bangsul! Bukan mandi yang lo pikirin! Itu mah nanti aja kalau dah halal. Kudu di rukiyah lo tuh emang, lagian di rumah ada mamah," protes Arka begitu dirinya mengerti apa yang Nea maksud.
"Hmm, awas ya lo berdua!"
"Iya kagak Nea!"
Tiba-tiba saja Derren muncul, mungkin karena suara Nea yang sudah tidak terkontrol lagi. Derren memanggil nama Nea yang membelakanginya sembari menelpon.
"Nea?!"
"Derren?" tanya Nea.
"Kenapa Ne?" tanya Arka dari tempat yang berbeda.
"Bentar ya Ka, telponnya gue matiin dulu, bye!" Nea memutus sambungan secara sepihak.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Derren dengan gelagatnya yang aneh.
Nea mulai memutar otak, ia kini tengah berpikir apa yang dilihatnya tadi seharusnya tidak boleh dilihat ataukah sebaliknya? Ia mencari jawaban yang tepat untuk menghilangkan segala kecanggungan yang mungkin saja akan hadir nantinya. Nea kemudian teringat Ghai, lelaki yang baru saja menghilang tanpa jejak dan membuat Nea panik setengah mati. Lebih penting mengungkit Ghai ketimbang apa yang baru saja terjadi bukan? Lagipula mari Nea tunggu saja saat dimana Derren akan membicarakan hal tadi dari pada bertanya langsung mengenai hal tadi.
"Derren! Gue cari lo kemana-mana, Ghai hilang! Puff aja gitu gak ada jejaknya," jelas Nea panik.
"Hah? Bercanda kali lo?" tanya Derren.
Oke, Nea sudah berhasil kembali membawa Derren keluar dari situasi canggung dan gugupnya. Derren kemudian melangkah meninggalkan Nea di belakang, Nea mengejar.
"Tadi hilangnya gimana?" tanya Derren.
"Gak inget gue, yang jelas gue panik setengah mati."
Tiba-tiba dari tengah sana terdengar suara erangan, Derren dan Nea yang mendengarnya segera berlari ke arah sumber suara. Pasalnya pemilik suara itu adalah Ghai, suaranya terdengar kecil seperti seolah menahan agar tidak terdengar siapapun.
"Gua yakin itu Ghai! Cepet larinya Nea!" Derren sudah takut setengah mati.
"Gua udah lari secepat mungkin ini."
"Gua duluan sampe ke sana, ketemuan di tempat Ghai berada ya!"
Tiba-tiba saja Derren menghilang, jangan lupa bahwa Derren juga hantu yang bisa berpindah tempat sesukanya. Nea mempercepat larinya. Hingga sesampainya di tempat Ghai, Nea jatuh terduduk saking kagetnya.
Ghai tidak berpenampilan seperti seorang Ghai yang tampan, bersih, dan sehat. Sebaliknya, Ghai terlihat kacau, tubuhnya tergeletak di marmer putih dengan darah yang terlihat mengalir dari kepalanya. Di momen seperti ini, Ghai terlihat mengerikan. Badannya tergulai lemas, tubuhnya terlihat melintang bebas dengan kerjapan mata yang semakin melambat.
Derren di sana, berada tepat di samping Ghai sembari bertingkah kebingungan entah harus bagaimana. Tiba-tiba pintu utama terbuka, cahaya rembulan masuk, menerangi tubuh Ghai yang entah bagaimana kabarnya. Sosok Yaza melangkah masuk dengan langkah tergesa. Nea masih dalam posisinya mulai menangis.
"Ghai!" teriak Yaza yang kini suaranya menggema di lorong.
Kepala Ghai menoleh ke samping, menatap Yaza kemudian matanya mengeluarkan air mata. Derren yang panik mulai menangis, rasanya seperti de'javu. Nea yakin ia pernah melihatnya, tapi entah kapan, dimana, dan dengan siapa dia menyaksikannya.
"Sekarang tarik napas lo dalam-dalam Gha, tutup mata lo. Ikutin kata-kata gue, 'Saya Abhiyoga Ghaitsa Mahawira mengaku tidak akan kalah dengan tipu daya kalian mahluk yang lebih rendah dari saya'. Ucapin dalem hati kalau lo gak sanggup," ujar Yaza yang masih setia berjongkok di samping Ghai.
Tiba-tiba dengan ajaibnya jejak darah yang awalnya mulai merembes hingga ke baju Ghai menghilang perlahan, bersamaan dengan Ghai yang kembali enggan menunjukkan sosoknya. Derren segera melihat ke arah suatu lorong gelap, tak bercahaya.
"Kalian berdua tunggu sini. Gue balik kalau udah beres."
Seperti itu kata-kata terakhir Derren yang Nea dan Yaza dengan hari ini. Yaza kemudian berjalan mendekat ke arah Nea, mengambil posisi berjongkok kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Nea. Yaza menarik kepala Nea perlahan lalu memeluknya erat.
Wangi Yaza memang Nea kenal, harumnya menenangkan jantung Nea yang kini baru saja selesai mengikuti perlombaan marathon. Yaza kemudian mengelus puncak kepala Nea.
"Gak apa-apa, bukan salah lo."
__ADS_1
Entah kenapa, rasa sesak itu tiba-tiba saja datang kembali. Air mata Nea yang awalnya sudah berhenti turun, mendesak kembali untuk keluar. Nea kembali menangis di pelukan Yaza.
"Gak apa-apa, jangan takut. Ada gue," ujar Yaza sekali lagi.
Nea terisak, dadanya naik turun secara tidak beraturan. Cukup lama berada di posisi itu, hingga akhirnya tangisan Nea-pun terhenti.
"Udah puas nangisnya? Bisa berdiri?" tanya Yaza.
Nea mengangguk kemudian menatap Yaza dengan mata dan hidung merahnya. Sumpah demi apapun, Yaza tau ini momen yang tidak pas, tapi Nea terlihat manis ketika selesai menangis. Yaza kemudian mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Nea yang terduduk di lantai.
"Keluar yuk dari sini. Banyak yang ganggu."
"Ghai gimana?"
"Derren udah tanganin, sekarang keluar dulu yuk. Semakin lama di sini, semakin banyak yang pingin jahil sama kita."
Nea menurut, tangannya ditarik Yaza menjauh dari area itu. Sesampainya di luar Yaza kembali menatap Nea kemudian bertanya.
"Yang tadi... Udah yang ke berapa kali?" Nea yang mendengarnya terlihat ingin menangis kembali, Yaza kemudian panik.
"Oke, maaf, terlalu cepet gue nanyanya. Mending ikut gue yuk sekarang."
Yaza kemudian membawa Nea ke hadapan motor kesayangannya. Nea yang masih lesu akibat aksi menangisnya yang memang memakan banyak energi hanya mampu terdiam dan menatap kosong ke depan.
"Bentar, gue telpon temen dulu. Tunggu sini, jangan kemana-mana!" Yaza kemudian melangkah pergi agak jauh tapi masih dekat dengan Nea. Suara Yaza terdengar samar-samar.
"Ya udah gue pinjem dulu ya!"
"Janji besok gue balikin helm lo."
"He em, janji gue."
"Gak, gak akan hilang. Ya udah gue pinjem ya!"
Setelahnya Yaza berlari kecil kembali ke arah Nea. Yaza kemudian mengambil helm dari motor sebelah dan memakaikan-nya kepada Nea dengan lembut.
"Naik." Nea menurut kemudian naik di jok belakang.
17/12/2018
20.50
Perjalanan diisi oleh keheningan hingga sampai ke tempat yang memang cukup jauh dari sana. Nea kemudian turun dari motor Yaza. Bukan sebuah tongkrongan, bukan sebuah mall, Yaza membawa Nea ke sebuah bukit dengan tanah dibalut rerumputan terpajang indah di lukisannya.
Nea menatap Yaza. Yaza yang sadar ditatap oleh Nea kemudian membalas tatapan Nea dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Tangan Yaza meraih pergelangan tangan Nea, kemudian menariknya pelan untuk berjalan dan mengambil posisi duduk di bangku yang menghadap ke arah danau kecil di depannya. Bangku itu diteduhi oleh pohon Tabebuya yang menanggalkan kesan horor tempat tersebut. Alih-alih merasa takut, Nea malah merasa kembali menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya.
"Lo inget tempat ini gak?" tanya Yaza, Nea menggeleng sebagai balasan.
"Maafin gue yang buat lo lupa sama tempat ini."
Pandangan Nea teralihkan menatap Yaza yang kini tengah memandang lurus ke arah danau kecil tersebut. Di tempat itu sepi, jatuhnya tidak ada orang kecuali mereka berdua. Temaram lampu taman di tempat itu manambah kesan nyaman di sepanjang taman dengan bukit-bukit kecil berhias pohon Tabebuya di setiap sisinya.
"Tabebuya?" tanya Nea yang mencoba menghilangkan kecanggungan.
"Lo inget? Ini pohon kesukaan lo dulu, apa sekarang masih sama?" tanya Yaza.
"Gue gak amnesia sepenuhnya ya Za, please deh. Sampai sekarangpun gue masih suka parah sama pohon ini." Yaza terkekeh pelan mendengar penuturan Nea.
"Pohon yang gue cari tau seluk beluknya gara-gara lo. Makasih loh, karena lo gue setiap nge-design rumah pasti aja ada pohon tabebuya di halamannya yang luas."
"Lah, emang bisa ditanem di rumah?" tanya Nea.
"Ya bisa-lah dodol. Lo kata beringin yang kagak bisa dimasukin di lahan seluas 90 meter apa?" protes Yaza.
"Apaan si Za, kagak ngerti gue sumpah."
"Lagian lo tau gak? Ngurus nih pohon kagak ribet tau. Gara-gara itu gue juga lama kelamaan jadi cinta sama ni pohon."
"Dasar plagiasi lo!"
"Mana ada." Nea mendelik ke arah Yaza kemudian ke-duanya terkekeh perlahan.
"Tapi serius deh Nea. Dia bisa tumbuh di tempat kering, syarat utama supaya bunganya tumbuh juga cuma sinar matahari. Gila gak sih lo? Pohon seromantis ini bisa tumbuh dengan syarat yang gak ribet." Pandangan Yaza maupun Nea terfokus pada bunga-bunga di pohon Tabebuya itu.
"Sama kayak perasaan cinta gue ke lo yang gak perlu banyak syarat buat munculin perasaan itu ke diri gue." Yaza bergumam, suaranya nyaris tidak terdengar Nea. Nea sempat menoleh sesaat ke arah Yaza, ingin meminta pengulangan atas ucapannya yang hanya terdengar sebatas kalimat 'diri gue' tetapi diurungkan karena dirinya terlalu malas untuk bertanya.
"Emang unik-kan? Gue denger juga ni pohon banyak manfaatnya." Alih-alih bertanya Nea mengucapkan kembali kelebihan pohon romantis itu.
Timbul sedikit perasaan kecewa pada diri Yaza yang sebenarnya berharap kecil terhadap diri Nea agar dapat mendegar gumaman-nya tadi, tapi Yaza bodoh jika berharap setinggi itu kepada Nea yang dasarnya memang orang yang tidak peka terhadap perasaan orang lain padanya. Terlebih lagi Yaza berucap setengah berbisik, berarti memang salahnya karena kurang berani bukan? Yaza kemudian tersenyum menghilangkan segala pikiran mengenai perasaannya lalu menatap Nea. Sedikitnya, Yaza juga merasa ini momen yang tidak tepat setelah melihat Ghai dalam kondisi seperti itu untuk yang ke-2 kalinya.
"Bener banget lo Ya! Keliatannya sekarang malah kayak gue yang kesetanan sama pohon ini ketimbang lo. Sumpah, bunganya yang cantik ini bisa ngobatin berbagai macam penyakit asal pengolahannya bener, salah-salah bisa jadi racun."
"Sumpah gak ngerti lagi, gue sesuka itu sama pohon ini ternyata," ujar Nea tiba-tiba.
"Gue jadi kayak dapet filosofi gitu dari pohon ini tau."
__ADS_1
"Apaan?" tanya Nea yang kemudian menatap Yaza.
"Lo gak sadar? Sama kayak teka-teki yang lagi kita pecahin sekarang. Lo maupun gue bisa berperan sebagai obat untuk Ghai tapi, salah langkah sedikit bisa-bisa Ghai gak bisa lagi ada bareng kita."
Nea terbungkam mendengar ucapan Yaza, kejadian tadi segera terlintas di benak Nea. Nea menggeleng mencoba menghilangkan pandangannya terhadap sosok Ghai yang kesakitan.
"Udah yang ke berapa kali Ghai kayak gitu?" Yaza kemudian melanjutkan pertanyaannya yang sempat terhenti sebelumnya.
"Entah, sebanyak yang gue lihat, ini pertama kali-nya," jawab Nea dengan helaan napas.
"Ada sesuatu yang lo inget begitu liat kejadian tadi?" tanya Yaza.
"Entah, kayaknya jiwa gue udah kemana pas ngeliat Ghai dalam keadaan kayak gitu."
Yaza menghela napas-nya, entah harus bersyukur atau bersedih mendengar pernyataan Nea tadi. Yaza hanya tidak ingin Nea kembali pada masa dimana dirinya harus menyiksa diri sendiri dengan berdiam di kamar berminggu-minggu lamanya. Langkah yang Ghai ambil, kini Yaza mengerti alasannya.
"Za, gue mau tanya. Jawab kalau emang ini masih ranah yang boleh gua jangkau, tapi diem aja kalau misalnya ranah ini adalah ranah yang harus gue pecahin," ujar Nea, Yaza mengangguk sebagai balasan.
"Apa Ghai meninggal karena kecelakaan dan gue ada di sana sebagai saksinya?"
Yaza menoleh dengan mata membelalak. Ke-dua manik berwarna hazel itu bergetar, rasa takut hadir dari dalam benaknya. Terdiam beberapa saat Nea kemudian mengangguk.
"Oke gue ngerti."
Yaza bingung, entah harus menjawab atau kembali ikut campur. Nea kemudian kembali menatap lurus ke arah danau.
"Ne--"
"Za--"
Ucapan ke-duanya terpotong ketika menyadari bahwa mereka masing-masing tengah mencoba mengucapkan sesuatu. Nea kemudian tersenyum.
"Lo deluan, gue udah kebanyakan ngomong dari tadi, kenapa?" tanya Nea.
"Soal itu--"
Drrtt Drrtt
Ponsel Nea kembali bergetar, menandakan panggilan mencoba masuk lewat ponselnya. Lagi-lagi nama Arka dengan julukan Manusia Absurd yang tertera di sana.
"Bentar Za, gue angkat telpon ini dulu. Sorry ya," ujar Nea, Yaza mengangguk sebagai jawaban.
Ketika menghubungkan panggilan itu dengan Arka, Nea dikejutkan dengan suara Arka yang terdengar heboh dari balik sana. Tak setengah-setengah, bahkan Yaza yang ada di samping Nea juga ikut terkejut mendengar teriakan Arka.
"NEA! YANG BENER AJA ANJR!"
"Apaan sih Ka?! Kaget gue!"
"TEBAK SESUATU ANIR! LO GAK AKAN PERCAYA!"*
"Apaan?" tanya Nea, Yaza yang ada di sampingnya menguping dengan usaha cuma-cuma, karena tanpa perlu mendekatkan telinganya ke hp Nea, Yaza masih bisa mendengar ucapan Arka.
"GHAI ADA DI KOST-AN GUE SEKARANG! DI HADAPAN GUE SAMA DERREN! KE SINI GAK LO SEKARANG?!"
"Hah? Demi apa lo Ka?! Jangan bercanda, gak lucu!"
"Nyalain video call lo! Entah lewat fitur ini mereka berdua bisa keliatan apa kagak di layar hp lo."
Nea menatap Yaza, sama hal-nya dengan Yaza yang menatap Nea. Yaza kemudian beranjak dari bangku taman itu.
"Gue ke kost-an lo sekarang bareng Yaza. Gue kabarin nyokap dulu, gue nginep sana ya!"
"Oke, Fai juga otw sini sambil bawa baju ganti katanya."
"Oke, ketemuan di kost-an lo ya."
"Iya."
"Kalau gitu gue matiin dulu."
"Oke Nea..."
Setelah sambungan terputus Nea menatap Yaza yang tengah menunggu Nea beranjak dari posisi duduknya. Nea kemudian berucap.
"Anter gue ke rumah Arka."
"Gue ikut nginep ya?"
"Urusan itu nanti aja dibahas di kost-an Arka, sekarang otw dulu."
"Oke, ayo caw sekarang."
__ADS_1
©AksamalpaAksara