
Nea mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna pink pastel, tak lupa beserta pena kesayangannya. Derren yang memperhatikan gerak-gerik Nea kemudian terkekeh pelan.
"Mau ngapain lo? Bikin catatan?" tanya Derren.
"Iya, catatan tentang memori gue yang hilang entah kemana. Kenapa? Ngiri ya lo?" tanya Nea dengan nada sewot.
"Biasa aja kali, cuma kaget aja kebiasaan kecil lo gak pernah berubah," ujar Derren tiba-tiba.
"Kebiasaan kecil?" tanya Nea sekali lagi.
"Iya, kebiasaan kecil lo yang selalu nulis hal-hal gak penting di buku catatan kecil," ujar Derren yang tak lama kemudian terkejut setengah mati karena secara tidak sengaja dirinya membongkar rahasia Nea yang entah akan berujung ke malapetaka atau mungkin malah membantu Nea tanpa efek samping.
"Terus buku catatan Nea itu kemana?" tanya Arka.
Tak kunjung mendapat balasan, Nea mengerti isyaratnya. Tak lama kemudian Nea mengacak rambutnya, menandakan bahwa dirinya tengah frustasi saat ini.
"Lagi? Oke, itu ranah yang harus kita temukan Ka, Derren gak bisa kasih tau lebih lanjut," ujar Nea.
"Tanggung banget, siapa tau itu jawaban dari semua rahasia kali ini," ujar Arka yang kembali menekuk mukanya.
"Sabar Ka," ujar Fai menenangkan.
"Ya udah ayo lanjut, jadi sejauh ini apa ada suatu petunjuk yang kalian dapat? Barangkali kalian lupa, aku di sini membantu sebagai petunjuk, bukan mesin pemberi jawaban. Jadi, kalau aku mulai TMI tolong berhentiin ya, karena mungkin aja aku malah ngebahayain kalian," ujar Derren.
"Oke," jawab Fai.
"Apa ya? Kasih petunjuk dong, kayak misalnya itu barang atau mungkin ingatan gue gitu?" tanya Arka.
"Bisa datang dari banyak hal, hal paling termudah barang. Coba kalian ingat-ingat, apakah ada barang kalian yang barangkali sampai saat ini gak pernah kalian sadari kalian punya itu, atau mungkin barangkali selalu ada sama kalian tapi gak pernah tau itu dari siapa," ujar Derren memberi petunjuk.
Arka mulai menatap langit-langit gedung itu, sudah menjadi kebiasaan Arka, ketika dirinya berpikir keras maka kepalanya akan mendongak ke atas. Di sisi lain Fai mulai menundukkan kepalanya ke bawah sembari bertopang dagu, ini informasi lucunya, kebiasaan Arka dan Fai pasti selalu bersifat antonim, alias bertolak belakang, contohnya ya tadi.
Derren mulai menatap Nea, petunjuk itu sebenarnya ia tujukan pada Nea secara khusus. Nea yang masih berpikir keras tiba-tiba saja bertepuk tangan.
"Oh! Gue tau! Buku diary gue, yang kampretnya cuma ketulis satu halaman," ujar Nea.
Derren menepuk dahinya pelan, apakah petunjuknya masih kurang jelas, Derren membatin. Nea yang melihat perilaku Derren kemudian menghela napas.
"Gak penting ya?" tanya Nea.
"Gue tau! Baru-baru ini gue beres-beres kamar dan namuin satu surat yang gak jelas bentukannya. Seinget gue nama pengirimnya Renren?" ujar Arka tiba-tiba.
"Renren?? Siapa ya?" tanya Fai.
Derren tiba-tiba saja membungkam mulutnya. Bola matanya bergetar, Ghai yang melihatnya kemudian merasa surat itu merupakan sebuah petunjuk.
"Suratnya di kemana-in?" tanya Ghai.
"Gue buang," jawab Arka polos yang mengundang keluhan dari berbagai sisi.
"Lo ceroboh banget si!" ujar Nea.
"Lah, mana kepikiran gue buat nyimpen surat udah kumel gitu, lagian jaman sekarang siapa yang masih main surat-suratan? Gua-kan jadinya kepikiran itu surat isinya tagihan listrik dan semacamnya," ujar Arka yang mengeluarkan pembelaan diri.
"Terus lo buang suratnya kemana?" tanya Fai.
"Kayaknya masih di tong sampah dalem kamar sih," terawang Arka.
"Oke, kita balik sekarang sebelum sampahnya dibuang," ujar Fai.
"Sebentar!! Mama datang ke kost-an! Bahaya, sampah ada kemungkinan masuk ke tong sampah lebih besar!!" teriak Arka histeris.
"**** sih lo!!" ujar Nea dengan nada menyentak.
"Ya udin, gini aja... gue sama Fai balik dulu ke kost-an buat nyari suratnya. Gimanapun caranya pasti kita cari dan temuin, sekalipun gue harus menyelam di antara sampah-sampah," ujar Arka.
"Ya udah buru! Sebelum makin ilang suratnya," ujar Nea panik.
"Iya, siap gue pamit dulu kalau gitu," ujar Arka pamit diikuti Fai.
__ADS_1
Setelah ke-duanya menghilang dari pandangan, Ghai kembali bertanya pada Derren. Pertanyaan itu membuat Nea bergeming.
"Kamu punya masalah apa sama Renren?" tanya Ghai.
Derren yang mendengarnya terlihat gelisah mencari alasan. Di sisi lain Nea tengah mencoba mencari kalimat yang tepat untuk menghentikan aksi Ghai yang menggali lebih dalam.
"Aku tanya kamu Derren, ada masalah apa kamu sama orang bernama Renren itu? Kenapa tadi kamu langsung diem setelah Arka ngucapin nama Renren?" tanya Ghai sekali lagi.
"A-aku---"
"Gak bisa Ghai, Derren gak bisa ngucapin itu. Ini semua demi keba---" kalimat Nea terputus oleh suara Derren.
"Maaf,"
"Kenapa? Rahasia lagi? Teka-teki hidup aku ribet amat. Kayaknya kagak ada seneng-senengnya semasa hidup," ujar Ghai.
Jujur, perhatian Nea teralihkan pada gaya bicara Ghai yang tiba-tiba berbeda dari biasanya. Ghai kemudian mengacak rambutnya pelan.
"Ya udah, aku gak marah kok. Kamu punya alasannya, sama kayak aku di sini," ujar Ghai.
Sumpah demi apapun, Nea rasa dirinya semakin jatuh cinta pada Ghai. Kalimat yang diucapkannya baru saja menambah peringkat ketampanannya dan mengalahkan Jaehyun si pujaan hati yang tak mungkin Nea dapatkan.
"Kok lo ganteng sih?" tanya Nea tiba-tiba dan SECARA TIDAK SADAR.
"Hah?" Ghai gagal paham dengan pertanyaan Nea yang terdengar spontan dan ya bisa dibilang out of topic.
"Apa? Gue ngomong apa tadi?!" ujar Nea histeris.
Ghai memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu mendengar perkataan Nea. Berbeda dengan Derren yang segera menghela napas, Nea memang bisa diandalkan, Derren membatin.
"Kamu juga," ujar Ghai tiba-tiba dan berhasil membuat Derren dan Nea secara spontan menengok dengan tatapan tidak percaya.
"M-maksud lo?!" tanya Nea yang mulai tidak bisa mengendalikan senyumannya yang kian melebar.
"Jangan ke pedean lo, Maksud Ghai lo juga ganteng," ujar Derren menggoda ke-duanya dan berhasil membuat tinju Nea melayang secara cuma-cuma untuk memukul angin.
"Sialan emang, momen romantisnya jadi ilangkan," ujar Ghai sekali lagi.
"Dih, apaan sih lo berdua? Jangan ngebucin kayak Arka sama Fai bisa gak sih? Ada yang panas nih," protes Derren.
"Baru tau aku, setan juga bisa kepanasan ngeliat orang bucin, bukan cuma di rukiyah doang," ujar Ghai sekali lagi.
"Breng*** emang\, tau ah gue tinggal lo berdua, sono ngebucin lebih khidmad," ujar Derren yang kemudian meninggalkan Ghai dan Nea berdua di sana.
Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung. Baik Nea maupun Ghai sama-sama terdiam dalam pipi merona.
"Kamu punya pacar?" tanya Ghai tiba-tiba yang berhasil membuat Nea kalut.
"Kenapa emang?" tanya Nea.
"Punya ya? Parah ih," ujar Ghai.
"Lah, emang kenapa kalau punya pacar?" tanya Nea.
"Ingkar berarti," ujar Ghai tiba-tiba.
"Ingkar gimana?" tanya Nea.
"Gak taulah," tiba-tiba saja mood Ghai berubah, aneh menurut Nea melihat Ghai yang tiba-tiba bertingkah berbeda dengan pertama kali mereka bertemu.
"Dihh, lo kenapa sih? Tiba-tiba sewot," ujar Nea.
"Pikir aja sendiri."
Nea memutar bola matanya malas. Ghai beranjak pergi ke arah kursi piano.
"Ghai! Lo kenapa?!"
__ADS_1
"Mah jangan bercanda..."
"Mamah gak bercanda, ngapain harus bohong segala, lagian buang sampah bukan dosa dan bukan aib," ujar Mama Hani, alias mamanya Arka.
"Emang awalnya gak dosa, tapi karena mama lakuin sekarang jadi dosa tau!" ujar Arka yang histeris karena kehilangan surat yang dibuangnya kemarin.
"Sstt Arka, daripada ribut sendiri mending sekarang ke tempat sampah utama di kost-an lo," ajak Fai yang segera dituruti oleh Arka.
"Kenapa sih itu abang kamu dek?" tanya Mama Hani kepada anak bungsunya.
"Gak tau, kan emang abang dilahirin udah gak normal dari awal,"
Di tempat lain, Arka dan Fai tengah sibuk mengejar bapak-bapak yang kini tengah mengangkut tong sampah utama ke truk sampah. Seolah diperlambat,
"PAK! TUNGGU DULU! JANGAN MASUKIN DULU!"
"PAK, ADA BARANG SAYA DI DALEM SANA!"
Bapak petugas tersebut menoleh perlahan, menatap Arka dan Fai dengan tatapan bingung sembari tetap memasukan sampah-sampah ke dalamnya. Arka yang melihatnya meringis lalu melompat ke dalam truk sampah.
"Demi kita apa yang tidak? Selamat tinggal Fai." Arka mengeluarkan tangisannya sembari melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan singkat kepada Fai.
"ARKA! JANGAN!"
Fai juga ikut masuk melompat ke dalam truk sampah. Waktu yang diperlambat kini berhenti, menyisakan si petugas sampah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi sepasang kekasih yang jatuhnya terlihat bobrok.
"Fai! Kok lo ikut masuk sih? Pacar gue nanti bau sampah dong!" protes Arka.
"Arka, gue akan selalu ikut sama lo kemanapun lo pergi. Bahkan terjun ke dalem lautan sampah sekalipun," jawab Fai. Ke-duanya kemudian berpegangan tangan sembari menautkan dahi, ala-ala pasangan India yang baru saja berhenti dari aktivitas menari sembari nyanyinya.
"Anak muda ada-ada saja," sekali lagi pak petugas tersebut menggeleng tak habis pikir.
"Nea, pacaran itu apa sih?" tanya anak kecil dengan rambut berponi.
"Ghai tanya Nea yang polos gak akan dijawab," jawab anak lelaki kecil satunya lagi.
"Terus pacaran itu apa dong Za?" tanya Nea kepada anak lelaki yang baru saja mengejeknya..
"Pacaran itu hal yang dilakuin sama mama sama papa, kita kan masih kecil, gak boleh pacaran," Yaza menjawab.
"Jadi pacaran itu apa? Kok Yaza berbelit-belit?" tanya Ghai.
"Pacaran itu kalau satu sama lain saling suka, baru namanya pacaran!" jawab Yaza.
"Kalau gitu Nea sama Ghai sama Yaza pacaran sampai nenek-nenek, kakek-kakek dong?" tanya Nea.
"Eh, gak boleh, kalau pacaran cuma satu aja kata mama, gak boleh banyakan," jawab Yaza.
"Berarti Nea pacarnya cuma Ghai dong?" tanya Nea.
"Kenapa?" tanya Ghai.
"Soalnya Nea paling suka Ghai dibanding yang lain," jawabnya.
"Janji ya?" tanya Ghai.
"Janji," jawab Nea enteng.
"Terus Yaza gimana?" tanya Yaza.
"Yaza pacar Nea diem-diem," jawab Nea.
"Gak boleh!!!"
__ADS_1
©AksamalpaAksara